
Hari menjelang siang, hampir sebelas jam sudah Qiandra menghilang dan belum ada kabar sama sekali. Barra, Erlan. Papa, David, dan juga Randa kini sudah berkumpul di kediaman keluarga Gunawan. Mereka sedang memasang strategi agar menemukan posisi Qiandra dan pelaku utama.
Di ruang kerja Papa Gunawan, semuanya tengah serius mendengarkan arahan dari Erlan. Dengan posisi duduk di sofa yang mengelilingi meja persegi panjang itu.
Barra sejak tadi tidak bisa menahan emosinya. Dengan penampilan acak-acakan karena nyaris ia belum istirahat sama sekali.
"Sudah jelas motif penculikan ini bukan uang, Paman. Sudah hampir sebelas jam, dan belum ada telfon atau apapun yang meminta tebusan atau semacamnya. Aku berani menyimpulkan. ini bukan penculikan biasa. Paman."
"Aku akan memaksa Siskha agar dia mengaku. Kalau perlu dengan kekerasan." Barra seketika bangkit berdiri dari tempat ia mendaratkan bokongnya, bergegas pergi meninggalkan ruangan namun dicekal oleh Erlan.
"Barra, tolong dengarkan Aku. Jangan gegabah, Aku yakin Siskha hanyalah pion orang itu. Jika Kita gegabah, maka kita tidak akan mendapatkan apapun kecuali Qiandra yang akan celaka." Menghardik Barra cukup keras, mencoba menyadarkan Barra dari kemelut perasaannya.
"Erlan benar Nak, kembalilah Kita susun rencana bersama-sama." Papa Gunawan menimpali.
Dengan tubuh yang sudah kehilangan tenaganya, Barra terduduk lemas dan pasrah. "Apa rencanamu, Er?" tanyanya dengan tatapan nanar.
"Untuk sekarang, sebaiknya Kita tidak mengusik Siskha dulu. Aku ingin Kau memasang penyadap di ponselnya. Aku yakin Kau bisa sedikit bermain peran untuk mengecohnya. Aku jamin, cepat atau lambat dia akan menghubungi orang itu." Menatap pada Barra penuh keyakinan.
"Apa itu tidak terlalu membuang waktu? Kenapa kita tidak langsung bertanya dan memaksanya saja?" sergah Barra lagi.
"Barra, Erlan ada benarnya. Jika kita gegabah dan bertindak sembarangan, bisa jadi pelaku sebenarnya mengetahui dan segera memindahkan Qiandra, atau bahkan langsung mengeksekusinya. Mudah-mudahan Qiandra masih bisa selamatkan dan untuk itu kita harus mulai dari sekarang." David menyela, memberi semangat pada Barra.
Barra menarik nafasnya kasar lalu menengadahkan wajahnya ke atas. Pikirannya menerawang ke masa kebersamaannya dengan istrinya. Baru saja Ia memulai kehidupan baru bersama Qiandra, namun cobaan datang begitu saja.
"Baiklah, Aku ikuti rencanamu. Jika dalam tiga hari kita tidak menemukan apapun, Aku akan bergerak dengan caraku sendiri." Barra berkata dengan penuh keyakinan, menatap tajam pada orang-orang di sekitar.
"David, setelah ini kau bisa kembali ke perusahaan. Kau dan Rey akan mewakili Papa dan Barra pertemuan besok. Barra, sebaiknya kau istirahat terlebih dahulu. Jika keadaanmu seperti ini, bagaimana Kau akan mencari Qiandra?" Papa Gunawan membuka suara.
"Tuan Benar, Barra. Kau tenang saja, masalah perusahaan Aku yang akan menghandle terlebih dahulu." David menambahkan.
"Ya, benar sekali. Aku mohon kali ini percaya padaku. Aku juga tidak akan pernah memaafkan diriku jika hal buruk terjadi pada Qiandra. Barra, makan dan istirahatlah. Sore ini kita akan jalankan misi pertamamu." Erlan menasehati dan menenangkan Barra.
Pembicaraan siang ini pun di akhiri dengan makan siang bersama. Barra yang sama sekali belum menelan apapun dan beristirahat sejak Qiandra menghilang, akhirnya bisa makan lalu beristirahat sejenak. Sementara itu, David kembali ke GM Corporation serta Randa juga ditugaskan kembali ke HI-One Tech. Papa dan Erlan masih merencanakan langkah-langkah yang akan ditempuh beberapa hari ke depan.
...✳️✳️✳️...
"Ahhh, akhirnya Aku bisa menyingkirkan wanita bermulut tajam itu. Mulai sekarang tidak ada yang akan menghalangi ku untuk mendapatkan Barra. Beruntung sekali Aku jika bisa menjadi kekasihnya, apalagi istrinya, ahahaha." Di depan cermin yang ada di toilet wanita, Siskha berbicara dengan dirinya sendiri. Seringaian licik menghiasi senyum dan tawanya memecah seisi toilet.
Siskha terlihat memoles lipstik di bibirnya yang sudah memudar setelah makan siang tadi. Lalu menepuk-nepuk bedak di seluruh permukaan wajahnya. Ia kembali mengaplikasikan segala jenis make up di wajah yang sebenarnya masih baik-baik saja itu.
