My Bossy Husband

My Bossy Husband
Episode 55 : Cerita Masa Lalu(2)



"Ini, hari ini mamah masakin kangkung tumis pake terasi, sama tempe bacem. Ini minumannya juga buatan Mamah, wedang jahe kata Mamah bagus buat bikin badan anget musim hujan begini." Zasqia meletakkan satu set tempat makan lengkap dengan satu botol tempat minum di hadapan guru les dadakannya itu.


Andra melihat Zasqia dengan mata berbinar, semakin lama kekagumannya pada gadis ceria, bersemangat dan pekerja keras itu semakin bertambah. Sudah satu Minggu mereka selalu belajar bersama di perpustakaan, mengambil posisi paling pojok yang tidak sering dilalui orang-orang yang berkunjung ke sana.


Sementara itu Renata selalu di sibukkan dengan kegiatan drum band sekolah, melatih beberapa siswi yang menggantikannya sebagai mayoret guna pertandingan drum band yang akan di laksanakan sebelum ujian akhir kelas tiga.


"Masakan calon mertua," celetuknya pelan seraya tersenyum.


"Huh, Bapak bilang apa tadi?" tanya Zasqia polos.


"Enggak, udah laper pengen makan di sini." Menyengir menampilkan deretan gigi putihnya.


"Jangan dong, ntar ketauan penjaga perpus Aku yang dihukum. Bapak makan di tempat Bapak aja nanti. Sekarang belajar yuk, sebentar lagi Bel masuk. Rugi aku satu menit berharga banget kalau sama Bapak soalnya." Ucapan spontan Zasqia itu membuat Andra tersenyum senang, karena baginya kebersamaannya dengan Zasqia juga sangat berharga. Meski dengan makna berbeda bagi keduanya, namun Ia tetap merasa senang.


Aktivitas keduanya yang sedang belajar bersama itu ternyata tak luput dari tiga orang siswi yang mengendap-endap di balik lemari buku. Beberapa foto pun mereka ambil dengan menggunakan kamera. setelah beberapa saat mereka pun pergi dari sana.


"Dasar wanita penggoda, kelihatannya saja polos ternyata dia merayu Pak Andra. Jangan-jangan dia pake pelet lagi!" seru salah seorang teman Diana, Erika.


"Gue punya rencana bagus, udah saatnya tuh anak dikasi pelajaran. Selama ini Renata selalu ngebela dia. Sekarang gue mau lihat, siapa lagi yang bisa nyelamatin dia," ucap Diana dengan penuh kebencian.


"Emang lu rencanain apa si Di?" Tiara mengerutkan keningnya.


Diana membisikkan sesuatu di telinga kedua partner nya itu, lalu mereka pun tertawa licik bersama, kemudian beranjak pergi menuju kantin.


...✳️✳️✳️...


Bel tanda waktu sekolah telah berakhir berbunyi. Semua siswa mulai berhamburan keluar dari kelas mereka masing. Tak terkecuali dengan Zasqia dan Renata. Keduanya pun berjalan beriringan sampai ke gerbang depan. Seperti biasa, mereka menunggu kedatangan Supir yang menjemput Renata dan biasanya Renata akan memaksa Zasqia untuk ikut bersamanya.


Mereka sedang asyik dengan obrolan mereka, berdua duduk di tempat mereka biasa menunggu di halte bis tak jauh dari gerbang sekolah.


"Zas, Aku mau cerita ma kamu, tapi kita sibuk terus deh." Renata membuka keheningan antara keduanya.


"Aku juga, tapi mau gimana lagi. Kenapa sih dari tadi senyum-senyum terus?" tanya Zasqia melihat Renata yang terlihat sangat bahagia.


"Emm, gimana ya, kemarin malam temen Papa makan malam di rumah sama keluarganya. Dan tau gak, gua mau dijodohin sama anaknya. Aaarrrgghh, Aku seneng banget tau!" Menghentakkan kakinya ke lantai sambil merentangkan tangannya lalu merangkul Zasqia.


"Aneh, biasanya orang kalau dijodohin enggak mau, lah ini kok pada kesenangan," ujar Zasqia menggelengkan kepalanya.


"Itu dia, tau gak siapa anaknya temen Bokap?" Dijawab dengan gelengan kepala oleh Zasqia. "Pak Andra, guru matematika PPl kita Zas. Kebayang kan gimana senengnya Aku... "


Laksana mendengar petir di siang bolong, begitu jugalah hancurnya perasaan Zasqia. Kebersamaannya dengan Andra seminggu lebih ini, tak ayal mulai menumbuhkan benih-benih rasa cinta di hatinya. Perlakuan dan perhatian yang diberikan Andra, membuat ia mulai merasa nyaman. Namun, Ia segera sadar diri, siapalah dia di banding wanita hebat kebanggaannya yang kini tepat di sampingnya.


