
Di kafe rumah sakit.
Dua pria berwajah tampan nan memikat kaum hawa itu kini tampak duduk berhadapan yang dihalangi oleh sebuah meja persegi di antaranya. Dengan segelas minuman di depan masing-masing. Kini keduanya terlihat seperti sedang saling menghipnotis satu sama lain dengan tatapannya.
"Ekhmmm," Barra bersuara mencoba memecah kecanggungan.
"Aku....," ujar keduanya serentak. Barra dan Erlan mengumpat dalam hati, kenapa perasaan canggung mereka layaknya ABG sedang jatuh cinta.
"Aku duluan!" Lagi-lagi mereka secara bersamaan mengucapkan kata yang sama. Barra mendengus kesal, Ia geli membayangkan kejadian barusan. Harusnya kecanggungan ini terjadi bersama wanita yang membuatnya jatuh cinta seperti Qiandra.
"Wait, apa yang aku pikirkan barusan? Qiandra membuatku jatuh cinta?" tanyakan Barra pada dirinya dalam hati.
"Baiklah, Aku rasa Kita harus memecah kecanggungan ini. Kita harus secepatnya kembali dan memantau kondisi Qiandra juga sekretarismu itu bukan?"
Barra menaikkan alisnya, seraya menganggukkan kepalanya. Saat ini Davidlah yang menunggu mereka di sana.
"Aku ingin membicarakan tentang pernyataanmu terkait Kau calon suami Qiandra. Apa itu benar?" Erlan mulai serius terlihat dari kata-kata yang diucapkannya dan tatapannya yang setajam Gillette.
"Kenapa? Apa Kau menyukai calon istriku?" Barra terlihat mulai tidak senang dengan arah pembicaraan ini. Seketika dadanya bergemuruh, merasakan perasaan cemburu yang menyeruak. "Tunggu tunggu, apa tadi, Aku cemburu? impossible!" Ia mendengus dalam hati.
"Aku bukan hanya menyukainya, namun juga mencintainya." Dengan pasti Erlan mengatakan ucapan yang seketika membuat darah Barra serasa mendidih itu.
"Men-cin-tai?" Barra menekankan ejaan kata yang membuat perasaannya tak karuan. Berani sekali lawan bicaranya mengkonfrontasi secara terang-terangan seperti ini.
"Aku tau perasaan apa ini, dan Aku yakin. Aku tidak ingin kehilangan orang yang Aku cintai." Barra bergumam di dalam hati.
"Maaf Presdir Erlan yang terhormat. Saya mencintai Qiandra, dan Qiandra saat ini adalah calon istri saya. Anda bisa menanyakan pada Qiandra langsung jika Anda tidak percaya," tegaskan Barra dengan tampang serius.
Erlan tersenyum menyeringai. "Apakah pernikahan kalian karena skandal yang mencuat kemarin? Kau hanya ingin menyelamatkan perusahaan keluargamu bukan? Ceh, Aku tidak menyangka kalian tega memanfaatkan seorang Gadis yang hidup sebatang kara. Cara kalian sungguh licik. Berikan Qiandra padaku, aku akan membantu perusahaan kalian."
Braaak!
Barra menggebrak meja itu sehingga gelas minuman keduanya bergetar.
"Jaga ucapanmu! Kami tidak pernah memanfaatkan Qiandra. Dari awal orang tuaku mencintai Qiandra layaknya anak mereka sendiri. Mamaku dan Mama Qiandra, mereka bersahabat di sekolah menengah."
"Aku akui pada awalnya pernikahan ini bertujuan untuk perusahaan. Namun papaku tidak pernah memaksa kami berdua. keputusan ini, Aku dan Qiandra yang memutuskan. Dan aku menikahi Qiandra karena aku sudah jatuh cinta padanya." Barra mengucapkan kata-kata itu tegas tanpa keraguan.
"Seandainya Aku tidak, Aku tidak akan mengambil keputusan ini. Dan Qiandra, Aku tidak tau kenapa dia menyetujui pernikahan kami, namun meski dia tidak mengatakannya Aku bisa katakan bahwa Ia percaya Aku akan mencintainya."
Erlan merasa lega mendengar perkataan Barra. Ia sempat khawatir Qiandra hanya dijadikan tumbal oleh mereka. Mengorbankan hidupnya demi kebahagiaan orang lain.
"Aku harap apa yang Kau katakan benar. Aku mohon, bahagiakan Qiandra, jangan menyakitinya. Sudah cukup dia menderita. Aku merestuimu, namun jika suatu hari Kau sudah tidak menginginkannya, Kau bisa mengembalikan dia padaku," ungkap Erlan perasaannya dengan senyuman.
"Kau terdengar seperti Ayahnya ketimbang rivalku, kau tahu." Barra tersenyum mengejek kearah Erlan.