"Siskha, Siskha, Kau cantik dan pintar. Kau pasti bisa mendapatkan Barra," ujarnya penuh percaya diri. "Aneh, kenapa Bibi belum menelfonku? Ahh sudahlah aku tidak perduli bagaimana nasib Qiandra di tangannya. Yang penting, kini Aku bisa bersama Barra tanpa ada gangguan wanita itu!" serunya kegirangan.
Setelah merasa riasan di wajahnya tidak kurang satu apapun, Ia menyemprotkan parfum ke leher dan pakaiannya lalu merapikan pakaian formal yang dikenakannya. Tak lama berselang, ia pun berlenggak-lenggok pergi kembali menuju lift untuk kembali ke ruangannya.
"Ceklek."
Suara pintu salah satu toilet terbuka. Seorang wanita menutup mulut dengan satu tangannya dan dengan tangan sebelah memegang handphone. Ia sangat terkejut dengan apa yang didengarnya.
Tak menunggu lama, ia pun segera berlari keluar dari ruangan itu.
"Kenapa lu Re, kok ngos-ngosan gitu. Abis ketemu dedemit lu di toilet," ujar Salma merasa heran dengan teman seperjuangannya di bagian resepsionist itu.
"Udah jangan ngebacot Mulu kerjaan lu. Lu liat enggak pak Barra atau pak David datang. Ada yang mau gue omongin ma mereka." Melirik ke kanan dan kiri, lalu membisikkan ke telinga lawan bicaranya, "Ini masalah hilangnya Qiandra, gue sempat ngerekam suara orang yang terlibat dalam penculikan Qiandra. Aku rekam di sini." Menunjuk ke ponsel yang berada di lengan kirinya.
"Apa?" Salma berteriak lalu mendapat pelototan dari Rere.
"Sorry Re, Gue kelepasan. Pak David baru aja masuk tadi sebelum Lu balik dari toilet. Buru gih, sebelum aktif lagi ni kantor, masih ada waktu lima menit." Disusul anggukan dari Rere, ia pun bergegas menuju lift .
Tiba di depan ruangan David, Rere langsung masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Pak, ada yang... ," kata-kata Rere terputus saja saat melihat sosok yang sedang bersama David saat ini.
"Kamu tidak bisa ketuk pintu dulu, hah? Apa seperti itu Kamu masuk ke ruangan atasan kamu?" Siskha menghardik Rere membuat tubuhnya refleks terkejut.
"Ma-maaf, Bu." Rere menundukkan kepalanya menatap lantai.
"Ya sudah, segera kembali ke tempatmu. Ingat Siskha, sore ini Kita akan menemui pak Barra di kediamannya." David menyela guna menengahi keduanya.
"Baik Pak, Saya permisi." Siskha melirik sebal ke arah Rere, lalu berlenggak-lenggok ke luar ruangan David.
Setelah pintu ruangan David tertutup, Rere menghembuskan nafasnya kasar. Selain terkejut, dia juga merasa takut pada Siskha atas apa yang Ia dengar di toilet tadi.
"Ada apa Kamu kemari? Bukannya sekarang sudah masuk jam kerja?" David memperhatikan jam tangan yang melingkar cantik di pergelangannya.
"Saya ingin memberitahukan sesuatu, Pak. Itu, itu, mengenai Bu Siskha." Lalu Rere menceritakan kejadian di toilet wanita tadi setelah selesai makan siang. Rere pun menyerahkan rekaman yang ada di ponselnya yang langsung di dengar David melalui Handfree.
"Terimakasih Re. Saya sudah mengirimkan file nya. Ini bisa menjadi bukti untuk kasus kejahatan Siskha. Namun Saya harap Kamu tidak memberitahukan kepada siapapun dulu, sebab Kami curiga ada orang lain di belakang Siskha. Karena ini berhubungan dengan keselamatan Qiandra. Kamu mengerti kan?"
Rere mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti.
"Baiklah, bersikap biasalah di depan Siskha. anggap Kamu tidak mengetahui apapun. Terimakasih sekali lagi." David tersenyum.
"Rere, demi apa Re, senyum cowok di depan lu manis banget...," bisik Rere dalam hatinya sambil tersenyum sendiri.
David mengibaskan tangannya ke depan wajah Rere, lalu dengan sebelah tangan mengguncang bahu Rere.
"Re, Hei, Rere!"
"Eh, iya ganteng." Mengedipkan netranya dan seketika ia tersadar dari lamunannya.
"Maksud saya, Pak." Memukul kecil mulutnya yang keceplosan memanggil Bossnya ganteng. "Maaf, Pak. Saya permisi dulu. Saya harap segera ada kabar dari Qiandra." Membungkukkan badannya sedikit lalu berlalu dari hadapan David. Setelah menutup kembali pintu ruangan David, Rere kembali memegangi dadanya.
"Haduuuh, tadi jantung Gue berdebar karena Bu Siskha, sekarang karena Pak David. Wah, kalau tiap hari begini bisa bahaya." Menggelengkan kepalanya lalu beranjak dari depan ruangan David kembali ke bawah.
...✳️✳️✳️...
.
.
***To Be Continue***
.
.
Sambung besok ya Gengs, Happy Reading.
Jangan lupa Like dan Komentarnya yah.