
Pagi ini ketika sarapan bersama, Qiandra dan Barra menjadi bahan candaan semua penghuni rumah. Mereka berdua tak luput dari godaan Mama dan Kak Manda, sesekali Mas Adam juga menimpali. Apalagi Qiandra tampak keluar dengan rambut belum terlalu kering, otomatis menjadi bahan pergunjingan tadi selama sarapan.
Yang paling membuat Qiandra kesal, adalah Barra sama sekali tidak niat menjelaskan apapun. Malah dia bersikap seolah-olah terjadi sesuatu tadi malam. Padahal, dia menjadi sosok yang turut menjadi bahan pergunjingan masal tadi di meja makan.
Qiandra menghampiri Barra yang sudah terlebih dahulu masuk ke kamar. Barra tampak sedang duduk di sofa yang menghadap televisi. Dia tengah menonton salah satu berita Ekonomi dan Keuangan pada salah satu channel TV.
"Hei, Tuan over Percaya Diri, kenapa tadi Kau tidak menjelaskan kepada mereka bahwa Kita tidak melakukan apapun tadi malam, Huh?" tanya Qiandra setengah berteriak pada suaminya.
"Kau datang-datang langsung mengomel. Wait, tadi Kau panggil Aku apa? Tuan Over Percaya Diri? Haahh," kesalnya tak percaya. "Aku ini suamimu, beri Aku panggilan yang baik. Hubby misalnya, atau Honey, Sayang, Mas!" seru Barra lagi menambahkan.
"Masalah panggilan itu Aa-ku belum terbiasa, maaf," jawabnya dengan wajah bersalah.
"Pikirkan mulai sekarang, panggilan untuk suamimu ini. Masalah tadi di meja makan, biarkan saja mereka berpikir semaunya. Besok mereka tidak akan berkata seperti itu lagi," jelas Barra santai.
"Tapi Kau kan bisa mengatakan pada mereka, kalau tadi malam tidak terjadi apapun pada kita. Kau malah menambahkan sehingga mereka berpikir kita sudah melakukannya, huuft!" Qiandra mencebikkan bibirnya dan sedikit menghembus rambut bagian depannya. Lalu Ia mendudukkan dirinya di sebelah Barra.
"Apa masalahnya kalau mereka berpikir seperti itu? Kamu ini istriku tentu sudah sewajarnya Aku melakukannya padamu, dengan siapa lagi?" kesal Barra.
"Oh, Aku tau, Apa kamu kecewa karena kita tidak melakukan apapun tadi malam, Sayang?" Barra melirik Qiandra dengan tatapan nakal, sebenarnya Ia hanya ingin menggoda istrinya itu saja. Ia pun semakin memajukan tubuhnya mendekati Qiandra namun, Qiandra merasa gugup diperlakukan seperti itu.
"Aa-pa yang i-ngin Kk-kamu la-ku-kan?" Kedua tangan Qiandra di silangkannya ke dada lalu memundurkan tubuhnya hingga terhimpit dengan arm panel sofa dan tubuh Barra. Sebelah tangan Barra menumpu pada pegangan sofa.
Qiandra dapat merasakan hangat nafas Barra. Hal itu membuat dia jantungnya berdegup kencang. "Mungkinkah dia akan menciumiku?" tanyanya dalam hati lalu secara tidak sengaja Ia menggigiti bibir bawahnya.
"Tentu saja Aku akan melakukan hal yang seharusnya Kita lakukan tadi malam, bukankah itu yang Kamu mau, Sayang?" goda Barra lagi pada istrinya. Ia terus mengikis jarak mereka berdua, Ia melihat jelas wanita itu menggigit bibir bagian bawahnya.
"Cup," kecup Barra singkat di bibir Qiandra membuat wanita itu membulatkan matanya.
"Kyaaaa, kenapa menciumku? Itu ciuman pertamaku, tapi kenapa tidak seperti di drama yang ku tonton, Haish... Upppssss," Qiandra refleks menutup mulutnya dengan tangan. Wajahnya bersemu merona, lalu Ia memalingkan wajahnya dari tatapan Barra.
