
"Barra, Kamu jangan khawatir. Kita sudah mendapatkan donor darah buat Qiandra." Mama berucap lirih seraya menyentuh lengan Barra. Sentuhan itu membuat Ia tersadar dari lamunannya, lalu Barra bergegas menghampiri perawat yang sudah berlalu dari hadapannya.
"Tunggu, Suster!" Berlari dengan tergesa-gesa. "Apa maksud Anda dengan kondisi Istri Saya dan janinnya? Apa Istri Saya hamil?" tanya Barra lagi.
"Iya Pak, Saat ini Ibu sedang mengandung dan usia kandungannya antara tiga sampai empat Minggu." Jawab perawat itu sambil tersenyum lalu berlalu dari hadapan Barra.
Barra bergeming dari tempatnya. Ia masih mengulang kata-kata dari perawat tadi. "Saat ini Ibu sedang mengandung dan usia kandungannya antara tiga sampai empat minggu."
Barra menggerakkan tubuhnya, melihat ke arah Mama Renata, Papa Gunawan, dan juga David yang menatapnya dengan tatapan cemas dan khawatir. Ia tak kuasa menahan tangisnya, namun ia juga menengadahkan kepalanya, menahan bulir kristal itu terjatuh kembali.
"Terimakasih ya Allah, Selamatkan lah istri dan anakku!" pintanya lirih dalam doa yang Ia selipkan pada Sang Maha Pencipta.
Setelah bergeming ditempatnya beberapa saat, Barra mulai mendekati ketiga orang yang ada di ruang tunggu tersebut.
"Ada apa Barra? Apa yang dikatakan Suster itu tadi?" Mama terlihat sangat gusar.
Barra hanya menggeleng pelan, satu senyuman terbit di kedua sudut bibirnya.
"Ma, Pa, Dav, Suster bilang Qiandra sedang hamil. Usia kandungannya berkisar tiga atau empat minggu." Mengusap cairan bening yang mengumpul di kedua ujung netranya. Lagi-lagi Ia tak kuasa menahan segala haru.
"Kamu serius Barra? Mama
enggak salah dengarkan?" Menggoyang-goyangkan salah satu lengan bara yang dipegangnya.
Barra hanya menggeleng pelan menjawab pertanyaan Mamanya. Ada rasa bahagia sekaligus sedih mendengar berita tersebut. Sebagai lelaki yang tidak terbiasa menangis, kali ini Ia benar-benar kehilangan banyak air matanya. Meski telah dihapus berapa kali pun, kristal bening itu tetap saja mengalir tanpa permisi.
"Alhamdulillah ya Allah, Pah sebentar lagi Barra bakal jadi seorang Ayah." Mama Renata begitu senang mendengar kabar kehamilan Qiandra. Segera Ia melabuhkan tubuhnya ke dalam dekapan suaminya. Tak berlama-lama Ia pun segera melepaskan diri dan berniat memeluk Barra. Namun sesuatu menghentikan niatnya.
"Kamu kenapa Barra? Kenapa Kamu menangis?" Mama Renata mengusap bahu putranya lembut.
"Barra bahagia Ma, tapi ... ." Menggelengkan kepalanya perlahan, dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya. "Barra takut Mereka meninggalkan Barra, Ma!" ucap Barra kemudian terisak keras.
"No, Barra. Jangan berkata seperti itu! Bentakan Mama Renata diiringi gelengan kepalanya beberapa kali. "Di dalam sana Mereka sedang berjuang demi Kamu, agar bisa bertemu dengan Kamu. Bagaimana mungkin Kamu tidak percaya pada keduanya, huh?" Menolak tubuh Barra hingga Ia mundur beberapa langkah, bukan karena kekuatan dorongan Mama. Namun karena tubuh Barra sudah lemah terkulai, seperti tak bertulang.
"Ayo, duduk sini!" perintah Mama seraya menarik tubuh limbung Barra yang ke tempat duduk yang berjejer rapi di depan ruangan gawat darurat.
"Kamu harus menjadi orang pertama yang memberi kekuatan pada Istrimu nanti, Nak. Jangan bersikap skeptis seperti ini. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi, namun Kamu harus yakin di dalam sana ada dua nyawa yang sedang bertaruh melawan maut hanya untuk dapat bertemu denganmu!" Mana Renata memberi pengertian pada Barra.
"Mama benar Barra. Kamu adalah penguat bagi mereka, sama seperti mereka yang harusnya menjadi penguat bagimu. Tenaga medis juga sedang berusaha menyelamatkan mereka, tugas Kita hanyalah berdoa kepada Allah," Papa menambahkan.
David yang kini masih berdiri, menepuk bahu Barra. "Semangat Barra, ayo semangat. Wake up. wake up!"
