
Suara tangisan seorang wanita masih terdengar jelas di pendengaran David. Sudah selarut ini, David masih belum kembali lagi ke apartemennya. Lebih tepatnya, ia sudah sempat ke apartemen tadi namun kembali lagi menemui wanita yang sedang patah hati ini.
Cinta selalu tidak bisa ditebak. Hal inilah yang membuat David belum mau melabuhkan hatinya pada wanita manapun yang mendekat. Ia merasa belum siap di obrak-abrik perasaannya oleh cinta, yang terkadang membuat seseorang terlihat bodoh, menurutnya.
David baru saja membanting tubuhnya di sofa ketika ponselnya berdering. Ia mengernyitkan dahinya heran sesaat sebelum mengangkat panggilan yang berdering. "Tumben sekali dia menelponku malam-malam begini," tuturnya.
"Halo," jawab David panggilan itu. Suara panik seseorang terdengar dari seberang telpon. David pun segera bangkit dan meraih kunci mobilnya lagi, lalu mengakhiri panggilannya.
Dan ia berakhir di sini, di sisi sahabat wanitanya yang sudah sempat diantarnya pulang. Siapa sangka ia terjebak dengan situasi menyedihkan ini. Ketika Ia sampai, Andin sudah berada di tepi bukit di tempat Ia berada. Sontak saja itu membuat David berpikiran buruk.
"Stop Andin, jangan gegabah. Apapun masalahnya, pasti ada solusi. Jangan lakukan hal bodoh, please!"
Andin tersentak mendengar suara orang dibelakangnya tiba-tiba. Ia menoleh ke belakang, dan terkejut heran melihat David ada di sana.
"David, sedang apa Kau di sini?" tanya Andin heran.
"Kemarilah Andin, kita bicarakan baik-baik. Bunuh diri itu perbuatan dosa, itu tidak akan menyelesaikan masalah." David perlahan mendekat, dengan tangan kanan bergerak ke depan, berusaha merangkul Andin.
"Bunuh diri? Siapa? Aku?" Andin seketika berpikir maksud ucapan David. lalu ia menahan tawanya. "Pppppfffttttt, hhaaaa, Kau lucu sekali David. Siapa yang memberitahukan mu hal konyol seperti itu?"
"Wilson bilang kalau Kau... ." David menjeda ucapannya sejenak.
"Wilson sialan, dasar bocah tengil, huhhh," kesal David mendapati dirinya telah tertipu mentah-mentah oleh Wilson.
Begitulah cerita hingga akhirnya Ia menemani Andin melihat pemandangan malam di tepi bukit itu. Namun siapa sangka, Andin kini malah menangis terisak setelah sempat mengungkapkan isi hatinya pada David. Ia yang kini berusaha menenangkan Andin yang sedang patah hati. Cinta sepuluh tahunnya tak pernah berbalas. dan Ia baru mengetahui, orang yang dicintai Andin adalah Barra, sahabat mereka sendiri.
.
.
***
.
.
"Emm, sebelumnya Qia mau minta maaf pada semuanya, terutama Mama dan Papa. Untuk kali ini Qia tidak bisa memenuhi permintaan Kalian."
Air muka Mama berubah sendu. Lalu Ia memeluk Qiandra dan menangis.
"Tidak apa-apa, Nak. Mama mengerti, Kau jangan merasa bersalah. Mama mungkin kecewa tapi Mama sangat mengerti keputusanmu." Mama terisak di bahu Qiandra.
Qiandra mengelus bahu mama Renata.
"Ma, Qiandra tidak bisa memenuhi permintaan kalian karena ini menyangkut kebahagiaan Qia. Qia ingin memilih sendiri pendamping hidup Qia. Qia sudah memikirkan ini sejak kemarin, memohon petunjuk pada Allah SWT." Lagi Qiandra menjeda perkataannya.
"Ma, Pa, Kak Manda, dan Barra, insya Allah Qia sudah mantap, keputusan Qia adalah menolak pernikahan ini," ujar Qiandra yang membuat Mama Renata kembali terisak.
"Hiks, hiks, Zas, mungkin anak kita tidak berjodoh," isaknya pelan namun begitu pilu.
Manda menenangkan Mama Renata dengan berpindah posisi, bersimpuh di depan Mamanya.
"Ma, ini keputusan Qiandra, kita harus mendukungnya Ma. That's her choice, tidak baik jika Ia menikah karena terpaksa." Manda menggenggam erat kedua tangan mama Renata dan dibalas dengan anggukan.
