
True love doesnโt end at death. If Allah wills it, itโll continue in Jannah.โ
Cinta sejati tidak berakhir saat kematian, jika Allah menghendakinya, akan berlanjut hingga ke surga.
...๐น๐น๐น...
Suara iringan musik mengiringi acara resepsi pernikahan Barra dan Qiandra. Alunan irama yang keluar dari alat musik saxophone dalam lagu a thousand years yang dinyanyikan oleh Christina Perri itu, memenuhi Indra pendengaran semua orang yang hadir pada acara megah tersebut.
Tangan Qiandra menggelayut mesra di lengan Barra, saat keduanya berjalan masuk ke ruangan di mana resepsi digelar. Gaun putih membalut sempurna tubuh Qiandra dengan sangat cantik, tak lupa hijab dan sedikit pemanis di bagian kepala. Sementara Sang Raja sehari itu, begitu tampan dengan balutan tuksedo warna senada. Keduanya terlihat begitu serasi, mereka pun melempar senyuman manis ke arah para tamu yang menyaksikan seraya bertepuk tangan. Kilatan Blitz dari kamera sang fotografer maupun dari ponsel para tamu yang ingin ikut mengabadikan momen sekali seumur hidup itu.
Siapa yang menyangka, dua sejoli yang kini sedang menjadi Raja dan ratu sehari itu hanya memasang topeng di sebalik senyuman manisnya. Jangan ditanya bagaimana perasaan mereka saat ini, keduanya masih saling hanyut dalam emosi masing-masing.
Barra dalam kekesalan dan kekhawatirannya terhadap putusan sepihak istrinya yang bersikeras mencabut laporan atas tindak penganiayaan yang dilakukan oleh Angeline. Sementara sang istri, Qiandra juga tak kalah dengan berbagai spekulasi yang muncul di pikirannya sejak pertemuannya dengan Siskha.
Acara berjalan lancar dan tentu saja mewah. Keluarga besar Barra seluruhnya hadir, tak terkecuali yang tinggal di luar negeri. Begitupun segala rekan bisnis dan teman sejawat Barra. Tak lupa sahabat yang selalu setia, David, Wilson dan Andin. Sementara dari pihak Qiandra, Erlan, Arli, Rere dan Salma yang hadir melengkapi kebahagiaannya malam ini.
Sebagian tamu sudah memisahkan diri dari acara, sebab waktu yang sudah mulai larut. Kini Qiandra terlihat sedang berbicara dengan Arlie. Sedangkan Barra bersama Erlan di posisi yang berbeda. Di salah satu sudut ruangan, tampak David, Andin, dan Wilson yang berkumpul bersama.
"Kapan kalian akan menyusul?" tanya David pada Wilson dan Andin, yang baru beberapa hari yang lalu resmi menjadi sepasang kekasih.
Andin yang mendengar pertanyaan itu seketika berubah canggung. Jauh di lubuk hatinya Ia masih mencintai Barra. Ia mencoba move on dari Barra dengan menerima Wilson sebagai kekasih.
"Harusnya pertanyaan itu untukmu," ledek Wilson. "Aku selalu siap kapanpun bidadari ku ini mau." Senyuman manis dihadiahkan Wilson seraya menggenggam jemari kekasihnya.
"Hah, dasar bucin akut." David berdengus kesal melihat tingkah menjijikkan Wilson menurutnya.
"Daripada Kau, Jomblo akut, ahahahaha!" Tawa Wilson lepas seiring perkataan yang terlontar dari bibirnya.
"Aku jomblo terhormat, bukan tidak laku tapi Aku memang tidak mau menjadi bucin bodoh sepertimu itu!" David membela dirinya sendiri.
"Sebaiknya kita beri ucapan selamat kepada pengantin, Aku sungguh ingin secepatnya merebahkan tubuhku di kasur," ajak Andin yang langsung di balas Wilson dengan pikiran mesumnya.
"Apa kita perlu meminta satu kamar pada Mommy Renata, sayang!" godanya dengan menaik-turunkan alisnya.
"Berhentilah berpikiran mesum kalau tidak hari ini juga kita putus!" Satu ancaman telak dari Andin baru saja dilontarkannya lalu bergerak maju meninggalkan pria tampan yang berusia sudah tidak muda lagi itu.
"Dasar bodoh!" seru David lalu beranjak menyusul Andin.
