My Bossy Husband

My Bossy Husband
Eps.8 : Kehilangan (3)



Kehilangan orang yang paling kita sayangi adalah hal yang paling menyakitkan dalam hidup. Kenyataan itu juga turut dirasakan oleh Qiandra. Putri tunggal dari pasangan Andra dan Zasqia itu tidak pernah merasakan hidup susah meski keluarganya juga tidak bisa dibilang kaya. Kasih sayang yang diberikan kedua orang tuanya juga dirasa tidak pernah kurang.


Qiandra tumbuh menjadi remaja yang periang, manja, supel dan pemberani. Namun, siapa sangka saat usianya akan menginjak 16 tahun, Ia pun harus kehilangan Ayahnya untuk Selamanya. Kakinya lemas seketika, ketika berita itu terdengar olehnya.


Bagaikan kehilangan bumi untuk berpijak, sandaran untuk berpegang, bahu untuk mengadu, itulah yang ia rasakan saat itu. Bersama Bunda yang hanya seorang ibu Rumah tangga, Qiandra mulai menyongsong masa depan mereka hanya berdua. Tepat ketika usianya menginjak 20 tahun, Bunda pun menghembuskan nafas terakhir. Sejak saat itu, gadis itu harus berjuang sendiri menjalani kerasnya hidup.


***


"Bbunn-nnda" ucap Qiandra lirih, merasakan genggaman hangat di tangannya. Seketika netranya mengerjap beberapa kali, perlahan netranya mulai terbuka. Manik coklatnya langsung bertemu dengan manik seorang wanita paruh baya yang pagi ini di jumpainya.


. . .


Perawat sudah selesai membuka infus di tangan Qiandra. Kini keadaanya sudah segar kembali.


Qiandra juga sudah menceritakan tentang kejadian yang menimpanya pada Mama Renata, tak satupun terlewat olehnya.


Mama Renata membantu membelikannya tiket pulang dan membayar semua tagihan hotel, juga telah mentransfer sejumlah uang ke rekening Qiandra. Jumlah itu sangat besar baginya, namun tidak bagi Mama Renata.


Meskipun Dia tidak tau butuh waktu berapa lama, sampai ia bisa mengganti semua uang yang digunakannya sekarang, namun Qiandra tetap berjanji akan mengembalikannya suatu saat nanti meski dengan cara menyicil.


"Jangan pikirkan itu lagi Qia. Anggap saja Mama memiliki satu kartu kesempatan. Jika sewaktu-waktu Mama mengalami kesulitan, maka Mama akan memintanya Nak, " jawaban Mama Renata atas pernyataan Qiandra yang ingin menyicil uang yang dipinjamnya sekarang.


"Terimakasih Nyonya," ucap Qiandra.


"Berapa kali Mama bilang, jangan panggil Mama dengan sebutan itu. Panggil saja Mama, sayang hemmm," pinta Mama Renata lembut.


" Eh, iya maksud Qia Mama." Dengan canggung Qiandra menyalami dan memeluk Mama Renata, terasa kehangatan seorang Ibu yang sudah lama tidak lagi Ia rasakan.


"Mama, Kak Manda, Qiandra pulang duluan ya. Sampai bertemu lagi di Jakarta," pamit Qiandra sebelum masuk ke taksi yang membawanya ke Bandara.


Flashback off


Qiandra tiba di cafe tempatnya bekerja tepat pukul 09.00 WIB. Tampak pemilik cafe sudah ada di dalam sambil mengelap susunan gelas-gelas di atas meja. Mereka akan buka pukul 10.00 WIB. Namun Qiandra akan datang lebih awal untuk membersihkan kafe serta peralatan lainnya.


Sementara itu temannya yang lain yaitu Sarah, bertanggung jawab untuk berbelanja bahan-bahan perlengkapan cafe. Sedangkan Esy adalah koki di kafe tersebut. Ada juga Bimo dan Mega sebagai waiters. Mereka bekerja hingga pukul 00.00 WIB.


"Assalamualaikum, selamat pagi Kak Erlan," sapa Qiandra pada bos nya itu.


"Wa'alaikumsalam, Pagi Qia, bagaimana liburanmu, hmmm?" Sapa pria pemilik cafe yang sudah seperti kakak baginya ramah.


" Sangat menyenangkan Kak, rasanya Aku tidak ingin kembali bekerja, ahahahh."


"Dasar Kau ini, cepat ganti seragammu, Aku sudah sangat lelah tiga hari ini menggantikanmu bekerja,"


" Kau terbaik pak Bos, terimakasih," teriak Qiandra yang langsung berlari masuk ke dalam ruang ganti pegawai untuk mengganti seragamnya.


Erlan hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan anak buahnya itu. Cafe minimalis yang dibangun di lahan seluas 10×17 meter ini terdiri dari dua lantai. Warna kayu mendominasi keseluruhan interior ruangan di cafe itu. Begitupun furniture nya, banyak yang terbuat dari kayu jati, namun tetap saja nuansa yang ditawarkan terkesan modern.


ya, Pagi ini pun Qiandra masih tetap bersemangat, rencananya nanti malam dia akan minta izin besok siang untuk mengirimkan beberapa lamaran kerja ke beberapa perusahaan .


