
"Ahahahahahahahh... ," tawa Qiandra meledak di area pemakaman itu. Seketika dia membungkam mulutnya dengan kedua tangannya ketika sadar saat ini ia berada di tempat yang tidak pantas baginya untuk tertawa terbahak di sana.
Barra mengerutkan dahinya, melihat tingkah istrinya.
"Mas, nanti akan ku jelaskan kepadamu. Sungguh ini di luar prasangkamu Mas." Qiandra masih menahan tawanya sambil mengucapkan kata-kata itu. "Sebaiknya Mas menyapa Ayah dan Bunda dulu di sini." Barra mengikuti arah pandangan Qiandra pada dua pusara di depannya.
"Sapalah mereka, Mas. Aku ke mobil dulu, kakiku sudah pegal dari tadi. Aku tunggu di mobil ya!" ucapnya manja. "Ayah dan Bunda pasti senang melihatmu sekhawatir ini padaku." Qiandra sedikit berbisik, masih dengan tawanya yang tertahan sebelum ia benar-benar berlalu meninggalkan Barra sendiri di sana.
Barra bergeming. "Apa maksud Qiandra?" tanyanya dalam hati. Segera tersadar ia sedang berhadapan dengan pusara kedua mertuanya saat ini.
"Assalamualaikum, Ayah dan Bunda, terimakasih Kalian sudah menjaga Qiandra hingga Ia tumbuh menjadi wanita cantik dan baik. Mulai saat ini hingga waktu yang Allah tentukan, Aku akan menggantikan tugas Kalian menjadi pelindungnya. Aku memang pernah gagal sekali menjaganya, namun Aku berjanji apapun yang terjadi Aku akan selalu berada di sisinya." Lirih suara Barra tertahan, sebab Ia merasa terharu sekaligus sedih. Sejak awal menikah, Ia sama sekali belum pernah berkunjung ke makam orang tua Qiandra.
Barra merasa lapar sekarang, ia menyudahi tangisannya dan segera bergegaske mobil. Qiandra sudah duduk di sana bersama Ken di kursi kemudi. Mereka berdua serempak menertawakan Barra ketika Barra sampai di sana.
"Berhenti tertawa atau bonus bulananmu Aku batalkan, David!" serunya kesal menatap Asistennya itu.
Tentu saja David berhenti tertawa seketika, namun dia tetap tersenyum menyeringai menatap ke arah Barra dari kaca spion bagian dalam dan itu sangat menjengkelkan bagi Barra.
"David, simpan senyuman menjijikkan mu itu. Lebih baik Kau fokus mencari pasangan daripada menjadi perjaka tua!" Barra balas menatap David dengan seringaian yang tak kalah menjijikkan.
"Aku jomblo terhormat, camkan itu Bos!" David menoleh ke belakang sesaat lalu membalikkan lagi wajahnya ke depan. "Kita kemana?" tanyanya lagi.
"Aku lapar, cari restoran terdekat!" sahut Barra yang memang sudah merasa lapar sejak tadi.
"Maaf ya Mas, Aku sudah dengar dari David ceritanya. Gara-gara Aku, Kalian belum makan siang ya. Padahal Aku sudah masak tadi." Qiandra memeluk suaminya dari samping dan meletakkan dagunya di bahu suaminya.
"Cup!" Satu kecupan singkat mendarat di bibir Qiandra, membuat wajahnya merona seketika. Ia refleks menghadap ke depan lagi seraya memegangi bibirnya dan tersenyum.
Tapi sialnya, peristiwa romantis tadi tak luput dari pandangan Asisten yang mempunyai jargon Jomblo Terhormat itu. Dalam hati Ia merutuki Barra, yang seenaknya bersikap romantis di depan jomblo sepertinya. David hanya mampu menggelengkan kepalanya lalu berteriak dalam hati. "Tuhan, semoga masih ada stok wanita cantik dan baik untukku!"
...****...
Barra dan David baru saja menyelesaikan makan siang mereka yang sudah telat itu. Sekarang sudah pukul setengah empat sore. Qiandra tidak ikut makan dan hanya memesan jus saja. Sejak tadi Ia sudah melirik arloji yang melingkar indah di pergelangan tangannya.
"Kenapa? Ku perhatikan sejak tadi Kau selalu melirik jam tanganmu?" tanya Barra seraya meletakkan serbet kembali ke tempatnya.
"Ehemmmm, Aku mau minta sesuatu, boleh?" tanya Qiandra.
"Tentu saja, Sayang. Kamu mau apa? Sepatu, tas, baju, atau perhiasan?" tawar Barra yang menangkap keinginan istrinya itu.
"Bukan Mas. Aku mau minta izin untuk menjenguk Nyonya Diana." Qiandra memasang wajah memelas.
"Apa? Tidak, kalau itu permintaanmu Aku tidak mengizinkannya!" seru Barra dengan suara agak meninggi.
"Maaaasss, Ayolah. Ada yang ingin Aku katakan padanya, please!" pinta Qiandra memohon seraya mengusap-usap kedua tangannya.
"Sekali tidak, tetap tidak! Gara-gara dia Kau dan calon bayi Kita hampir celaka, Sayang. Aku tidak akan mengizinkannya." Barra kukuh pada pendiriannya.
"Mmmaaaasss, please?" mohonnya lagi dengan kedua tangan dirapatkan di depan wajahnya.
"Qiandra, Aku tidak suka mengulangi perkataan ku! David, tolong urus pembayarannya. Kita pulang!" Barra memberikan kartu kreditnya dan langsung ditangkap David. Ia pun segera berlalu dari sana menuju ke mobilnya.
Keduanya sudah keluar dari resto, menuju ke arah mobil mereka terparkir. Namun Barra masih dengan egonya, berjalan cepat mendahului Qiandra yang dengan berusaha menggapai suaminya.
