My Bossy Husband

My Bossy Husband
77. Penjelasan



Barra masih berada di jalur jalan bebas hambatan menuju kotanya. Mobil yang membawanya itu di kendarai oleh David, Sang Asisten yang dengan lihai meliuk-liukkan jalan mobil yang mereka tumpangi.


"Udah ngabarin Qiandra kan Lu bakal balik siang ini?" David membuka pembicaraan begitu melihat Barra sudah sadar dari kantuknya.


"Waduh, Gue lupa Dav. Untung aja lu ingetin bentar ya ya gue telepon istri gue dulu." Barra mengusap wajahnya kasar.


Barrapun mengecek saku celananya tempat dimana ia biasa meletakkan ponselnya. Nihil! Ponselnya tidak ada di sana. Ia beralih kebalik jas yang dikenakannya tapi masih juga tidak ada.


"Ponsel gue di mana Dav?" Barra mulai kebingungan.


"Dari Lu keluar hotel sampe sekarang Gue belum ngelihat Lu pegang ponsel sama sekali. Di dalam tas kali,"celetuk David dari balik kemudi.


Beralih merogoh tasnya, Ia mencari-cari ponselnya di sana namun masih tidak ditemukan.


"Enggak ada juga Dav," serunya.


"Tumben banget sih lu jadi pelupa begini. Apa efek gak ketemuan ma istri satu hari ya? Hahaha," ledek David.


"apa jangan-jangan HP lu ketinggalan di hotel lagi. coba lu ingat-ingat lagi deh!" sambungnya lagi.


"Bisa jadi soalnya gue emang belum pegang ponsel dari tadi. Pagi tadi gue buru-buru pergi keluar dari hotel karena terlalu semangat pengen pulang setelah selesai kerjaan," kenang Barra sembari mengklise kegiatannya sejak pagi.


"Ya udah, entar keluar dari tol Kita coba telfon aja nomor lu, Kali aja ketinggalan di hotel atau gimana," usul David.


"Oke deh, cepetan nyetirnya!"


"Ini juga udah kecepatan Maksimal di tol, Bar. Lu kira gue pembalap apa kalau bawa lebih kencang dari ini?" bela David merasa tak terima dengan perkataan Barra.


Begitu mobil mereka keluar dari jalur jalan bebas hambatan, David segera menepi. Ia mengeluarkan ponsel dari sakunya lalu memanggil nomor Barra. Tak lupa Ia membuat mode pengeras suara agar Barra yang di belakang mendengar.


Tuuuuutt Tuuuuutttt Tuuuuuutttt


"Halo!" Terdengar suara seorang wnaita di seberang sana.


"Halo, Maaf Mbak, dengan siapa ya? Saya pemilik ponsel yang sekarang Mbak pegang." David to the point.


"Oh, Kami dari pihak housekeeping hotel Pak. Tadi ketika salah seorang petugas kami melakukan room service, Ponsel Anda tertinggal di tempat tidur Pak. Anda bisa mengambil barang Anda di bagian Lost and Found ya Pak." Suara di seberang sana menjelaskan.


"Oh, ternyata ketinggalan di kamar!" ucap David menekankan kalimatnya, berusaha meledek snag Bos yang sudah memijat keningnya. "Mbak, karena Saya sudah sampai Jakarta, Ponselnya dikirim saja boleh tidak?" tanya David, tidak ingin direpotkan dalam urusan penjemputan ponsel karena ujung-ujungnya pasti Barra menyuruh Ia menjempit ke sana.


"Bisa Pak. Tapi ada beberapa prosedur yang harus Bapak ikuti jika barangnya hendak di kirim. Supaya Kami tahu dengan jelas bahwa Bapak memang benar pemilik ponsel ini sesuai data yang kami punya."


"Oh ya Mbak, tidak masalah. Kalau begitu Saya tutup dulu panggilannya ya berhubung Saya masih di jalan. Sampai di rumah Saya hubungi lagi." Dan panggilan itupun diakhiri oleh David.


"See?" David tersenyum menyeringai, alisnya sedikit terangkat mengejek kecerobohan Barra. "Di mana Barra yang selalu perfect itu?" Ia terlihat menyebalkan di mata Barra.


"Diamlah atau Kau ingin bonusmu Aku potong?" Senyum menyeringai tersungging di bibir Barra.


David hanya terdiam, menelan salivanya kasar. Jika sudah menyangkut pundi-pundi keuangannya, Ia terpaksa mengalah.


"Kalau sudah begitu, terserah Kau Saja, Bos!" sahut David pasrah.


Setelah satu setengah jam berlalu, akhirnya mobil yang mereka tumpangi memasuki gerbang rumah Barra. Keduanya langsung turun dari mobil, lalu memasuki ruang tamu di sana.


Baru saja Barra meminta Bik Ani menyiapkan makan siang untuk mereka, namun Barra terkesiap saat mengetahui istrinya baru saja keluar tiga puluh menit yang lalu dengan taksi online. Seketika rasa lelah dan laparnya menjadi lenyap karena kekhawatirannya.


Barra panik, mencoba menghubungi Qiandra, namun tidak diangkat. "Ini aneh, kenapa Qiandra tidak pergi dengan supir? Kenapa harus dengan taksi online?" pikirnya membuat Ia semakin tidak tenang.