Zasqia segera membuyarkan perasaannya dan tersenyum ikut bahagia melihat sahabatnya bahagia.


"Selamat, akhirnya Renata akan segera melepas masa jomblonya, hihihihi!" Tertawa kecil sambil melirik Renata.


"Kamu, bisa aja sih. Oh ya Kamu tadi bilang mau cerita, cerita apa?" Pertanyaan itu membuat Zasqia gugup.


"Oh, i-itu A-aaku lu-pa, hheee," pungkasnya mencoba menetralkan kegugupannya.


"Ih, masih muda udah pelupa. Eh, Zas, kira-kira kriteria pria idaman mu seperti apa? Apa seperti pak Andra?"


Pertanyaan itu seketika membuat tubuhnya tersentak. Lalu Zasqia segera merubah wajahnya yang semula tampak kaget mendengar perkataan dari Renata.


"Aku sih gak muluk-muluk, yang penting kepribadiannya bagus!" sahutnya tersenyum.


"Hebat banget sih Kamu, gak matre. Tapi kepribadian bagus yang gimana nih Zas?" tanyanya lagi kepo.


"Yah, yang baik hati, rajin menabung, punya rumah pribadi, mobil pribadi, villa pribadi, tabungan pribadi, jet pribadi, hmmmmm apalagi yah... ?" Mengerutkan keningnya seolah-olah berpikir.


"Yaaahhh, itu mah namanya ... hahahaha," sela Renata sambil tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan spontan Zasqia.


"Kalau gitu Aku juga mau cari pasangan yang pas-pasan," ucapnya sambil menarik turunkan alisnya.


"Yakin?" tanya Zasqia.


"Yakinlah, pas mau beli mobil ada uang. Pas mau beli rumah, ada juga. Pas mau beli berlian, ada. Pas mau beli tanah, villa, gedung, jet pribadi, semuanya ada, heheheh." Renata tak sanggup menahan tawanya mendengar kalimat receh yang dilontarkannya sendiri. begitupun Zasqia.


Tak lama kemudian, pembicaraan receh mereka berdua harus berakhir Karena Mang Karyo sudah datang menjemput dan keduanya pun langsung memasuki mobil.


...✳️✳️✳️...


Dua Minggu kemudian, tepatnya sebulan sebelum ujian akhir terlaksana sekaligus hari perpisahan semua mahasiswa yang melakukan program praktek pengalaman lapangan. Setelah acara ceremonial berakhir, banyak siswa-siswi meminta swafoto bersama guru-guru PPL yang mulai esok tak akan mereka lihat lagi.


Para mahasiswa PPL itu menerima berbagai kado dari siswa maupun siswi. Namun ada satu guru, yang teramat banyak mendapat kado, siapa lagi kalau bukan Andra. Namun, hal itu tidak dia acuhkan sebab matanya sejak tadi beredar mencari sosok yang sangat ia rindukan. Rencananya hari ini dia akan mengutarakan perasaannya pada Zasqia.


"Kak Andra!" Suara manis Renata yang memanggilnya terdengar jelas, membuat tubuhnya berbalik melihat kehadiran sosok perempuan yang tak lain adalah putri dari rekan kerja Ayahnya.


"Hai, Kamu sendiri?" tanya Andra mencari sosok yang selalu bersama Renata.


"Iya Kak, kakak cari siapa sih? Nih, Aku beliin Kakak hadiah loh, special," ucapnya seraya menyerahkan satu kotak jam tangan bermerek.


"Makasi ya Ren, jadi enggak enak nih Kakak. Eh, ngomong-ngomong temen kamu Zasqia kemana? Kok Kakak enggak lihat dia?" masih dengan kepala yang celingak-celinguk mencari ke sana kemari.


"Oh, dia mana mau di tempat keramaian seperti ini. Paling juga dia ke perpus, menyendiri Kak. Kakak ada perlu ap..." Belum selesai ucapan Renata, Andra langsung memberikan kotak itu kembali pada Renata.


"Kak Andra, tunggu Kak!" Tak tinggal diam, penasaran kemana Andra pergi, Renata langsung mengejar meskipun perbedaan langkah mereka berbeda jauh. Andra sudah jauh meninggalkannya di belakang namun matanya masih bisa menangkap Andra berbelok menuju suatu tempat, perpustakaan.


