
Qiandra terbangun pagi sekali, saat matahari masih malu-malu untuk menampakkan dirinya. Ia melihat Kak Erlan sudah tidak ada di ruang rawat yang Ia tempati sekarang. Menyisakan seorang lelaki tampan dan gagah dengan tampang lelah dan sedikit acak-acakan. Dengan rinci Ia memindai sosok itu dengan seksama, bulu-bulu halus mulai nampak di sekitar wajahnya.
"Sebegitu khawatirnya Kamu sama Aku, sampai lupa mengurus diri Kamu sendiri Mas!" batin Qiandra.
"Maaf sudah sempat meragukan ketulusan hatimu, sekarang Aku yakin akan perasaanmu padaku!" sambungnya lagi kali ini dengan suara lirih.
Ceklek
Pintu dibuka oleh seorang perawat yang masuk bersama dengan dokter visit. Qiandra memberi kode dengan satu telunjuk di bibirnya, agar Dokter dan perawat yang masuk tidak membuat suara berlebihan yang dapat mengganggu tidur Suaminya.
Dokter dan Perawat itu pun mengangguk sambil tersenyum.
Setelah memberitahukan kondisi Qiandra baik-baik saja, Dokter pun pamit. Sebelum mereka keluar, Qiandra meminta tolong pada perawat untuk mengambilkan ponsel Barra yang tergeletak di meja. Ia ingin menghubungi seseorang.
Diletakkannya ponsel itu di sisi Indra pendengarannya, setelah memanggil sebuah kontak yang diberi nama "Mama" di sana. Nada panggilan terhubung berbunyi, tak lama suara seorang wanita paruh baya yang sudah Ia hafal terdengar di telinganya.
"Halo, Barra? Bagaimana kondisi Qiandra Nak? Mama khawatir sekali dengannya. Tapi Papa melarang Mama ke sana sebab mungkin Qiandra akan tidak suka kehadiran Mama seperti kemarin, hiks hiks... Bagaimana jika Qiandra membenci dan tidak ingin memaafkan Mama, Nak?? Hiks hiks, bagaimana?" Suara isakan dari seberang telpon begitu jelas terdengar di telinganya.
"Ya Allah, bagaimana Aku bisa membenci orang yang mengeluarkan air matanya hanya karena khawatir akan kondisiku?" gumam Qiandra dalam hati. Satu tetesan air mata membasahi pipinya.
"Barra, Kamu jangan pikirin Mama ya Nak. Yang harus kamu pikirin sekarang adalah menantu dan calon bayi kalian. Mama di sini baik-baik saja. Mama bersedia melakukan apapun asalkan Qiandra bahagia. Termasuk harus menahan diri untuk bertemu dengannya, hiks hiks hiks... Mama harap Mama bisa menebus kesalahan Mama di masa lalu."
Deg
Kata-kata Mama Renata membuat hati Qiandra rapuh. Ia mulai terisak dan merindukan sosok yang bicara padanya sekarang.
"Maaa, hiks hiks hiks...," isaknya perlahan.
Hening. Tidak ada balasan dari seberang telepon.
"Mama, Qiandra mau ketemu Mama. Qia kangen Mama, hiks...," ucapnya lagi sambil terisak.
"Qi-an-dra?" tanya Mama terbata tak percaya."Qiandra, ini Kamu Nak?" tanyanya lagi kali ini lebih lancar.
Qiandra hanya bisa mengangguk meskipun Mama Renata tidak melihatnya. Ia masih terisak kecil.
"Qia kangen sama Mama. Papa, Kak Manda, Mikha dan yang lainnya Mah!" Qiandra berbicara setelah menghentikan tangisnya.
"Iya sayang, Mama juga kangen kamu. Mama akan mengajak Papa ke sana pagi ini ya. Kamu baik-baik di sana sampai Mama datang!" Mama Renata langsung mematikan panggilannya dari seberang telpon.