"Ngomong apa siih ni mulut," Dengan satu tangan memukul kecil bibirnya perlahan sambil bergumam dalam hatinya.
Barra tersenyum, mendapati tingkah absurd nan polos istrinya. Lalu dengan kedua tangannya meraih tengkuk istrinya dan seketika mempertemukan bibir mereka sekali lagi. Begitu lembut, begitu perlahan, memberikan sensasi kejutan yang membuat Qiandra sekali lagi hanya mampu membulatkan kedua bola matanya
Ciuman itu begitu menghangatkan dan lembut, membuat Qiandra terbuai. Ia memejamkan matanya dan mulai menikmati sentuhan bibir lawannya itu. setelah beberapa saat, Barra menghentikan aksinya, dengan perlahan menarik kembali wajahnya sedikit menjauhi Qiandra.
"Manis," ucapnya tersenyum sambil membelai bibir Qiandra yang tampak memerah dan bengkak dengan jarinya. Qiandra membuka matanya perlahan. Manik matanya begitu sendu, tertangkap oleh manik mata Barra yang mengeluarkan aura serupa.
"ini ciuman keduamu, bukan?" tanya Barra yang hanya dijawab oleh anggukan Qiandra.
"Bolehkah Aku memberimu banyak ciuman seperti itu setiap hari? For the rest of our life?" tanyanya kembali dengan nada lirih, sebab melihat mata sayu di depannya membuat jiwanya bergejolak. Secepat kilat Qiandra menganggukkan kepalanya, ia seperti terhipnotis dengan mata dan suara pria di hadapannya kini.
"Would you like to be mine? Istriku, maukah Kamu menjadi milikku seorang, hingga waktu yang akan memisahkan Kita?" Barra berusaha menahan butiran bening yang sudah memenuhi sudut netranya.
Qiandra menatap haru Barra. Perasaannya berkecamuk, ia belum pernah merasakan ini sebelumnya. Namun, entah hal apa yang membuat Ia yakin, dan menjawab pertanyaan suaminya itu.
"Ya, Aku mau. I love you, with what everything you are. Begitu juga dengan diriku, Aku harap Kamu mencintaiku with what everything I am!"
Ucapan Qiandra membuat air matanya berderai. Lalu tak menunggu lama, Barra kembali menautkan bibir mereka. Kali ini tautan bibir itu terasa lebih hangat, disertai hangatnya perasaan dua insan yang sedang merenggut manisnya madu pernikahan. Barra menyudahi tautan itu, dan segera menggendong istrinya ala bridal style, menuju ranjang king size mereka yang sesaat lagi aroma cinta sepasang suami istri itu menyeruak di sana memenuhi seisi ruangan.
...🌹🌹🌹...
Serapuh kelopak sang mawar
Yang disapa badai berselimutkan gontai
Saat aku menahan sendiri
Diterpa dan luka oleh senja
Semegah sang mawar dijaga
Matahari pagi bermahkotakan embun
Saat engkau ada disini
Dan pekat pun berakhir sudah
Akhirnya aku menemukanmu
Saat ku bergelut dengan waktu
Beruntung aku menemukanmu
Jangan pernah berhenti memilikiku
Hingga ujung waktu
Setenang hamparan Samudra
Dan tuan burung camar
Saat aku berkhayal denganmu
Dan berjanji pun terukir sudah
Jika kau menjadi istriku nanti
Pahami aku saat menangis
Saat kau menjadi istriku nanti
Jangan pernah berhenti memilikiku
Hingga ujung waktu
(Hingga Ujung Waktu - SO7)
Manda dan Mama Renata sedang berada di ruang keluarga, sedangkan Papa dan Mas Adam berangkat bersama untuk bermain Golf setelah usai sarapan tadi. Kini keduanya tengah asyik mengobrol sambil menonton televisi di ruang keluarga.