Perasaan Renata mendadak tidak enak. Ia memutuskan mempercepat langkahnya seiring degupan jantungnya yang terasa semakin kencang. Pemikiran buruk mulai menari-nari di pikirannya meskipun ia mencoba menguatkan hati dengan berkata semua akan baik-baik saja.


...✳️✳️✳️...


Zasqia masih fokus dengan bacaannya, sesekali ia menguap sebab sudah beberapa jam ia berada di perpustakaan sekolah. Suasana perpustakaan yang nyaris tak ada orang, hanya beberapa orang siswa dan dua orang penjaga perpustakaan yang hari ini bertugas, membuat suasana untuk tidur menggugah matanya.


Sudah sejak lama Zasqia tidak menyukai keramaian. Oleh karenanya Ia memutuskan tidak bergabung dengan Renata untuk mengikuti acara hiburan yang diadakan setelah upacara perpisahan tadi pagi. Ia lebih memilih untuk menghabiskan waktunya dengan membaca, di tempat favoritnya sekaligus tempat yang menyimpan kenangannya bersama Andra.


setelah hari di mana Ia mendengar dari mulut Renata tentang perasaanya terhadap Andra, Zasqia memutuskan untuk tidak lagi meminta bantuan pada Andra untuk mengajarinya. Iantidak menampik bahwa ia mulai merasakan benih-benih perasaan yang mulai bersemi di hatinya, namun Ia memilih untuk melenyapkan rasa itu demi persahabatannya.


Ia tidak ingin egois, jika Andra adalah seseorang yang baru dikenalnya sebulan ini, maka Renata sudah berteman dengannya hampir tiga tahun. Ia tidak ingin kehilangan sahabatnya hanya demi seseorang yang mungkin bukan jodohnya. Kalau pun mereka jodoh, suatu saat Mereka pasti akan bertemu lagi.


Tentu saja Andra merasa bingung ketika tiba-tiba Zasqia memintanya untuk tidak mengajarinya kembali. Ia takut Renata akan salah paham, tapi dia tidak bisa memberitahukan alasannya kepada Andra sebab Renata bilang akan mengutarakan rasa cintanya pada Andra pada hari terakhir ujian kelulusan mereka.


Sejak saat itu, Andra berusaha menemui Zasqia, namun ia selalu menghindar. Ketika di perpustakaan ia tidak duduk di tempat biasa ia duduk melainkan tepat di depan penjaga perpustakaan sehingga kecil kemungkinan mereka bisa berkomunikasi. Begitupun saat pulang, ia memilih berjalan terburu-buru lalu menggandeng Renata untuk menghindari Andra.


Seminggu yang lalu, pagi itu Zasqia datang lebih cepat dari biasanya sebab ia mendapat tugas piket harian di kelas. Ketika itu suasana sekolah masih sepi, belum setengah siswa yang hadir pagi itu. Zasqia mendapat tugas membuang sampah ke tempat pembuangan sampah di belakang sekolah. Saat ia berjalan menuju kelas kembali, seseorang menarik tangannya membuat ia membalik dan menabrak dada orang yang menariknya itu.


"Aahhkkp," teriak Zasqia tertahan sebab mulutnya dibekap seseorang. Zasqia yang panik spontan mendongak, dan melihat orang yang menariknya adalah Andra. Kepanikannya pun berangsur menghilang, seiring Andra yang melonggarkan bekapan tangannya hingga terlepas.


"Zas, mohon tolong beri Saya waktu sebentar. Kenapa selama beberapa hari belakangan ini Kamu terus menghindari Saya? Apa Saya melakukan kesalahan?"


"Lepaskan tangan saya dulu, Pak!" seru Zasqia yang pergelangan tangannya masih di genggam Andra. Andra yang tersadar langsung melepaskan genggamannya.


"Maaf," ucap Andra lirih, wajahnya terlihat putus asa.


"Pak, Saya mohon maaf. Saya tidak bermaksud menghindari Bapak tapi Saya tidak ingin orang lain salah paham terhadap kedekatan Kita, Pak!" kata Zasqia berhati-hati. "Apalagi orang itu, Renata sahabat saya sendiri," bisiknya dalam hati.


"Maksud Kamu apa? Kenapa Kamu harus memikirkan anggapan orang? Apa selama ini yang Kita lakukan salah?" tanya Andra heran.


"Maaf Pak, tapi Kita berdua adalah guru dan murid. Kedekatan kita yang seperti itu bisa saja membuat spekulasi beragam di pikiran orang lain. Meskipun Saya hanya belajar dengan Bapak, tapi orang yang tidak mengetahuinya bisa berpikir yang macam-macam. Saya hanya menghindari hal itu!" Zasqia merutuki dirinya, apakah alasannya sudah tepat. Namun memang itu alasan sebenarnya, hanya saja ia tidak ingin Renata yang salah paham.


