My Bossy Husband

My Bossy Husband
Eps.35 : I Love You



Cahaya matahari kian meredup, bergerak semakin ke ufuk barat. Semilir angin masuk dari pintu balkon kamar yang salah satu pintunya terbuka. Seorang Pria tampak sedang berdiri menatap keluar, dengan kedua tangan ia masukkan pada saku celananya.


Hembusan angin menerpa lembut wajah seorang wanita yang masih tertidur. Suasana nyaman dalam kamar semakin membuat ia mempererat pelukannya pada guling di sebelahnya. Selang beberapa saat, keningnya berkerut merasakan sesuatu di perutnya.


"Krkrkkrkrkrkrk," bunyi perutnya yang sedang demonstrasi meminta diisi oleh sang empunya.


Ya, wanita itu tak lain adalah Qiandra, yang sekarang sudah resmi menjadi Nyonya Barra.


"Ssssshhhhhh." Qiandra meringis, merasakan nyeri di perutnya sekaligus bagian intimnya. Ia menggelungkan tubuhnya menahan rasa lapar, karena matanya masih ingin terpejam. Rasa malas untuk bangkit sebab seluruh tubuhnya terasa kaku dan nyeri akibat ulah sang Suami tadi siang.


Sementara itu, tersangka utama tengah asyik sendiri melihat pemandangan dari balkon. Mendengar suara pergerakan dari ranjang yang menjadi saksi pergulatan panas keduanya tadi siang, Barra membalikkan tubuhnya. Tersenyum hangat melihat pemandangan di depannya. Namun seketika senyuman itu berubah menjadi ekspresi cemas melihat istrinya sedikit meringis seraya memegangi perutnya.


Barra bergegas ke ranjang, lalu menutup pintu kamar yang dibukanya tadi. Mendengar suara pintu yang tertutup, perlahan netra Qiandra membuka. Ia mengerjapkan matanya sebelum akhirnya terbuka sempurna. Lelaki yang telah berhasil menjadikannya sebagai istri yang dilihatnya tergesa dengan wajah cemas menghampirinya.


"Sayang, Kau sakit?" tanyanya sudah duduk di tepi ranjang, dengan sebelah lengannya mengelus pipi chubby itu.


Qiandra masih terkesiap dengan pandangan di hadapannya. Bagaimana suaminya bisa setampan ini, pikirnya. Sekelebat ingatan adegan intim mereka tadi siang terlintas, membuat wajahnya yang putih kini merona. Ia pun memalingkan wajahnya.


"Ada apa? Maaf sudah membuatmu sakit seperti ini." Barra semakin bersalah, meski tak terbesit penyesalan. Sebab, hal itu memang cepat atau lambat akan terjadi.


"A-aku lapar mau makan," jawabnya lirih dengan suara serak khas bangun tidur. Masih dengan wajah yang memerah karena malu.


Barra menatap Qindra dengan penuh rasa bersalah. Akibat perbuatannya tadi, istrinya sampai kelelahan dan melewatkan jam makan siangnya. Bahkan untuk mandi saja, Istrinya kesulitan berjalan hingga akhirnya Ia berinisiatif menggendongnya.


"Aku sudah menyuruh Bik Darni menyiapkannya untukmu. Tadinya Aku akan membangunkan mu setelah makanan itu tiba. Kita tunggu sebentar, boleh?" ucapnya lembut sambil menarik dagu Qiandra sekilas lalu mengecupnya singkat.


"Massss," teriaknya masih kaget dengan perlakuan suaminya yang tiba-tiba. "Aku baru bangun tidur," sambungnya lagi.


"Heheheh," kekeh Barra melihat respon Qiandra. Istrinya itu, sedikit pemalu jika menyangkut hal-hal intim seperti itu. "Maaf sudah membuatmu seperti ini, Sayang. Tapi Aku melakukannya agar Kamu menjadi milikku sepenuhnya. Terimakasih." Mengecup singkat pucuk kepala istrinya, lalu memindahkan beberapa helai rambut yang tergerai menutupi wajah ke belakang telinga istrinya itu.


Tak lama kemudian pintu diketuk. Barra beranjak dari ranjang dan membuka pintu kamar mereka, mengambil alih satu baki hidangan makan siang yang sudah telat itu untuk Qiandra.


Barra pun tidak membiarkan Qiandra menyuapkan makanan sendiri. Ia mengambil hak atas sendok yang ada di tangan Qiandra, lalu mulai memanjakan istrinya itu. Qiandra yang memang sudah lama tidak merasakan bermanja-manja pada orang lain pun, akhirnya merasa nyaman dan menikmati pelayanan dari suaminya itu.


