My Bossy Husband

My Bossy Husband
Eps. 23: Memutuskan



Qiandra menatap pemandangan malam dari balkon kamar tidurnya saat ini. Ia menarik nafasnya dalam, menghirup oksigen sebanyak-banyaknya ke dalam paru-paru. Mengaliri otaknya dengan oksigen yang cukup, sebab sejak tadi siang Ia terus berpikir tentang perkataan Mama Renata dan Papa Gunawan.


Udara malam yang dingin menerpa permukaan kulit bersih nan lembut itu. Qiandra mendekap tubuhnya, mencoba menghangatkan Indra perabanya yang hanya ditutupi setelan piyama lengan pendek. Tatapannya sendu, semakin terlihat sendu dengan mata sayu yang ia miliki.


Haahhh! Apa yang harus Qia lakukan Bunda, Ayah?


Qia tidak ingin menikah sekarang, apalagi orang itu belum Qia kenal dengan baik dan kami juga tidak saling mencintai.


Qiandra terus menerus memikirkan hal tersebut, hingga Ia tidak mendengar seseorang masuk ke dalam kamarnya.


"Kenapa berdiri di luar sayang? Udara malam tidak baik untuk tubuhmu, masuklah!" Suara mama Renata yang sudah berdiri di pintu balkon mengagetkannya.


"Eeh, Mama," ucap Qiandra bersamaan dengan wajahnya menoleh ke belakang dengan ekspresi kaget sambil memegangi dadanya Dia sama sekali tidak menyadari kehadiran Mama Renata.


Qiandra beranjak masuk ke dalam, menyusul Mama Renata yang kini sudah duduk di tepi ranjang.


"Maaf, Mama ngagetin ya? Tadi Mama udah ketuk pintu ucap Assalamualaikum, enggak ada jawaban. Mama pikir kamu kenapa-kenapa di dalam." tutur mama Renata lembut.


"Enggak apa-apa kok Ma, Qia yang harusnya minta maaf, enggak dengerin Mama. Qia cuma kaget aja tadi," jawab Qiandra.


"Kamu lagi ngapain di luar malam-malam begini? Ada yang sedang Kamu pikirkan, hmmm?" tanya mama Renata sambil meraih tangan Qiandra dalam genggaman. "Jadi dingin begini kan tangannya." Masih mengelus2 tangan Qiandra, menggenggam erat, memberi kehangatan.


"Mah, Qia belum mau menikah Ma, Qia mohon maaf tapi Qia gak bisa,, hiks... hiks," Isak Qiandra memohon maaf pada mama Renata. Ia menundukkan kepalanya sambil mencium tangan mama Renata yang tengah menggenggamnya dengan terisak.


"Heiii,, sayang!" Menarik kedua lengan Qiandra lalu mensejajarkan wajahnya. "Tidak ada yang memaksamu menikah dengan Barra, Nak. Meskipun Mama sangat ingin membuat keinginan Mama dan Bundamu menjadi nyata, namun keputusannya ada pada Kalian berdua."


"Mama selalu berdoa pada Allah, jika kalian saling berjodoh, maka satukanlah. Jika tidak, Mama ikhlas siapapun yang menjadi jodoh anak-anak Mama kelak. Kalian menikah atau tidak, Qia tetap anak Mama." Sambungnya lagi lalu memeluk Qiandra yang masih terus terisak.


"Mama,,, hiks hiks,,, huwaaaa,,,!" teriak Qiandra yang terus terisak. Mama menepuk pundaknya pelan, sekali-kali mengelus lembut bahunya itu.


"Sssshhhh, sudah sudah, jangan nangis lagi. Ntar cantiknya hilang loh," gurau Mama menghibur Qiandra.


"Ma, Allah itu baik banget yah, sudah kirimin Qia pengganti Bunda sebaik Mama. Ketika Qia kehilangan Ayah dan Bunda, Qia pikir enggak akan bisa ngerasain kasih sayang seorang ibu lagi, Hiks.."


Qiandra mengendurkan pelukannya, menatap wajah mama Renata yang masih terlihat cantik meski sudah kelihatan gurat di wajahnya. Sesekali isakannya masih terdengar.


