My Bossy Husband

My Bossy Husband
76. Suara Wanita



Setiap kelahiran adalah awal yang baru, baik bagi yang lahir maupun yang melihatnya. Manda melahirkan seorang bayi laki-laki yang diberi nama Abrizam Shaquile Schneider yang sempat dirawat intensif di ruangan NICU. Berat badannya hanya mencapai 1,9 Kg ketika lahir sehingga perlu diberikan penanganan khusus serta asupan nutrisi.


Syukurlah semua itu sudah berlalu. Kini bayi laki-laki itu sudah bisa kembali ke rumah bersama sang Mama. Kurang lebih 40 hari lamanya Manda dan bayinya berada di rumah sakit hingga akhirnya Dokter memperbolehkan si Bayi pulang ke rumahnya.


Dalam kurun waktu itu, banyak hal yang sudah dilalui barra dan Qiandra. Barra kini sudah terpilih menjadi direktur utama dari GM corporation. Melalui rapat dewan direksi memutuskan Barra sebagai direktur dan menang telak dari saingannya.


Dengan posisinya yang sekarang, tentu saja kesibukan Barra di kantor bertambah. Hal ini menyebabkan bara tidak dapat meluangkan banyak waktu untuk istrinya. sebab setelah menjabat sebagai direktur, tugasnya semakin bertambah dan banyak sekali proyek kerjasama yang harus ia tangani langsung tentunya dibantu oleh asisten pribadinya David.


Seperti sore kemarin rencananya Qiandra akan memeriksakan kandungannya ditemani Barra. Namun, tiba-tiba Barra harus menghadiri sebuah rapat penting di luar kota sehingga rencana yang dijadwalkan jauh-jauh hari itu terpaksa ia batalkan. Akhirnya Qiandra hanya pergi ke dokter seorang diri.


Hari ini pun seharusnya menjadi hari libur akhir pekan bagi Barra. Namun apa boleh buat, dirinya masih berada di luar kota dan akan pulang Sore nanti. Sementara Qiandra menghabiskan waktunya dengan merawat bunga-bunga yang ada di taman.


"Nyonya, sudah pukul sebelas. Hari mulai terik, sebaiknya Nyonya masuk ke dalam. Biar Saya dan Mang Asep yang akan menyelesaikan ini." Bi Ani mulai khawatir dengan kondisi Nyonyanya.


"Iya, Bik." Qiandra mendadak merasa pusing, ketika matanya terkena sengatan cahaya matahari saat berbalik. Seketika tubuhnya oleng dan nyaris terjatuh.


"Nyonya!" teriak Bik Ani menahan tubuh Qiandra yang mulai limbung. "Nyonya istirahat di dalam ya. Saya bantu Nyonya berjalan." Buk Ani memapah Qiandra berjalan.


Namun tubuh Qiandra semakin lemas, dengan perutnya yang sudah membesar dan berat badan yang mulai bertambah.


"Nyonya kenapa?" tanya Bik Ani yang kaget melihat Nyonyanya semakin lemas.


"Tidak tahu Bik, Saya merasa pusing tiba-tiba dan tubuh Saya lemas." Memijit kepalanya dengan satu tangan.


"Asep, Sep... !!! teriak Bik Ani memanggil Mang Asep yang sedang bersih-bersih di bagian yang lainnya.


"Iya Bik, ada apa? Waduh Nyonya kenapa Bik?" Tergopoh-gopoh Mang Asep menghampiri ketika melihat Qiandra tidak berdaya.


"Enggak tau, Bantu bawa Nyonya ke kamar, Ayuk!" ajak Buk Ani dan disambut anggukan oleh Mang Asep.


Keduanya kini memapah Qiandra memasuki rumah, lalu menuju kamarnya. Untung saja kamarnya berada di bawah. Semenjak pindah memang kamar mereka berada di bawah karena Barra takut terjadi sesuatu pada kehamilan istrinya.


Bik Ani meletakkan tubuh Qiandra dengan lembut dan perlahan. Lalu Ia membawa kaki Qiandra dan meluruskannya.


"Nyonya, apakah perlu saya telfon Dokter?" Masih dengan raut khawatir.


"Tidak usah Bik. Saya tidak apa-apa, cuma lemas saja." Qiandra masih bisa tersenyum meski wajahnya terlihat sedikit pucat.


"Sep, kasi tau Bibik di dapur supaya membuatkan Nyonya makanan dan segelas air hangat." Bik Ani memberi titah.


