
Dua Minggu berlalu setelah kejadian memalukan di ruangan Barra. Gara-gara kejadian itu, Qiandra sudah tidak punya muka lagi setiap bertemu dengan David. Lain hal dengan Barra, Ia begitu cuek dan abai dengan kejadian itu. Qiandra selalu menyalahkan Barra atas kejadian memalukan itu.
Persiapan Resepsi pernikahan Barra dan Qiandra pun sudah rampung Tujuh puluh persen. Kurang dari dua Minggu lagi resepsi akan dilaksanakan di salah satu hotel berbintang lima di Jakarta. Mama Renata adalah orang yang paling antusias dalam menyiapkan acara ini. Meski Qiandra tidak menginginkan acara besar-besaran, namun mengingat banyaknya kolega bisnis Papa, rasanya mustahil mengadakan syukuran kecil-kecilan.
Qiandra sedang berada di apartemen sekarang. Mereka sudah hidup mandiri, tepatnya dua hari setelah kejadian di kantor barra waktu itu mereka pindah. Apartemen ini memiliki tiga kamar tidur, tiga kamar mandi, satu dapur, ruang keluarga yang tersambung tanpa sekat dengan ruang tamu. Apartemen mereka merupakan hunian mewah dan berada dekat dengan gedung perkantoran GM Corp.
Suara dentingan peralatan masak yang beradu menemani Qiandra dibantu seorang asisten rumah tangganya yang kala itu tengah berkutat dengan menu masakan. Qiandra masih belum berpengalaman di bidang ini, ketika Ibunya meninggal dunia ia hanya bisa memasak telur dan merebus air.
Bi Ratna adalah asisten rumah tangga yang bekerja paruh waktu di sana. Datang setiap pukul enam pagi dan pulang pukul lima sore. Kini dengan di bantu bi Ratna, Ia dengan telaten menyiapkan menu makan malam hari ini.
Setelah berkutat selama kurang lebih 1 jam, menu makan malam yang ia buat pun selesai. Setelah semua pekerjaan dapur beres, bi Ratna mohon undur diri untuk pulang ke rumahnya. Qiandra memutuskan untuk mandi dan menyambut suaminya pulang sesaat lagi.
Baru saja kakinya menyentuh lantai kamar mandi, ia merasakan nyeri di perut bawahnya. Ia menghitung masa terakhir ia haid, apa memang sudah waktunya. Siklus haidnya selama ini tidak teratur, dan selalu lebih dari satu bulan, bisa lewat satu hari, dua, tiga bahkan bisa sampai lewat seminggu. Ia tidak pernah memusingkan hal itu.
Ketika menanggalkan pakaiannya, tampak flek di sekitar CD yang dikenakannya tadi. Sepertinya memang jadwalnya datang bulan, pikirnya. Tidak ingin berlama-lama di dalam kamar mandi, Qiandra pun menyelesaikan prosesi bersih-bersihnya lebih cepat dari biasa. Kini ia terlihat sibuk mencari sesuatu di walk in closet miliknya.
"Sial, Aku tidak punya pembalut lagi. Bi Ratna sudah pulang, Aku juga tidak mungkin keluarkan," gumam Qiandra.
Qiandra pun meraih ponselnya di atas nakas samping tempat tidurnya. Lalu menghubungi seseorang melalui ponselnya.
"Tuuut ... Tuuut ... Tuut..."
Panggilan terhubung namun tak ada jawaban. Ia melirik jam pada ponselnya, "Sudah hampir jam enam, biasanya dia sudah sampai di rumah?" tanyanya pada dirinya sendiri. Ia mencoba melakukan panggilan kembali namun suara operator yang terdengar.
"Aneh sekali!"
Qiandra pun memutuskan untuk menghubungi David.
Panggilan itu pun diangkat dari seberang sana.
"Halo, Nona ada yang bisa Saya bantu?"
"David, apa Kau bersama suamiku sekarang? Aku beberapa kali menghubunginya namun tidak tersambung."