"Ya sudah, Qia sudah sholat?" Qiandra mengangguk mengiyakan pertanyaan mama Renata. "sekarang kamu istirtahat yah, kamu masih punya waktu untuk mengambil keputusan. Apapun keputusan Qia, Mama dan Papa, tidak akan kecewa sayang, trust me," ucap Mama, yang mulai beranjak dari sisi tempat tidur Qiandra.


Mama Renata meminta Qiandra membaringkan tubuhnya, lalu tangannya dengan sigap menarik selimut menutupi tubuh Qiandra hingga ke dada. Satu kecupan hangat Ia hadiahkan kepada putrinya itu. "Have a nice sleep, Sayang. Lampunya Mama matikan?" tanyanya lagi sebelum keluar dari ruangan.


"Iya Ma, Qia enggak bisa tidur kalau suasananya terang." jawab Qiandra sembari tersenyum ke arah mama Renata.


Setelah mematikan lampu dan hanya menyisakan seberkas cahaya temaram dari lampu tidur, Mama keluar dari kamar Qiandra. Sepeninggal Mama, tanpa Qiandra sadari, sebulir air bening mengaliri sudut matanya, merasakan kembali sentuhan hangat seorang Ibu. Ia merindukannya, sangat merindukannya.


"Bismika Allahumma Ahyaa Wa bismika Amuut," lirihnya melafalkan doa tidur sesaat sebelum matanya terpejam perlahan. Kesadarannya pun kini berangssur terbng masuk ke alam mimpi.


(Dengan nama-Mu ya Allah aku hidup, dan dengan nama-Mu aku mati)


*****


Di sudut lain kota itu, seorang pria juga masih terpaku menatap pemandangan malam dari balkon apartemennya. Ia menyesap segelas kopi yang acapkali menemaninya lembur karena bekerja. Namun kali ini, Ia tidak sedang lembur. Sejak tadi ia memikirkan sesuatu yang mengganggunya.


Masih dengan mengenakan pakaian santainya, pria itu lalu masuk ke dalam kamarnya masih dengan gelas kopi ditangan kanannya. Kemudian, tangan kirinya meraih ponselnya yang berada di atas nakas samping tempat tidur. Ia langsung memilih satu nama kontak yang kemudian dipanggilnya.


Tuuut tuuuut tuuuut.


Terdengar suara panggilan terhubung dari ponselnya. Tak lama berselang, panggilan itu segera di jawab seseorang dari seberang sana. Tampaknya mereka terlibat pembicaraan serius meski dari jarak jauh.


"Baiklah, Aku harap kali ini Kita bisa menemukannya!" ucap pemuda itu seketika memutus panggilannya.


Erlan menghela nafasnya kasar. Ya, pria itu tak lain adalah Erlan Sadewa. Ia kembali meletakkan ponsel bersamaan dengan gelas kopi ditangannya ke atas nakas. Lalu Ia mendaratkan bokongnya ke sisi ranjang seraya jari tengah dan telunjuknya memijat pangkal hidungnya.


...Flashback on...


Sesaat selang beberapa waktu setelah jam makan siang di Ruang Keluarga Rumah Erlan. Erlan dan kedua orang tuanya sedang bersantai di ruang keluarga sambil menikmati teh.


"Erlan, pagi tadi tersiar kabar tentang skandal dari putra Presdir GM Grup. Bagaimana masalah kerjasama perusahaan kita dengan mereka, apa mengalami kendala?" tanya Papa Andri.


"Erlan sudah memerintahkan Randa dan anak buahnya untuk selalu memantau proyek kerjasama ini, Pa. Sejauh yang Erlan lihat, skandal itu belum terlalu berpengaruh pada proyek kerjasama, hanya sedikit menimbulkan masalah internal mereka." Erlan menjelaskan pada Papanya.


"Namun, jika dibiarkan bisa jadi akan berimbas pada proyek kerjasama mereka di luar. Tapi, Erlan yakin perusahaan sekelas GM Corporation tidak mungkin diam saja mengetahui berita skandal petingginya mencuat." Erlan menambahkan.


"Baiklah, kerja bagus Nak. Papa bangga padamu. Papa ke atas dulu ya!" menepuk pundak Erlan lalu beranjak pergi ke kamar.