"Maafkan Mama Qia, Mama sungguh menghargai keputusanmu, Mama sedih karena mengingat Bundamu, Nak." Mama terisak sambil berucap, maniknya menoleh pada Qiandra.
"Barra, Kamu tidak apa-apa kan?" Barra menggelengkan kepalanya lalu tersenyum menanggapi pertanyaan papa Gunawan. Namun Ia tak memungkiri, ada perasaan marah bercampur kecewa ketika Qiandra menolak menikah dengannya.
"Kalau begitu, sepertinya kita harus memikirkan solusi lain mulai besok." Papa menepu-nepuk bahu Barra lalu sedikit memeluknya.
Qiandra menarik nafasnya dalam. Ia terenyuh, mendapati respon keluarga ini. Bismillah, semoga keputusan ini membawa kebaikan, pikirnya.
"Ma-af s-se-mua-nya," sela Qiandra, semua mata tertuju padanya kini. Ia semakin gugup sehingga tidak leluasa berucap.
"Qii-a be-lum sse-lesai bicara." Lagi-lagi dia tercekat dan tak bisa berkata apa-apa. Ia merutuki dirinya sendiri, kenapa mendadak gagap di tengah pembicaraan penting seperti ini.
"Haaaaaah," hela Qiandra nafasnya berat. Ia memejamkan matanya sejenak untuk menguasai dirinya.
"Qiandra menolak menikah dengan Barra jika Barra juga menolak menikahi Qia, Ma, Pa. Namun, jika Barra bersedia menikah dengan Qia, maka Qia juga akan setuju menikah dengannya." Pernyataan Qiandra sukses membuat setiap orang di sana terlonjak kaget.
Manda yang tadinya bersimpuh di depan mamanya, sontak berdiri dan memeluk mamanya. Sebersit senyuman tipis muncul di permukaan bibir Barra, perasaan hangat menyelinap masuk ke hatinya tanpa mengetuk terlebih dahulu. Begitupun Papa yang memasang wajah haru bahagia.
Mama melepas pelukan anak sulungnya, lalu menyamping memeluk Qiandra. "Terimakasih Nak, terimakasih sayang. Semoga kalian bisa menjadi pasangan yang mensyurgakan kelak, Hiks." ucap mama Renata masih terdengar isakannya sesekali.
"Ma, kebahagiaan Qia adalah kebahagian Bunda, Ayah, juga Mama dan Papa. Jika memang pernikahan ini bisa membuat kalian Bahagia, Qiandra akan bahagia."
"Qia juga percaya, jika Kami berdua tidak berjodoh, bagaimanapun usaha Kalian mempersatukan Kami, selalu Allah punya rencana untuk memisahkan. Tapi, jika kami memang berjodoh, tiada kuasa yang mampu memisahkan."
Ahhh, Aku bicara apa sii?
Kok sepertinya Aku yang ngebet banget?
Qiandra, what should you do?
.
.
****
.
.
Malam telah kembali ke peraduannya, fajar pun mulai menyingsing. Setelah terlena dibuai pekat dan sunyi, kini Qiandra siap memulai hari. Qiandra sudah berada di dapur sejak selesai sholat shubuh, membantu pekerjaan Bi Darni dan Bi Tari yang sedang memasak sarapan di dapur.
Waktu menunjukkan pukul enam pagi lewat 20 menit. Qiandra mengambil susu kambing dari dalam freezer dan memanaskan minuman pengawal hari keluarga tersebut. Sudah menjadi kebiasaan keluarga itu, setiap pagi meminum susu kambing yang di antar setiap sore harinya.
Ketika cairan susu sudah mendidih dan tampak naik ke permukaan panci, Qiandra mematikan kompor dan membaginya ke dalam beberapa cangkir. Lalu Ia membawa cangkir-cangkir tersebut dengan baki ke atas meja makan dan mulai meletakkannya satu persatu.
Bik Darni dan Bi Tari juga mulai membawa masakan yang sudah selesai dimasak untuk sarapan dan menatanya. Qiandra juga turut membantu menyediakan alat-alat makan.
"Qiandra, lagi ngapain? Loh, sudah selesai semua Bik?" Mama menghampiri mereka dan membuat kaget ketiganya.
"Maaf Nyonya, Non Qiandra ikut bantu-bantu mulai dari ba'da shubuh tadi. Jadi bisa selesai cepat. Saya sudah bilang, Non Qiandra jangan ikut ntar capek, tapi Non Qia bersikeras Nyonya."
