My Bossy Husband

My Bossy Husband
84. Kehangatan Keluarga (Final Chapter)



Barra sudah berada di dalam mobil yang melaju menuju ke rumahnya. Kegiatan hari ini memakan waktu yang tidak sedikit. Setelah meninjau proyek langsung bersama David, Ia juga melakukan meeting dengan beberapa rekan kerjanya. Diakhiri dengan makan malam bersama di tempat mereka melakukan meeting.


Sebelumnya Barra sudah memberitahukan istrinya bahwa Ia akan pulang terlambat. Namun Ia juga tidak memprediksi akan selambat ini. Jarum jam di tangannya menunjukkan pukul 22.45 WIB. Seharusnya Qiara belum tertidur di jam seperti ini.


Mengecek ponselnya, ternyata ada beberapa panggilan tak terjawab sejak sore tadi dari istrinya. Namun Ia menonaktifkan suara dering ponselnya. Bahkan melihat ponselnya pun tak sempat.


Sekian lama melaju, mobil yang ditumpangi Barra akhirnya berhenti setelah melewati gerbang rumahnya. Segera Ia bergegas memasuki rumah, melewati ruangan-ruangan sebelum akhirnya Ia sampai di depan pintu kamar.


"Di mana Nyonya, Bik?" tanya Barra tadi sesaat ketika baru memasuki rumah.


"Nyonya sepertinya tidur Tuan. Nyonya bahkan belum sempat makan malam. Dari sore Non Qiara rewel, badannya panas. Sama Nyonya dipanggilkan Dokter. Saya tadi mau panggilkan Nyonya untuk makan malam tapi Nyonya dan Non Qiara sudah tidur."


"Jadi sampai sekarang Nyonya belum makan?" tanya Barra.


"Belum Tuan!"


"Ya sudah, tolong panaskan makan malam Nyonya ya Bik, nanti bawa ke kamar saja. Saya ke kamar dulu!"


Usai memberi perintah pada salah seorang Asisten Rumah Tangganya, Barra pun melanjutkan langkahnya menuju kamar tidur. Dan di sinilah Ia sekarang, dengan tangan sudah meraih gagang pintu yang masih tertutup rapat.


CEKLEK


Pintu tersibak perlahan, pandangan Barra menyapu isi kamarnya. Saat netranya menangkap siluet tubuh istrinya yang sedang tertidur, Ia tersenyum.


Dirapatkannya kembali pintu ke posisi semula dengan perlahan. Ia takut menimbulkan suara yang bisa membangunkan kedua orang di kamar itu. Melangkah perlahan, lalu mendapati pemandangan yang menyejukkan mata dan hatinya.


Istri dan Anak perempuannya kini sedang tidur berpelukan. Satu kompres penurun panas melekat di dahi Qiara. Refleks Ia mengambil ponselnya lalu mengabadikan momen kebersamaan Istri dan putrinya itu. Lalu tanpa menyentuh keduanya, Ia segera masuk ke kamar mandi setelah menanggalkan sepatu, tas dan jasnya.


TOK TOK TOK


Mata Qiandra mengerjap beberapa kali. Suara ketukan dari luar membuat kesadaran Qiandra seolah ditarik paksa. Bangun dengan hati-hati, Qiandra langsung menuju pintu.


"Siapa?" tanyanya pelan.


"Ini Saya, Nyonya. Bawa makan malam untuk nyonya." Suara wanita paruh baya yang sangat dikenalnya itu membuat Qiandra membuka pintu perlahan. Takut menimbulkan bunyi yang bisa membuat Qiara terkejut.


Begitu pintu terbuka, Bik Ani masuk membawa satu set makanan di dalam nampan dan meletakkannya di meja dekat sofa.


"Maaf Nyonya, tadi Tuan menyuruh Saya panasin makan malam Nyonya untuk dibawa kemari," jelas Bik Ani merasa tidak enak sudah membangunkan Qiandra.


"Eh, Mas Barra sudah pulang?" Qiandra terkesiap, melihat jam di dinding sudah pukul 23.20 WIB.


