My Bossy Husband

My Bossy Husband
Episode 43: Angeline



Suara gemeretak gigi terdengar dari mulut seorang wanita yang tengah memeluk dirinya sendiri di sudut kamar yang temaram. Rambutnya nampak acak-acakan, sesekali ia menggigit kuku-kukunya dan berteriak ketakutan. Berkali-kali Ia menangis, namun sesaat ia bisa tertawa terbahak-bahak, lalu menangis lagi. Sisa lelehan air mata yang menghitam akibat lunturan dari eyeliner yang ia kenakan membuat penampilannya kini semakin semrawut.


"Hiks, apa yang sudah Aku lakukan, hiks hiks, Apa dia akan mati? Bagaimana ini? Aaaarghh!!" Isakan kecil keluar dari bibirnya yang diantaranya mulai tertanam jari-jemarinya. Tubuhnya bergetar menggigil ketakutan.


Sesaat kemudian Ia berdiri lalu tersenyum menyeringai. "Rasakan Kau Qiandra. Itu akibatnya jika Kau bermain-main denganku, hahahaha... ." Tawanya membahana seisi kamar yang ditempatinya sekarang.


"Tidak, Aku bukan penjahat jangan tangkap Aku. Aku tidak sengaja melakukannya, huuuhuuuhuuu," Isak tangisnya mulai terdengar kembali, lebih pilu seakan ada perasaan sesal yang mendalam.


Kring Kring Kring...


Suara deringan telpon dari kamarnya membuat ia tersentak kaget. tubuhnya sedikit terhentak, dan ekspresi takut mulai mengisi wajahnya. Perlahan ia berjalan menghampiri benda yang sedang mengeluarkan bunyi itu. Dengan tangan yang masih berguncang ia meraih gagang telpon di depannya.


"Ha-Halo," jawabnya ragu.


"Kenapa mematikan ponselmu? Aku sudah mencarimu kemana-mana!!" Teriakan keras dari seberang telpon.


"Hiks hiks, Aku takut Reven. Aku tidak sengaja mencelakai dia, A-aku ta-kut polisi mengejar ku, hiks. Aku mematikan ponselku dan mematahkan kartunya."


"Tetaplah di sana, Aku dalam perjalanan. Ingat untuk melihat dulu siapa orang yang datang sebelum membuka pintu!" perintah orang dari seberang telpon, lalu panggilan itu terhenti.


Angeline meletakkan kembali gagang telfon di tempatnya. Ia memberi tahukan temannya atas apa yang telah terjadi tadi melalui SMS. Ia duduk di sisi ranjang, masih dengan perasaan cemas berlebih. "Maafkan Aku! hiks hiks... ," tangisan itu pun pecah kembali.


...🌹🌹🌹...


Sudah 2 jam lamanya Qiandra masih tertidur di atas brangkar rumah sakit. Ia sudah dipindahkan ke ruang rawat inap dan perlu beberapa hari baginya untuk dapat kembali pulang ke rumah. Barra masih setia menggenggam tangan istrinya itu, dengan satu tangannya yang sudah terbalut perban.


Mama Renata sudah kembali ke rumah untuk mengambil keperluan Barra dan Qiandra setelah Dokter selesai melakukan penanganan terhadap menantu sekaligus putri sahabatnya itu. Dari hasil Rontgen, Dokter menyimpulkan tidak terjadi hal serius, namun mengingat cidera di kepala sangat sensitif sehingga dalam dua hari ke depan kondisi Qiandra harus tetap dalam pengawasan Dokter.


"Ibu Qiandra tidak apa-apa, Pak, Bu," tenangkan Dokter yang merawat Qiandra pada Barra dan Mama Renata sesaat setelah ia keluar dari ruang IGD.


"Tetapi kenapa tadi sampai perlu donor, Dok?" Mama Renata bertanya dengan raut wajah cemas.


"Lukanya termasuk dalam ya, Buk. Apalagi pendarahannya sudah lebih dari dua puluh menit. Perjalanan dari lokasi kejadian yang jauh dan lain-lain. Hal itu menyebabkan Hb ibu Qiandra turun, sehingga diperlukan donor darah," jelas dokter wanita paruh baya itu.


"Apa istri saya sudah baik-baik saja, Dok?"


"Iya, Pak. Untuk sementara saya bisa bilang begitu. Tapi nanti setelah ibu Qiandra sadar, Kami perlu memeriksa dia sekali lagi. Mudah-mudahan tidak ada hal serius yang terjadi menimpa ibu Qiandra."


