
Felicha Kimberly
Seorang gadis tomboy dengan usianya yang baru menginjak 20 tahun , dia berusaha terus menerus mencari pekerjaan dengan status nya yang sekarang ini mencari pekerjaan adalah hal yang sulit baginya.
Jangankan lulus kuliah , sekolah SMA saja dia gak lulus .
"Aih,, capek banget . Apa mereka buta , aku yang cantik gini gak ada yang mau ngasih kerjaan " seru dia sambil duduk dikursi taman.
"Apa masih belum dapat kerjaan Cha jadi kamu ngedumel kesal disini .. "
Dengan cepat Icha menoleh.
"Sisilia Anastasia , kamu mengejek ku lagi" kesal Icha memicingkan matanya menatap Sisil yang menyapa dia.
Dia hanya terkekeh , lalu duduk di sebelah Icha . "Benerkan yang aku bilang tadi" lanjut dia mengolok Icha.
Icha menghela nafas sejenak , "Bener Sil .. " ucapnya membenarkan perkataan sahabatnya itu.
"Terus rencana kamu apa setelah ini , pulang ke rumah atau mau ku telfonin bunda suruh jemput kamu" dia lanjut mengolok Icha.
Icha terdiam sejenak dia menatap ke langit.
"Oke sudah ku putuskan , aku gak akan pulang apa lagi minta di jemput jadi singkirkan pikiran sempit kamu itu Sil " Icha tiba-tiba bersemangat.
"Semangat banget , kamu dapat ide apa lagi ..."
"Aku tiba-tiba kepikiran sesuatu "
"Ya apa yang kamu pikirkan Icha ku yang gemoy banget ini" Sisil mencubit pipi Icha .
"Stop cubit pipiku , atau mau ku lempar ke kandang Cleo " ancam Icha membuat Sisil kecut seketika . Cleo hewan peliharaan Icha dia adalah harimau putih kesayangannya.
"Sekarang coba cerita tadi kamu mikirin apa sampai semangat banget gak mau balik ke rumah bunda , padahal kan enak kamu gak perlu kerja tinggal nikmatin hidup doang "
"Tapi gak bebas" Icha menyela .
Haaaahhhh ... Sisil menghela nafas , " Terus kamu mikirin apaan tadi " lanjutnya bertanya .
"Aku kepikiran setelah ini kita berdua harus pergi ke suatu tempat dan menikmati makanan yang hangat dengan secangkir white coffie dingin di tutup dengan makanan manis seperti cokelat pudding dengan keju mozzarella diatasnya"
Tuk~ Sisil menggetok kepala Icha yang hanyut dalam imajinasinya yang tinggi . Dan itu terpampang jelas di wajah Icha.
"Aku pikir kamu mikirin hal penting apa ternyata hanya makanan , apa kamu gak bisa mikirin yang lain selain makanan Cha"
"Hehehe ayolah Sil hidup itu jangan di bikin ribet , aku sekarang lapar banget .. Setelah dapat makan entar baru mikirin gimana selanjutnya , jadi nona Sisilia Anastasia aku sebagai sahabatmu yang menumpang hidup ini ingin minta di traktir" wajah penuh harap Icha menatap Sisil.
Baiklah~Sisil pasrah.
***
Arvian J.F Cole
Bujangan berusia 27 tahun ini , adalah salah satu ikonik kota tempat mereka tinggal , selain pengusaha dengan paras tampan tapi juga CEO Dominan yang di minati banyak gadis. Tanpa kurang sedikitpun dia dididik dan di besarkan di keluarga yang harmonis , tapi sikapnya malah terlihat berasal dari seorang keluarga yang broken home , bagaimana tidak bukan hanya pendiam tapi juga seperti iblis menurut para karyawan nya.
"Bos , malam ini nyonya ingin mengajak anda pergi makan malam apakah mau mengosongkan jadwal anda" tanya David sekretarisnya.
"Tidak , kamu cukup beri tahu mami aku sibuk"
"Tapi bos , nyonya sudah di depan pintu"
Klek~ pintu terbuka.
Seorang wanita berjalan masuk , dia Nyonya Crolleta ibu kandung Arvian. "Vian masa , kamu gak mau nemenin mami makan malam ..." ucapnya kemudian duduk .
"Salam nyonya" David membungkuk hormat.
"David kamu kosongkan semua jadwalnya malam ini"
"Ini .. nyonya .." David melirik Arvian bosnya.
