
Dua hari sudah Qiandra kembali ke kediaman keluarga Gunawan. Mama Renata dan yang lainnya menyarankan agar untuk sementara waktu Qiandra dan Barra tinggal di sana, hingga kondisi Qiandra membaik. Mama Renata pun sudah mendeglagasikan semua urusan kliniknya pada Mirna, salah seorang pegawainya.
Acara resepsi pernikahan akan digelar dua hari lagi. Qiandra tidak ingin acara tersebut diundur. Ia tidak tega melihat semua yang telah bekerja keras, terutama Mama Renata. Akibatnya Mama Renata menjadi begitu protektif kepada Qiandra. Jadilah Qiandra diperlakukan seperti seorang bayi saja.
Malam itu, Qiandra sudah berbaring di ranjang menunggu Barra pulang. Sudah jam sepuluh namun Barra belum jua kembali. Ia sudah menghubungi Barra sebelumnya dan ia mengatakan akan pulang agak terlambat karena hari terakhir ia bekerja. Rencananya setelah resepsi pernikahan mereka akan langsung berbulan madu.
Baru saja ia menurunkan tungkainya, bersiap akan memutus kegundahannya dengan menikmati udara balkon, pintu kamar sudah tersibak dan wajah tampan suaminya muncul dari luar.
"Assalamualaikum Sayang, Aku pikir istriku ini sudah tidur." Meletakkan tas kerjanya di atas meja dan mendaratkan bokongnya di sofa. Qiandra pun bangkit dan mengikuti suaminya itu.
"Aku nungguin Mas, gak bisa tidur." Aduan itu terdengar seperti rengekan di telinga Barra. Ia memandang gemas istrinya yang menggamit dan mengecup tangannya. Lalu perlahan menunduk akan membuka sepatunya.
Dengan sigap Barra menangkap kedua pundak istrinya yang nyaris akan bersimpuh itu. "Sayang. sudah biar Aku saja. Bagaimana keadaan mu, Sayang?"
Penolakan itu membuat semburat sendu di wajah Qiandra. Suaminya ini, apakah sudah tidak memerlukan bantuannya lagi?
"Kenapa diam, Hemmm?" Barra merasa heran dengan kediaman tiba-tiba istrinya. Ditatapnya wajah sendu itu. "Kenapa?" Kembali mengulangi pertanyaannya.
Qiandra masih bergeming. Menatap sebal ke arah suaminya. Ingin ia jawab pertanyaan suaminya itu namun urung dilakukan. Lalu memilih beranjak dari sofa dan kembali tiduran di ranjang.
"Sudah beberapa hari Aku tidak melakukannya untukmu Mas, kenapa menolakku?" bisiknya dalam hati.
Barra yang melihat sikap istrinya hanya menggelengkan kepala. Sejenak ia sempat berfikir untuk menghampiri namun rasa lelah serta tubuhnya yang sudah sangat lengket membuat ia memutuskan untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu.
***
Pintu kamar mandi terbuka dan keluarlah sosok tampan Barra, yang kini hanya mengenakan handuk dan masih bertelanjang dada. Ia mengeringkan rambutnya dengan satu buah handuk kecil di tangannya. Pandangannya kini tertuju pada sosok yang sedang berbaring memunggunginya.
Tungkainya melangkah mendekati sosok wanita yang menjadi kekasih hatinya itu. Ia yakin istrinya itu sedang tidak baik-baik saja dan entah apa penyebabnya. Menarik nafasnya dalam, Ia duduk di sisi ranjang di mana istrinya berbaring.
Merasakan guncangan ranjang akibat pendaratan bokong suaminya disisinya, Qiandra membuka kedua netranya yang memang masih belum tertidur. Perasaan kesal sejak tadi bersarang di hatinya. Niat di hati ingin marah namun pemandangan di depannya kini membuat ia hanya menelan salivanya kasar.
Dada bidang suaminya yang terekspose sempurna. masih lengkap dengan bulir-bulir air yang berasal dari rambutnya yang basah. Satu buah handuk masih menggantung ria di leher suaminya itu. Sungguh pemandangan yang menggoda imannya.