****


Bara sudah berada di kantornya sekarang. Tampak kesibukan yang dijalaninya pagi ini bersama David, Asistennya dan juga Andin, Sekretarisnya. Pagi ini Ia harus mempelajari detail materi yang dibuat oleh David kemarin.


Salah satu klien penting perusahaannya meminta Ia yang mempresentasikan rencana kerjasama antar perusahaan itu. Bara tidak ingin mengecewakan Papanya, Dia bekerja keras untuk mendapatkan proyek kali ini


GM corporation merupakan perusahaan multinasional yang bergerak di berbagai bidang. Awal didirikan, perusahaan ini adalah perusahan yang bergerak di industri tambang. Seiring dengan kemajuan perusahaan, akhirnya kini GM Corp. memiliki beberapa anak perusahaan yang bergerak di berbagai bidang.


Bara menatap Andin, kemudian menganggukkan kepala pada David. Dengan cekatan David langsung menelfon Andi untuk mengantarkan mereka. Andin bergegas menyiapkan bahan untuk pertemuan hari ini.


Kini mereka bertiga telah siap menuju tempat yang sudah dijanjikan. Untuk tempat kali ini pihak klien yang memilih.


Bara melangkahkan kakinya pasti keluar dari lift. Dia mengenakan setelan jas berwarna navy, dengan kemeja berwarna abu muda dan dasi warna senada. Sontak saja pemandangan itu seperti angin syurga bagi para pengagumnya.


Sementara Andin, gadis cantik dengan tinggi semampai, berambut lurus panjang. Kaki jenjang dengan kulit mulusnya yang makin terlihat saat ini, karena ia hanya mengenakan kemeja warna biru muda tanpa lengan, yang dimasukkan ke dalam rok pensil selutut berwarna navy. Tak lupa blazer warna senada dengan roknya, juga sepatu heells 7 cm yang biasa menemani kesehariannya di kantor.


Sekilas mereka berdua tampak seperti pasangan, andai saja tidak ada David di sana.


"Kita ke Ers Cofee sekarang, Andi," ujar David begitu masuk ke bagian depan mobil bersebelahan dengan Andi. Sementara Andi, menganggukkan kepalanya tanda mengerti, dan langsung melajukan mobil perusahaan itu menuju ke lokasi.


"David, Andin, pastikan kita akan mendapatkan kerjasama ini. Aku tidak ingin ada kesalahan sedikit pun,"


"Baik, Pak," jawab David dan Andin bersamaan.


*****


"Qia, apa Kau sudah menyiapkan ruang pertemuan di lantai Dua?" tanya Erlan ketika melewati Qiandra yang sedang membersihkan lantai di dapur.


" Sudah beres ,Bos. Ngomong-ngomong siapa yang memesan ruangan di atas Bos?" tanya Qiandra penasaran.


Erlan memegang pundak Qiandra, lalu sedikit menunduk mensejajarkan wajahnya ke wajah Qiandra.


"Ternyata begini ekspresi wajahmu saat sedang kepo ya, Ahahaha," goda Erlan segera berlalu ke ruangannya.


"Kak Erlaaan," teriak Qiandra kesal. "Huh, selalu mengerjai ku, dasar! Untung saja Bos," kesalnya dalam hati.


Karena bersih-bersihnya sudah selesai, Qiandra langsung bergegas ke pintu depan untuk bersiap menyambut pelanggan jika ada. Seorang pria berstelan jas lengkap, sepatu mengkilap tiba-tiba masuk, Qiandra gelagapan karena tidak siap.


"Selamat datang Tuan, silahkan masuk," ucap Qiandra seraya membungkukkan badannya.


"Apakah saya bisa bertemu dengan pemilik Cafe ini?" tanya pria itu datar.


"Oh, Pak Erlan sedang di ruangannya. Mari saya antar." Qiandra langsung menuntun pria itu menuju ruangan Bosnya. Setelah sampai, Qiandra mengetuk pintu ruang pribadi Bosnya itu.


"Masuk," jawab Erlan dari dalam.


seketika Qiandra membuka pintu lalu mempersilakan pria itu masuk. Namun, Qiandra sedikit terkejut melihat pria itu menundukkan kepala seperti memberi hormat pada Bosnya.


"Ekhemmmm, Qiandra Kau bisa meninggalkan kami," titah Erlan pada Qiandra dan Ia pun segera berlalu dari sana.


"Bagaimana, apa kau membawa kabar baik untukku?" tanya Erlan tiba-tiba.


Pria itupun mengangguk, "iya Presdir, Kami sudah menemukannya," jawab Pria itu.


"Kau yakin itu dia? Atau Kau menemukan orang lain?" lagi- lagi pertanyaan keluar dari bibir Erlan.


"Sesuai penyelidikan saya yang sebelumnya, Tidak salah lagi, orang itu adalah dia, Presdir."


"Siapkan beberapa orang untuk menjaganya dari jauh. Mulai sekarang, Dia adalah nona muda kalian. Ingat, jangan sampai Dia merasa terganggu. Aku masih belum tahu bagaimana Aku akan memberitahukan padanya secara langsung." Erlan berkata dengan tegas, dan matanya menatap keluar ruangan arah pintu masuk cafe, dari sebalik kaca yang tertutup roller blind itu.


*** **TO BE CONTINUE ***


Hai, Readers,, terimakasih selalu mendukung aku. Jangan lupa tinggalkan like dan koment kalian ya 🥰🥰🥰 Semangat**.