
Cuaca pada pagi menjelang siang ini terlihat begitu cerah. Dengan gagah mentari merangkak naik ke peraduan. Cahayanya mulai memberikan nafas kehidupan bagi makhluk hidup di dunia.
Seorang wanita baru saja terbangun dari tidur nyenyaknya. Dengan posisi terduduk dan badan yang menyandar pada headborad ranjang. Ia masih mencerna kondisi di sekitar dan mengumpulkan kesadarannya. Seberkas sinar mentari masuk menyeruak dari balik tirai yang sudah di buka beberapa bagian.
Kesadarannya pun mulai berangsur pulih. Ia segera bangkit dari tempat tidur, menyambar ponsel yang berada di atas nakas sebelah ranjangnya.
"Maaf Sayang, Aku tidak tega membangunkanmu. Kau terlihat begitu lelah. Kita bisa berangkat ke kantor bersama keesokan harinya, bukan?"
Sebuah pesan singkat yang dikirim suaminya tadi pagi, membuat tubuhnya yang masih lemas karena efek bangun tidur semakin tak bersemangat. Tiba-tiba saja pikiran buruk menghantuinya.
"Kenapa? Kenapa Mas meninggalkanku sendiri di sini?" tanyanya lirih sambil menonaktifkan ponselnya lalu mengembalikan ke tempatnya semula. Ia melirik jam dinding, sudah jam sembilan kurang beberapa menit. "Bagaimana Kau bisa tertidur lagi Qia, aarrgh!" Ia merasa kesal dan merutuki dirinya sendiri.
Qiandra memukul kecil kepalanya dengan tangan yang terkepal. Padahal Ia sudah berjanji dengan suaminya akan pergi ke kantor bersama, tapi Ia malah tertidur. Dan Barra, tega sekali ia tidak membangunkan Qiandra.
pikirannya kembali dipenuhi dengan dugaan-dugaan buruk tentang alasan suaminya tak membawanya. Ia mencoba menepis semua, lalu memutuskan untuk menuju ke kamar mandi. Di sana ia merendam tubuhnya dengan aromaterapi dari sabun yang menambah moodnya.
Qiandra sedang memperhatikan pantulan bayangannya di cermin. Gaun silver dengan aksen pita di tengah membalut tubuhnya sempurna. Gaun sederhana namun begitu pas di tubuhnya.
Qiandra menarik nafasnya kasar merenungkan kembali situasinya sekarang. "Mas Barra hanya tidak ingin mengganggu ku beristirahat, seharusnya Aku tidak marah padanya. Hmmmmm..."
"Kenapa semenjak menikah Aku mudah sekali lelah ya, apa Aku kurang berolahraga?" Ia berbicara dengan dirinya di depan cermin. "Sepertinya mulai besok Aku harus rajin berolahraga, kalau begini bisa-bisa ketiduran terus di pagi hari," sambungnya.
Tok Tok Tok
Terdengar suara pintu kamar di ketuk dari Luar.
"Masuk," jawabnya sambil mengalihkan pandangannya ke arah pintu.
Terlihat Bik Darni membuka pintu lalu dengan menundukkan kepalanya, ia berkata, "Non, tadi Nyonya dan Tuan Barra pesen ke Saya, kalau Non Qiandra sudah bangun katanya suruh sarapan dulu."
"Iya Bik, saya baru selesai mandi. Mau ke dapur juga, mau makan." Qiandra memastikan tampilannya sekilas lalu bergegas menuju ke ruang makan. Di sana sudah ada beberapa hidangan yang disajikan. Bik Darni pun terlihat berjalan ke arah dapur lalu secepat kilat Qiandra mencegahnya.
"Bik, bisa temenin Qia sarapan enggak?"
"Maaf Non, Saya takut lancang..."
"Bik, Qia enggak mau makan kalau cuma sendirian. Setelah orang tua Qiandra meninggal, Qia selalu makan sendiri Bik, kalau ada yang nemenin cuma sahabat Qia, namanya Arlie. Itu juga gak bisa setiap hari." Mata Qiandra berbinar mengingat masa lalunya.
"Sekarang, di rumah sebesar ini Qia masih aja makan sendiri, Qia gak mau Bik," ucapnya sedikit terisak.
"Non, jangan nangis dong, Bibik temenin ya," ucap Bik Darni lalu menggeser kursi tepat di depan Qiandra lalu mendaratkan bokongnya.