"Aku adalah kakak sepupu Qiandra. Ayah Qiandra adalah kakak Ayahku," ujar Erlan sambil tersenyum, namun raut wajahnya tampak muram.
Barra refleks mencondongkan tubuhnya ke depan, memicingkan matanya. "Maksudmu?"
"Ayah Qiandra merupakan anak pertama kakekku. Andra Himawan, si sulung dari keluarga Himawan yang dicoret dari daftar keluarga dan pewaris karena mempertahankan istrinya yang dianggap sebagai perempuan yang mandul. Ia memilih hidup sederhana bersama keluarga kecilnya dan mereka berbahagia. Namun, sebuah kecelakaan merenggut nyawanya secara tragis. Aku sedang menyelidiki kecelakaan itu, meski belum mendapatkan info apapun."
Erlan pun akhirnya menceritakan pada Barra apa yang dia ketahui, mengenai Qiandra. Tentang Arlie sahabat Qiandra, tentang Zidane, tentang orang yang berada di belakang Zidane, dan orang yang berniat mencelakai Qiandra hari ini.
Erlan pun meminta Barra agar merahasiakan ini pada siapapun, karena Ia belum tahu siapa dalang dari ini semua. Sejujurnya, Ia menaruh curiga pada Kedua orang tuanya. Namun, Ia takkan gegabah sebelum mendapatkan bukti yang kuat.
Erlan pun meminta Barra untuk mengatur pertemuannya dengan Orang tua Barra dan Qiandra. Karena Erlan ingin membicarakan perihal rencana pernikahan mereka. Barra pun berencana akan mengundang Erlan makan malam sore ini. Keduanya kembali ke tempat Qiandra dan Andin terbaring.
Setibanya di sana, Andin dan Qiandra baru saja sadar. David berada sedang duduk diantara keduanya. Barra dan Erlan pun menghampiri bangsal tempat Qiandra di rawat. Keduanya menghampiri Qiandra masing-masing di sisi kanan dan kirinya. ga
"Kak Erlan," Qiandra berusaha bangkit dan menyandar di bantal yang ditinggikan oleh Erlan. Barra terkesiap memperhatikan Qiandra yang kelihatan sedikit pasi. Ada raut cemas diwajahnya.
"Aauuu, sakit Kak," ucapan Qiandra saat Erlan tidak sengaja menyentuh bahunya.
"Jangan dipaksa jika masih sakit," ucap Barra yang membuat Qiandra menatap netra itu.
Deg Deg ...
Keduanya merasakan jantung mereka berdetak lebih cepat saat netra keduanya saling bersitatap. Qiandra merasa salah tingkah, karena baru pertama kali merasakan jantungnya berdetak tak seirama. Wajahnya merona, Ia pun mengalihkan netranya ke bawah.
Erlan menangkap ekspresi wajah Qiandra, Ia melampirkan senyuman tipis. "Aku rasa Barra benar, benih cinta telah tumbuh di hatimu. Aku mendoakan kebahagiaanmu selalu!" ujar Erlan dalam hatinya.
Tak lama seorang perawat masuk dan memberikan resep obat untuk Qiandra dan Andin. David akhirnya menuju apotik untuk menebus obatnya. Kini Barra dan Erlan sudah mengangkat keduanya pada kursi roda, bersiap akan pulang.
Erlan, Barra dan juga Qiandra sudah mengucapkan terimakasih pada Andin. Dalam lubuk hati Andin, sebenarnya ia masih sakit melihat kekhawatiran Barra terhadap Qiandra. Namun Ia juga senang, Barra juga mengkhawatirkan dirinya sebagai teman. Begitu saja sudah cukup, batinnya.
Setelah David kembali, Barra dan David mengantar Andin dan Qiandra bersama, sebab Erlan akan kembali ke kantornya lagi. Mereka pun berpisah di pelataran parkir Rumah Sakit.
***
Barra dan Qiandra tiba di rumah setelah mengantar Andin terlebih dulu ke rumahnya. David kembali ke kantor untuk menghandle pekerjaan Barra sekaligus Andin, di mana keduanya tidak kembali bekerja siang ini. Waktu sudah menunjukkan pukul dua siang. Mama yang sudah pulang terlebih dahulu karena mengetahui Qiandra cidera pun berteriak manakala melihat Qiandra masuk ke rumah dengan kursi roda yang didorong Barra.
"Qiandraaaaa, kenapa bisa seperti ini , Nak?" Hiks hiks Isak tangis Mama melihat keadaan calon mantunya yang sudah ia anggap bak anak kandung.
"Ma, Biarkan Qiandra istirahat dulu di kamar. Nanti aja sesi tanya jawab ya." ingatkan Barra pada mama nya itu.
"Oh ya, cepat bawa dia ke kamar. Mama mau suruh bik Darni siapin makanan untuk kalian berdua," ujar mama Renata.