"Yah, Kita bisa menginformasikan yang sebenarnya kan, Saya rasa itu tidak masalah." Andra bertahan dengan argumennya.


"Maaf Pak, Saya tidak bisa. Saya mohon jaga interaksi Bapak dengan Saya, Saya tidak ingin imej saya maupun Bapak menjadi buruk, permisi Pak!" Zasqia langsung berlari kencang meninggalkan Andra yang masih bergeming di tempatnya. Sungguh baru kali ini dia jatuh cinta pada gadis sederhana, manis dan cuek dalam waktu sesingkat itu.


Zasqia menggeleng saat ingatannya menampilkan kejadian seminggu lalu saat di belakang sekolah. Sungguh waktu itu, Ia sudah sangat merindukan sosok yang beberapa hari ini menemani waktu istirahatnya. Namun, ketika mengingat Renata, Ia cepat-cepat membuyarkan ingatannya tersebut.


Zasqia menutup buku yang Ia baca lalu beranjak berdiri dari kursinya. Ia meletakkan kembali buku yang ia baca ke asalnya. Tetapi, saat ia berbalik netranya menangkap sosok yang baru saja muncul di pikirannya. ya, pria itu kini sudah ada di hadapannya dengan membawa setangkai bunga.


"Pak Andra!" ucapnya tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini.


"Zas, Saya mohon dengarkan Saya. Mulai besok, Saya tidak akan menjadi guru Kamu lagi. Saya harap Kamu bisa memanggil saya dengan nama Saya saja. " Dengan wajah serius.


"Zas, Saya mencintai Kamu! Entah bagaimana namun selama kita bersama, Saya sangat nyaman bersama Kamu. Sejak pertama melihatmu di kelas, saat itu mata Saya sudah tertuju padamu. Kamu terlihat cuek, berbeda dengan teman-temanmu yang lainnya. Saya mohon, terima Saya menjadi kekasih Kamu!" Memberikan setangkai bunga mawar merah ke arah Zasqia.


Zasqia menatap iba pada Andra, namun Ia tidak ingin hubungannya dengan Andra menjadi duri dalam persahabatannya. Sungguh, jika Renata tidak menyukai Andra, Ia sudah pasti akan menerima bunga itu, tapi keadaanya sekarang menjadi semakin rumit. Masih dengan mulut menganga, Zasqia bergeming di tempatnya.


"Traaak," terdengar suara benda terjatuh ke lantai. Sepasang netra milik Zasqia dan Andra sontak menoleh ke arah datangnya suara. Namun betapa terkejutnya Zasqia ketika melihat siapa yang berada di sana.


"Re-na-ta," gumamnya lirih nyaris tak terdengar.


Renata menatap Zasqia dengan tatapan muak. Air matanya tak dapat ia bendung lagi. Kedua tangannya mengepal, lalu Ia berbalik dan berlari kencang keluar dari perpustakaan sekolah.


"Ren, tunggu Aku bisa jelasin Ren!" teriaknya dengan tungkainya yang spontan mengejar Renata.


Zasqia tidak menyangka, apa yang Ia takutkan terjadi juga. Namun Ia tidak pernah ingin ini semua terjadi. Ia terus berlari mengejar Renata yang melewati kerumunan orang-orang yang masih setia mendengarkan acara hiburan di pelataran sekolah. Hingga di satu titik, Zasqia kehilangan jejak Renata.


"Rena, Kamu di mana!" ucapnya lirih dengan nafas terengah-engah karena berlari.


Sementara itu, di perpustakaan Andra yang mengambil kotak hadiah yang sempat diberikan oleh Renata tadi bbergeming di tempatnya. Pikirannya kacau, tangannya memegang secarik kerta berwarna merah jambu bertuliskan,


...Kak Andra, Aku mencintaimu. Maukah Kakak menjadi Kekasihku?...


...-Renata-...


.


.


***To Be Continue***


.


.


Happy Reading Gengs, masih sibuk di dunia nyata ya Gengs. Makasi atas semua dukungannya ya para Readers tersayang. Aku terharu loh karyaku ini bisa kalian terima, makasiiiiii 🤩🤩🙏


Masih cerita Bunda Zasqia dan Mama Renata ya Gengs sampai next episode. Nah supaya terkuak nih ada apa dan kenapa bisa Mama Diana benci banget sama Bunda Zasqia sampai-sampai dendamnya itu sampai ke anaknya.


See You soon, maaf typo berserakan siap ketik langsung cuss.