
Qiandra mendapati dua orang lelaki yang dikasihinya sedang asyik mengobrol di sofa yang berada di dalam ruang rawat inapnya. Melihat Suaminya dan Kak Erlan berada di sana, hatinya menghangat. Diliriknya jam dinding yang ada di sana. sudah pukul tiga pagi.
Qiandra mengernyitkan dahinya.
Sudah jam segini mereka berdua belum tidur?
"Ehemm."
Suara deheman Qiandra membuat duo lelaki tampan itu sontak menoleh ke arahnya. Keduanya langsung sigap bangkit lalu menghampiri Qiandra yang terbaring di ranjang pasien.
"Kau membutuhkan sesuatu, Sayang?" tanya Barra memastikan.
Qiandra mengangguk. Ia merasakan kerongkongannya kering. Ia membutuhkan air saat ini.
"Minum Mas!" ucap Qiandra singkat.
Barra dengan cepat menyambar satu botol air mineral di atas nakas lalu membukanya. Kemudian meminumkannya pada Qiandra dengan bantuan sedotan.
"Sudah?" tanya Barra ketika Qiandra melepas sedotan dari mulutnya. Qiandra mengangguk disusul Barra yang mengambil alih kembali botol air mineral dari tangan Qiandra.
"Hai Qiandra, apa kabar? Maaf Kakak baru bisa menjenguk kamu tengah malam begini." Erlan tersenyum miris.
"Qia sudah jauh lebih baik Kak. Makasih untuk semua yang sudah Kakak korbankan untuk Qia. Qia mengerti, sebagai seorang Presdir, tanggung jawab Kakak pasti sangat besar."
"Sepertinya Aku sedikit mengantuk. Aku akan keluar sejenak mencari angin segar. Sayang, Mas keluar sebentar ya!" Mengusap pundak Qiandra.
Qiandra mengangguk seraya tersenyum.
Meskipun ada sedikit rasa cemburu di hati Barra meninggalkan istrinya itu berduaan dengan Erlan, yang sempat ia kira akan menjadi rivalnya. Ia cepat-cepat menepis rasa itu, sebab mustahil bagi keduanya untuk saling mencintai karena mereka bersaudara. Ia memberikan keduanya privasi untuk saling berbicara. Sepertinya ada yang perlu mereka luruskan.
...✳️✳️✳️...
"Kak, Maafkan Qiandra yang selalu membuat Kakak susah." Qiandra tersenyum getir.
"Kamu bicara apa Qiandra? Kamu tidak menyusahkan Kakak. Justru Kakak ingin minta maaf denganmu. Karena ulah Mama Diana, kamu jadi seperti ini." Ada nada sesal dalam ucapan Erlan kali ini.
"Ini bukan salah Kakak. Justru Kakak juga baru mengetahui ulah Nyonya Diana, bukan?" Qiandra mencoba mengangkat tubuhnya untuk bangkit, dibantu Erlan agar dapat duduk. tubuh bagian atasnya bersandar pada kepala ranjang.
Erlan pun berpindah duduk ke sisi ranjang Qiandra.
"Iya, Kakak juga baru mengetahui sebelumnya, bahwa Mama Diana, Tante Renata dan Mama mu saling berhubungan di masa lalu." Erlan menatap lekat wajah Qiandra yang masih terlihat sedikit pucat.
"Kak, bagaimana reaksi KK ketika kakak mengetahui semuanya?" tanya Qiandra tiba-tiba setelah keduanya hening sejenak.
"Entahlah, tapi Kakak langsung teringat akan dirimu. Bagaimana perasaanmu, itu yang Kakak pikirkan." Erlan mengulas senyum simpul.
"Kakak langsung berpikir betapa sulit bagimu menerima ini semua. Sejak Kakak mencari keberadaan mu, Kakak sudah mengetahui kalau Mama Diana sangat membencimu. Namun selama ini Kakak kira alasannya karena harta warisan. Aku sempat sedih itu tapi ternyata ada alasan lain ." Lagi, senyuman getir iya berikan diakhir kalimatnya.
"Qia, bagaimana perasaanmu sekarang, hmm? Kakak berpikir mungkin tidak akan nyaman bagimu mengungkapkan perasaanmu kepada suamimu sekarang. Kakak bisa menjadi pendengar yang baik, bagaimana?" Erlan menaik-turunkan alisnya serasa tertawa kecil.
"Hahaha," tawa kecil Qiandra melihat ekspresi Erlan yang tidak biasa. "Ternyata Kakak mempunyai bakat menjadi pelawak selain menjadi pemilik cafe dan Presdir. Hmmm, Aku penasaran seperti apa wanita beruntung yang akan menjadi kakak ipar ku nanti." Qiandra menerawang, telunjuknya mengetuk-ngetuk kepalanya.