"Manda, apa Kamu gak mual-mual lagi Nak?" Mama sejenak mengalihkan perhatiannya dari channel TV yang ditonton.
"Gak sii Ma, kehamilan ini beda banget ma kehamilan pertama. Ga mual Ma, cuma pusing-pusing aja sesekali," jawab Manda seraya mengambil camilannya dari dalam toples.
"Mudah-mudahan Kamu dan calon Cucu Mama ini sehat terus ya," usap Mama perut Manda yang belum terlihat membuncit.
"Aamiin. Mama dan Papa juga semoga sehat selalu, supaya bisa terus gendongin cucu. Sebentar lagi mau nambah ni adeknya kak Mikha, mungkin juga bentar lagi Qiandra nyusul."
"Oh ya, mana Qiandra ya. Kita ajak nimbrung kemari, asyik ngegosip bareng, Heheh," kekeh Mama atas ucapannya.
"Tadi sih Dia ke kamar Ma. Ah, gak usah Ma, kali aja mereka lagi mesra-mesraan ntar yang ada kita ganggu lagi. Biarin ajalah, Mama kayak gak pernah muda aja!" seru Manda panjang lebar.
"Iya deh, Mudah-mudahan Mama segera dapet cucu dari mereka juga." Tersenyum lebar, sudah terbayang di hari tuanya ia dan sang Suami akan dikelilingi cucu yang banyak.
.
.
Sementara itu di Lapangan Golf.
Tampak Adam dan Papa duduk bersama di salah satu tempat bersantai di kawasan tersebut. Keduanya terlihat sedikit lelah setelah mencoba beberapa kali pukulan Golf barusan.
"Pa, bagaimana dengan rencana pengumuman pernikahan Barra dan Qiandra?" tanya Adam pada Papa Mertuanya itu.
"Rey dan David sudah mengurus semuanya. Ada beberapa Media yang bekerjasama dengan kita. Meskipun kelak pernikahan ini tidak bisa mengendalikan komentar buruk masyarakat terhadap perusahaan, tapi Papa bahagia akhirnya keinginan Mama kalian terwujud." Papa tersenyum sumringah, tampak keriput sudah turut menghiasi wajahnya.
Adam menganggukkan kepalanya. "Bagaimana dengan pemilihan pemimpin perusahaan selanjutnya, Pah?"
"Saat ini Papa sudah mempersiapkan Barra untuk menjadi kandidat pemimpin selanjutnya. Putra sulung pak Hartawan Sudjiono sepertinya juga akan dimajukan sebagai kandidat. Ini semua tergantung pada hasil rapat umum pemegang saham. Mereka yang akan mengangkat pemimpin selanjutnya."
Senin ini akan di adakan meeting untuk mempersiapkan rapat umum pemegang saham di GM Corporation. Dalam meeting para dewan direksi kali ini rencananya akan dibahas terkait skandal Barra dan Qiandra tempo hari yang lalu. Selain itu akan di pilih beberapa kandidat sebagai calon pemimpin GM Corporation ke depan yang kelak akan ditentukan dari RUPS.
Papa Gunawan dibantu Rey dan David sedang berusaha mempersiapkan semua kebutuhan agar pada saat RUPS, Para pemegang saham memilih Barra sebagai next leader of GM Corporation.
...🌹🌹🌹...
.
.
.
***To Be Continue***
.
.
.
Hai hai, Readers tersayang, Apa kabar semuanya? Semoga selalu sehat ya. Yang puasanya full hari ini ngacung☝️
Semoga puasa dan ibadah yang lain lancar-lancar yah!
Gak bosan-bosan Author ucapin banyak terimakasih buat Readers yang sudah ngebaca, like, atau komen Novel karya Author ini. Aku tanpamu ... butiran debu..😂😂
Makasi juga buat kalian yang ngevote dan ngasi tips. Aku seneeeng banget, Makasih banyak semuanya.
Jangan lupa abis baca tekan like dan komen yah,,, 😀😍
HAPPY READING Gengs...