"Mas, tunggu!" teriak Qiandra saat jaraknya semakin jauh dari Sang Suami. Ia memaksakan diri berlari kecil dengan kondisi perut yang sudah terlihat membuncit itu.
Tak sengaja, kakinya tersandung permukaan jalan yang tidak rata karena ada sedikit retakan.
"Aaaarrrghhh!" Qiandra meringis menahan sakit di lutut dan tangannya yang mendapat luka lecet. Barra pun menoleh ke belakang dan betapa terkejutnya Ia mendapati Istrinya terjatuh.
"Qiandra!!" teriaknya berlari menghampiri, seketika ia menggendong Qiandra ala bridal dan langsung membawanya masuk ke dalam mobil mereka yang berada tak jauh dari lokasi jatuhnya Qiandra.
"Kenapa Kau tidak hati-hati? Kau ini sedang hamil Qiandra, bagaimana jika ada apa-apa dengan mu?" Barra meninggikan suaranya sebab Ia sangat terkejut dan khawatir terjadi sesuatu pada Istri dan Calon Bayi mereka.
"Hiks hiks... ," isaknya seraya memegangi tangannya yang terasa perih.
Barra tersadar Ia telah membuat istrinya takut. Ia menarik nafasnya kasar, lalu menurunkan volume suaranya.
"Coba Aku lihat, mana yang sakit?" tanyanya pelan seraya meraih telapak tangan Qiandra.
Qiandra menepis tangan Barra. "Bukan ini yang sakit, tapi di sini! hiks hiks," tunjuk Qiandra di dadanya.
Barra terkesiap, Ia merasa sudah sangat keterlaluan. Ia segera menarik istrinya ke dalam dekapannya lalu mengusap punggung istrinya. "Maaf, maafkan Mas ya! Aku tidak bermaksud membentakmu, hanya saja khawatir dengan Kalian! Aku takut terjadi sesuatu pada Kalian berdua. Maaf ya, Mas belum bisa menjadi suami yang baik untukmu!"
Barra memejamkan matanya sesaat lalu menghujani pucuk kepala Qiandra yang tertutup hijab itu dengan ciuman. Ia mengambil tangan Qiandra yang terluka lalu menciuminya dengan lembut. Seketika hati wanita yang sedang mengandung buah hati mereka itu pun menghangat kembali. Isakannya tidak lagi terdengar.
Suara pintu mobil dibuka mengagetkan aktivitas keduanya. Keduanya refleks saling melepaskan diri. David yang sudah duduk di kursi kemudi mulai melirik ke belakang dari kaca spion.
"Kenapa Barra menatapku seperti itu? Apa yang sudah Aku lewatkan??" gumam David dalam hatinya.
"Segera cari apotik di sekitar sini, Dav!" titah Barra yang langsung dibalas anggukan kepala oleh David.
...*****...
Seorang wanita paruh baya memasuki ruang kecil di dampingi seorang polisi penjaga. Ia duduk di kursi yang tersedia di sana. Di hadapannya sudah ada sepasang suami istri yang sudah duduk di sana dengan penghalang teralis besi di antara mereka.
"Kenapa Kalian mengunjungiku? Aku tidak butuh di kasihani!" ketusnya enggan menatap orang yang ada di hadapannya.
Qiandra menghela nafasnya. Ia mengeluarkan secarik amplop dari dalam tasnya. Lalu menggesernya ke depan melalui celah di antara teralis besi itu.
"Kak Zidane meminta Aku mengirimkan ini pada Anda!" ujar Qiandra pelan namun masih terdengar jelas oleh orang yang ada di sana.
Wanita paruh baya itu mengerutkan dahinya. "Hahahaha, Zidane? Anak sialan itu?" tanyanya tak percaya.
"Bagaimana bisa Anda menyebut Kak Zidane seperti itu?" Qiandra tak habis pikir.
"Aku tidak butuh nasehat dari mu!" Ia menjawab dengan sinis masih memalingkan wajahnya dari Qiandra.
"Nyonya, Aku ke sini ingin memberitahumu, Kak Zidane sudah memaafkanmu. Jika kelak Anda keluar dari penjara, Ia akan selalu siap menerima Anda dengan tangan terbuka. Minggu lalu, anaknya lahir sehingga Ia masih belum bisa mengunjungimu ke sini. Tapi setelah acara akikah anaknya selesai, Ia akan ke sini menemuimu!" ucap Qiandra penuh semangat.
"Hanya itu yang ingin Kau sampaikan?" Diana berdiri lalu akan beranjak dari sana.
"Tunggu!" sergah Qiandra tiba-tiba. "Apa Nyonya tidak tahu, kebahagiaan bersama orabg-orang yang kita sayangi tidak bisa di bandingkan dengan apapun? Hiduplah dengan baik mulai sekarang dan renungkanlah kesalahan Anda!!" ucap Qiandra dengan berapi-api. Seketika genggaman tangan Barra memberikan kekuatan padanya yang sudah akan menangis.
"Anda pikir Anda di hukum kali ini atas kesalahan Anda pada orang lain? Nyonya harus ingat apa yang Anda lakukan terhadap putra kandung Anda! Darah daging Anda sendiri!!! Jika Nyonya bebas dari sini, bersiaplah menebus semua dosa-dosa terhadap putra yang terlahir dari rahim Anda hingga batas usia Anda, Nyonya!!!"
Qiandra sontak berdiri, lalu mengajak Barra keluar dari ruangan itu. Ia meremas kuat tangannya, yang masih di dalam genggaman hangat suaminya. Satu tetesan bening pun mengalir di pipinya.
.
.
.
To Be Continue
.
.
.
Happy Reading,, Makasi yah semua atas dukungannya....❤️❤️❤️