
Sudah seharian ini Qiandra berada di rumah tanpa melakukan apapun. Dia sungguh merasa bosan hanya sendiri di rumah bersama para Asisten rumah tangga. Ia ingin membantu kegiatan memasak, bersih-bersih namun selalu dilarang sebab mama Renata sudah berpesan bahwa ia tidak boleh melakukan pekerjaan rumah.
Qiandra melihat jam sudah menunjukkan waktu pulang kantor. Sebentar lagi semua anggota keluarga rumah ini akan datang. Ia sudah dalam keadaan siap untuk menyambut suami dan kedua orang tua angkat sekaligus mertuanya itu.
Tepat pukul enam sore mobil mama Renata berhenti tepat di depan. Qiandra bergegas menyambut mamanya dengan senyuman. Tak butuh waktu lama mama Renata keluar dari mobil dan menghampiri Qiandra yang sudah berada di depan pintu yang dibuka lebar.
"Assalamualaikum, Sayang," sapa Mama Renata yang langsung disambut dengan uluran tangan Qiandra.
'Wa'alaikumsalam, Mama." Ia menyalami mama Renata lalu mencium pipi kanan dan kiri mamanya.
Keduanya bergerak santai masuk ke dalam sambil lanjut mengobrol.
"Gimana, udah ada tanda-tanda belum pesanan Mama?"
"Pesanan? Emang mama ada pesan apa Ma, Qia lupa," ujarnya dengan Kening yang mulai berkerut sambil memikirkan maksud pertanyaannya.
Mama menghentikan langkahnya, lalu memilih duduk sejenak di sofa ruang tamu. Qiandra ikut duduk di sebelah Mama.
"Ini loh, gimana udah ada tanda-tanda belum?" Mama mengusap lembut perut rata Qiandra dan tersenyum menggoda.
"Mama, baru juga tiga hari Kami menikah, udah ditanyain anak," jawab Qiandra dengan wajah bersemu merah.
"Hehehe, Mama bercanda, Sayang! Semoga Kalian selalu diberi kebahagiaan. Kalian harus bisa saling melengkapi kekurangan satu sama lain," Nasehat mama Renata pada Qiandra yang hanya dibalas anggukan.
Tak lama kemudian Suara mobil berhenti terdengar disusul dengan kemunculan Papa dan Barra. Qiandra dan Mama pun bergegas menyambut suami mereka masing-masing.
***
Di dalam kamar, Qiandra duduk di tepi ranjang setelah meletakkan tas kerja suaminya ditempat semestinya. Barra yang sejak masuk ke kamar sudah mengambil posisi tiduran di ranjang empuk itu dengan kaki menggantung.
"Mas, mandi dulu gih udah hampir maghrib!" pintanya lembut sedikit menggoyangkan tubuh suaminya.
Barra membuka matanya lalu tersenyum. Ini hari pertamanya bekerja setelah menikah. Ada semangat sendiri baginya untuk pulang ke rumah. Seseorang menunggu kehadirannya di rumah. Istrinya, wanita yang berada di sampingnya kini.
Barra mengangkat tubuhnya hingga terduduk. Mengunci tatapannya pada wanita berambut hitam bergelombang di hadapannya kini. Ia sangat merindukannya. Dengan satu hentakan ia berdiri dan dengan satu lengannya ia menarik istrinya lembut mengikuti langkahnya.
"Mas, mau ke mana?" tanya Qiandra yang tak mendapat tanggapan. Namun mereka semakin dekat dengan pintu kamar mandi. Wajah Qiandra memerah seperti udang rebus karena pikirannya sudah traveling liar kemana-mana. "Apa dia akan melakukannya di dalam?" gumamnya dalam hati.
Barra melepas tangan Qiandra lalu mengambil posisi di pinggir bathub. "Lakukanlah tugasmu!" perintahnya pada sang istri.
