My Bossy Husband

My Bossy Husband
Eps. 20 : Kandang Singa



Suasana gedung perkantoran GM Corp. sudah tampak ramai pagi ini. Sebagian besar karyawan sudah tampak memenuhi kubikel-kubikel mereka, termasuk Qiandra dan dua teman yang lain. Mereka sudah siap menyambut semua orang.


Tidak terasa, lima hari sudah Qiandra bekerja di GM Corp. Hari ini adalah hari Jumat, artinya malam ini Barra akan pulang ke kediaman kelurga Gunawan. Hal yang paling di hindari Qiandra.


Qiandra menarik nafasnya kasar, membayangkan harus satu atap dengan pria yang berwajah memikat namun berhati keparat itu. Entah mengapa, setiap kali bertemu dengan pria itu, akan ada kejadian yang tidak ia duga. Terlebih lagi, Ia harus melihat wajah songong sang pria yang Ia beri julukan Tuan over percaya diri itu.


"Kamu kenapa sih Qia, dari tadi tu wajah ditekuk terus?" tanya Salma heran memperhatikan Qiandra sejak tadi.


Qiandra hanya melirik malas pada temannya yang hobi menyanyi itu lalu mengendikkan bahunya.


"Kalau Gue tuh semangat banget ya hari ini. Secara udah weekend, bisa bobok cantik di rumah seharian," sahut Resta, yang sejak tadi selalu memperhatikan kuku jari tangannya. "Sepertinya besok Gue harus manicure padicure deh," ucapnya lagi berbicara pada dirinya sendiri.


"Jangan-jangan, kamu gak semangat karena besok ga bisa lihat wajah tampan pak Boss kita lagi?" cetus Salma sambil memicingkan matanya ke Qiandra.


"Apaan Siiii, pak Boss siapa? Boss kita ya Bu Mega, ngapain Aku ngelihatin dia?" Qiandra melirik Salma malas. "Asbun aja deh kalau ngomong tuh!"


"Yee, Aku bilang juga pak Boss, bukan Bu Boss. Siapa lagi kalau bukan Tuan Barra,,, ahhh, dijadiin sapu tangan lap keringetnya dia juga Aku rela, apalagi dijadiin pacar, whaaaa," Salma mendongakkan kepalanya ke atas, sambil membayangkan sesuatu yang membuatnya senyum-senyum sendiri seperti orang gila.


"uhuk uhuk,,," Qiandra tersedak tiba-tiba mendengar ocehan Salma. Dia hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan absurd temannya itu.


"Kalau lu jadi sapu tangan lap keringatnya, Gue jadi apa ya Ma?" tanya Resta menimpali.


"Kamu jadi penonton bayaran aja ya Re, lihatin gue yang lagi dikantongin di jasnya. Duh, ngebayanginnya aja hatiku udah berbunga-bunga Re." sahut Salma masih cengengesan ria dengan kedua tangannya menopang dagu.


"Kalian ini pada ngomongin apaan sii, udah serius kerja aja!" Qiandra menatap kesal pada kedua temannya itu lalu mencoba fokus kembali pada pekerjaannya.


Qiandra baru mengetahui bahwa Ia bekerja di perusahaan milik keluarga Papa Gunawan di hari kedua bekerja. Jujur ia sangat terkejut, itu seperti takdir Qiandra berada di tengah-tengah keluarga itu.


Ketika itu, sepulang bekerja Qiandra langsung menemui Mama Renata dan menanyakan perihal pekerjaannya, apakah ada andil Mama atau Papa sehingga ia bisa berada di posisinya sekarang.


"Tadinya Mama ingin melakukan itu, sayang. Mama meminta Papa untuk memberikan posisi yang bagus di sana. Namun Papa bilang, Kau pasti tidak akan menyukainya jika tahu kalau Kau mendapatkan pekerjaan bukan karena kemampuan Mu. Akhirnya Mama pasrah saat papa bilang ketika wawancara, Kau bersedia ditempatkan sebagai resepsionis di sana. "


Qiandra masih ingat jelas, apa yang dikatakan Mama Renata tempo hari. Oleh sebab itu, Dia bertekad untuk bekerja sebaik-baiknya agar kelak orang tidak memandangnya sebelah mata ketika tahu bahwa Ia adalah anak angkat di keluarga Gunawan.


******


Andin sedang mengangkat panggilan sesaat ketika Barra dan David baru saja kembali dari meeting. Baru saja, Asisten David membuka pintu, dan mempersilakan Barra masuk Andin pun menyergah dengan pertanyaannya.


"Pak, bagian resepsionis menanyakan, ada seorang tamu wanita ingin menemui Anda, Pak," ucap Andin pada Bosnya itu. Lalu ia menyebutkan sebuah nama yang tidak asing bagi ketiganya.


Barra mengernyitkan dahinya seketika. Ia menoleh pada David, yang hanya mengendikkan kedua bahunya.


"Perintahkan bagian resepsionis untuk mengantarkan wanita itu kemari. Dan kau, setelah selesai dengan panggilan itu, masuklah ke dalam."


"Baik, Pak," jawab Andin agak gugup mendengar jawaban Barra.