Beberapa menit kemudian Qiandra pun menyudahi sarapannya. Setelah membereskan meja makan, Qiandra membantu Buk Darni dan dua orang Asisten Rumah Tangga yang lain di dapur. Meskipun mendapat penolakan, namun Qiandra terus merengek hingga akhirnya Bik Darni pun luluh.
"Seharusnya hari ini Qia ikut Mas Barra ke kantor. Tapi gara-gara ketiduran, ditinggal deh. Bosan Bik di rumah enggak ada kegiatan." Qiandra menghela nafasnya berat. Ia termenung dalam tatapannya.
"Ya enggak apa-apa to Non, besok kan bisa ikutnya. Lagian Den Barra itu tadi pagi sebelum berangkat pesen ke Bibik, kalau Non masih istirahat karena lelah. Den Barra bilang kalau jam sembilan Non belum bangun juga, baru Bibik bangunkan. Tadi waktu Bibik ke kamar Non sedang di kamar mandi jadi Bibik balik ke dapur langsung siapin sarapan di meja," ungkap Bik Darni panjang lebar.
"Mas Barra harusnya bangunin Qia, Bik. Kenapa dibiarin tidur sih. Qia kan malu juga sama Mama dan Papa masa pagi-pagi Qia tidur sih," kesalnya dengan bibir yang sudah dicebikkan.
"Enggak apa-apa to Non, Nyonya sama Tuan ngerti toh pernah muda juga, hehehe... " Bik Darni terkekeh, membuat Qiandra membuang wajahnya. Bukan karena marah tapi wajahnya sudah memerah seperti kepiting rebus.
Yah, bagaimana Ia bisa tidur nyenyak, tadi malam suaminya itu beberapa kali mengganggu tidurnya. Meskipun sudah Ia tolak dengan berbagai cara, ternyata Barra juga punya lebih banyak cara untuk membuatnya istrinya bersedia.
"Mas, Aku ngantuk, Kita sudah melakukannya dua kali, badanku sudah sakit-sakit semua!" ucap Qiandra yang merasa terganggu dengan ulah suaminya yang menciumi pundaknya yang polos tanpa penutup. Jangan tanyakan tangannya yang juga sudah mulai menepis tangan suaminya yang menggerayangi tubuhnya kemana-mana.
"Once again, please," pinta Barra yang gencar melakukan serangan dari semua sisi.
"Mas, sebentar lagi udah mau shubuh, Aku enggak bisa tidur gara-gara Kamu, Mas!" Qiandra membekap mulutnya terkejut dengan apa yang suaminya lakukan.
Sejujurnya Ia merasakan dentuman gairah diperlakukan seperti itu, sengatan-sengatan listrik seakan mengimpuls sarafnya untuk merasakan lebih. Tubuhnya yang sudah merasa lelah seketika teraliri tambahan energi yang siap meledak kapan saja. Pada akhirnya, Ia kembali pasrah dan menikmati ketika suaminya kembali melakukan penyatuan.
Pergulatan mereka di akhiri dengan kegiatan mandi bersama menjelang waktu shubuh. Barra dengan cekatan membantu membersihkan tubuh istrinya yang terlihat kurang tidur itu. Ia turut menyesal namun juga tidak dapat menahannya. Hal ini juga yang pertama sekali Ia rasakan setelah hampir tiga puluh tahun usianya.
Usai shubuh berjamaah, Qiandra mempersiapkan pakaian, sepatu dan tas kerja suaminya. Karena mata yang tidak bisa diajak kompromi, akhirnya Ia merebahkan tubuhnya.
"Mas, Aku istirahat sebentaaaar saja, bangunkan Aku setelah sepuluh menit ya!" pintanya sebelum tertidur yang dijawab dengan satu kecupan panjang di dahinya. Barra juga menyelimuti tubuh Qiandra, lalu mengusap pipinya.
"Tidurlah! Maaf, Sayang Aku akan sering membuatmu lelah." Barra tersenyum hangat melihat wajah teduh istrinya saat terlelap.
...🌹🌹🌹...
"Apa Qiandra menghubungiku?" tanya Barra pada David saat mereka berjalan menuju lift untuk kembali ke ruangan Barra. David memberikan ponsel Barra yang dipegangnya selama presentasi berlangsung. Mereka baru saja menyelesaikan kegiatan meeting yang berlangsung sejak pagi tadi.
"Tidak, Tuan." Dengan pasti David menjawab.
