
"Sesuai dengan tujuan briefing kita pagi ini, Saya ingin semua kepala divisi mempresentasikan hal-hal apa saja yang sudah di lakukan, di raih dan rencana divisi selanjutnya." Tegaskan Barra suaranya seraya menatap seluruh peserta briefing pagi ini.
"Jika tidak ada pertanyaan, maka acara presentasi akan dipimpin oleh David. Terimakasih!" Barra kembali duduk di kursinya. Sudah beberapa menit dia memberikan kata-kata sambutan dan motivasi dalam briefing kali ini.
Proyek kerjasama antara GM Corporation dan Hi-One Tech merupakan salah satu kerjasama besar, sehingga Barra tidak ingin sampai ada kesalahan dalam penanganannya. Lima hari lagi jadwal resepsi pernikahannya. Ia masih memiliki waktu tiga hari untuk bekerja dan merampungkan semua.
Rencananya, setelah resepsi, Ia dan Qiandra akan berbulan madu ke salah satu daerah wisata di Indonesia selama satu Minggu. Hal ini belum diketahui Qiandra, ia ingin memberikan kejutan pada istrinya itu nanti.
Sementara kegiatan dipimpin oleh David, Barra hanya mendengarkan. Sesekali ia menginterupsi dan bertanya kepada semua divisi yang mempresentasikan kegiatan mereka. Tiba-tiba ponselnya bergetar, tanda pesan WhatsApp baru diterima. Ia membuka pesan itu ternyata dari Mama Renata.
"Bagaimana mungkin anak Mama tidak jatuh cinta jika menantu Mama secantik ini?" Tulis Mama pada sebuah foto yang dikirimkannya. ya, itu adalah foto istrinya yang sedang mencoba gaun pengantin.
Barra menerbitkan senyuman di kedua ujung bibirnya. Di dalam foto yang dikirim itu, Qiandra tampak begitu cantik, dengan menyunggingkan senyuman malu-malu, menggemaskan.
Ingin rasanya saat ini juga Ia terbang dan menemui kekasih halalnya itu ke sana. Namun, pekerjaannya begitu banyak, Ia tidak ingin menunda lagi. Sebelum pernikahannya digelar, Ia bertekad akan menyiapkan pekerjaannya agar Ia bisa berbulan madu dengan istrinya.
Barra mematikan sejenak getar ponselnya lalu memasukkannya ke saku celananya. Ia ingin serius mendengarkan bawahannya menampilkan hasil kinerja mereka dalam proyek kali ini. Tanpa ia ketahui, nomor yang sempat mengirimkan foto istrinya itu, sudah beberapa kali melakukan panggilan.
Berkali-kali layar ponsel di balik saku celananya menyala, namun si empunya tidak dapat merasakan. Saat ini Barra tengah fokus ke bawahannya. Namun setelah beberapa saat, David izin sebentar untuk mengangkat ponselnya yang bergetar. Tampak nama Mama Renata memanggilnya.
"Halo Nyonya, ada yang bi... ." Belum selesai David berbicara, Mama Renata sudah menginterupsi dari seberang telfon.
"David, mana Barra? Katakan padanya, hiks hiks ... Qiandra terluka, seseorang melukai dia di ruang ganti butik tadi ketika Mama ke toilet, hiks hiks hiks. Mama saat ini sedang diperjalanan ke rumah sakit keluarga, hhuuuhuuuu," ucap Mama cepat seraya terisak.
"Baik Nyonya, akan saya sampaikan!"
David menghampiri Tuannya dan membisikkan sesuatu. Raut cemas mendominasi wajahnya. Sedangkan Barra, yang mendengar berita duka itu, terlihat shock. "Apa yang Kau katakan, David?" Mencengkram kerah kemeja David.
Seketika atmosfir di ruangan itu menjadi beku. Para karyawan yang berada di sana ikut terdiam menyaksikan bos mereka sedang berada dalam emosi yang tak biasa.
"Nyonya Renata baru menghubungi Saya dan ..."
David merogoh sakunya, melihat layar ponsel yang sudah tersedia notif dari panggilan tak terjawab dari Mama Renata. Seketika Barra berlari keluar tanpa menunggu aba-aba lagi. "Rapat kita tunda, Pak Barra ada urusan mendadak, terimakasih!" Ia pun menyusul Barra yang sudah berada di dalam lift, yang pintunya nyaris tertutup.
"Tunggu!" teriaknya dari luar. Barra dengan sigap membuka kembali pintu lift hingga akhirnya David bisa masuk dan bersisian dengannya di dalam kotak besi itu.
"Bagaimana ini bisa terjadi? Baru saja Mama mengirimkan foto Qiandra yang baik-baik saja." Mencengkram kepalanya kuat dengan kedua tangannya.
"Aku akan mengirimkan orang-orang ke butik itu untuk penyelidikan. Mama bilang ada orang yang sengaja melukai Qiandra ketika Mama di toilet. Aku akan mengantarkan mu ke rumah sakit lalu aku akan ke sana." David menepuk pundak Barra, mentransfer kekuatan.