Dengan cepat Erlan menangkap tangan Qiandra lalu menggenggamnya. "Jangan mengalihkan pembicaraan. Kamu pasti tahu apa yang Kakak maksudkan."
"Qiandra tidak tahu Kak, hiks... Qiandra tidak tahu, hiks hiks hiks... ," Isak tangis Qiandra memecah kesunyian malam.
Erlan menarik kepala Qiandra masuk ke dalam dekapannya. "Sssshhhhtt, Kamu bisa bercerita pada Kakak. Jangan bersedih oke!" Tangan Erlan menepuk pundak Qiandra.
"Qiandra merasa tidak percaya diri Kak. Setelah mengetahui semuanya, apakah Qiandra benar-benar diterima di keluarga Mama Renata karena Mereka menyayangi Qiandra atau hanya karena mereka mengasihani Qiandra. Apakah Mama Renata hanya sekedar ingin menebus rasa bersalahnya terhadap Mama? Dan apakah Mas Barra menikah dengan Qiandra juga karena perintah Mama Renata? hiks hiks hiks... . Qiandra tidak ingin berpikir seperti itu tapi juga tidak bisa mengontrol pikiran saat ini." Qiandra menepuk-nepuk dadanya menahan sesak yang membuncah.
Erlan berusaha menenangkan Qiandra. Ia membiarkan Qiandra menangis di pelukannya hingga kemejanya terasa basah karena air yang berasal dari kedua netra Qiandra. Tak lupa Ia mengusap Surai hitam nan lembut milik Adiknya itu.
"Sudah sudah, Suamimu bisa menghajar Kakak jika mengetahui Dirimu menangis, ckck," decaknya seraya melonggarkan pelukannya disusul dengan wajah Qiandra yang sudah berurai air mata.
"Kak Erlan!!!" Qiandra merengek manja.
Erlan dengan sigap menyambar tisue yang berada di sana dan mengusap sisa air mata yang membasahi wajah Qiandra.
"Jika tau Adikku secengen ini, Aku tidak akan mengizinkannya menikah, hahaha." Erlan menggoda adiknya lagi.
"Ish, Kak Erlan. Aku akan mendoakan mu mendapatkan istri yang cengeng, huh!" kesal Qiandra.
"Tidak, tidak!! Ampun Tuan Putri!! Kakak hanya bercanda saja, ahahaha!"
Qiandra mendengus kesal lalu memasang wajah cemberutnya. Hal itu semakin membuat Erlan tersenyum lebar.
"Sudah nggak sedih lagi kan?" tanya Erlan kemudian saat Qiandra sudah terlihat melupakan kesedihannya.
Lantas anggukan dari kepala Qiandra mengundang tawa kecil dari sudut bibir Erlan. Kedua ujung bibirnya naik seiring senyuman yang muncul. Erlan mengakui adiknya ini menggemaskan. Bagaimana bisa dia berubah secepat itu, tadi menangis namun sekarang sudah mencebik kesal.
"Qia, apapun yang Kamu rasakan Kakak tidak bisa mencegahnya. Hanya Kamu yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi. Kakak akan selalu ada untuk Kamu, apapun yang terjadi. Hmmmm, Segeralah sembuh, Papa sedang mengurus balik nama harta warisan yang ditinggalkan kakek untuk Paman. Sebelumnya, Mama Diana menyakinkan Papa untuk membuat semua warisan itu menjadi atas nama Kakak."
"Kakak tau kan Aku tidak mengharapkan itu semua. Dengan Qia mengetahui masih ada keluarga Qia di dunia ini, itu sudah cukup."
"Itu hakmu, dan tidak akan pernah berubah. Setelah menjadi milikmu, terserah Kau ingin melakukan apa!" sahut Erlan.
"Hmmmmm. baiklah. Aku kelak akan menggunakannya sebijak mungkin Kak, heheeh."
"Itu baru adikku!" disusul tawa riang keduanya.
Suasana haru yang tadi tercipta kini berubah menjadi hangat, penuh kebahagiaan. Begitulah, waktu akan selalu mampu menyembuhkan luka. Namun, seseorang yang memegangi dua cup Kopi di depan pintu sedang berusaha menahan air matanya turun. Tanpa mereka sadari, Orang itu sudah mendengar pembicaraan mereka sejak tadi.
.
.
To Be Continue
.
.
Happy Reading Zheyenkkk🤗
Makasi Buat semua pembaca atas dukungannya.