
Mama Renata baru saja keluar dari salah satu cabang klinik kecantikannya. Dia masuk ke dalam mobil yang akan membawanya ke GM Corporation. Pak Ujang skini udah melajukan mobil dengan perlahan.
Mama Renata mengeluarkan ponselnya dan tampak menekan ikon panggilan terhadap seseorang. Namun, suara operator yang terdengar. Karena panggilan tak kunjung tersambung, Mama Renata mengalihkan ke panggilan lainnya.
"Halo," sahut seseorang dari seberang sana.
"Alesha, apa suami Saya ada di ruangan?"
"Maaf Nyonya, Tuan bersama asisten Rey, pergi menghantar calon investor meninjau lokasi proyek sejak pagi tadi Nyonya,"
"Makasi ya Alesha infonya," sahut Mama Renata lalu mematikan ponselnya.
"Apa mungkin ponsel Papa tidak ada daya ya? Aku coba telfon Rey saja," ucap Mama pada dirinya sendiri.
Panggilan terhubung
"Halo," jawab Rey.
"Halo, Rey. Apa Mama bisa bicara dengan suami Mama?"
"Tentu , Nyonya. Ini handphone Saya serahkan pada Tuan,"
"Halo Ma, ada apa sayang?"
"Pa, Mama mau ke kantor Papa sekarang. Mama mau ajak Papa dan Qiandra makan siang bersama, Bagaimana?"
"Baiklah, Papa juga masih di jalan menuju kantor, baru saja menghantarkan investor ke Bandara."
"Oke, Sampai bertemu di kantor Papa ya!"
Mama Renata kembali mematikan panggilan itu, lalu menyimpan ponselnya kembali ke dalam tas. Sementara mobil terus melaju menuju GM Corporation.
.
*******
Barra dan David telah duduk di sofa, dengan wajah penuh tanda tanya. Tak lama berselang, Andin pun menyusul masuk, dan memilih sofa di sebelah David, tepat di hadapan Barra.
"Apa benar Dia yang datang?" tanya Barra pada Andin.
"Entahlah, namun petugas resepsionis bilang seperti itu." Andin menyahuti dengan mengangkat kedua bahunya.
"Aku rasa memang dia yang datang. Seperti yang pernah ku katakan beberapa hari yang lalu, dia telah kembali. Namun, apa yang membawanya kemari, Aku sungguh tidak tahu." David menimpali sambil menatap serius pada bosnya.
"Apa Kau masih menyukainya? Jika dia memintamu kembali, apa Kau bersedia?" Andin dengan ragu bertanya, setengah berharap agar Barra menolak wanita itu.
Barra mengusap wajahnya kasar, lalu menjambak rambut yang sudah tertata klimis itu. Ia berdiri, lalu berjalan menghadap meja kerjanya dan berbalik. Kembali melihat David dan Andin.
"Hhaaaah, Aku tidak tahu. Aku perlu memastikan perasaanku. Sejauh ini belum ada yang dapat menggantikan posisinya di hatiku." Barra memandang sendu ke kaca jendela.
"Andai saja posisi itu untukku Bar," bisik hati Andin yang kini menatap damba pada orang yang di cintainya.
Tok Tok Tok
Terdengar suara ketukan pintu dari luar. Ketiganya menatap ke arah pintu.
"Masuk!" perintah Barra dari dalam.
Pintu ruangan terbuka, tampak di sana petugas resepsionis yang tak lain adalah Qiandra mempersilakan seorang wanita masuk. Wanita itu tersenyum mendapati Barra yang sedang berdiri sejajar dengannya.
Tanpa aba-aba, wanita itu segera berlari menghambur memeluk Barra yang tengah berdiri mematung menatap wanita di hadapannya. Secara tidak sengaja, wanita itu menyenggol bahu Qiandra sehingga Ia terdorong kuat ke depan.
"Sayaaang!" Wanita itu berkata seraya mendekap tubuh Barra.
"auuuuu," teriak Qiandra yang tersungkur akibat dorongan yang tak di sengaja itu. Qiandra
berusaha bangkit, menahan perih di lututnya. Ia membulatkan matanya melihat pemandangan di depannya.
Qiandra melihat wanita yang diantarkannya sedang memeluk Barra erat, sementara Barra terlihat shock tanpa melakukan apa-apa. kedua tangannya hanya diam, seperti ragu ingin memeluk atau harus melepaskan.
"I Miss you so bad, Honey!" ujar wanita itu lalu merenggangkan pelukannya, menatap wajah dengan ekspresi terkejut Barra.
"Kkau? Kkau kembali? Kenapa?" tanya Barra bertubi-tubi, sedikit berteriak.
Bukannya menjawab, wanita itu malah menarik tengkuk Barra dan mencium bibir Barra. Semua orang di ruangan itu memelototkan matanya ketika mendapati wanita itu dengan berani mencium orang di depannya.
Andin seketika membuang wajahnya asal melihat pemandangan di depannya. Hatinya memanas, tangannya mengepal kuat. "Sial, untuk apa wanita itu mencium Barra, dasar licik," gerutunya dalam hati.
Qiandra berbalik menatap Mama Renata. Ia bisa melihat Mama Renata yang mulai menyadari adegan di depan mereka itu. Mama memegang dadanya yang tiba-tiba terasa sakit.