Satu senyuman terbit dari sepasang bibir merah muda itu. Rasanya seperti mimpi, baru saja kemarin Ia bertemu dengan Barra, sekarang sudah menjadi istrinya. Begitulah Allah menjalankan rencana-Nya. Kadang apa yang kita inginkan belum tentu yang kita butuhkan. Allah lebih mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya.


...🌹🌹🌹...


Setelah selesai menyantap hidangan makan siangnya yang sudah nyaris menjadi makan malam, Qiandra melaksanakan sholat Ashar terlebih dahulu yang juga sudah lewat. Kini wanita itu berdiri di depan pintu kamar yang menghadap ke balkon kamarnya. Satu daun pintu Ia biarkan terbuka, merasakan udara sore yang berhembus lembut di Indra perabanya.


Tubuhnya kini sudah berbalut sebuah gaun lengan pendek berwarna hijau mint, menggantikan gaun tidur berbahan satin premium yang sebelumnya Ia kenakan. Ketika Qiandra terlihat menikmati suasana dan disibuki dengan pemikirannya, sepasang lengan kekar memeluk pinggangnya dari belakang.


Ia sedikit menggeliat merasakan nafas hangat orang yang kini meletakkan wajah di ceruk lehernya. Barra menghirup aroma tubuh istrinya itu sesaat, lalu memalingkan pandangannya ke depan setelah menempelkan bibirnya di pipi kiri Qiandra.


"Apa yang sedang Kau pikirkan, Hem?" Pertanyaan itu terlontar dengan suara baritone khas miliknya. Tidak Ia pungkiri berada di posisi seperti ini, membuat beberapa bagian tubuhnya bergejolak. Tubuh yang ia peluk kini, memiliki magnet tersendiri ketika ia menyentuhnya.


"Mm-mass! Kapan Mas masuk? Aku tidak menyadarinya, mengagetkanku saja, hhhh!" gerutu Qiandra yang masih memegangi dadanya Karena terkejut.


Barra hanya tertawa kecil. "Kau begitu serius, apa yang Kau pikirkan hingga Aku masuk Kau tidak menyadarinya." Mempererat rangkulannya pada tubuh istrinya.


"Tidak, Aku hanya teringat Ayah dan Bunda, seandainya mereka ada di sini," ucap Qiandra yang tidak mampu melanjutkan kata-katanya.


Kepala Barra yang masih bertengger di bahu istrinya kini menegak. Tangannya beralih memegangi bahu dan memutar tubuh istrinya hingga keduanya saling berhadapan. Qiandra mendongakkan kepalanya menatap wajah Barra, dan sebaliknya Barra menundukkan kepalanya menatap wajah Qiandra.


"Yakinlah, Ayah dan Bunda sekarang juga sedang bahagia di sana, melihat anaknya juga bahagia. Aku berjanji untuk selalu membuatmu bahagia, Sayang!"


Barra merengkuh tubuh istrinya ke dalam dada bidangnya. Qiandra pun mengeratkan kedua tangannya yang kini melingkar di badan suaminya itu. Mengendus kuat aroma tubuh yang akan melindunginya kini, mencari tempat ternyaman dan terhangat untuk berlindung.


Dari ujung netranya sudah mengalir bulir-bulir kristal. Merasakan tangan kokoh itu merengkuh tubuhnya, bibir merah sensual itu mencium pucuk kepalanya, berkali-kali, dan mendengar suara baritone yang dianggapnya seksi itu mengucapkan, "I love you, My wife." Seketika isakan kecil penuh rasa sesak karena bahagia keluar dari mulut Qiandra.


Sosok ini yang kelak akan menjadi tempatnya berlindung. Tubuh ini yang kelak akan menjadi tempatnya bernaung. Lengan ini yang akan menjadi sarananya bergantung. Ya, suaminya. Ternyata bukan hanya ketika bersedih kita bisa mengeluarkan air mata, bahkan ketika bahagia sekalipun.


"Promise me, never leave me. You won't ever let me go!" pintanya dengan suara serak sebab terisak semakin kencang.


"Aku berjanji, Sayang. I love you, trust me. Tidak akan ada yang bisa menghentikan Aku untuk mencintaimu bahkan kematian sekalipun. Selama Aku masih hidup, Aku tidak akan pernah meninggalkan mu!" Barra mengecup kedua mata Qindra yang berurai air mata.


Mendengar ucapan itu, Barra seketika menempelkan bibir mereka. Tak ada keterburuan, keduanya saling merasai, menghayati perasaan satu sama lain, mencurahkan semua rasa dengan isapan dan cecapan. Hingga aliran kasih itu terputus sebab nafas Qiandra yang mulai terengah masih belum bisa mengimbangi kemampuan lawan yang ada di hadapannya sekarang.