Barra pun membawa Qiandra ke kamar tamu yang selama ini ditempatinya dan berada di lantai satu. Di dalam kamar, Qiandra mencoba berdiri untuk berpindah dari kursi roda ke ranjangnya. Namun, tangan Barra sudah menyisip di bagian pundak dan bawah lututnya, lalu mengangkat tubuhnya ke atas ranjang.
Qiandra terkesiap, sungguh di rumah sakit tadi, Barra hanya memapahnya saja, wajahnya sudah blushing.
Kini jarak keduanya lebih dekat, dan semakin intim. Jangan tanyakan jantung Qiandra, rasanya seperti akan melompat keluar.
Barra meletakkan tubuh Qiandra perlahan lalu menarik tangannya. Sepersekian detik, maniknya menatap manik hitam Qiandra, masih dalam posisi yang sangat dekat. Qiandra yang juga sedang menatap Barra, dengan jarak sedekat itu, menggigit bibir bawahnya.
Barra memperhatikan Qiandra yang menggigiti bibirnya. Ia meneguk salivanya kasar. Entah kenapa, wajahnya malah bergerak mendekat, dengan netranya tak berpindah dari menatap Qiandra. Ketika posisi mereka semakin dekat, Qiandra refleks memejamkan matanya. Dan seketika kedua Benda kenyal itu nyaris saja bertubrukan, hingga akhirnya sebuah suara mengejutkan mereka.
"Qiandra, makan dulu ya. Ini Mama bawa makaaaa..." Mama Renata tidak melanjutkan ucapannya, ia sendiri terkejut mendapati keduanya berada di posisi sedekat tadi.
Barra refleks menarik lalu memalingkan tubuhnya, begitupun Qiandra yang langsung membuang mukanya ke arah berlawanan. Jangan tanya bagaimana wajah mereka sekarang, nyaris seperti kepiting rebus.
Mama masuk di susul Bik Darni yang memegang nampan berisi makanan untuk Qiandra, lalu meletakkannya di nakas samping ranjang.
"Den, makanan Aden sudah Bibik sajikan di meja makan," ucap bik Darni sebelum meninggalkan ruangan yang dibalas dengan anggukan oleh Barra.
Sepeninggalnya Baik Darni, Mama langsung menjewer kuping Barra, dan membuat pria itu mengaduh kesakitan.
"Bagus ya, ditinggal berduaan udah mau nyosorin anak gadis Mama. Kamu ini ya," Mama meneriaki Barra.
"Aaduuh, aduh Ma, apaan sih, tadi itu mata Qiandra kelilipan. Barra cuma mau bantu niupin matanya aja kok," bela Barra, yang kini sudah jadi sasaran pukulan Mamanya.
Bugh Bugh Bugh...
"Kalau kelilipan yang ditiup itu mata, bukan bibir," pukul Mama lagi tubuh Barra dengan begitu kesal dengan anak lajangnya itu.
"iiya, ampun Ma ampun, mendingan Mama suapin Qiandra makan. Dia harus minum obat soalnya." Alasan itu berhasil menyelamatkan Barra dari amukan Mamanya. Kini mama Renata bergerak ke mengambil makanan Qiandra dan duduk di sisi ranjang. Mama terlihat ingin menyuapi Qiandra, namun Qiandra menolaknya.
"Qiandra bisa makan sendiri, Ma."
Dengan perlahan Qiandra memasukkan makanan ke dalam mulutnya dengan Mama di sisinya terus menatap Barra dengan tajam. Tiba-tiba Barra teringat sesuatu.
"Ma, nanti malam akan ada tamu makan malam di rumah kita," ujar Barra.
"Siapa?" tanya Mama dengan antusias.
"Rekan kerja Barra. Dia ingin mengatakan beberapa hal pada Mama, Papa, dan Qiandra mengenai rencana pernikahan kami,"
Uhuk uhuk uhuk,
Qiandra terbatuk mendengar perkataan Barra, diikuti dengan Mama yang sudah memasang wajah mode terkesiap.
"Rencana pernikahan?" tanya keduanya merasa tak yakin dengan apa yang di dengar.
"Hmmmm, ituuu......"
.
.
.
**To Be Continue
.
.
.
Hai, welcome back to my Novel..
Makasi ya atas dukungan kalian, Aku terharu loh,,,
Makasi buat yang selalu nungguin update novel ini. Doakan supaya Author makin pinter nulis aja. Mohon dimaklumi kesibukan Author di real life itu lagi padat banget, jadi selalu mengusahakan cepat Up.π€π€π€
Jangan lupa like, komen dan vote.
Kasi hadiah juga boleh...
see you soon.
Follow Ig mynameis90202 ya man teman untuk interaksi bareng Authorπππ