"Iya Ma, Qia yang kekeuh mau bantuin Bi Darni dan Bi Tari. Sekalian belajar masak juga," pinta Qiandra memelas, mendapati ekspresi ketidaksukaan mama Renata.
"Qia, Mama bukan tidak mengizinkan, tapi Kau kan harus bekerja. Jika kau kelelahan bagaimana? Baiklah, hari ini Kau tidak usah pergi bekerja, Mama tidak mau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan." Mama langsung mengambil keputusan yang membuat Qiandra tersentak.
"Ma, please, Qia janji Qia akan baik-baik saja. Qia tidak akan membantah Mama lain kali, ya, ya, ya?" Qiandra memohon seraya mengatupkan kedua tangannya dan memasang puppy eyes di depan mama.
"Hmmmm, Baiklah tapi Mama tidak ingin kejadian ini terulang. Atau Mama akan mengambil tindakan tegas lain kali." Mama Renata memperingati Qiandra, yang membuatnya hanya mengangguk mengerti.
Qiandra bersyukur dalam hati, mama Renata begitu mengkhawatirkannya. Meski Qia merasa sedikit risih dengan sikap itu, namun Ia mencoba memahami perasaan Mama Renata. Ia pun permisi kembali ke kamar lebih dulu untuk berganti pakaian kerjanya kali ini.
.
.
*****
.
.
Qiandra sedang berada di front line bersama dua teman yang lainnya. Sejak Ia sampai di kantor, banyak mata para pegawai wanita memandangnya dengan berbagai tatapan. Ada tatapan benci, tatapan muak, maupun tatapan kagum. Qiandra mencoba acuh dengan pandangan dan anggapan orang padanya.
Salma dan Rere langsung menghujani Qiandra berbagai pertanyaan begitu Ia tiba di kantor. seperti biasa, dua teman anehnya itu langsung memberikan pertanyaan nyeleneh. Qiandra hanya bisa geleng-geleng kepala
"Hei, kau sedang tidak ada kerjaan bukan? Ini, belikan Aku daftar minuman ini di kafe depan, GPL!" ujar seorang pegawai wanita yang kini berada di hadapan Qiandra.
"Maaf, tapi saya sedang ... ," belum selesai ia berbicara wanita itu langsung menyela.
"Kalau sudah nanti antar ke lantai 6, bagian keuangan. Kau mengerti? ini daftarnya dan ini uangnya." Menyodorkan secarik kertas dan beberapa lembar uang pada Qiandra lalu beranjak pergi bersama seorang temannya yang lain.
Qiandra menarik nafasnya kasar. Ia sangat menyayangkan, bagaimana profesinya ini dipandang sebelah mata oleh karyawan yang lain.
"Qiandra, biar Aku saja yang pergi, Kau tunggulah di sini. Jangan di ambil hati perkataan mereka." Rere meminta kertas dan uang yang ada di tangan Qiandra.
"Tidak apa-apa Re, sudah kau tunggu di sini. Ini tidak akan lama." Qiandra pun keluar dari meja resepsionis berjalan ke depan kantor. Ia pun menyebrang untuk menuju ke kafe yang di inginkan pegawai tadi.
Kini Qiandra keluar dari Kafe tersebut dengan menenteng empat bungkusan plastik di tangannya. Ternyata mereka memesan Snack dan minuman yang lumayan banyak sehingga membuat Qiandra sedikit kesusahan membawanya.
Setelah memastikan kondisi jalan aman, Qiandra pun mulai menyebrang. Ia berjalan lurus ke depan, dan melihat sosok Erlan ada di depan kantornya. Erlan melambaikan tangan dan tersenyum melihat Qiandra, namun ia hanya tersenyum tidak bisa melambaikan tangannya menyapa Erlan karena barang bawaannya.
Sebuah mobil sedan melaju dengan kecepatan kencang membidik tubuh Qiandra yang kini tepat berada di jarak yang tak jauh dari jangkauannya. Semua orang berteriak melihat itu, seketika Qiandra melirik ke arah datangnya deru mesin, dan terpaku nyaris tak dapat berbuat apa-apa melihat jaraknya dan sedan itu.
"Aaaaarrrrrgggghhhhh......" teriaknya dan semua orang yang berada di sekitar itu pun ikut berteriak.
.
.
.
.
.
***To Be Continue***
Maafkan kalau ada typo , nggak sempat revisi, yang penting Up dulu😂
Thanks so much buat kalian yang masih baca cerita ini. Happy Reading ya Gengs...❤️❤️❤️