"Tidak, Saya berada di kantor sekarang. Pak Barra sejak siang tadi melakukan pertemuan dengan klien bersama Siskha," ujar David.
"Siskha? Apa dia sekretaris baru itu?"Dahinya mengernyit khas orang yang sedang berpikir.
"Iya Nona. Jika anda khawatir, Saya bisa menghubungi Siskha sekarang." tawar David.
"Terimakasih David, maaf sudah merepotkan mu," ucap Qiandra sebelum mengakhiri panggilan itu.
Mendengar nama sekretaris baru itu disebut, tiba-tiba perasaannya menjadi gelisah. Sejak awal pertemuannya dengan Siskha, wanita itu sudah menunjukkan sikap tidak ramah padanya. Bahkan pada kejadian dua minggu yang lalu, dia pula yang melarang Qiandra masuk ke ruangan Barra. Perasaannya mengatakan sekretaris baru itu memiliki motif tertentu, semoga saja tidak.
Ponselnya kembali berdering, nama David tertera di layar. Dengan sigap Qiandra menggeser layar ponselnya ke ikon telpon berwarna hijau.
"Halo, David?"
"Halo Nona, Pak Barra saat ini sedang dalam perjalanan pulang. Hp beliau kehabisan energi sehingga tidak bisa Anda hubungi. Mereka baru saja selesai saat saya menghubungi sekretaris beliau."
"Terimakasih, David," ucapnya lalu mengakhiri panggilan tersebut.
Ia bergegas ke kamar, mengambil sweaternya lalu bergegas meninggalkan apartemen. masih ada waktu 20 menit lagi sebelum Maghrib jadi ia memutuskan untuk keluar dan membeli pembalut itu sendiri.
Di depan gedung apartemennya, ojek online yang sudah dipesan melalui sebuah aplikasi itu sudah menunggu di depan. Setelah mengenakan helm yang diberikan pengemudi ojek tersebut, ia pun naik ke atas motor yang akan membawanya ke supermarket yang tak jauh dari apartemennya.
***
"Terimakasih atas tumpangannya, Pak!" Siskha menundukkan kepalanya seraya tersenyum manis kepada atasannya itu.
"Baiklah, Saya permisi pulang dulu," sahut Barra.
"Hati-hati di jalan, Pak!" Siskha melambaikan tangannya hingga mobil yang dikendarai Barra hilang dari pandangannya.
Ia pun bergegas masuk ke dalam gedung apartemennya. Sebuah seringai licik terbit dari kedua ujung bibirnya.
"Pak Barra, Kamu pasti akan jatuh pada pesonaku, hahaha." Ia tertawa dalam hati sambil terus melanjutkan perjalanannya menuju unit apartemen miliknya.
"Sis, Tante butuh bantuan mu. Kau mau kan?"
"Tante, Aku tidak ingin ikut campur urusan Tante. Aku tidak ingin ikut terseret kriminalitas Tante," sanggah Siskha.
"Tante tidak menyuruhmu melakukan penculikan atau kejahatan lainnya. Tante hanya minta Kamu untuk memisahkan Qiandra dari suaminya. Tante tidak bisa melanjutkan rencana Tante sebab sekarang ia telah menjadi istri seorang Barra Pratama Gunawan."
"Barra? maksud Tante suaminya Qiandra itu Barra? Wah, pelet apa yang digunakan wanita itu hingga Ia bisa menikah dengan pria sekelas Barra? sungguh beruntung sekali," tutur Siskha lagi menggelengkan kepalanya.
"Sayang, please. Rencana Tante mencelakai dia sudah gagal kemarin dan sekarang, tentu saja Tante harus berhati-hati agar tidak meninggalkan jejak.Kau hanya perlu membuat Barra dan Qiandra bertengkar dan bisa jadi Qiandra yang malang itu ditendang dari rumahnya."
