My Bossy Husband

My Bossy Husband
Episode 53: Membuat Rencana



Arlie dan Qiandra merentangkan tangannya dan meliuk-liukkan tubuh mereka mengusir penat di tubuh. Kondisi tangan dan kaki yang terikat membuat mereka tidak bisa leluasa mencari posisi yang nyaman. Ikatan pada tangan mereka akan dibuka ketika makan, sedangkan pada kaki akan dibuka ketika ingin ke toilet.


Waktu sudah beranjak hampir tengah malam. Para penjaga di luar terdengar masih bermain kartu. Jika diperhatikan ada 9 orang penjaga yang mereka selalu bergantian siang dan malam.


Zidane sudah menceritakan semua yang terjadi padanya hingga ia berakhir sampai di tempat itu. Dia juga sudah meminta maaf pada Arlie, meskipun masih belum menerima Zidane kembali, namun ia sudah memaafkan kesalahan Zidane.


Lain hal dengan Qiandra. Ia merasa bingung dengan cerita Zidane mengenai kedua orang tuanya. Seingat dia, sejak kecil ia dan kedua orang tuanya harus berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain sebab selalu mendapat ancaman. Meskipun Ia tidak mengerti, namun Ia yakin sekali bahwa kedua orang tuanya bukan tipe orang yang tega melakukan hal seperti yang dituduhkan Zidane selama ini.


"Bagaimana, apa kalian siap melarikan diri besok?" tanya Zidane memastikan kembali.


"Tapi kita tidak punya pilihan lain. Jika kita tidak lari, kita akan berakhir di sini." Zidane mengedarkan netranya mengitari sekeliling. lalu ia segera melihat kondisi di luar dari balik fentilasi.


"Sepertinya kita berada di hutan, Kakak tidak bisa melihat karena di luar sangat gelap. Namun, banyak pohon di sekeliling tempat ini." Zidane menambahkan.


"Apa mungkin kita bisa lari dari sini, Kak?" tanya Arlie meragukan. "Dengan kondisiku seperti ini, Aku tidak yakin kak." Menatap sedih pada perutnya, lalu mengusap sambil menitikkan air mata.


"Sayang, maafkan Mama tidak bisa menjaga Kamu, hiks... Bahkan sejak di dalam kandungan pun, Mama sudah menyusahkan mu Nak, hiks hiks hiks... " isakan Arlie membuat Zidane dan Qiandra merasa iba.


"Ssshhhhh, Kamu jangan ngomong begitu. Kalian berdua hebat, kalian kuat makanya Tuhan kasi cobaan seperti ini sama Kalian. Ar, lu jangan sedih. ntar si baby ikut sedih," ucap Qiandra menenangkan.


"Maafkan Kakak, maaf karena kakak sudah membuat Kamu dan dia menerima perlakuan ini. Kakak tidak tau kenapa Mama Diana tega melakukan ini kepada Kita." Menggenggam tangan Arlie dengan sebelah tangannya dan satu tangan lagi mengusap perut Arlie.


Arlie dan Zidane merasakan pergerakan bayi mereka ketika tangan Zidane menyentuh permukaan perut Arlie. Tak menunggu lama, hal itupun membuat Zidane bahagia.


"Dia bergerak, Arlie kau rasa kan kalau dia bergerak. " Merasa senang lalu mendekatkan wajahnya ke perut Arlie. "Halo Sayang, ini Papa. Maafkan Papa ya sudah membuat Kamu dan Mamamu menderita. Setelah ini, Papa berjanji akan bersamamu selalu. Tidak akan ada yang memisahkan kita lagi. Papa berjanji, Nak."


Kata-kata yang dilontarkan Zidane membuat ketiganya menangis. Arlie dan Qiandra tak kuasa menahan harunya, melihat Zidane seperti bertemu dengan anaknya meski masih dalam kandungan. Sedangkan Zidane, beribu penyesalan menghujam jiwanya. Ia begitu larut dalam kemelut penyesalan dan bertekad dalam hati tak akan meninggalkan buah hatinya lagi.


"Kak, sudahlah Aku sudah memaafkanmu. Aku belajar dari Qiandra yang selalu memberikan maaf pada orang lain, termasuk Aku dan Kakak." Arlie tersenyum, merasakan gelombang kebahagiaan menghantam jiwanya. Bagaimana tidak, sudah tiga bulan lebih ia menjalani kehamilan tanpa suaminya, dan kinii suaminya di depannya, mencintai ia dan anaknya.


"Terimakasih, Sayang!" Menatap penuh kasih wanita dihadapannya.


"Udahan dong, jadi rindu Mas Barra," ucap Qiandra dengan wajah tersenyum menggoda keduanya. "Gimana caranya kita keluar dari sini?" tanya Qiandra lagi kembali ke mode serius.


"Oke, besok pagi dan siang kita harus makan yang banyak, supaya kita punya tenaga yang cukup untuk melarikan diri. Ketika pergantian shift penjaga, kira-kira jam tiga sore, Kalian berdua minta diantar ke toilet. Setelah kalian pergi, Kakak akan menyusul dari belakang." Zidane mengungkapkan gagasannya.


"Kenapa harus menunggu pergantian shift, Kak?" Qiandra menyentuh dagunya sendiri berpikir.