" Hei, tunggu aku! Sayang, Aku hanya bercanda!" Wilson berteriak kecil seraya mengikuti jejak kekasih serta temannya.
***
Arlie tampak menyunggingkan senyumnya. lalu berlari kecil menghambur ke pelukan Qiandra.
"Aaaaaaarrrghh, Qiandra akhirnya... " keduanya saling memeluk erat satu sama lain, meluapkan rindu yang sudah memenuhi relung jiwa mereka.
"Kau jahat, kenapa tidak bilang padaku Kau akan datang. Apa ini, kenapa harus pakai masker?" Melepas rangkulannya dari tubuh Arlie, Qiandra mengernyit.
"Maaf, Aku ingin memberimu kejutan Qia sayang. Emmm, ini Aku hanya berjaga-jaga agar tidak mudah dikenali. Banyak yang ingin aku ceritakan padamu, pastikan kau menghubungiku sepulang dari berhoneymoon, Okey!" Tersenyum, lalu meraih ponselnya dari tas kecil di tangannya.
"Aku rasa aku perlu mengabadikan ini. Kau terlihat cantik dengan hijab, I wish I will," Mengambil beberapa foto selfie dengan Qiandra.
"Kau terlalu banyak bicara. Semoga Kau sehat dan bahagia, Arli."
Tak lama kemudian Barra yang sejak tadi berbicara dengan Erlan sedikit jauh dari posisi mereka, datang mendekat. "Mas, Kak Erlan, perkenalkan dia sahabatku, Arli. Arli, ini suamiku dan ini adalah Kakak sepupuku, Erlan." Qiandra memperkenalkan kedua lelaki itu.
"Aku Barra!"
"Aku Erlan. Emmm, bisa kita berbicara empat mata sebentar?" tanya Erlan serius. Mendengar nama Arli, ia teringat tentang sesuatu.
"Ada apa Kak, Apa ada masalah?" tanya Qiandra khawatir.
"Tidak, Kakak hanya ingin mengetahui prospek bisnis di daerah Arlie tinggal sebelumnya. Apa kau bersedia, Arli?" Memberi kode dengan satu kedipan mata pada Arlie. yang dibalas anggukan.
"Baiklah, Kakak minta waktu sahabatmu sebentar, oke!" Meminta izin pada Barra dan Qiandra lalu menjauh dari keduanya.
Sementara itu, Barra dan Qiandra kembali memasang mode diam mereka. Keduanya merasa canggung memulai percakapan.
"M-mas apa Mas melihat Kak Manda?" Pertanyaan bodoh apa itu, sudah jelas kalau Kak Manda tidak di sini Ia sudah duluan kembali ke kamarnya. Kondisinya yang sedang berbadan dua dan juga Mikha yang pasti istirahat lebih cepat dari orang dewasa. Ia merutuki kecakapannya dalam berbasa-basi.
"Kakak sudah beristirahat terlebih dahulu," jawab Barra singkat.
Qiandra hanya mampu menelan ludahnya sendiri. Suaminya itu mungkin masih kesal padanya, pikirnya. Sedangkan Barra kini pikirannya dipenuhi kekhawatiran terhadap istrinya. Apalagi sejak berbicara dengan Erlan, kekhawatirannya bertambah.
"Hai, pengantin baru, selamat ya Bro," ucap Wilson berteriak. "Kau tega sekali, saat Akad nikah, Kau yidak mengundang ku dan Andin. Sahabat seperti apa Kau ini!" Memberikan satu kepalan tangannya di dada Barra pelan, seolah mengungkapkan kekesalannya.
"Itu karena Kau bermulut ember," celetuk David yang datang bersamaan, sambil tertawa mengejek.
"Sialan Kau, Dav." Satu kepalan tinju melayang ke bahu David namun berhasil dihindarinya.
"Bar, Qiandra, Selamat untuk kalian berdua ya. Semoga selalu bahagia." Dengan tulus Andin memberikan selamat pada mereka, meski tak dapat ia pungkiri, sebersit cemburu menghinggapi hatinya.
"Terimakasih banyak Ndin, terimakasih juga sudah menyelamatkan aku waktu itu."
"Sudah dramanya, hari ini hari bahagia, Ayo kita bersenang-senang," teriak Wilson.
.
.
.
***To Be Continue***
.
.
.
Dikit ya Gengs hari ini.
Lagi nikmati liburan sebelum back to work Senin besok
HAPPY READING
Makasih buat dukungannya..๐๐๐