"Tapi Tante, aku tidak ingin menghancurkan hidupku dengan mengikuti jalan kejahatan Tante. Aku sudah bersyukur dengan hidupku sekarang, Aku sudah memiliki mobil n apartemen dari pemberian teman-teman kencanku. Aku hanya akan merayu dan mencoba merusak hubungan mereka saja, tidak lebih."
"Terimakasih sayang. Jika hubungan mereka renggang, maka Tante akan langsung bertindak dan bonusnya adalah, Barra bisa benar-benar menjadi milikmu, Bagaimana Deal?"
"Oke, deal."
Flashback off
***
Qiandra membuka pintu unitnya. Matanya mengedar ke seluruh ruangan di hadapannya. Belum nampak tanda-tanda kehadiran suaminya itu. Ia pun melangkahkan kakinya ke kamar.
Selang beberapa saat kemudian, ia pun keluar menuju dapur. Mengambil segelas air hangat untuk mengurangi kram perutnya. Diraihnya bungkusan belanjaannya tadi, kemudian meletakkan sesuai tempatnya. pandangannya beralih pada satu kotak merek susu, yang dibelinya untuk mempersiapkan kehamilan. Seulas senyuman terbit di bibir merah jambu itu, sambil tangannya mengusap perutnya.
"Semoga Allah berkenan menitipkan sesuatu di sini segera," ucapnya dengan tangan kanan masih mengusap perutnya yang rata.
Terdengar suara pintu dibuka dan suara seseorang memberi salam. Qiandra beranjak dari dapur seraya menjawab salam yang Ia yakini adalah suara suaminya.
Barra meletakkan tas kerjanya di sofa, lalu mendudukkan bokongnya di sana. Memijat pelan keningnya yang merasa penat akibat bekerja seharian.
"Mas," sapanya lalu meraih dan mencium punggung tangan Barra.
" Hai, Sayang. I Miss you so bad!" Barra menarik tubuh Qiandra hingga istrinya terduduk tepat di pahanya. Ia mendekap dan membenamkan wajahnya di dada istrinya. Kemudian mengendus wangi vanilla dari tubuh istrinya itu.
"Mas mandi dulu, udah lewat Maghrib tuh! Tumben pulangnya lama." Mengerucutkan bibirnya.
"Perundingannya berjalan alot, pihak klien menuntut revisi isi surat perjanjian. Yah begitulah, tim bekerja lebih ekstra hari ini."
"Ya udah Mas, mandi gih Maghrib waktunya singkat loh," ajak Qiandra yang langsung menarik tubuh Barra agar beranjak dari sofa.
Barra menghela nafasnya, lalu bangkit dan mengikuti Qiandra yang menuntunnya ke kamar mereka. Tiba di kamar, Barra meminta Qiandra membuka jasnya. Dengan telaten Qiandra membuka jas yang dikenakan oleh suaminya.
Matanya memicing mendapati bekas lipstik yang membentuk sepasang bibir di jas suaminya. Pikirannya mulai berkelana, sementara Barra sudah beranjak ke dalam kamar mandi.
"Milik siapa ini? Apa Mas Barra punya kekasih lain?" pikiran buruk terus menggerogoti pikirannya. Seketika ia mengingat perkataan Barra tempo hari.
"Astaghfirullah, tidak seharusnya Aku berprasangka buruk terhadap Mas Barra. Sebaiknya Aku menanyakan hal ini nanti seusai makan malam." Mencoba tersenyum meski tidak dapat Ia pungkiri perasaannya sedang berkecamuk sekarang. Ia pun bergegas ke dapur dan menyajikan makan malam yang telah ia masak tadi sore.
.
.
***
.
.
Terimakasih semua dukungannya ya Genks😀 Semoga tetap suka dengan cerita Aku yang banyak kekurangan di mana-mana.
Jangan lupa untuk selalu dukung Author, dengan memberi like, rate dan komentar. Kalau mau kasi Vote dan Hadiah boleh juga loh, dengan senang hati.. Hihihi
❤️❤️❤️