Barra dan David pun masuk ke ruangan wakil direktur dan Andin melanjutkan panggilannya.


"Tolong Kau antarkan nona itu ke ruangan Pak Barra, sekarang!" titahnya.


"Baik, Bu," jawab seseorang dari balik telepon.


*******


Qiandra tertegun menatap tamu di depannya setelah menutup panggilan telepon. Dia memperhatikan seorang wanita yang mengenakan gaun tanpa lengan panjang selutut, berwarna hitam, dan sedikit menampakkan belahan dadanya. Rambutnya pirang, panjang dan bergelombang, dibiarkan tergerai. wajahnya pun cantik, matanya berbingkai kaca hitam dengan lipstik merah dan make up yang sedikit mencolok.


"Nona, saya akan mengantarkan Anda ke ruangan pak Barra, Mari," ajak Qiandra sopan pada tamu tersebut.


"Okay, let's go!" Dengan berlenggang-lenggok ala model di catwalk, wanita itu berjalan anggun di sisi Qiandra. Dengan tinggi tubuh 170 cm di tambah heels yang dikenakannya, membuat tubuhnya menjulang sempurna. Kaki jenjang terbalut stocking warna kulit, menyempurnakan penampilannya saat ini.


"Ini pertama kalinya Aku masuk ke kandang Singa, Ihhhh, kok deg-degan sii," ucap Qiandra dalam hatinya. "Lebay banget kamu tuh wahai hati, biasa aja kenapa siii," sambungnya lagi mengumpati hatinya sendiri.


Wanita itu menaikkan kaca mata hitamnya ke atas rambut, lalu menatap ke arah Qiandra dan tersenyum.


"Siapa namamu cantik?" tanyanya sambil tersenyum. Qiandra melirik lawan bicaranya dengan ragu-ragu.


"Ss-saya?" tanyanya sambil menunjuk hidungnya dengan jari telunjuk.


"Bukan, orang di luar sana," jawabnya dengan asal.


"Ohh, saya pikir Nona menanyakan saya," katanya lagi polos.


"Ya jelas Kamu lah, emang siapa lagi yang ada di sini? Kamu pikir saya ngomong sama setan apa?" hardik wanita itu mulai kesal. Ia menarik nafasnya sejenak. "Nama, nama Kamu siapa?" tanyanya lagi.


"Ssa-yaa Qiandra, Nona." Qiandra menjawab dengan gelagapan.


"Nama yang cantik, secantik orangnya. Tapi, masih lebih cantik Aku Khan?" tanyanya tidak bermaksud mendapat pembenaran dengan nada menggoda.


Ting


Dentingan lift pun berbunyi, lalu pintu lift terbuka. Qia dan tamu itu segera keluar dari lift. Qiandra pun menuntun langkah mereka menuju ruangan Barra. Beberapa pasang mata dari balik kubikel terlihat melirik mereka di sepanjang perjalanan.


Sesampainya di depan ruangan Bara, Qiandra menarik nafasnya dalam-dalam. Perasaannya jadi tak menentu, seperti ada firasat buruk. Ruangan di depannya kini adalah kandang Singa, yang salah-salah bisa langsung menerkam tanpa ampun.


Qiandra mengetuk pintu sesaat, dan di Sahuti dengan perintah untuk masuk ke dalam. Seketika, tangannya tergerak membuka knop pintu. Tak lupa ia melantunkan sebait doa sebelum melangkah masuk, sementara wanita di sampingnya melangkah kan kakinya dengan senyuman.


kriiiiiieeeett


Mendengar pintu ruangan terbuka, sontak saja tiga orang yang ada di dalam melihat ke arah mereka. Qiandra tiba-tiba kaget, mendapat dorongan kuat dari bahu wanita itu, yang berlari menghambur memeluk Barra yang kini berdiri mematung di depan meja kerjanya.


"Sayaaang," ucap wanita itu sambil berhambur memeluk Barra.


"auuuh," teriak Qiandra yang tersungkur ke depan akibat dorongan yang tak di sengaja itu. Qiandra


berusaha bangkit, menahan perih di lututnya. Ia membulatkan matanya melihat pemandangan di depannya.


Wanita itu sedang memeluk Barra erat, sementara Barra terlihat shock tanpa melakukan apa-apa. kedua tangannya hanya diam, seperti ragu ingin memeluk atau harus melepaskan.


"I Miss you so bad, Honey!" ujar wanita itu lalu merenggangkan pelukannya, menatap wajah dengan ekspresi terkejut Barra.


"Kkau? Kkau kembali? Kenapa?" tanya Barra bertubi-tubi, sedikit berteriak.


Bukannya menjawab, wanita itu malah menarik tengkuk Barra dan mencium bibir Barra. Semua orang di ruangan itu memelototkan matanya ketika mendapati wanita itu dengan berani mencium orang di depannya.


Bersamaan dengan itu, Mama Renata berjalan masuk ke ruangan Barra. Sontak Ia mengurut dadanya, tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Baru saja Ia akan berteriak, kilatan Blitz kamera pun memenuhi seisi ruangan.


"Tidaaaak,,, "


.


.


.


.


***To Be Continue***


Happy Reading