"Jangan melirik dia kamu dengarkan apa kataku"
"Mami , aku masih ada kerjaan jadi aku pergi dulu"
Arvian pergi.
"Anak itu , David kemana dia pergi"
"Huuhhh David apa kamu tahu malam ini aku ingin mengenalkan dia dengan seorang wanita tapi sepertinya aku gagal lagi" Nyonya Crolleta tersandar.
"Apa menurut kamu aku salah David? " tanya dia menatap David .
"Anda sama sekali gak salah nyonya karena seorang ibu pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya , tapi mungkin tuan memang belum mau dan belum menemukan wanita yang cocok untuknya" jelas David menghibur Nyonya Crolleta.
"Menunggu dia mencari yang cocok , apa kamu pikir dia bisa , mendekati wanita saja dia gak mau , sudah banyak gadis-gadis yang aku suruh bekerja untuknya tapi apa , semua gadis-gadis itu di usir olehnya"
"Haaaaah... aku salah mendidiknya "
"Yasudah David kamu gak perlu kosongkan jadwal dia malam ini aku pergi makan sendiri saja " dia berdiri lalu pergi .
"Hati-hati dijalan nyonya"
Kring!!! (dering telfon David)
"Bos , anda dimana" ucapnya di telfon
"Mami sudah pulang"
"Iya , em itu bos maaf saya lancang apa anda gak kasian melihat nyonya , nyonya ngelakuin ini semua karena dia sayang dengan anda , mungkin nyonya gak bilang tapi dia sangat peduli segala hal tentang anda"
Tut~ Arvian mengakhiri panggilan telfon.
Dia terpikir apa yang di katakan David padanya , mengingat perlakuan ibunya beberapa waktu ini terlihat sekali sang ibu sangat ingin melihat dia menikah dan memiliki keluarga sendiri .
Dia gak menyangkal apa yang di katakan David karena menurutnya itu benar .
Bruk~ "Aku menabrak sesuatu" kaget Arvian langsung keluar mobil. "Hei apa kamu baik-baik saja" tanya dia melihat seorang gadis terduduk dengan memegang kakinya.
"Apa kamu gak bisa nyetir mobil , kalau gak bisa gak usah pake mobil emang ya kalian orang kaya gak punya akhlak" wanita itu memekik kearah Arvian
Dia berdiri .
"Melihat kamu begitu bertenaga seharusnya kamu gak terluka" Arvian mendahului perkataan wanita yang tak lain adalah Icha.
"Melihat kamu begitu bertenaga seharusnya kamu gak terluka" Icha mengulangi perkataan Arvian.
"Kamu , wanita"
"Apa" Icha meninggikan nada suaranya .
Arvian melotot kearah Icha , bukannya takut Icha malah membalasnya dengan hal yang sama . Dia gak mau kalah dengan tatapan Vian padanya . "Dia pikir aku takutkan , nih aku liatin seperti apa rasa takut yang sebenernya" batin Icha mendekati Arvian .
"Rasain ini" Icha menginjak kaki Arvian dengan kuat.
"Wanita , kamu berani sekali" pekik Vian dengan nada yang mengancam ke arah Icha.
"Apa , cepat kamu minta maaf karena sudah menyerempetku , kakiku lecet gara-gara kamu" Icha memperlihatkan kakinya yang tergores.
"Aku malas ngeladeni orang seperti kalian yang suka mengambil keuntungan , padahal cuman di serempet dikit langsung minta ganti rugi" Arvian menyeringai .
Icha geram mendengar apa yang di lontarkan Arvian padanya , padahal dia ingin Arvian meminta maaf bukan meminta ganti rugi padanya . Icha mendekati Arvian kemudian menarik dasi di leher Arvian hingga wajah mereka sangat dekat dan mata mereka saling tatap .
"Apa kamu pikir aku orang yang picik seperti itu"
Nada bicara Icha membuat kaget Arvian.
"Jangan kalian , orang kaya pikir semua manusia itu sama hanya karena mereka berasal dari kalangan bawah , gak semua orang seperti itu"
Arvian terdiam.
"Aku harap kita gak ketemu lagi atau aku akan meninju wajah gantengmu itu" Icha pergi setelah mendorong Arvian.
***
NOVEL PERTAMA SEMOGA SUKA
DON'T FORGET TO
✓LIKE
✓KOMEN
✓VOTE
✓FAVORIT
......SEE YOU NEXT EPISODE......