Qiandra refleks menyilangkan kedua tangannya ke depan. "Mas, ii-ni ssu-dah mau Maghrib, sholat ddu-lu," sahutnya terbata dengan rona wajah yang sudah merah padam.
Barra tersenyum geli melihat tingkah lugu istrinya. "Kau memikirkan apa, hmm? Jangan bilang Kau pikir Aku akan melakukannya di sini?" Barra terkekeh mendapati istrinya sudah menunduk malu dengan wajah merona. "Aku memintamu untuk mengisi air untukku, Sayang."
Ihh, demi apapun di dunia ini, Qiandra merasa menjadi orang paling mesum sedunia. Kenapa hanya itu yang ia pikirkan ketika suaminya menariknya ke kamar mandi. Efek apa ini, malu sekali dia.
Setelah menyiapkan air mandi dan semua keperluan mandi suaminya, tangan Qiandra kembali dicekal Barra ketika ia beranjak pergi. "Buka bajuku!" perintah suaminya lagi dengan wajah tersenyum menyeringai.
Tidak ingin berdebat, Ia langsung membuka satu persatu kancing kemeja suaminya. Entah karena rindu atau justru candu dengan tubuh suaminya, Qiandra menelan salivanya kasar ketika berhasil membuka kemeja suaminya. Ia ingin memeluk tubuh itu, dan berlama-lama dalam dekapannya. Aroma maskulin ini yang sudah ia ingat betul selama beberapa hari belakangan.
"Buka ikat pinggangku!"
"... "
๐๐๐
Hari kian bergulir
Semakin dekat dirimu di hatiku
Meskipun tak terucapkan
'Ku merasakan dalamnya cintamu
Jangan berhenti mencintaiku
Meski mentari berhenti bersinar
Jangan berubah sedikit pun
Di dalam cintamu kutemukan bahagia
Jalan mungkin berliku
Takkan lelah bila di sampingmu
Jelas terlihat pintu masa depan
Jangan berhenti mencintaiku
Meski mentari berhenti bersinar
Jangan berubah sedikit pun
Di dalam cintamu kutemukan bahagia
(Titi DJ~ Jangan Berhenti Mencintaiku)
Selesai mandi Barra dan Qiandra melaksanakan sholat Maghrib bersama. Setelahnya mereka berdua turun bersama ke ruang makan. Di sana sudah tersaji makanan untuk makan malam dan juga orang tua mereka yang baru juga tiba.
Usai makan malam bersama, Mereka lanjut mengobrol di ruang keluarga. Barra mengajukan keinginannya untuk membawa Qiandra pindah ke apartemennya. Hal itu ditolak mentah-mentah oleh Mama Renata. Mama bahkan sampai menangis.
Sebenarnya Barra tidak tega namun Ia ingin mandiri bersama istrinya. Memulai hidup hanya berdua. Ia ingin pindah ke rumah baru namun selama ini ia belum pernah terpikir untuk membangun rumahnya sendiri. Karena yang ia miliki hanya unit apartemen, maka untuk sementara mereka tinggal di apartemen.
Mama Renata awalnya bersikukuh menahan mereka. Akhirnya setelah Barra di bantu Papa memberi pengertian, dengan berat hati mama mengalah. Namun Mama memberi syarat, jika suatu saat Qiandra mengandung mereka harus kembali tinggal di rumah hingga Qiandra melahirkan. Barra pun menyetujuinya.
Keduanya kini sedang duduk saling mendekap pada sofa di dalam kamar mereka. Sebelumnya mereka sudah sholat isya berjamaah. Masih dengan mata terpejam, namun dengan kesadaran penuh. Qiandra menghirup aroma tubuh suaminya, sedang Barra menghirup aroma dari rambut istrinya itu. Keduanya larut dalam keheningan namun penuh kasih dan sayang.
"Mas, Aku bosan seharian di rumah. Mama melarangku melakukan semua pekerjaan, sehingga para asisten rumah tangga tidak mengizinkanku membantu mereka. Besok Aku ikut ke kantor, boleh?" jelas Qiandra masih dengan posisi sama.
