My Bossy Husband

My Bossy Husband
Episode 58: Misi



Di sebuah bangunan tua yang merupakan bekas pabrik, di tengah kawasan tak berpenghuni yang dipenuhi pepohonan hijau dan semak belukar. Bangunan itu adalah pabrik milik keluarga Diana, yang telah mengalami kebangkrutan dan tak beroperasi lagi sejak kematian Ayahnya.


Lokasinya berada jauh dari kota, memakan waktu sekitar 1 jam lebih perjalanan dengan kendaraan bermotor. Kondisi bangunan tampak rapuh dan dipenuhi semak belukar di beberapa bagian.


Tiga orang penjaga keluar dari bangunan tersebut, lalu menaiki sebuah mobil Jeep yang terparkir di depan bangunan. Mobil mereka perlahan keluar dari pekarangan pabrik tua dan menuju arah kota. Sementara itu, tiga penjaga lainnya menuju ke ruangan lain untuk tidur menyisakan tiga orang lain yang saat ini bermain kartu.


Zidane segera kembali ke posisinya semula, lalu dengan suara lirih dia berkata pada dua wanita di hadapannya. "Seperti yang Kakak perhitungkan, tiga orang penjaga baru saja pergi. Kakak mendengar suara mobil tadi. Dan dari celah pintu Kakak melihat tiga lainnya sudah beristirahat. Tinggal tiga penjaga di luar. Sekarang Kita jalankan misi Kita. Kalian siap?" Menatap penuh keyakinan pada Arlie dan Qiandra.


"Kami siap Kak!" Qiandra menjawab disusul anggukan kepala Arlie.


Zidane memastikan ikatan tangan dan kaki Qiandra dan Arlie sudah baik, agar tidak menimbulkan kecurigaan. Lalu Ia pun mengikat kembali kaki dan tangannya dengan asal agar mudah terbuka. Setelah dirasa siap, Zidane berteriak memanggil penjaga.


"Ada apa?" bentak seorang penjaga berwajah sangar.


"K kami ber-dua ingin buang air, Bang." Qiandra menjawab gugup.


"Hah, menyusahkan saja kalian ini," umpat pria tadi kesal merasa terganggu. Ia pun bergerak melepas ikatan tali di tangan dan kaki Qiandra dan Arlie. Kemudian mengikutinya keduanya dari belakang. Tanpa menutup pintu ruangan di mana ketiganya dikurung, Ia keluar mengawal Qiandra dan Arlie menuju toilet.


"Jangan lama-lama!" bentak pria yang mengawal keduanya saat mereka masuk ke dalam ruangan yang di dalamnya terdapat dua toilet.


"Aku takut, gimana kalau Kak Zidane enggak berhasil ngelumpuhin preman itu," ujar Arlie khawatir seraya menggigiti kuku-kukunya.


"Sssssstttt," layangkan Qiandra telunjuknya di depan bibir Arlie. "Kecilin dikit suara, Ar. Bahaya ntar! Kita harus optimis dan positif thingking, apapun yang terjadi Kita harus keluar dari sini," bisik Qiandra pelan.


Sementara itu, Zidane yang sudah berhasil mengikuti mereka tanpa diketahui oleh kedua orang preman yang sedang berjaga. Ia membawa tali tambang yang digunakan untuk mengikat kaki dan tangan mereka, lalu diam-diam mencekik leher preman itu dengan tali tambang yang Ia bawa.


Tubuh gempal preman itu terjerembab ke lantai tanpa suara yang dapat di dengar kedua temannya. Ia pun menyeret tubuh preman, memindahkan ke dalam ruangan yang difungsikan layaknya gudang di sebelah toilet.


"Arlie, Qiandra ini Kakak, ayo cepat keluar. Waktu kita tak banyak!" kak Zidane membuka pintu ruangan toilet dan berkata pelan.


Kedua wanita yang saling berpegangan tangan itu menarik nafas lega saat melihat wajah kak Zidane yang ada di ambang pintu. Sesaat kemudian ketiganya sudah berjalan mengendap-endap mencari pintu keluar lain.


Sementara itu, Barra dan David mengendarai mobil beriringan dengan mobil yang ditumpangi Erlan dan Randa. Saat ini mereka sedang membuntuti Mama Diana yang dicurigai akan menuju ke lokasi penyekapan.