Tumben sekali Mama ingin tahu masalah perusahaan, biasanya Mama acuh.


"Angeline hanya seorang model Ma, kabarnya mereka kuliah di tempat yang sama. Hanya itu yang Erlan tau," jawabnya lagi.


"Bukan yang itu, gadis bernama Qiandra itu yang Mama tanyakan!" sahut Mama Diana dengan nada kesal. Seperti tersadar, ia pun kembali melembutkan suaranya.


"Maksud Mama, gadis resepsionis itu, i-iya."


Erlan menatap mamanya heran, darimana mamanya itu tahu nama Qiandra. Sementara profile Qiandra sama sekali belum terekspose.


"Hmmmm, iya gadis itu namanya Qiandra. Dia mantan karyawan Erlan di cafe dulu, Ma. hanya itu yang Erlan tahu, Ma!" jawab Erlan seadanya.


"Ma, Erlan permisi dulu mau kembali ke Apartemen. Banyak sekali kerjaan yang harus Erlan selesaikan malam ini. Besok Erlan kemari lagi ya, Ma! Erlan mau ketemu papa sebentar," pamit Erlan sambil menyalami dan mencium kedua pipi mamanya.


...Flashback off...


Erlan mengusap wajahnya kasar. Perlahan, tangannya bergerak menarik laci nakas di depannya. Ia lalu meraih sesuatu dari dalam. Selembar foto lama, di mana sepasang suami istri tersenyum sedang menggendong seorang bayi perempuan berusia kurang lebih satu tahun.


"Aku akan berusaha dan pastikan, agar kau mendapatkan hakmu kembali, Saudariku!" ucapnya lirih namun penuh dengan tekad membara.


********


"David, menurutmu apa Angeline masih mencintaiku?" tanya Barra pada David, sang Asisten yang kini telah menjelma sebagai sahabatnya kembali. Mereka sedang duduk berdua di sebuah ruang VIP, di salah satu tempat favorit mereka.


"Hei, Barra, Aku pikir otakmu ini sudah semakin pintar, ternyata Kau ingin bertemu denganku hanya untuk membicarakan wanita itu, Ckck," ledek David yang tak habis pikir dengan kepolosan Barra.


Barra hanya memandang David yang terus tertawa dengan tatapan sebal.


"Aku yang belum pernah punya pacar saja, bisa tahu mana yang bohong dan tidak. Kau,, ppfffftttt." David kembali menertawakan Barra.


"Aku masih mencintainya, Dav. Belum ada seorang pun yang mampu menggeser posisinya di hatiku hingga sekarang," bela Barra.


"Cinta boleh Barra, tapi Buta jangan. Kau masih belum bisa move on sampai sekarang. Apa itu kalau bukan cinta buta? Jelas-jelas dia yang meninggalkanmu demi pria lain." Lagi-lagi David berucap sinis kepada Barra.


Barra tampak meresapi kata-kata David. Ia terdiam beberapa saat. Raut wajahnya seperti menimbang - nimbang sesuatu.


"Dav, Kau harus membantuku menyakinkan satu hal. Tadi siang, Papa memintaku menikahi Qiandra untuk meredam skandal kemarin. Aku harap Kau mau membantuku agar aku bisa memutuskannya segera!" pinta Barra.


"Tenang saja brother, Aku pasti akan membantumu," ujar David menyeringai. "Aku akan membuatmu menikahi Qiandra!" bisik David dalam hatinya.


.


.


.


Bila yang tertulis oleh-Nya engkau yang terpilih untukku


telah terbuka hati ini, menyambut cintamu


Di sini segalanya kan kita mulai merajut buaian rindu


yang tersimpan dulu tuk menjadi nyata, dalam hidup bersama


Selamat datang, di separuh nafasku


Selamat datang, di pertapaan hatiku


(Mengukir Cinta Di belahan Jiwa, Maidani)


********


To Be Continue


Hai hai,,, Maaf ya Author masih belum bisa UP cepet😂😂😂


Makasih buat yang setia dengan novelku sampai sekarang. Makasih ya dukungannya,,,, laf youuu.


Jangan lupa like dan komentarnya ya gengs,,, See you Soon.