My Bossy Husband

My Bossy Husband
Episode 56: Cerita Masa Lalu (3)



Sebulan Kemudian...


Sudah beberapa hari ini berlangsung ujian akhir bagi siswa kelas tiga SMA. Begitupun dengan Renata, Zasqia dan Diana. Malah ketiganya menempati ruangan yang sama.


Namun ada yang berbeda kali ini. Renata dan Zasqia tidak lagi tampak bersama-sama. Sejak kejadian di hari perpisahan guru-guru PPL yang lalu, Mereka tidak terlihat lagi bersama-sama.


Zasqia berulang kali meminta maaf dan mencoba menjelaskan, namun upayanya sia-sia sebab Renata tetap pada pendiriannya. Jangankan mendengarkan penjelasan Zasqia, melihat wajahnya saja Renata langsung pergi. Hal itu terjadi tidak lain dan tidak bukan karena hasutan Diana.


Ketika mengetahui Renata berlari keluar dari perpustakaan hari itu, dan Zasqia mengejarnya Diana segera ikut mengejar Renata. Ia sempat melihat Renata berbelok ke gedung kelas tiga, sementara Zasqia mengejar ke pelataran parkir hingga luar gerbang sekolah.


Situasi itu dimanfaatkan Diana untuk menemui Renata. Ia melihat satu persatu ke dalam kelas yang kosong itu, dan ternyata Renata sedang berada di samping kelas paling ujung.


"Hiks... Hiks... ," isakan tangis Renata terdengar nyaring sebab kondisi gedung yang kosong.


"Aduh, kasian banget ya Tuan Putri Kita Renata, cup cup cup," ucap Diana dengan senyuman mengejek.


Renata menatap Diana, masih dengan isakannya ia berkata,"Aku sedang tidak ingin debat dengan Kamu, Di!" Membuang wajahnya ke lain arah, lalu mengusap air matanya.


"Masa sih? Padahal Aku ke sini mau kasi tau Kamu sesuatu loh. Yah, tentang kelakuan sahabatmu itu di belakangmu!" Tersenyum licik lalu segera mengubah raut wajahnya prihatin.


"Maksud Kamu, apa?" Mengernyitkan dahinya, mencoba menelisik maksud perkataan Diana.


"lo itu kaya, cantik, tapi gak pinter nyari temen. Mau aja digoblok-goblokin si cupu. Nih gue kasi tau kelakuannya di belakang gimana!" Lagi-lagi senyuman culas terbit di wajah Diana menyaksikan Renata yang mulai tampak terpengaruh dengan kata-katanya.


Renata memperhatikan beberapa foto yang memotret kebersamaan Andra dan Zasqia. Seketika emosi memenuhi pikirannya seiring air matanya yang mulai mengering. Kedua tangannya terkepal dan otomatis lembaran foto-foto itu ikut teremas dalam kepalan tangannya.


Melihat itu, Diana terlihat sangat puas. Tidak ingin menyia-nyiakan peluang, Ia terus mengoceh hal-hal buruk tentang Zasqia.


"Temen makan temen tuh, si Cupu. Tega banget sih, dia gak mungkin nggak tau kan Lo naksir Kak Andra?" Pertanyaan itu membuat Renata memalingkan wajahnya.


"Apa maksud Kamu, Di?" Menatap Diana penuh tanda tanya.


"Santai dong, Lo sih kaku amat. Aku-kamu hadeehhh, capek deh gue. Gue tau dari Andre, adiknya Kak Andra. Dia bilang kak Andra mau dijodohin sama Lo!"


Renata terdiam sesaat, memejamkan matanya, lalu menghembuskan nafasnya perlahan. Ia menstabilkan emosi di dalam dirinya. Setelah dirasa agak tenang, Ia lalu membuka kembali matanya. Tanpa mengucapkan sepatah katapun Ia langsung pergi meninggalkan Diana yang saat itu tersenyum puas.


Bel pertanda masuk ujian berbunyi, seluruh siswa mulai memasuki satu persatu kelas mereka. Semua tampak lebih santai pada hari ini, mungkin karena hari terakhir. Kecuali Renata, entah apa yang terjadi padanya namun dia tampak ragu dan gelisah dan sesekali melihat ke arah Zasqia duduk.