Dengan dahi yang mengernyit, Barra tetap melajukan langkah kakinya. Kini dua lelaki tampan itu sudah masuk ke dalam lift khusus eksekutif. Barra memasukkan kedua tangan ke saku celananya. Pikirannya melayang pada istrinya di rumah, apa yang sedang dilakukan istrinya sekarang, pikirnya.
Barra tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya mengingat tingkah konyol istrinya. Ia menutup mulutnya dengan satu tangannya untuk meredam tawanya. David yang melihat adegan di depannya, mulai mengerutkan dahinya.
"Maaf ada apa, Tuan?" tanya David.
"Ekhmmmmmm, tidak, tidak ada." Barra mengubah ekspresinya seketika menjadi mode serius.
Lift berdenging, pintu lift pun terbuka. Keduanya melangkah tegap dengan tatapan lurus ke depan. Pemandangan ini merupakan pemandangan yang memanjakan mata yang memandang. Duo lelaki tampan berjalan beriringan, Keduanya luput dari senyuman namun anehnya makin terlihat 'keren'.
Sesampainya di depan ruangan Barra, keduanya menghentikan langkah mereka. Barra kemudian melirik sekretaris barunya, Siskha.
"Siskha, apa ada telfon untukku?" tanyanya penuh harap istrinya menelfon.
"Tidak ada, Pak." Siskha menggelengkan kepalanya. Siskha adalah pengganti Andin yang setelah kejadian kecelakaan itu mengundurkan diri dari perusahaan.
"Baikalah. David, Kau bisa kembali ke ruanganmu!" titahnya lalu masuk ke dalam ruangannya, di sambut David yang juga bergerak menuju ke ruangannya.
Di dalam ruangan, Barra duduk di salah satu sofa di ruangannya. Lalu ia mencoba menghubungi nomor ponsel istrinya, namun di luar jangkauan. Mungkin sedang di churging, pikirnya. Ia pun berdiri dan melangkah menuju kursi kebesarannya.
Belum sampai di kursinya, seorang wanita masuk kemudian dengan setengah berlari memeluk Barra dari belakang. Barra tidak melihat wajah wanita yang sedang memeluknya itu, namun seketika suara wanita itu membuatnya berjingkat kaget.
"Kamu milikku, Barra! milikku!" ucap wanita itu dengan terisak kecil.
Merasa mengenal suara wanita di belakangnya itu, Barra refleks membuka tangan wanita itu dari tubuhnya.
"Lepas! Berani sekali Kau menyentuh tubuhku dan berkata hal menjijikkan itu." Barra berteriak, lalu berusaha melepas kedua lengan yang bertautan memeluknya itu.
"Aku tidak, Kau milikku Barra. Kita saling mencintai. Tiga tahun kita bersama, kebersamaan Kita tidak bisa Aku lupakan Barra!" ucap wanita itu berteriak.
Seketika emosi Barra memuncak. Ia muak mendengar wanita itu berbicara. Ia mengambil ponselnya lalu menelpon David. Namun naas baginya, seseorang membuka pintu ruangan dan itu bukanlah David.
"Mmmas... ," ucap wanita itu lirih. Perasaannya bergejolak, rasa mual tiba-tiba menghampiri melihat adegan itu di depan matanya. Matanya mulai nanar, tangannya yang sedang menenteng satu set kotak makanan pun bergetar.
"Qiandra... , Sayang ini tidak seperti yang Kau pikirkan. Aku bisa menjelaskannya, Qiandra please... ."
Qiandra berlari keluar berpaspasan dengan David yang masuk ke dalam ruangan. Ia menjatuhkan kotak makanan di tangannya lalu berlari sekuat mungkin mencoba meraih toilet. Ia memuntahkan isi perutnya seketika begitu sampai di depan wastafel.
"Hooek Hooek Hoeek." Ia memuntahkan semua isi perutnya tanpa sisa. Air matanya pun ikut keluar seiring dengan muntahan yang terus menerus naik ke kerongkongannya.
"Qiandraaaaa... ,"
.
.
.
***To Be Continue***
.
.
.
Jangan lupa komen dan like nya yah Zheyenk....
Makasi buat Kalian yang udah membaca karya ku,,, Karya ini masih jauh dari kata sempurna, Aku juga tau kok. Kalau ada typo maaf ya belum sempat Aku revisi, lagi sibuk.
Happy Readings ya Gengs.... I luv u to the moon and back❤️❤️❤️