"Jika kita mengambil waktu lain, penjaga akan lebih banyak. Setelah kakak perhatikan kemarin ternyata setiap selesai makan siang, tiga orang penjaga pergi keluar, menyisakan enam orang di sini. saat pergantian shift, sebagian penjaga akan tertidur. sedangkan penjaga yang pergi akan kembali sebelum Maghrib tiba. Kalian mengerti?" Jelas Zidane lagi.


"Apa Kakak bisa mengalahkan mereka?" tanya Arlie cemas.


"Kakak tidak tahu, yang pasti besok saat penjaga sedikit, Kakak akan berusaha. wajah kakak memang masih lebam tapi otak kakak masih bisa berfikir. Jika sesuatu terjadi pada kakak, kalian tetap lari ya, yang penting kalian bebas dari sini." Zidane tersenyum penuh arti.


"Jangan bilang seperti itu, Kita akan keluar bersama kak!" Arlie merasa tidak suka dengan perkataan Zidane.


"Oke, baiklah sekarang kita istirahat. Oh ya, tali di tangan dan kaki Kita kakak ikat lagi ya. Bukan diikat sih, cuma dimasukkan saja. Siapa tau ketika kita tertidur mereka mengecek keadaan di dalam. Besok ketika akan menjalankan rencana Kalian berdua akan kakak ikat seperti biasa." Zidane mengusulkan.


"Baik kak," jawab keduanya serentak.


...✳️✳️✳️...


Barra tersentak mendengar suara Papa Gunawan yang kemudian ikut duduk di kursi yang ada di sampingnya. Menoleh sesaat pada wajah yang tampak mulai menua di sebelahnya. Ia menghela nafasnya berat.


"Aku memikirkan istriku, Pa. Bagaimana Aku bisa tidur di saat Aku bahkan tidak mengetahui keadaannya, Pa!" sesal Barra lalu mengusap wajahnya kasar.


"Papa mengerti keadaan mu, Nak. Jangankan Kamu, Papa yang melihat Mama dengan kondisi sakit seperti itu saja, rasanya Papa tidak ingin melakukan apapun. Tapi Bar, Papa berpesan jangan pernah kamu menyakiti hati istrimu. Jadikan saat-saat seperti ini sebagai pembelajaran untuk Kamu meniti langkah bersamanya kelak." Papa Gunawan menasehati putra satu-satunya itu.


"Iya Pa, Barra mengerti. Barra berjanji untuk selalu membahagiakan Qiandra kelak. Barra hanya ingin melihat Qiandra baik-baik saja sekarang. Barra tidak akan pernah memaafkan diri Barra jika sampai terjadi apa-apa dengan Qiandra." Barra menutup wajahnya, sebab tak mampu menahan laju butiran kristal dari kedua netranya. Ia tidak sanggup membayangkan jika sesuatu hal buruk menimpa Qiandra.


Papa menepuk bahu anaknya. "Kamu yang sabar, Papa yakin Qiandra baik-baik saja. Bagaimana rencana untuk besok?" Mencoba mengalihkan pikiran kalut putranya..


"Sesuai jadwal, kedua orang tua Erlan akan sampai pukul sepuluh pagi. Erlan akan memasang sesuatu di tas mamanya sehingga posisinya bisa kami lacak. Menurut keterangan dari Siskha, Tante Diana akan menemui Qiandra besok." Dengan pasti Barra menjawab pertanyaan Papanya.


"Diana, siapa dia?" Suara wanita paruh baya terdengar dari belakang keduanya.


"Mama, kenapa Mama tidak istirahat?" Papa Gunawan bangkit dan menghampiri Mama Renata yang masih bergeming di depan pintu.


"Tadi Mama dengar Diana, Diana siapa Pa?" tanya Mama Renata lirih yang kondisinya memang sudah membaik hari ini.


"Nanti Papa jelaskan ya Ma, sudah malam lebih baik Mama istirahat. Ayo, Papa antar ke kamar!" ajak Papa Gunawan menggamit lengan Mama Renata berniat menuntunnya.


Seketika, Mama Renata menepis tangan Papa Gunawan, lalu dengan pertanyaan beruntun menghampiri Barra.


"Siapa dia Barra? Apa ini ada hubungannya dengan hilangnya Qiandra? Lalu, di mana dia sekarang?"


"Tante Diana adalah ibu sambung Erlan, Ma. Dia adalah dalang di balik penculikan Qiandra, juga kecelakaan yang menimpa Qiandra sebelum kami menikah. Dia sekarang sedang di Shanghai dan akan bertolak ke Jakarta malam ini." jawab Barra berusaha jujur pada mamanya. Meskipun banyak hal yang belum ia ceritakan pada mamanya mengenai kejahatan Diana.


"Diana Varadisa, apa itu namanya?"


Bara mengangguk, "Mama mengenal Ibu sambungnya Erlan?" Pertanyaan itu merubah air muka Mama Renata menjadi seputih kapas. Bagaimana Ia tidak mengenalnya, Ia , Diana, dan Zasqia ketika SMA adalah murid di SMA yang sama bahkan sekelas.


.


.


.


***To Be Continue***


.


.


.


Happy Reading Gengs...


Sorry kemaren gak up karena ada full kerjaan 🙏😊😊