Diana dan dua temannya masih asyik bercerita ketika dua orang pengawas ujian masuk ke kelas hingga dia tidak menyadari kehadiran kedua guru tersebut.


"Amunisi gue udah full ni, di kaos kaki, di lengan, di saku, lu tenang aja, pelajaran Fisika ma gue mah, kecil!" seru Diana dengan memetik jari jempol dan telunjuknya.


"Diana, kembali ke tempat Kamu!" Suara tegas milik buk Wina yang menjadi pengawas hari itu bersama Bu Yusnita mengejutkan Diana. Ia pun segera kembali ke tempatnya tak jauh dari kedua temannya itu namun posisinya paling pojok.


Ujian berlangsung khidmat pada awalnya. Setelah beberapa belas menit kemudian, Guru pengawas menegur kembali Diana yang ketahuan mengobrol dengan temannya.


"Diana, ini sedang ujian, kalau Kamu berisik seperti itu tinggalkan ruangan ini!" perintah Bu Yusnita tegas.


"I-iya buk," ucap Diana kikuk.


"Diana, Kamu pindah ke kursi depan, cepat! Zasqia, Kamu bisa pindah ke kursi Diana kan?" pinta Bu Wina tak lama kemudian.


keduanya pun bertukar posisi. Selama pertukaran posisi itu, Renata tampak gelisah dan acapkali melirik ke posisi Diana sekarang. Ada raut cemas di wajahnya meski ia berusaha keras untuk menutupi.


Dua puluh lima menit sebelum ujian berakhir, sebagian siswa mulai bergerak celingak-celinguk mencari bantuan pada teman-temannya. Tak terkecuali Diana yang sudah berjauhan dengan dua teman lainnya.


"Sial, posisi gue bikin nggak bisa ngapa-ngapain nih," teriaknya dalam hati. Karena kesal Ia tidak sengaja menggebrak mejanya sendiri yang membuat semua orang yang berada di ruangan tersebut menoleh ke arahnya. Bersamaan dengan itu, dari laci mejanya terlihat satu kotak rokok beserta pemantik terjatuh dari sana.


"Apa ini, Diana?" Bu Yusnita mengambil kotak rokok dan pemantik yang terjatuh, dan menanyakannya pada Diana.


"Saya tidak tau, Bu!" sahut Diana cuek yang sudah dalam posisi berdiri.


Dengan geram Bu Yusnita menghampiri meja Diana, dan memeriksa laci meja tersebut. Dan penemuan selanjutnya membuat mereka semua tercengang, ada banyak kertas yang di lipat kecil yang di dalamnya sudah ditulis.


"Saya tidak tau , itu bukan punya saya, mungkin punya Zasqia Bu!" Diana menunjuk Zasqia yang sudah berganti posisi dengannya. Zasqia pun tampak bingung.


"Diana, Zasqia, ikut Ibu ke kantor sekarang!"


"Tapi Bu, Saya tidak..." Baru saja Diana membuka suara untuk membela dirinya, Bu Wina sudah menyela.


"Diana, Sekarang! Tinggalkan lembar ujian kamu dan ikut Bu Yusnita sekarang!" Dengan kesal Diana berjalan mengikuti Bu Yusnita, begitu juga dengan Zasqia.


***


"Kenapa terburu-buru? Bisa Kita bicara sebentar?" tanya suara yang sangat dikenalnya itu.


"Zasqia?" ucap Renata sambil memegangi dadanya sebab terkejut. "Mengagetkan saja, huh! Kau mau bicara apa? Aku tidak punya banyak waktu!" serunya sinis menyilangkan kedua lengannya di dada.


"Aku tidak akan lama, mungkin ini akan menjadi pembicaraan terakhir kita." Zasqia berkata dengan pelan sekali, nyaris seperti berbisik namun masih terdengar oleh Renata.


Keduanya kini sudah saling berhadapan, saling menatap dengan tatapan berbeda. Renata menatap penuh kebencian dan Zasqia menatap dengan penuh kekecewaan.


"Apa yang ingin Kau bicarakan? Jika tidak ada Aku permisi sekarang!" seru Renata dengan sarkas.


"Kenapa? Kenapa meletakkan barang-barang itu di laci meja ku? Kenapa Ren?" Zasqia bertanya to the point.


"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti!" Renata menyembunyikan kegugupannya.


