My Bossy Husband

My Bossy Husband
Eps.19 : Merasa lebih baik



Qiandra baru saja tiba di rumah keluarga Gunawan. Ia di sambut oleh Mama Renata yang sedang duduk di ruang keluarga bersama Mikhayla yang tampak sedang mewek. Ia menekukkan wajahnya di sebalik sofa, sedangkan dua mbaknya sedang berusaha mengajak bermain.


"Assalamualaikum, Mama," ucap Qiandra sembari meraih dan mencium punggung tangan Mama Renata.


"Wa'alaikumsalam, Qia," sahut Mama Renata, lalu mengelus rambut Qiandra. "Kau lelah, Sayang? Lihatlah, kulitmu sudah pucat." Mama mengusap kedua pipi Qia, menatap dengan penuh kekhawatiran.


"Mama, Qia enggak apa-apa kok Ma. Abis mandi juga seger lagi, Ma," jelas Qia, mencoba menghilangkan kekhawatiran Mama.


"Eh, ada Mikha juga nih. Apa kabar Mikha sayang?" Qiandra menyapa Mikha tanpa menghampirinya, Ia merasa sangat kotor sehingga memilih menyapa dari jarak ini.


"Onti syantik, aaaaaa ada Onti, Huwaaaa huaaaa," Tiba-tiba Mikhayla berlari menghambur ke pelukan Qiandra, sambil menangis keras. Qiandra dalam keadaan tidak siap sehingga Ia sampai terhuyung ke belakang dan membentur ujung sofa.


"Hei, Mikha kenapa sayang?"


Mendapati pertanyaannya tidak kunjung di jawab, Qiandra pun menanyakan pada Mama Renata.


"Mamanya pergi ke klinik dokter kandungan, mau cek kehamilan calon adik bayinya Mikha," ucap Mama Renata memberi penjelasan sambil tersenyum dan mengusap rambut cucu pertamanya itu. Sementara Mikha terus menempel padanya. Ia menyerukkan kepalanya dileher yang Qiandra yakini sekarang memiliki aroma amonia yang tinggi akibat aktivitasnya hari ini.


"Wah, sebentar lagi Mikha bakalan jadi Kakak dong. Selamat ya Mikha, mulai sekarang Aunty panggil Kakak Mikha dong," bujuk Qiandra, mencoba membuat Mikhayla terbebas dari aroma tak sedap dari tubuhnya sendiri.


Qiandra POV


Umpan yang Ku tebar mulai di lirik balita ini. Aku merasakan Mikhayla mulai mengendurkan pelukannya, perlahan mengangkat wajahnya. manik jernihnya bertemu dengan manikku, wajahnya sedikit sembab. Hal itu membuat pipinya kelihatan tambah bulat, dan matanya yang nyaris tinggal segaris, mengingatkanku pada tokoh film anime Jepang yang dulu biasa ku tonton, Ponyo. Meskipun di film Ponyo di gambarkan sebagai seorang dengan mata bulat.


"Mikha sayang, Aunty Qia baru pulang kerja. Biarkan Aunty mandi dulu, Mikha sama Oma dulu sayang, sini," bujuk Mama Renata, merentangkan kedua tangannya bermaksud mengambil alih Mikhayla dari tubuhku.


" Ndak mahu, Ikha mahu itut mandi syama Onti syantik!" Mikhayla menggelengkan kepalanya, menolak ukuran tangan Sang Oma.


(Enggak mau, Mikha mau ikut mandi sama Aunty cantik)


"Ya udah Ma, enggak apa-apa kok. Biarin Mikha ikut Qia ke kamar aja dulu, yang penting dia enggak nangis lagi," ucapku seraya menggendong Mikhayla ke dalam kamar. Diikuti Mbak Lilis yang membawa mainan Mikhayla, sedangkan mbak Nurul mengambil pakaian ganti Mikhayla di kamar.


.


.


.


Mikha sudah tertidur dan dibawa kembali ke kamarnya. Aku baru saja selesai menunaikan kewajibanku sebagai seorang muslim. Ah, sudah lama Aku tidak menyertakan Dia dalam kehidupanku. Pernyataan si kecil Mikhayla telah mengetuk hatiku, betapa Aku semakin hari semakin menjauh dari-Nya.


"Onti, adik bayi Ikha tenapa ada di pelut Mommy?" celetuk Mikha saat Aku memberitahukan padanya, bahwa di dalam perut Mamanya sekarang adiknya sedang bertumbuh.