Bik Ani hanya menganggukkan kepalanya, lalu permisi keluar. Sementara Qiandra meremas jemarinya kuat.


Ketiduran lagi. ketiduran lagi


Qiandra mengumpat dirinya sendiri dalam hati. Menarik nafasnya panjang lalu membuangnya perlahan. Barra tampak keluar dari kamar mandi dan langsung menuju walk in closet. Tak lama berselang suaminya itu sudah terlihat kembali lengkap dengan pakaian tidurnya.


"Mas!" sapa Qiandra yang beranjak dari tempat ia duduk, menghampiri Barra yang juga sedang berjalan menujunya.


Ia meraih tangan suaminya, lalu meletakkannya di dahinya. Keduanya lalu duduk bersebelahan di sofa. Qiandra melirik Qiara yang masih tertidur nyenyak. Lalu kedua tangannya mendekap erat pinggang suaminya. Menyandarkan kepalanya tepat di dada Barra.


"Mas, tadi Qiara sempat demam," ucapnya lirih dengan suara bergetar.


Barra merasakan sesak yang dirasakan istrinya itu. Mengecup sekilas kepala Qiandra, lalu mengusap lembut pundak kekasihnya.


"Maaf, tadi Mas sibuk banget. Sampai-sampai nggak lihat panggilan dari Kamu."


Satu kalimat yang diucapkan Barra membuat Qiandra lega. Namun ia malah terisak di dada suaminya. Entah bagaimana perasaanya tadi. Sejak tadi Ia sangat takut melihat Qiara rewel dan menangis tidak seperti biasanya.


Merasa saat-saat seperti itu Ia sangat membutuhkan dukungan suaminya. Namun ketika panggilannya tak kunjung dijawab, Qiandra menjelma menjadi sosok kuat dan tegar. Meskipun ia sama sekali tidak dapat menutupi kegugupannya, namun ada sosok Bik Ani sang Asisten Rumah Tangga yang menemani dan menenangkannya.


"Kita cari baby sitter buat bantu Kamu ya? Selama Mas kerja, ada baby sitter yang bantuin, gimana?" tawar lelaki pemilik senyum teduh itu.


Qiandra mengangguk. "Aku juga butuh Bik Ani Mas, buat ngerawat Qiara. Mas cari Asisten Rumah Tangga lain ya buat gantiin Bik Ani. Gimana pun Bik Ani sudah .seperti sosok Mama bagiku, Mas."


Anggukan dari kepala Barra membuat Qiandra kembali bernafas lega. Air mata yang sempat menitik tadi, sudah mengering di pelupuk matanya. Qiandra pun segera menyantap makan malamnya yang sudah begitu larut. Sebelum akhirnya Ia tertidur di ranjang tepat di sebelah Qiara yang masih lelap.


Barra memeluk Qiandra yang tidur di lengan kekarnya. Menatap keseluruhan wajah istrinya itu. melirik di sebelah istrinya, bayi perempuan yang merupakan darah dagingnya sendiri. Betapa hangat pemandangan di depannya kini. Hatinya memanas, meluruhkan satu bulir bening dari salah satu sudut netranya.


Mengusap pipi Qiandra, lalu memberikan kecupan bertubi-tubi di kepala istrinya. Kemudian mengendurkan sedikit pelukannya, Ia menyempatkan diri mencium Qiara, buah hatinya. Lalu akhirnya ikut terlelap, menyusul dua bidadari yang sudah tidur terlebih dahulu.


...***...


Waktu terus bergulir, membawa insan dari masa ke masa. Kini, enam bulan sudah usia Qiara. Hari ini adalah jadwal MPASI pertama baginya. Tentu saja Sang Mama tidak ingin melewatkan masa tumbuh kembang putrinya itu.


Dengan semangat sejak pagi tadi Qiandra sudah membuat makanan MPASI Qiara. Ia sudah tidak sabar memberikan anaknya itu makanan pendamping. Alhasil kini Qiara sudah selesai menghabiskan satu mangkuk bubur halus dengan campuran pumpkin.