Barra tersenyum. Istrinya ini sangat di luar dugaan. Dulu ketika mereka masih saling membenci dia terlihat begitu ketus dan tegar. Setelah menikah ia baru melihat sifat asli istrinya yang manja dan lembut ini. Mungkin begitulah wanita, pikirnya. Seperti bunglon yang dapat menyesuaikan di mana habitatnya.
"Hmmm, apa Kau tidak lelah?" Bukannya menjawab, Barra malah bertanya.
"Tentu saja tidak." Qiandra memundurkan tubuhnya, kedua tangannya kini di dada suaminya. "Aku bosan hanya makan dan tidur di rumah. Sebulan kemudian berat badanku bisa naik kalau begini terus," keluhnya kesal mengerucutkan kedua bibirnya.
"Aku menerimamu apa adanya, Sayang."
"Sekarang Mas bilang begitu, tapi kalau ntar Aku makin gendut disuruh dietlah, disuruh olahraga lah, tuh banyak buktinya di film, drama Korea juga ada." sahut Qiandra lagi makin terlihat kesal.
"Jangan suuzhon, makanya jangan banyak nonton drama. Kalau kamu gendut karena ulahku, ya Aku bahagia, Sayang." ujar Barra sambil senyum-senyum sendiri.
"Apaan sih, Mas jawab dulu. Atau kalau enggak Aku boleh ya main ke kantor kak Erlan besok."
"Tidak. Besok Kau ikut dengan Ku," jawab Barra cepat yang langsung di sambut layangan tangan Qiandra terkepal, lalu mulutnya komat Kamit mengucapkan "Yes" tanpa suara.
"Makasih, jangan pernah berhenti cinta sama Aku pokoknya!" Qiandra mengucapkannya dengan raut wajah di tekuk lalu ia mencuri satu kecupan di pipi suaminya. Barra yang gemas melihat tingkah Qiandra langsung menarik tengkuk Qiandra, lalu bibir keduanya bertemu. Melekat erat dalam sesapan. Pertukaran Saliva keduanya pun terjadi begitu hangat dan menggairahkan.
Adegan itu berhenti ketika Qiandra sudah mulai terengah-engah. Sungguh iya sangat tidak siap mendapat serangan balik seperti itu.
"Kau membangunkan singa yang sedang tertidur, Sayang."
Mata Barra sudah dipenuhi kabut gairah, jempolnya mengusap bibir Qiandra yang basah akibat ciumannya. Ia menatap wajah Qiandra dengan intens, lalu sedetik kemudian Ia membopong Istrinya ala bridal yang disambuti teriakan terkejut Qiandra. Mereka pun kembali menghabiskan malam bersama. Mencurahkan semua perasaan cinta, kasih dan sayang. Menggetarkan kamar dengan saling mendesahkan nama pasangan masing-masing.
.
.
.
***To Be Continue***
.
.
.
Hai ,makasi yah buat kalian yang selalu membaca karya ku,,,, sejujurnya Aku suka sedih kalau gak bisa up. Tapi seperti yang Aku bilang dari awal, Novel ini jadwal up nya sesuai kemampuan Author๐คญ๐คญ๐คญ
Kalau ada yang tanya kenapa begitu, kenapa Author yang lain bisa. Aku langsung jawab aja deh ya, daripada kalian penasaran.๐๐๐
Porsi otak Otor beda dengan Author lainnya. Jangan kalian bandingkan dengan Author pemessslah๐๐๐ Makin jauhlah kayak kutub Utara dan kutub selatan lah tu udah.
Tapi Aku bisa tahu kalian yang membaca karya Aku semuanya pasti penyabar deh,, mau nungguin karyaku yang gak seberapa ini. Makasi buat kalian yang selalu mendoakan, nungguin, yang udah favorite, udah ngebaca, udah ngelike, ngevote, dan ngetips.
Luv u all to the moon n back...โค๏ธโค๏ธโค๏ธ