"Mama... " Qiandra berlari memegangi Mama.
Asisten David segera mendekati Barra dan wanita itu, namun tiba-tiba kilatan Blitz kamera terlihat seisi ruangan.
"Tidaaaak,,, " teriak Qiandra merentangkan kedua tangannya ke arah beberapa orang wartawan yang entah bagaimana caranya sudah ada di sana.
David tersadar, langsung menyentak tubuh wanita itu hingga terlepas dari Barra. "Tuan, Aku rasa ini jebakan," bisiknya pelan di telinga Barra.
Andin langsung menghubungi satpam dari telpon, dan David mulai membantu Qiandra menghalau wartawan yang sedang berkerumun di pintu masuk ruangan.
Barra yang sudah tersadar dari rasa shocknya, melihat Sang Mama sedang menatapnya tajam, dengan sorot mata penuh tanda tanya. Ia hanya mampu menelan salivanya kasar.
Pandangannya berpindah sedikit ke arah perempuan yang sedang menghalau para wartawan bersama asistennya. Di saat bersamaan, tubuh wanita terhuyung ke belakang akibat desakan para wartawan yang makin mengganas.
Qiandra merasakan tubuhnya akan terjerembab ke belakang, ia berteriak sambil memejamkan matanya.
"Aaaaaarrrgghhh," Mempersiapkan jiwa dan raganya untuk pendaratan yang sempurna.
Namun Qiandra merasa tubuhnya ditangkap seseorang, hingga tubuhnya tidak mencium lantai. Qiandra mencoba mengerjap beberapa kali, Ia mendapati bosnya sedang menangkap tubuhnya, dan kini wajah keduanya saling bersitatap.
"Aaahhh, ssiiial, kenapa dia terlihat sangat tampan pada posisi ini?" teriak Qiandra dalam hati, mencoba menetralkan rasa gugup yang tiba-tiba hadir. Ia menelan ludahnya kasar, seraya terus menatap wajah bosnya yang baru ia sadari ternyata sangat tampan.
"Hei, apa yang Kau lihat huh? cepat pura-pura pingsan, berakting lah!" pinta Barra dengan merapatkan giginya.
Samar-samar Qiandra mendengar celetukan bosnya yang memintanya untuk berpura-pura pingsan. "Pingsan?" tanyanya dalam hati. Qiandra mendelikkan matanya, menatap Barra.
"ce-pe-tan..." Barra menggeram, masih dengan merapatkan giginya.
Qiandra refleks memejamkan mata dan melemaskan tubuhnya. Asisten Rey dan beberapa orang satpam sudah berada di lokasi dan membantu mengamankan wartawan yang datang dari negeri antah berantah itu.
Wanita yang sempat membuat heboh tadi, tersenyum licik melihat kerumunan yang sudah di amankan itu. Namun, tiba-tiba suara Barra membuyarkan senyumannya.
"Bangun Qiandra, bangun,, hei,," Memukul pipi Qiandra beberapa kali.
"Sakiiit Pak, niat banget mukulnya..." Qiandra menjerit dalam hati, matanya tetap terpejam sesekali mengintip kecil.
"Sebaiknya kita bawa ke klinik, Tuan!" usul David.
Barra menganggukkan kepalanya, lalu spontan mengangkat tubuh Qiandra dan berlalu melewati kerumunan wartawan yang sudah di amankan. Tak satupun kamera wartawan itu bisa mengambil gambar Barra lagi, namun seseorang dengan senyum nakal dari tadi selalu mengambil momen kebersamaan Qiandra dan Barra.
"Drama dimulai," ucap Mama Renata pelan, sambil melirik tajam sesaat ke arah wanita yang tampak kesal melihat Barra pergi.
Mama Renata akhirnya kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas, mengikuti Barra dan David yang terlebih dahulu pergi menuju lift.
"Aaarrrgghhh, sial, kenapa resepsionis itu merusak rencanaku siiiiih!" teriak wanita itu sambil mengepalkan kedua tangannya.
"Nona Angeline, jika tidak ada keperluan lagi, Anda bisa kembali. Maaf, atas ketidaknyamanan hari ini." Andin menundukkan tubuhnya sedikit, berucap lembut namun dengan nada sinis.
Angeline berdecak kesal. Ia menghampiri Andin dan berbisik seraya mengusap pundak Andin.
"Bagaimana rasanya selalu menjadi bayangan? Apa Kau menikmati peranmu selama ini? Bahkan setelah sekian lama Aku pergi, Kau masih belum bisa mendapatkan hatinya? Miris, Hhhaahhahahah." Angeline tertawa kecil dengan menutup mulutnya.
"Sampaikan pada Barra, Aku akan menemuinya lagi besok, permisiiiii." Memukul-mukul kecil bahu Andin, lalu membingkai kembali matanya dengan kaca hitam yang sejak tadi tersampir di rambut. Ia melangkah pasti, berlalu dari ruangan Barra meninggalkan Andin yang sudah memerah menahan amarah yang siap meledak kapan saja.
.
.
.
.
.
*************
To Be Continue
Happy Reading
Makasih ya buat kalian yang selalu menunggu update Novel ini. ❤️❤️❤️