"Apa karena Kak Andra? Jadi hanya ini nilai persahabatan Kita selama tiga tahun ini Rena?"


"Hahahaha, sahabat? Kau tidak pantas menyandang gelar itu, Zas. Kau bukan seseorang yang pantas menjadi sahabatku. Seharusnya Aku mendengarkan kata-kata orang tuaku untuk melihat bibit, bebet dan bobot temanku. Lihatlah, Kau hanya seorang gadis kampung yang juga bertingkah sangat kampungan!"


"Apa Kau menyesal?" tanya Zasqia lirih.


"Ya, Aku sangat menyesal salah memilih teman sepertimu." Renata berteriak.


"Rena, Aku minta maaf jika memiliki kesalahan, Aku dan Kak Andra tidak memiliki hubungan seperti yang kau pikir. Aku tidak tau bagaimana caranya membuat orang lain jatuh cinta ataupun tidak kepadaku. Satu hal yang perlu Kamu ingat, apapun yang terjadi Kamu tetap sahabatku selamanya. Aku tau kamu yang meletakkan benda-benda itu di mejaku. Terimakasih sudah melewati hari-hari selama tiga tahun terakhir ini bersama, Aku harap suatu saat Kita akan bertemu lagi. Selamat tinggal, Ren!" Dengan berurai air mata, Zasqia menutup kata-katanya.


Zasqia perlahan berbalik lalu berjalan menjauh dan terus menjauh, hingga pundaknya tak terlihat lagi oleh Renata. Sedangkan Renata bergeming mematung di tempatnya. Entah bagaimana perasaannya kini, seolah-olah hari itu adalah hari terakhir mereka bertemu.


****


Pada saat makan malam di rumah Renata.


"Rena, besok Papa akan menyiapkan segala keperluanmu untuk melanjutkan studi ke Australia. Papa sudah urus dari kemarin, kemungkinan besok semua administrasimu akan selesai. Lusa Ibumu akan ikut pergi mengantarkanmu ke Australia." Renata kaget saat mendengar ucapan Papanya.


"Pa, Rena baru saja selesai ujian dan Papa sudah menyuruh Rena pergi dari rumah ini, kenapa Pa? Kenapa Papa tidak meminta pendapat Rena?" Rena bangkit dari duduknya dengan kasar, hingga membuat suara nyaring dari kursi yang didudukinya.


"Rena, yang sopan kalau bicara!" tegur Mamanya kemudian.


"Kenapa Kalian tidak pernah mempertimbangkan perasaan Rena, Ma, Pa? Apa karena Rena anak perempuan, jadi kalian melakukan itu pada Rena?" tanya Rena lagi merasa tidak puas.


"Kamu sudah tau jawabannya apa kan, kenapa harus bertanya? Kamu adalah perempuan Rena, Kamu harus menurut apa yang Papa perintahkan, Papa tau apa yang terbaik bagi kamu!" Ucap Papanya tegas lalu meninggalkan ruang makan segera setelahnya.


"Rena, sebaiknya kamu pergi tidur. Besok kamu hatus mengemasi barang bawaanmu ya, dengarkan Papa dan Mama, Kami tidak akan mengambil keputusan yang merugikan mu, sayang!" Mama mengelus-elus bahu Rena yang saat itu mulai menangis. Tak lama Mamanya pun meninggalkan Rena sendirian yang bergeming di tempatnya.


Dua hari kemudian, Rena bertolak dari Jakarta ke Australia bersama ibunya. Di sana Mereka tinggal di rumah tantenya. Hingga pengumuman kelulusan sekolah, Rena tidak pernah kembali ke sekolah.


.


.


.


Bersambung


.


.


.


Maaf ya Zheyenk, Otor baru Up. Udah tiga belas hari Aku sakit dan baru bisa beraktivitas normal tadi. Alhamdulillah kondisi Aku sudah membaik, dan sudah 90 persen sehat.


Aku udah coba nulis dari tiga hari yang lalu, entah kenapa Aku ngerasa tulisan Aku gak ngefeel😥😥


Mudah-mudahan kita semua selalu sehat yah, tetap jaga prokes ya semuanya, dan semoga mood Aku nulis juga kembali sehat, hihihi🤗🤗


Makasi buat kalian yang selalu mendukung karya ini, Kalian Luar biasa🤗🤗🤗


Happy Reading