"Kau harus kuat, Qiandra dan Mama membutuhkanmu, Oke!"
"Terimakasih David," ucapnya memeluk singkat tubuh sahabat sekaligus orang yang sudah seperti kakaknya sendiri itu.
Pintu lift terbuka. Keduanya bergegas ke lokasi parkir underground pada gedung itu. Tak lama kemudian, mobil Barra pun langsung melaju yang dikendarai oleh David.
...🌹🌹🌹...
Barra menyusuri koridor rumah sakit tempat di mana Qiandra di rawat. Tungkai kakinya terasa lunglai, seketika tenaganya sepertinya menghilang. Untaian doa melantun sejak tadi meski tidak dilafazkan secara jelas.
Dari jauh Ia melihat Mamanya sedang duduk bersama seorang wanita paruh baya lainnya. Barra pun mempercepat langkahnya.
"Mama!!" teriaknya ketika jaraknya sudah mendekat.
Mama Renata bangkit dari duduknya, Ia segera menghambur memeluk putranya. "Barra, hiks hiks Qiandra Bar, dia tidak sadar sejak tadi, huuuuhuuuu. ini semua kesalahan Mama, Nak!" Gurat kesedihan memenuhi wajah Mama Renata. David benar, Ia harus kuat, Qiandra dan Mama membutuhkannya.
Pintu ruangan IGD terbuka. Seorang perawat wanita berusia empat puluhan keluar dari dalam. "Maaf, keluarga pasien!" panggil perawat tersebut.
"Saya suaminya, Suster," ungkap Barra menghampiri.
"Begini Pak, Ibu Qiandra sedang ditangani Dokter sekarang. Kadar Hb-nya sangat rendah sedangkan luka di kepala masih dalam proses penanganan. Kebetulan stok darah golongan Ibu Qiandra di rumah sakit kami sudah habis, Pak . Kami membutuhkan satu orang pedonor AB+, sekarang."
"Saya Sus, saya AB+," ujar Jeng Ana yang sejak tadi ikut menemani Mama Renata. "Saya bersedia menjadi pedonor," jawabnya mantap.
Mama Renata menatap haru pada temannya itu. "Makasih Jeng," ucap Mama Renata.
"Tidak apa-apa. Aku juga turut andil dalam kecelakaan ini. Andai saja pegawai ku tidak lalai dan meninggalkan Qiandra seorang diri, hal ini tidak akan terjadi." Jeng Ana turut merasa bersalah.
"Ibu, bisa ikut saya sekarang? Ibu harus kami periksa terlebih dahulu sebelum mendonorkan darah. Maaf Pak, Bu, kami tinggal sebentar karena kondisi pasien bisa berbahaya kalau terlambat mendapat donor."
Jeng Ana dan Suster itu langsung masuk ke ruangan IGD. Sepertinya transfusi dilaksanakan langsung di dalam sana. Mama dan Barra tak henti berdoa, sesekali Isak tangis Mama masih terdengar menunjukkan betapa dirinya terluka saat ini.
Barra pun seketika teringat Erlan. Ia langsung berjalan sedikit menjauh dari Mama untuk menghubungi Erlan. Erlan saat ini sedang berada di Bandung dan tentu saja juga terkejut ketika Barra memberitahu kecelakaan yang menimpa Qiandra. Selanjutnya ia menghubungi Rey, yang saat ini berada di salah satu hotel di kawasan Lombok bersama Papa, menghadiri acara tahunan pengusaha-pengusaha se-Indonesia.
Baru saja Ia akan memasukkan kembali ponsel ke sakunya, layar ponselnya menyala dan nama David tertera di sana.
"Ya David, ada apa?"
"Angeline!! Pelaku penganiayaan terhadap Qiandra. Saat ini dia sudah menjadi buronan polisi. CCTV merekam jelas wajahnya."
"Apa?" teriak Barra terkejut. Ia sama sekali tidak menyangka, wanita yang menjadi cinta pertamanya dulu tega melakukan hal sekeji ini pada Qiandra. "Segera temukan dia, dan pastikan dia membusuk di penjara. Aku tidak akan memaafkannya!" perintah Barra yang kemudian mematikan panggilan tersebut.
Amarah dan penyesalan memenuhi kepalanya. Ia mengepalkan tangannya lalu meninju kuat dinding beralaskan keramik.
"Aaarrrgghhh," teriak Barra mengeluarkan kekesalan di hatinya. Terlihatlah darah segar mengalir dari tangannya.
"Barra... !!" pekik Mama Renata yang menyaksikan itu.
.
.
.
***To Be Continue***
.
.
.
Happy Reading ya Gengs...
Ucapan makasih yang tak terhingga buat seluruh pembaca My Bossy Husband, buat yang ngelike, ngevote dan ngetips, Apapun bentuk dukungan kalian, Aku ucapin makasi banget ya buat semuanya. Semoga Allah membalas kebaikan kalian semua ke Aku.
Tetap Jaga kesehatan dan jaga jarak ya Gengs...❤️❤️❤️