Aku merutuki kebodohanku. Bisa-bisanya Aku terjebak dengan perkataanku sendiri. Aku lupa, anak-anak cenderung lebih kritis dari pada orang dewasa. Aku mulai memutar otakku. mencari ingatan penjelasan guru Biologiku selama di sekolah.


"Itu, hmmmm, apa ya, Aunty lupa Mikha,, heheeh." Aku hanya mampu cengengesan, menatap dengan rasa bersalah. Aku takut penjelasan ku malah membuat Mikhayla yang berusia tiga tahun semakin bingung.


Mikhayla mencebikkan bibirnya, merasa tidak puas dengan jawabanku.


"Onti boong, hiks hiks, Onti ndak tayang syama Ikha." teriak Mikha dengan suaranya yang menggemaskan.


(Aunty bohong, hiks hiks, Aunty enggak sayang sama Mikha).


Aku menggendongnya menuju balkon, ku bujuk Mikha dengan nyanyian bintang kecil, ternyata anak itu langsung menyambar ikut bernyanyi.


amat manyak, hehias angkasya


atu ingin, telbang dan nyanyii


dauh tindi, te tempat tau belada


"Wah, kak Mikha pinter banget nyanyinya. Suaranya bagus lagi ihh," godaku lagi, Mikha hanya mampu tertawa lepas.


“Onti, bintang itu syapa yang cintain?” tanya Mikha dengan antusias. Aku bisa melihat binar ingin tahu dari manik bulat hitamnya itu.


(Aunti, bintang itu siapa yang ciptain?)


“Bintang itu ciptaan Allah sayang,” jawabku sambil mencium dua pipi bulatnya.


“Tadi di syekolah Ikha, buna dulu bilang, tita syemua cintaan Alloh. Dadi syama tayak Bintang ya Onti?” imbuhnya dengan mimik wajah yang sangat innocent di pandanganku.


(Tadi di sekolah Mikha, Bunda Guru bilang, kita semua ciptaan Allah. Jadi sama kayak bintang ya Aunty?)


“Iya dong. Kita, langit, Bumi dan semua isinya ciptaan Allah. Termasuk adik bayi di perut Mommy, ciptaan Allah juga,” tuturku lembut.


"Onti, Ikha tayang sama Alloh, Alloh hebat ya Onti, cintain semuanya, tayang Alloh manyak-manyak."


(Aunty, Mikha sayang sama Allah, Allah hebat ya Aunty, ciptain semuanya. Sayang Allah banyak-banyak)


Deg


Ucapan Mikha dengan suara yang mulai parau dan pelan itu terasa menusukku. Ahhh, bagaimana seorang anak kecil seperti Mikha bisa menyadari kebesaran Allah, sedangkan Aku??


Tes ... tes... tes


Bulir kristal itu kembali mengalir dari kedua sudut mataku. Mikha sudah menyandarkan kepalanya di bahuku, kedua tangannya sudah mulai terkulai. Sepertinya Ia tertidur. Aku segera meminta mbak Lilis dan Mbak Nurul, membawa Mikha ke kamarnya.


Qiandra POV END


Qiandra membaringkan tubuhnya, mencoba mengistirahatkan jiwa dan raganya. Matanya sudah menutup namun kesadarannya masih terbuka. Ia kembali terngiang celotehan Mikhayla tadi. Sungguh, Ia merasa lebih baik setelah menumpahkan segala kegundahannya selama ini pada Maha pencipta.


Qiandra ingat betul, Bundanya pernah berkata padanya, Setiap orang adalah Guru, dan setiap rumah adalah sekolah. Siapapun kita, memegang andil untuk digugu lan ditiru. Kita tidak bisa memilih akan mengajar siapa, tetapi bukankah kita bisa menentukan apa yang akan kita ajarkan?


Begitupun pula, setiap tempat yang kita kunjungi, pastilah ada sesuatu yang bisa kita jadikan bahan pelajaran. Semua kembali pada diri kita masing-masing, apa yang ingin kita petik pastilah itu yang kita tanam.


"Ayah, Bunda, Qia ikhlas kalian pergi. Sampaikan pada Allah, Qia ridho dengan ketentuanNya. Qia sangat bahagia, menjadi anak kalian. Semoga kita bisa bertemu lagi kelak di syurga-Nya."


Perlahan, kesadarannya mulai menghilang, terbang ke alam mimpinya.


*TBC***


Happy reading, Sorry dikit yah☺️🙏


Have a nice weekend