Qiandra tersenyum kecil mendengar nada panggilan terputus. "Maafkan Qiandra Ma, pernah meragukan kasih sayang Mama." Qiandra bergumam pelan lalu meletakkan kembali ponsel Barra di atas meja di samping ranjang pasien yang ditempatinya saat ini. Lantas wajah penat lelaki yang tertidur di sofa itu menjadi satu-satunya hal yang ia lakukan sembari menunggu.
Setengah jam berlalu, terdengar suara derap sepatu bertubrukan dengan lantai keramik bangunan di luar ruangan. Tak berselang lama. pintu ruangan terbuka dan mulai memperlihatkan satu persatu wajah orang yang dirinduinya.
Ceklek
Mama bergeming di ambang pintu. Tungkainya seperti tertahan melangkah, ragu sebab kejadian terakhir kali yang membuat orang yang mengenakan pakaian pasien itu histeris. Tanpa disadari Mama Renata meneteskan cairan bening di pipinya.
Qiandra yang melihat tak ada pergerakan dari Mama Renata mengernyitkan dahinya. Ia memaksa tubuhnya untuk bangkit mengambil posisi duduk sehingga membuat ia sedikit meringis menahan sakit pada luka operasinya.
"Qiandra, hati-hati!" pekik Mama tertahan lalu bergegas menghampiri Sang Menantu disusul dua orang dari belakangnya Papa dan Kak Manda.
Setelah Qiandra berada pada posisi yang diinginkannya, Ia segera menyapa kedatangan mereka.
"Selamat Pagi semuanya, Maaf sudah memaksa kalian semua kemari pagi-pagi begini," sapa Qiandra kikuk.
Ucapan Papa membuat Qiandra merasa bersalah. "Ma, Pa, Qiandra mau minta maaf karena kejadian tempo hari. Qiandra enggak tau kenapa Qia bisa bersikap seperti itu. Qia, Qia, hiks ... ," ucapnya lirih hingga Ia tidak bisa melanjutkan kata-katanya sebab suaranya tercekat ditambah air mata yang sudah tumpah membasahi pipinya.
Mama lantas memeluk Qiandra. Ia tahu tidak mudah bagi anak menantunya itu melakukan ini mengingat semua yang telah ia lakukan sehingga menimbulkan kesalahpahaman yang membuat hidup Zasqia serta keluarganya menderita.
"Ma, Qiandra ingin keluar ke taman mencari udara segar." Ia melirik ke arah sofa di mana Barra tidur. Ia tidak ingin mengganggu istirahat suaminya. Mama dan yang lainnya pun mengikuti arah pandang Qiandra.
Mereka pun paham maksud Qiandra, dan meminta sebuah kursi roda pada petugas rumah sakit. Setelah itu mereka membawa Qiandra berjalan-jalan di taman yang ada di sana. Papa dan Amanda meninggalkan Mama Renata dan Qiandra berdua, dan duduk tak jauh dari keduanya sedang duduk berdampingan.
"Mama dulu sempat mencintai Almarhum Papamu, saat itu dia menjadi guru PPL di sekolah Kami. Kedua orang tua kami juga sudah setuju, akan menjodohkan Kami berdua. Mama tidak tahu ternyata sejak awal Papamu telah tertarik pada Bundamu pada pandangan pertama."
"Mama dulu masih terlalu muda. Mama marah pada Bunda dan menuduh yang bukan-bukan. Itu semua juga ditambah hasutan Diana dan kawan-kawannya. Sejak saat itu, hubungan Mama dan Bunda merenggang. Meski Bunda mu berkali-kali meminta maaf dan menjelaskan kejadian sebenarnya, Mama sangat egois! Saat itu Mama hanya memikirkan perasaan Mama." Menatap Qiandra dengan raut menyesal.
"Karena keegoisan Mama, akhirnya rencana jahat untuk menjatuhkan Zasqia tersusun. di hari ujian terakhir kami di kelas tiga SMA, Mama menjebak Zasqia dengan meletakkan contekkan di laci mejanya. Sebelum Mama menjalankan misi Mama, Diana mendapatkan hukuman yang mengharuskan ia agar bertukar tempat duduk dengan Zasqia. Dari situlah kesalahpahaman ini berakar."