"Terimakasih banyak, Dokter."


"Sama-sama Pak, Bu, Saya tinggal dulu. Permisi!!"


Perbincangannya sekilas bersama Dokter tadi kembali terngiang di ingatan Barra. sudah dua jam lebih namun istrinya belum bangun juga. Perawat tadi sempat berkata bahwa Qiandra tertidur setelah diberi obat pereda nyeri yang berefek samping pada rasa kantuk.


"Maafkan Aku, Sayang!!" serunya lirih dengan dahi yang sudah bertumpu pada tangan istrinya yang tengah ia genggam. Selang infus yang terpasang pada lengan sebelah kiri Qiandra pun tampak bergerak. Barra yang menyadari pergerakan Qiandra pun mengangkat wajahnya. Indra penglihatannya menangkap pergerakan tangan kiri dan bulu mata istrinya itu.


"Qiandra, bangun Sayang," ucapnya lirih namun penuh pengharapan.


Bulu mata Qiandra mengerjap beberapa kali. Ia mulai membuka netranya perlahan. Refleks matanya kembali menutup, dan memicing merespon cahaya dari ruangan yang ia tempati kini. Hal pertama yang ia lihat adalah langit-langit kamar yang berwarna putih. Bergeser ke sebelah kanannya, terlihat wajah lelah dan cemas suaminya yang kini netranya terlihat berkaca-kaca.


"Sayang, Kau sudah sadar?" Meski tak terisak, untaian pertanyaan itu membuat satu tetesan bening di wajah Barra lolos.


Qiandra mengangguk lemah. "M-mass," sahutnya lirih dengan tangan kiri yang memegang kepalanya.


"Kenapa, apa sakit?" Qiandra hanya mengangguk menanggapi pertanyaan suaminya itu. Ia merasa mual dan pusing sekali.


"Aku panggil dokter dulu." Segera memencet tombol yang ada di atas kepala Qiandra.


Tak lama seorang perawat masuk ke ruangan, disusul dokter di belakangnya. Mereka pun melakukan beberapa prosedur pemeriksaan. Barra hanya mengamati istrinya yang melakukan respon terhadap perkataan dokter.


"Bagaimana, Dok?"


"Ibu Qiandra sehat, Pak. Kita berdoa semoga sampai besok tidak ada keluhan lain jadi Ibu bisa pulang. Untuk saat ini, mual dan pusing yang dialami ibu Qiandra hanya efek samping dari cidera yang dialaminya dan itu normal." Dokter menjelaskan panjang lebar kondisi Qiandra.


"Apa ada pantangan makanan atau sebaiknya istri saya harus gimana, Dok?" Raut wajah khawatir tidak lepas dari wajah Barra.


"Biarkan Ibu beristirahat. Selain trauma ringan, proses hecting pada kepalanya juga menyebabkan rasa sakit dan nyeri pada kepala. Jadi disarankan Ibu Qiandra untuk sementara tidak melakukan pergerakan berat," ungkap Dokter itu lagi.


Setelah menyuntikkan obat dari selang infus, Dokter dan perawat itupun kembali ke tempat mereka masing-masing.


Barra mendekat ke brangkar istrinya. Ia mendaratkan kembali bokongnya pada kursi yang berada di sisi kanan Qiandra. Mengambil perlahan jemari lentik dan lembut milik istrinya. Menggenggam mesra, menghadiahinya kecupan lalu sebelah tangan nya lagi menghela beberapa helai rambut istrinya yang menutupi wajah ayunya.


Qiandra memejamkan matanya sejenak. Kepalanya masih terasa nyeri sehingga untuk berbicara pun rasanya malas. Sekilas ingatan kata-kata yang dilontarkan Angelin terlintas begitu saja di pikirannya.


"Jika kau hanya menempati posisi ranjangnya, namun Aku menempati keduanya, ranjang dan hatinya."


Netra yang tertutup itu seketika membuka. Ia menatap wajah Barra intens, seperti sedang menelisik sesuatu. Barra yang merasa sedang ditatap lalu balik memandangi wajah istrinya yang terlihat sedang berpikir.


"Mas, A-apa Mas pernah melakukan itu dengan Angeline?" Suaranya terdengar parau, setetes kristal bening turun ke pipinya.


"Melakukan itu apa maksudnya?" Barra benar-benar bingung ditambah lagi melihat Qiandra mulai mengeluarkan air mata.