"Sayang, Kau kenapa? Apa Aku membuat kesalahan? Maaf kalau Aku tanpa sadar menyakitimu. Kenapa sejak tadi diam saja, ayo beritahu Mas."
Runtuh sudah pertahanan kekesalan di hatinya mendengar untaian kata-kata maaf dari suaminya itu. Ahhhh, lagi-lagi Ia terlalu meninggikan egonya yang tidak normal itu. Bagaimana bisa ia mendiamkan suaminya yang masih lelah setelah pulang kerja. Perasaan bersalah bersemayam di sanubarinya.
Qiandra bangkit lalu memeluk pinggang suaminya itu. Ia menempelkan wajahnya di dada bidang suaminya yang begitu menyeruakkan aroma maskulin di Indra penciumannya.
"Maaf Mas, Aku belum bisa jadi istri yang baik," sesalnya. "Aku merasa sedih, Mas tidak memperbolehkan Aku menunaikan tugasku sebagai istri."
"Hei, kenapa sampai menyimpulkan hal sekeji itu padaku, sayang?" Pernyataan itu sukses membuat Barra terpingkal. Ia merasa lucu sekaligus takjub, istrinya itu berpikir di luar nalarnya sebagai pria.
"Itu ketika Aku ingin membuka sepatu Mas, Mas malah bukain sendiri. Sudah berapa hari Aku tidak melakukan apapun. Apa Mas sudah menganggapku sebagai istri?" Menarik wajahnya yang sedari tadi menempel di dada suaminya, lalu dengan ekor matanya menunjukkan lokasi di mana kejadian itu terjadi.
"Wah, istriku ini sungguh lucu sekali." Mencubit gemas kedua pipinya Qiandra. Lalu berubah menjadi tangkupan yang membuat bibir Qiandra mengerucut seketika. "Aku melarangmu karena khawatir dengan luka di kepala mu, bukan karena tidak menganggapmu sebagai istri. Hilangkan pikiran konyolmu itu, oke!" titahnya itu hanya di balas anggukan oleh Qiandra yang masih dengan ekspresi menggemaskan.
"Aku sudah baik-baik saja dan Aku ingin berbakti pada suamiku. Kau menghalangi seorang istri berbakti pada suaminya sendiri. Mas bisa dikenakan pasal perbuatan tidak menyenangkan." Qiandra bersungut kesal ketika tangkupan di kedua pipinya terlepas.
Barra hanya tertawa mendengar Omelan istrinya yang terdengar seperti candaan baginya. Istrinya ini, sungguh sesuatu. Netranya menatap intens wajah istrinya yang sedetik kemudian tatapan keduanya pun bertemu. Dengan netra dipenuhi kilatan gairah, Barra meraih tengkuk Qiandra lalu melakukan penyatuan bibir.
Seketika suasana menjadi hening. Pergulatan bibir keduanya begitu lembut dan membuai pasangan itu. Entah bagaimana ceritanya, keduanya sudah berbaring dengan posisi Barra mengungkungi Qiandra.
"Jadi istriku ini ingin berbakti pada suaminya? Kalau begitu lakukan perintahku!" Sebuah seringai muncul di kedua bibir Barra dengan tangan menelusupkan beberapa helai rambut Qiandra yang menutupi wajahnya.
Qiandra merasa Ia telah salah bicara. Ini namanya senjata makan tuan. Niat awalnya hanya ingin meminta maaf berujung pada kegiatan yang memberinya kenikmatan sekaligus rasa lelah. Malam itu mereka habiskan dengan saling berbagi rasa cinta dan kasih sayang.
****
Hari ini adalah hari dimana acara resepsi pernikahan Barra dan Qiandra dilaksanakan. Bertempat di sebuah hotel bintang lima, acara tersebut digelar. Deretan papan bunga ucapan selamat mengiringi kedatangan tamu undangan yang berjejer hingga berkilometer dari hotel. Dari papan bunga saja bisa ditebak, bahwa orang yang menikah kali ini bukanlah orang biasa.
Sedari pagi keluarga besar dari Barra sudah berada di hotel untuk mengontrol semua kelengkapan. Kini semuanya sudah bersiap-siap dengan segala atribut. Mereka sudah tiba di hotel sejak pagi. Ratusan kamar hotel sudah di booking untuk tempat menginap keluarga dan juga para tamu yang berasal dari luar kota dan luar negeri. Puluhan pasukan pengamanan tampak berjaga-jaga dari pintu masuk hotel hingga di dalam.