"Thanks Bro." Mengusap air mata dengan tangannya.
Kriing... kriing...
Bunyi dering ponsel David membuat Ia terpaksa sedikit menjauh dari ketiga orang yang ada di sana. Ternyata itu adalah telpon dari pihak kepolisian yang meminta David untuk ke sana memberikan keterangan. David pun segera undur diri dari sana, bergegas menuju kantor polisi. Sebelumnya juga David sudah menyuruh seseorang untuk mengantarkan baju ganti untuk Barra.
Sepeninggal David, kondisi Barra sudah lebih tenang. Ia tampak lebih tegar sekarang. Tak lama berselang, Erlan pun datang.
"Bagaimana kondisi Qiandra?" tanya Erlan yang tau-tau sudah berada di hadapan Barra.
Barra langsung berdiri mensejajarkan tubuhnya dengan Erlan. "Masih ditangani Dokter, Om Andre sedang beristirahat di ruang donor, baru saja Om Andre mendonorkan darah untuk Qiandra."
"Suster mengatakan Qiandra kehilangan banyak darah saat dalam perjalanan kemari, sehingga untuk memerlukan beberapa kantung darah untuk mengeluarkan peluru dari tubuhnya." Tenggorokan Barra seperti tercekat. Suaranya tertahan hingga terdengar lirih di telinga.
"Aku yakin Qiandra baik-baik saja. Dia wanita yang kuat. Qiandra akan bertahan." Erlan tersenyum sembari mengangguk.
"Ya, di dalam sana mereka sedang berjuang menyelamatkan Qiandra dan calon bayi Kami."
"Bayi? Maksudmu Qiandra hamil?" tanya Erlan penasaran.
Barra hanya menjawab dengan beberapa kali anggukan kepala.
"Selamat Barra, wah Kalian akan segera jadi orang tua dan Aku akan menjadi Uncle. Mudah-mudahan Qiandra dan calon keponakanku baik-baik saja." Memeluk Barra seraya menepuk-nepuk pundaknya.
"Selamat juga ya Om, Tante." Mekepas pelukannya dan tersenyum ke arah Mama Renata dan Papa Gunawan. "Oh ya, kemana David?" tanya Erlan lagi pada Barra.
"Dia ke kantor polisi mengurus segalanya. Bagaimana dengan Randa?" Barra balik bertanya.
"Randa sudah kembali ke kantor, ada meeting penting yang tidak bisa ditunda. Zidane dan Arlie sudah ditangani dan kini beristirahat di ruang rawat VIP. Aku meminta agar mereka ditempatkan dalam satu kamar. Selain itu, kedua orang tua Arlie sudah datang, dan dua orang bawahan Randa juga Aku tempatkan berjaga di ruangan mereka." Erlan menjelaskan.
Barra mengangguk lega, meskipun kondisi istrinya masih belum bisa dipastikan baik namun mengetahui kondisi Zidane dan Arlie baik-baik saja sudah membuat hatinya lebih tenang.
Suara pintu kaca terbuka, semua mata mengarah pada seorang dokter yang keluar dari ruangan tempat Qiandra ditangani.
"Dokter, bagaimana kondisi anak saya, Dok?" Mama Renata yang duduk paling dekat dengan pintu langsung berlari menghampiri dokter, disusul lainnya.
"Maaf Ibu, Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Kondisi pasien saat tiba di sini sudah banyak kehilangan darah sehingga untuk melakukan tindakan harus menunggu persediaan darah cukup terlebih dahulu. Belum lagi kondisi pasien yang sedang hamil muda." Dokter tersebut menghela nafas panjang.
"Kami berhasil menyelamatkan janinnya, dan peluru yang bersarang di tubuh pasien sudah dikeluarkan. Untungnya peluru-peluru itu tidak ada yang mengenai organ vital pasien, meski nyaris mengenai salah satu ginjalnya. Namun saat ini kondisi pasien masih kritis. Kita perlu menunggu hingga 1x24 jam. Jika pasien bisa sadar dalam kurun waktu tersebut, bisa di katakan Ia akan baik-baik saja tetapi...," ucapan Dokter berhenti sesaat.
"Maksud Dokter apa? Tolong jangan memberi info setengah-setengah Dok!" tegas Barra frustasi.
"Jika pasien tidak sadarkan diri dalam kurun waktu tersebut, bisa dikatakan Pasien mengalami koma," tutur Dokter wanita paruh baya tersebut.
**Deg
.
.
TBC
.
.
Happy Reading semuanya...
Aku usahain up satu lagi ntar malam, tapi nggak janji ya ðŸ¤ðŸ¤ Jangan ditungguin...
Makasih buat semua Readers untuk dukungannya,,, jangan lupa biasakan tekan like ya, gratis kok**.