"Sayang, Jangan seperti ini! Ku mohon, please!" pinta Barra yang mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya. mendaratkan ciuman lembut di pucuk kepala istrinya.


"Jawab dulu, Mas!"


"Apa yang Angeline katakan padamu? Aku mohon percaya padaku. Kenapa Kau meragukan suamimu, hmmm?" Memberi penekanan pada kata-katanya meski masih terdengar lembut di telinga.


"D-dia bilang, hiks, hubungan kalian sudah sampai ke ranjang, Hiks ... " Qiandra tidak dapat menahan kesedihannya. Ia merasa sedih dengan ucapan Angeline namun Ia juga sedih menanyakan langsung pada suaminya. Ia sedih karena tidak mampu untuk percaya seratus persen pada suaminya, Ia butuh penjelasan.


"Sayang!" Menangkup wajah Qiandra dengan kedua tangannya. "Kau tidak percaya padaku?" tanyanya lagi melanjutkan. Rona kesedihan menyelimuti permukaan wajah Barra.


"Aku akui, Aku dan Angeline memang pernah menjalin hubungan. Saat itu kami sama-sama kuliah di Ausie. Kami memang pacaran tapi seintim-intimnya hubungan Kami, Aku bersumpah Aku tidak pernah melakukan hubungan suami istri dengannya. Kau adalah yang pertama bagiku, dan sama sepertimu, Aku adalah yang pertama bagimu."


Matanya berbinar menahan kesedihan. Ia sungguh kecewa dengan tuduhan istrinya namun ia mencoba mengerti, kondisi psikis istrinya itu.


"Do you believe me? There's no Angeline between us." ujarnya parau.


Qiandra mengangguk kecil. "I believe you, I do!"


Barra dengan berhati-hati memeluk tubuh lemah istrinya itu. Keduanya sama-sama mengeluarkan kristal bening dari netra masing-masing. Sesaat kemudian, Barra menyudahi pelukan mereka. Menghapus sisa-sisa air mata di pipi istrinya.


"Kenapa tangan Mas?" Meraih tangan Barra yang dibalut perban. Aura sesal menghampirinya. Sungguh ia terlalu egois memikirkan dirinya sendiri. Ia terlalu memikirkan perasaannya hingga tidak memperhatikan suaminya.


"Tidak apa-apa sayang, hanya terjatuh." Jawaban yang lolos dari mulut Barra tentu saja Qiandra tak percaya. Ia yakin luka yang di dapat suaminya karena memukul sesuatu, tapi apa?


"Maaf, Aku tidak memperhatikan Mas sejak tadi, A-aku... ," ucapan Qiandra itu langsung disela Barra.


"Ssshhhhttt, jangan berbicara lagi. Istirahatlah! Kau harus pulih, resepsi kita lima hari lagi." Nada ucapannya sedikit menggoda istrinya untuk tertawa dan berhasil. Kekehen kecil keluar dari bibir merah muda Qiandra.


Seorang petugas mengantarkan makanan untuk Qiandra. Barra pun dengan telaten menyuapkan makanan itu ke mulut Qiandra. Awalnya istrinya sempat menolak, karena tidak menyukai jenis makanan namun dengan segala bujuk dan rayu, akhirnya makanan itu lolos beberapa suap ke dalam mulut Qiandra.


"Sudah Mas, Aku pengen makan masakan rumah," tolaknya lembut.


"Sebentar lagi Mama datang. Mama akan membawa makan siang untuk kita, Oke?" yang dijawab anggukan oleh Qiandra.


Ceklek


Terdengar suara pintu terbuka. Keduanya langsung melihat ke arah pintu.


"Ma... ." Panggilan itu terhenti dan tak bisa mereka lanjutkan sebab melihat orang lain yang datang.


"......"


.


.


.


***To Be Continue***


.


.


.


Haloo, ketemu lagi nih Zeyenk


Maaf ya bab kali ini lama keluar... hehehe kelamaan riset🤭🤭🤭


Selamat membaca ya,,,


Makasih atas dukungan kalian semua, lope lope dah buat all Readers of MBH.


Abis baca budayakan like ya temen-temen. Apalagi kalau mau komen, vote dan tips , Aku makin seneng😀😀😀


Buat kalian yang suka dengerin Audio, mampir juga ya di Audio book Aku. Klik aja di profil Aku.


Salam MyNameIs❤️❤️❤️