"Diana kedapatan membawa contekan yang Mama tujukan untuk Bundamu. Karena itu ia di hukum dan mendapatkan teguran keras dari pihak sekolah. Nama besarnya tercoreng, hal itu membuat malu keluarganya. Namun sebelum Mama sempat menyesali perbuatan Mama, Kakek kalian menyuruh Mama ke Sydney jauh sebelum pengumuman kelulusan SMA. Dan hari terakhir Mama berniat menjebak Zasqia, itu pula hari terakhir Kami bertemu," jelas Mama Renata panjang kali lebar.
"Qiandra, Mama tidak berani meminta maaf dari mu, tapi izinkan Mama membayar semua kesalahan Mama terhadap Bundamu, dengan tetap menjadi menantu Mama. Kamu boleh membenci Mama nak, tapi tolong jangan pernah pergi jauh dari Mama. Mama sudah cukup kehilangan Bundamu. Mama menyesal." Air mata itu tumpah begitu saja, hingga Mama Renata sesenggukan.
Qiandra tertegun sesaat. Batinnya berperang untuk beberapa menit. Membiarkan Mama dengan isakannya selagi Ia berpikir jernih. Lalu, kedua tangannya segera mengusap tetesan air yang membasahi kedua pipi Mama Renata.
"Ma, jangan sedih lagi yah. Insya Allah Qiandra maafin Mama dan Qia yakin Bunda di sana juga sudah maafin Mama." Tersenyum hangat.
"Ma, setiap Kita pasti pernah melakukan kesalahan. Sekarang, mari kita tatap masa depan dengan menjadikan masa lalu sebagai pembelajaran. Qia memang sempat berpikir untuk tidak memaafkan Mama, namun apakah sepadan kehilangan keluarga yang teramat mencintai Qia dengan menurutkan egoisme Qia?" Qiandra menggeleng.
"Qiandra beruntung Allah mempertemukan Qiandra dengan Mama sekeluarga. Bahkan kini Qia menjadi istri Mas Barra. Qia tidak ingin melakukan kesalahan yang sama yang akan membuat Qia menyesal kemudian."
"Terimakasih Sayang, hatimu semulia Bundamu Nak. Andai saja Bundamu masih ada, pasti dia akan bangga sekali padamu." Mama bangun dari duduknya. lalu mensejajarkan diri dan memeluk Qiandra seraya menangis. Sementara Qiandra mengusap punggung Mama. Kedua netranya juga meneteskan air mata haru.
"Bunda pernah bilang, meski dengan memaafkan masa lalu tak akan ubah apapun pada kehidupan lampau, namun Ia bisa mengubah masa depan menjadi lebih baik." Qiandra tersenyum lagi sambil sesekali mengusap cairan bening yang mengalir di pipi Mama Renata dengan kedua tangannya.
"Terimakasih Ya Allah! Terimakasih Qiandra. Terimakasih!" ucap Mama lalu melonggarkan pelukannya.
Dari jarak yang tak jauh dari keduanya, Papa, Barra dan Manda menyaksikan adegan yang mengharukan itu. Meskipun mereka tidak mendengar apa yang keduanya perbincangkan, namun ekspresi keduanya sudah mampu membuat mereka ikut terbawa suasana yang ada di depan mereka itu.
.
.
To Be Continue
.
.
Happy Reading ZHEYENKKKK...
Menjelang Episode terakhir MBH🤗🤗
Terimakasih buat para pembaca yang sudah mengikuti Kisah Barra dan Qiandra dari awal sampai dengan sekarang. Loph you ❤️❤️❤️
Aku selaku Author yang males Up dan baperan Mon maap kalau lama Up ya. 🤭🤭🤭
Jangan lupa ya abis baca tekan like, komen ya. Vote dan hadiah juga boleh tapi Aku gak maksa, cuma ngarep🤣🤣🤣