"Tunggu, Mang Asep! Tolong minta Bi Asih membuatkan saya sup kepiting dan jagung seperti tempo hari ya!" Qiandra memaksakan senyumnya meski rasanya tubuhnya terasa lemas sekali.


"Baik Nyonya, Saya permisi dulu," pamit Mang Asep seraya menundukkan sedikit kepalanya.


Selepas kepergian Mang Asep, Bik Ani mengambil minyak telon lalu membalurkan pada dahi dan hidung Qiandra. Qiandra merasa pusingnya sedikit mereda karena pijatan lembut dari tangan Bik Ani.


"Apa perlu Bibik telfon Tuan, Nyonya?" tanya Bik Ani hati-hati.


"Hmmm, Sebenarnya Saya juga sudah kangen sama Mas Barra, Bik. Tapi Saya takut nanti Mas Barra khawatir malah kenapa-kenapa," jelas Qiandra dengan wajah murung.


"Apa karena kangen sama Tuan ya? Bibi perhatiin baru kali ini Nyonya harus pisah sama Tuan karena harus ke luar kota." Bik Ani mengungkapkan pendapatnya.


"Hmmmm, enggak tau juga sih Bik. Tapi memang selama kehamilan ini Saya merasa lebih manja sama Mas Barra. Pengennya Deket terus, apa-apa maunya sama dia. Aneh ya Bik? Kadang Saya merasa tidak enak sama Mas Barra. Apalagi sejak jadi Direktur, suami Saya memiliki kesibukan lebih dari biasanya," Qiandra sedikit menceritakan curhatannya.


"Bibik, ada-ada aja deh, hahaha!" tawa Qiandra ikut menimpali kekehan Bik Ani.


Selang beberapa menit, munculah Bik Asih dengan satu buah nampan di tangannya. Semangkuk sup jagung kepiting dan satu gelas air putih hangat dikeluarkan satu persatu dari nampan. Ia meletakkan makanan yg ia bawa pada nakas samping tempat tidur Qiandra.


Makanan itu pun habis tak bersisa setelah disuguhi. Kini Qiandra melanjutkan istirahatnya, mencoba untuk tertidur namun tidak bisa. Kedua Asisten rumah tangga yang sempat menemaninya telah kembali melanjutkan tugas mereka.


Qiandra merasa mengantuk, namun tidak dapat tidur. Sudah sejak tadi malam Ia sulit memejamkan matanya. Ini kali pertama Ia berjauhan dari sang suami setelah mereka pindah ke rumah ini. Tadi malam dia sudah menghubungi suaminya, namun sejak pagi tadi mereka belum bertegur sapa sama sekali.


Qiandra menscrool ponselnya, memilih sebuah nama yang merajai kontaknya selama ini. Panggilan itu pun terhubung. Namun sudah lima kali panggilan itu tak kunjung dijawab.


"Positive thingking Qia, Mas Barra masih sibuk, atau bisa jadi dia dalam perjalanan. Iya, jangan mikir yang macem-macem ya," ucapnya seraya mengelus perutnya yang sudah terlihat membesar.


Qiandra memutuskan membaca buku yang belum selesai Ia baca. Tiga puluh menit kemudian Ia memutuskan untuk mencoba menelpon kembali Suaminya itu.


Tuuuuutt. tuuuutttt tuuuuttt


Suara panggilan terhubung terdengar nyaring di telinganya.


Seketika panggilan tersambung.


"Halo Mas, Assalamualaikum!" sapa Qiandra sembari tersenyum ceria begitu mendengar panggilan terhubung.


"Halo, Maaf ini siapa yah?"


Deg Deg Deg


Jantung Qiandra berdetak tak karuan mendengar suara wanita di seberang sana. Seingatnya, Barra hanya pergi dengan David, tidak membawa pegawai yang lain apalagi wanita. Apa jangan-jangan... Qiandra menutup mulutnya yang menganga dengan satu tangan.


"Halo, Mbak? Mbak?"


Suara dari seberang telpon terus terdengar, namun Qiandra segera mematikan panggilannya. Hatinya terasa sakit seketika. Siapa wanita yang mengangkat panggilannya itu?


Siapa wanita itu, Mas? Apa Kamu mengkhianatiku?


.


.


TO BE CONTINUE


.


.


HAPPY READING SEMUA


THANKS ATAS DUKUNGANNYA


JANGAN LUPA LIKE dan komen YA, Readers zheyenk... Jangan jadi pembaca ghaib🤭