Qiandra sudah mengenakan gaun pengantinnya. Dengan sebuket bunga di tangannya. Tepat pukul 20.00 WIB resepsi dilaksanakan. Kali ini Qiandra tampak dalam gaun tertutup lengkap dengan hijab.
Qiandra duduk di sisi ranjang kamar hotel tempat mereka menginap. Penata rias serta petugas dari butik baru saja keluar setelah memastikan tugas mereka selesai tanpa cela. Menyisakan Qiandra yang sedang mengingat momen-momen manis dalam hidupnya. Sesimpul senyum terbit dari ujung bibir ranumnya.
Tiba-tiba pintu kamar tersibak, dan sosok wanita bergaun merah seksi yang mengekspose punggungnya masuk. Sekretaris Barra, yang ia lupa namanya siapa. Refleks ia langsung berdiri mendapati wanita itu semakin mendekat ke arahnya.
"Maaf Nyonya saya mencari Pak Barra." Senyuman licik mengiring ucapan sekretaris yang mengenakan pakaian terbuka itu.
"Ada perlu apa Anda dengan suami Saya?" tanya Qiandra ketus. Ia tidak ingin sekretaris itu semena-mena terhadapnya seperti terakhir mereka bertemu.
"Sebelumnya Saya ingin mengucapkan selamat kepada kalian berdua. Saya hanya ingin membalikkan dasi pak Barra yang tertinggal di apartemen saya. Dua hari lalu Pak Barra mengantar saya pulang dan sempat singgah. Kami juga menghabiskan waktu hingga larut malam, sampai dasi Pak Barra ketinggalan." Siskha menaikkan kedua alisnya menyodorkan satu paper bag kecil pada Qiandra.
Dengan ragu, Qiandra mengambil alih paper bag itu.
"Apa yang kalian lakukan di apartemen mu?" Emosi Qiandra mulai terpancing, namun sebisa mungkin ia tidak ingin termakan kata-kata dari wanita ulat itu. Ia sadar, Siskha hanya ingin membuatnya cemburu.
Lalu dengan setengah berbisik, "Apa yang dilakukan oleh dua orang dewasa berlawanan jenis, di dalam sebuah tempat tertutup?" Satu jawaban ambigu dari Siskha semakin membuat darah Qiandra naik.
"Jangan berbicara omong kosong. Aku tidak akan termakan ucapanmu!" serunya sedikit berteriak.
"Silakan mau percaya atau tidak, Aku hanya mengatakan yang sejujurnya. Aku juga sudah menyiapkan kado untuk kalian dan bukalah setelah acara ini selesai, oke!" Mengedipkan sebelah matanya nakal. Lalu berjalan menghampiri Qiandra, "Aku tidak keberatan jadi yang kedua," ucapnya lalu berbalik berjalan ke arah pintu meninggalkan Qiandra.
Qiandra menghempaskan bokongnya kasar, lalu mengusap dadanya. "Ini adalah pernikahanku, jangan dengar ucapannya. Dia sengaja melakukan itu untuk membuat aku marah, Aku harus percaya pada suamiku." Ucapnya berulang-ulang meredam emosinya yang membuncah.
Daun pintu kembali terbuka. tanpa melihat ke arah pintu, Qiandra berteriak.
"Pergilah, Aku tidak ingin melihat wajahmu sekarang!"
"M-maaf Qiandra, Aku hanya ingin pamit."
Suara itu, bukan milik sekretaris sialan itu. Suara itu...
Qiandra mendongakkan kepalanya lalu melihat siapa yang berada di ujung pintu.
"Angeline... ,"
.
.
.
***To Be Continue***
.
.
.
Hai, Readers
Minal Aidzin Wal Faidzin ya Gengs
Maaf lahir dan bathin.
Makasi banyak buat kalian yang selalu membaca dan mendukung karyaku ini. ❤️❤️❤️
Jangan lupa like dan komennya yak, votenya boleh juga dong, apalagi tips🤭🤭🤗
Happy Reading,,