Sudah hampir satu jam mereka mengikuti kendaraan roda empat yang berada tak jauh dari mereka, namun belum ada tanda-tanda berhenti. Barra yang sejak tadi terus-menerus merasa kesal, sesekali menarik rambutnya ke belakang. Posisi kemudi yang di isi oleh David, ia pun sangat tidak tega melihat bosnya yang tampak begitu kacau.


"Hei, Barra Aku mohon fokuslah, Kita semakin dekat dengan Qiandra, pikirkan cara menyelamatkannya. Jika Kau terus seperti ini, Aku akan menurunkanmu di sini sekarang!" David berteriak kesal, meskipun tidak tega tapi Ia berusaha menyadarkan sahabat sekaligus bosnya itu.


"Kau akan membebani Kami jika Kau terus bertingkah seperti itu, fokuslah!" Melirik singkat ke arah Barra melihat respon yang diterimanya.


Barra seketika tersadar. "Maafkan Aku, Dav. Aku hanya tidak sabar ingin bertemu dengan Qiandra." Rona putus asa terbingkai di wajahnya.


"Ayolah Bar, buang jauh-jauh raut wajah menyebalkan itu. Jangan lemah, Kita tidak tau kondisi apa yang dihadapi Qiandra sekarang. Jika Kau tetap tidak bisa bersikap tenang, Aku bersumpah akan menurunkanmu di jalan sekarang!" ancam David mulai merasa bosan dengan tingkah Barra.


"Baiklah Dav, Aku siap. Hari ini para penjahat itu akan menyesal sudah berurusan dengan Barra." Keyakinan Barra mulai tumbuh, sudah lebih dua Minggu ia tidak bertemu dengan istrinya. Rasa sesak yang teramat membuat Ia tidak bisa fokus terhadap apapun.


David tersenyum melihat raut optimis sahabatnya itu. "Right, that's my friend!" serunya lantang sambil terus melajukan mobilnya berusaha memberi jarak yang tidak dapat di lihat oleh mobil di depannya.


****


Sebuah mobil sedan mewah terparkir sempurna di kawasan pabrik tua yang sudah lama tidak terpakai. Sebuah mobil Jeep lainnya juga tampak baru memasuki halaman kawasan itu.


Beberapa orang keluar dari mobil Jeep itu, lalu berdiri tegak menyambut seorang wanita paruh baya yang turun dari mobil satunya. Semua priia yang berjulukan preman itu menundukkan kepalanya sesaat ketika wanita paruh baya itu keluar.


"Selamat siang, Nyonya!" ucap mereka serempak.


"Siang, bukankah Aku sudah mengatakan kepada kalian untuk tjidak lalai? Kenapa kalian keluar dengan jumlah segini? Berapa orang yang menjaga di dalam?" Bentak wanita itu, yang tak lain adalah Diana.


"Ti-tiga Nyonya!" Jawab salah seorang preman itu gugup.


"Tiga? Dan kalian berenam?" Diana menggelengkan kepalanya lalu menarik nafasnya kasar.


"Baiklah, Aku juga akan menghabisi mereka saat ini. Setelah ini kalian akan mendapatkan setengah lagi bayaran kalian!" ucap Diana dengan nada sinis.


"Baik, Nyonya." Para preman itu menjawab serempak, lalu mengikuti langkah Diana masuk ke pabrik dari pintu samping.


"Braaaakk... Aaaaaargh... Kakaaak!" Suara orang terlempar mengenai dinding beserta erangan kesakitan, sekaligus suara jeritan dua wanita terdengar dari dalam. Lalu, "Lariiii, lariilah, Kakak akan menahan mereka di sini, Kalian larilah!" Suara Zidane meggema di dalam ruang kosong itu, membuat Qiandra tersadar lalu menarik lengan Arlie yang enggan pergi dari tempat itu.


"Kak Zidane Qia, Aku enggak mau pergi tanpa Kak Zidane!" ucapnya keras kepala, berusaha melepaskan lengannya yang dicekal Qiandra.


"Arlie, Kamu mau pengorbanan Kak Zidane sia-sia? Setelah keluar dari sini Kita bisa meminta bantuan untuk menolong kak Zidane. Ayo!" Qiandra berlari seraya memegangi Arlie dengan sebelah tangannya. Baru tiga langkah mereka keluar dari pintu, langkah mereka terhenti melihat beberapa orang di depan mereka.


"Mau kemana Kalian, huh?"


.


.


TBC


.


.


HAPPY READING