Semburat merah terpancar dari wajah Qiandra. Lagi, ia berhasil membuat Barra menjadi kecanduan dengan semua yang ia miliki. Dia tidak tahu, kini suaminya itu sedang menahan gejolak panas yang menyerang otaknya. Ia mencoba menahannya kali ini, tidak ingin membuat istrinya kembali kelelahan seperti tadi siang. Qiandra masih tersenyum dengan sisa air bening yang mulai mengering di kedua netra sayunya.


...🌹🌹🌹🌹...


Bumi terus berputar pada porosnya membawa pergantian siang ke malam, malam ke siang begitu seterusnya. Rotasi itu tidak pernah meleset secenti pun, dan tidak pernah berhenti sedetik pun. Begitulah Tuhan telah mengatur dengan begitu detail alam semesta ini bekerja.


Tidak terasa, tiga hari telah berlalu sejak pernikahan Qiandra dan Barra. Hari ini tepat hari Senin, Barra kembali menjalankan aktivitasnya di perusahaan. Pagi tadi untuk pertama kalinya Barra tidak melakukannya sendiri. Istrinya menyiapkan yang semua kebutuhannya. Kecuali dasi, sebab istrinya belum terlalu mahir memasang dasinya.


Barra memang baru saja mereguk manisnya kehidupan pernikahan, namun entah kenapa dia begitu yakin bersama Qiandra mereka akan melalui semua aral menghadang bersama. Seperti sekarang ini, saat dia sedang memeriksa berkas-berkas diatas mejanya. Ia tersenyum-senyum sendiri saat terlintas bayangan Qiandra di kepalanya.


Baru saja selesai istirahat siang, namun rasanya Ia sudah merindukan Qiandra. Ia ingin segera pulang menemui kekasihnya itu namun kenyataannya tak mungkin. Berkas-berkas yang harus ia tandatangani cukup banyak dan itu harus selesai hari ini.


...


Berita pernikahan Barra dan Qiandra mulai tersebar ke publik. Banyak komentar positif yang beredar di masyarakat meskipun ada juga yang berkomentar negatif. Sementara di GM.Corp sendiri, berita ini mendapat tanggapan berbeda dari beberapa karyawan wanita yang memang tidak bisa move on dari mimpinya untuk bisa bersama Barra. Miris.


"Kok bisa sih Pak Barra yang gantengnya paripurna gitu menikahi gadis biasa kaya si resepsionis itu, ihh, bagusan gue kemana-mana!" ucap salah satu karyawati.


"Iya, gue juga heran. Apa tu cewek pake pelet kali ya." Prasangka salah satu karyawati tersebut.


"Wajahnya sih cakep, tapi dandanannya biasa aja. Tubuh juga nggak seksi dan badannya lurus aja kaya tiang listrik!" timpal karyawati yang lain.


"Gue udah tampil semenarik mungkin. Satu setengah thun gue kerja di sini, jam lima pagi udah rela-relain bangun buat dandan dan rambut, eh nggak pernah di lirik guys. Cewek cupu begitu baru dua Minggu kerja udah dinikahin ama Bos, sakitnya tuh di sindang."


"Ahahahah, makanya besok-besok lu kalau kerja pilih bagian front line, jadi Boss dateng tuh ya lu yang dia lihat duluan. Atau Kita rame-rame jadi resepsionis aja yuk!"


Begitulah sekilas pembicaraan para karyawati saat jam istirahat. Mereka ramai yang mengomentari berita pernikahan Barra dan Qiandra. Salma dan Rere yang menjadi teman Qiandra selama bekerja sebagai resepsionis di sana, juga turut bahagia mendengar berita tersebut.


"Nggak nyangka deh Re, Qiandra bakalan jadi istri boss kita. Beruntung banget sih," ucap Salma.


"Bukan bakal lagi Neng, emang udah jadi istri. Kan mereka udah nikah. Tinggal resepsinya aja yang belum. Kita diundang Qiandra gak ya?" Terawang Rere pikirannya bersama Qiandra.


"Ahh, gue mah kalau diundang juga nggak bakalan datang. Di sana ntar tamunya orang kaya semua yang datang Re." Memangku dagu dengan kedua tangannya.


"Iya juga si, lagian mau pake baju apa kita. Udahlah, mudah-mudahan Qiandra bahagia dengan pernikahannya. Semoga mereka SaMaWa, jauh dari pelakor." Rere mendoakan.


"Aamiin." Keduanya mengucapkannya bersamaan.


.


.


.


***To Be Continue***


.


.


.


Halo semuanya, Maaf telat Up.


Makasi banyak buat para pembaca yang selalu nungguin. Maafin Author yang masih rempong nyiapin mudik, takut gak keburu bakalan ditutup jalur keberangkatan. Mohon di maklumi ya, Jadi kerjaan semuanya di buru😊🤧🙏🙏


Happy Reading Gengs


Semoga next bisa Up cepet ya,, hihihihi