"Aku rasa Qiandra bukan tipe wanita seperti itu, Barra," ujar David lalu mengambil ponsel di sakunya. Ia mencoba menghubungi seseorang, yaitu nomor ponsel Barra. Dari penuturan pihak housekeeping, nomor kontak Qiandra sempat menghubungi ponsel Barra sebelum David menghubungi mereka.


Tanpa menunggu lagi, Barra dan David langsung bergegas keluar lalu kembali masuk ke mobil. Mereka mencari Qiandra, setelah David melacak Qiandra dari ponselnya. Mereka pun segera bergerak ke lokasi yang ditujukan pada aplikasi mapping itu.


...****...


Sepasang sepatu flat khaki yang dikenakan seorang wanita tampak berayun elegan memasuki pemakaman. Tubuhnya yang mulai berisi dengan perut yang membawa baby bump dibalut gaun hitam panjang dengan hijab berwarna abu muda. Kaca mata hitam membingkai indah di balik matanya. Ia menyusuri jalan menuju dua gundukan tanah yang berdampingan.


Dua pusara yang ditandai dengan nama Andra Himawan dan Zasqia. Itulah yang menjadi tujuan dari wanita yang tak lain adalah Qiandra.


"Assalamualaikum, Bunda, Ayah, Qiandra datang." Qiandra duduk di antara kedua pusara orang tuanya. Cairan bening lolos begitu saja di kedua pipinya. Ia buru-buru mengusap pipinya, lalu tersenyum.


"Bunda, Ayah, air mata ini bukan air mata kesedihan. Ini Air mata bahagia Qiandra. Sekarang Qiandra sudah menikah dan sebentar lagi akan menjadi orang tua. Terimakasih Ayah, Bunda, sudah merawat Qiandra sampai dewasa. Meskipun kebersamaan Kita singkat, tapi Qia tidak akan pernah melupakan kasih sayang Kalian berdua."


Qiandra berhenti sejenak, Ia membuka bingkai hitam dari matanya dan meletakkannya di atas kepala. Lalu dengan sapu tangan yang masih ia pegang, ia menghapus kristal bening yang tak kuasa ia bendung setiap kali mengingat kedua orang tuanya.


"Ayah, Bunda, Qiandra sudah menikah dengan Mas Barra. setelah menikah Qiandra belum sempat membawa suami Qia kemari. Ada beberapa kejadian yang menimpa Qiandra. Alhamdulillah, semua sudah berlalu. Tapi beberapa bulan terakhir Suami Qia terlalu disibukkan dengan pekerjaannya." Qiandra tersenyum. "Nanti, kalau Mas Barra punya waktu, Qia akan membawa dia ke sini ya!"


Qiandra tampak membaca serangkaian doa, dengan mengangkat kedua tangannya lurus dengan dada. Setelah beberapa menit, ia pun menangkup kedua tangannya ke wajah. Baru saja Ia berdiri dan berbalik, sosok gagah tampan terlihat berlari dan menubruk tubuhnya.


Bruuukkkk


"Awwwwwhhh," Qiandra menjerit tertahan merasakan tubuhnya sempat oleng ke belakang. Refleks Ia memeluk tubuh di depannya itu. Kedua tangan orang di depannya juga mendekap tubuh Qiandra dengan erat. Qiandra dapat merasakan debaran jantung sosok di hadapannya itu. Nafasnya juga terengah-engah, sepertinya ia berlari dari pintu masuk hingga kemari.


"Mmaasss!" panggil Qiandra yang mulai merasa sesak dengan dekapan sosok pria itu. "Aku sesak Mas!" ucapnya lagi mendorong tubuh yang memeluknya. Perutnya yang sudah membesar membuat posisi itu terasa tidak nyaman.


"Maaf, Mas terlalu takut Kamu kenapa-kenapa, huh!" Barra melonggarkan dekapannya sambil menghela nafas kasar, menstabilkan deru nafasnya yang masih menggebu-gebu.


"Ada apa, Mas?" Qiandra mengernyitkan keningnya, ia menangkap raut cemas dalam wajah suaminya itu.


"Kenapa Kau pergi dari rumah tanpa mendengar penjelasanku? Kau sudah membuat Aku khawatir, Qiandra. Jantungku hampir copot mengetahui Kau pergi dari rumah. Lain kali jangan kabur seperti ini, cukup sekali Aku kehilanganmu!!" Barra memegang kedua pundak Qiandra dan menatap intens wanitanya itu.


"Penjelasan? Kabur? Mas bicara apa? Tunggu!" Qiandra memutar otaknya mencerna ucapan Barra yang membuat ia bingung.


"Tentu saja Kau kabur setelah menghubungi ponselku dan seorang wanita mengangkat dari sana!" Barra sedikit meninggikan suaranya. "Ponselku tertinggal di hotel dan room maid menemukannya di sana. Jadi Aku harap Kau jangan marah lagi dan ikutlah pulang bersamaku!" lanjutnya lagi dengan wajah memelas.


Kali ini Qiandra tidak mampu menahan tawanya. Jadi suaminya ini sudah salah paham???


.


.


.


TBC


.


.


.


Sorry lama,,,, Aku sibuk Zheyenkkkkk


ntar nyusul satu lagi ya❤️❤️❤️