Qiandra sudah mensearching sejak sebulan yang lalu mengenai menu MPASI bagi bayi. Ia juga banyak bertanya pada Arlie temannya dan juga Mama Renata. Akhirnya, diawal Qiandra memutuskan menu tunggal bagi bubur yang akan di makan Qiara selama satu bulan ini. Selanjutnya Ia baru akan mencoba tambahan menu seperti telur, tahu, ikan salmon dan juga daging di dalam makanan Qiara.


Sementara itu, Andin dan Wilson hidup bahagia meski hingga sekarang Andin tak kunjung mengandung. Keduanya juag sering bersilaturrahmi ke rumah Barra dan Qiandra, terutama untuk melihat si kecil Qiara.


Erlan dan Om Andre juga masih tinggal di Singapura. Dari kabar terakhir yang Qiandra terima, Om nya itu sudah mengalami banyak perubahan yang signifikan.


Mereka sering melakukan panggilan video, sebab Om Andre sendiri sangat mencintai Qiara.


Erlan sendiri saat ini menjalin kasih dengan seorang wanita berkebangsaan Singapura, keturunan Melayu. Namun kekasihnya saat ini sedang melanjutkan kuliah spesialis di bidang Aesthetic di Jerman. Meskipun Om Andre seringkali memaksa Erlan menikah, namun Erlan selalu beralasan bahwa kekasihnya masih belum siap menikah saat sedang menempuh pendidikan.


Lain hal dengan David. Pria jomblo yang tahun depan akan genap berusia tiga puluh empat tahun itu masih betah menjomblo. Namun sudah semenjak satu bulan yang lalu, Ia mengutarakan niatnya kepada Barra untuk resign dari GM Corporation.


Pada awalnya, niatnya itu ditolak mentah-mentah oleh Barra. Namun setelah mendengar bahwa Ia ingin membangun perusahaannya sendiri di bidang IT, Barra menjadi sangat antusias. Ia mendukung keputusan David bahkan bersedia membantu.


Meskipun sedih, namun Barra tetap menyambut baik niat David. Bagaimana pun David bukan hanya sekedar sahabat, namun sosok Abang baginya. Kehilangan Asisten seperti David tentu saja menjadi kehilangan terbesar bagi Barra.


Kendatipun demikian, David juga bukan orang yang tega seperti itu. Ia meluangkan waktu sebulan belakangan ini untuk mencari penggantinya. Lalu hingga satu bulan kemudian, Ia masih akan mengawasi dan mengajari pekerjaan asisten Barra yang baru.


Triiiiiing


Suara notifikasi pada aplikasi pesan masuk. Barra yang tengah memandangi layar laptop di depannya segera mengalihkan pandangan ke layar ponselnya.


Ia segera membuka pesan itu begitu tau si pengirim pesan adalah istrinya.


Anak Papa baru selesai mamam nih!


Caption yang ditulis istrinya itu di bawah sebuah foto yang menampakkan Qiara duduk anteng di bounchernya. Dengan tatakan di leher dan pipi bulat yang sebagiannya serta di sela ujung bibirnya masih tertinggal sedikit sisa makanannya.


Foto itu membuat senyuman Barra merekah. Kembali hatinya menghangat, mengucapkan syukur kepada Maha Pencipta seraya melafalkan doa bagi keluarga kecilnya.


...~The End~...


Beneran habis ya... Maaf banget ya kemampuan Aku yang masih baru belajar menulis ini hanya sebatas ini. Terimakasih buat dukungan kalian semua di novel ini.


Untuk cerita David, Aku buat di judul yang berbeda ya. Bisa di check di profile Aku, judulnya "Ketika Aku Jatuh Cinta". Tapi seperti biasa, novel yang Aku tulis selalu slow Update, jadwal update nggak jelas tergantung waktu luang Aku dan sebagainya, hihihihi (Ngelesss).


Untuk semuanya, I luv you all, to the moon and the back ❤️❤️❤️


Makasiiiih banget semuanyaaaaa🙏🙏 Sekali lagi buat yang dengan sabar selalu nungguin Aku up.


Maafin Aku kalau Ada salah sama Kalian🙏🙏🙏See you next 🤗🤗🤗