
"Maka dari itu ikut aku" balas Nana.
"Sayang aku.." ucap Keisya ragu.
"Sudah ikut saja, jangan sedih ya?" Jawab dan tanya Enju sambil mengecup kening Keisya.
"Iyaa, sampai jumpa nanti" ucap Keisya lalu pergi mengikuti Nana keluar kamar.
Enju hanya tersenyum melihat Keisya yang pergi meninggalkannya. Tak butuh waktu setelah Keisya meninggalkannya, dokter dan Toji datang ke kamarnya. Dokter dan perawat itu menyiapkan beberapa alat medis yang kan mereka gunakan untuk mengobati Enju.
"Jadi, saya akan di apakan?" tanya Enju.
"Anda akan kami tangani sebaik dan secepat mungkin. Kami juga membawa peralatan operasi, jadi kami butuh ruangan yang cocok untuk operasi" Jawab dokter.
"Sudah saya siapkan, mari pindahkan anak saya ke ruangan itu" ucap Toji.
"Baik, ayo sus" jawab dokter.
Dokter itu mengajak perawat yang ikut dengannya untuk memindahkan Enju ke ruangan yang sudah di siapkan oleh Toji. Sedangkan disisi lain, di ruangan yang sama seperti awal Keisya berada saat di luar sedang ramai ramainya.
"Na.. Enju mau di apain?, lama ga?, apa semua baik baik saja?" tanya Keisya khawatir.
"Sudah tenanglah, nih makan" jawab Nana.
Keisya yang panik itu pun cemberut dan semakin panik. Sedangkan Nana santai sambil menonton film kesukaannya. Keisya tiba tiba memiliki ide untuk keluar dari ruangan itu untuk mengecek keadaan calon suaminya. Keisya juga ingin tau kejadian sebenarnya di luar rumah yang membuat Enju menjadi seperti itu. Keisya tiba tiba memiliki ide untuk keluar dari ruangan itu untuk mengecek keadaan calon suaminya. Keisya juga ingin tau kejadian sebenarnya di luar rumah yang membuat Enju menjadi seperti itu. Sesampainya Keisya di pintu, ternyata pintu itu di kunci oleh Nana.
"Nana.. buka pintunya.." ucap Keisya.
"Maaf keii tak bisa" jawab Nana.
"Ha kenapa?, Aku pengen ke Enju na!" Tanya Keisya memaksa tuk membukakan pintu.
"Duduklah, kalau kamu keluar yang terjadi malah Enju ga bisa sembuh cepat keii. Penyembuhan nya juga bakal lama. Ngerti sekarang?" ucap Nana dengan menatap mata Keisya sambil memegang kedua pundaknya.
"Baiklah.. aku akan tenang" jawab Keisya.
Beberapa jam pun berlalu, pengobatan Enju telah selesai. Nana pun di hubungi oleh Barra untuk membawa Keisya ke kamar nya.
"Ayo keii ikut aku" ajak Nana.
Tanpa banyak tanya, Keisya pun mengikuti Nana keluar dari ruangan itu. Sesampainya di ruangan khusus Enju, Keisya melihat Toji berada di luar kamar. Keisya pun panik setelah melihat muka mertua nya itu yang terlihat tidak tenang, ia segera menghampiri nya.
"Yah.. ada apa sebenarnya? apa yang terjadi kepada Enju?" tanya Keisya.
"Masuklah, kamu akan tau" jawab Toji.
Keisya pun masuk sendirian, ia melihat Enju tak sadarkan diri tergeletak di atas ranjang.
"Sa-sayang?.." panggil Keisya.
"Shhtt jangan berisik" ucap Toji tiba tiba.
"Ayah, apa yang terjadi?" tanya Keisya.
"Ayo keluar dulu" ajak Toji.
Mereka berdua pun keluar ruangan. Toji pun menceritakan tentang keadaan Enju.
"Jadi suamimu berhasil melewati semuanya untuk sembuh. Dengan ini dia akan cepat sembuh dan pernikahan kalian akan di adakan sesuai rencana. Jadi jangan menangis ya?" ucap Toji menjelaskan.
"Dia sudah melewati semuanya tapi mengapa keadaan nya seperti itu yah?" tanya Keisya.
"Suami mu habis operasi, dokter telah berhasil menjahit organ yang terkena tusukan itu. Jadi tenang lah nak" jawab Toji.
"Tusukan? apa yang telah terjadi?" tanya Keisya semakin panik.
"Ayah!" ucap Nana tiba tiba.
"Ayah?!. Nana?!. Ada apa? Mengapa kalian seperti menyembunyikan sesuatu?" tanya Keisya jengkel.
"Nanti jika suami mu sudah sembuh, tanya saja ke dia. Kami tak bisa menjelaskannya" ucap Nana.
Tanpa mengatakan apapun, Keisya pun kembali masuk ke dalam ruangan Enju. Keisya mengambil kursi lalu duduk di samping Enju yang masih belum sadarkan diri. Keisya menggenggam tangan Enju seerat-eratnya berharap dia bangun. Ternyata Enju tak kunjung sadar setelah 30 menit kemudian. Tentu saja Keisya semakin panik dan ia memutuskan untuk memanggil dokter yang berada di ruangan yang berbeda.
"Dokter, mengapa Enju tak kunjung sadar?" tanya Keisya.
"Beliau pasti akan cepat sadar, jadi bersabarlah" jawab dokter.
"Apa? ini sudah 30 menit!" ucap Keisya kesal.
"Keii, bos sudah sadar" ucap Nana.
Keisya pun segera datang ke ruangan Enju dengan berlari, karena ruangan itu dan ruangan dokter jaraknya jauh. Sesampainya di ruangan Enju lalu segera menghampiri Enju.
"Sayang?!" panggil Keisya.
"Sini.." ucap Enju.
Keisya pun segera menghampiri nya dan memeluk Enju dengan erat.
"Maaf ya sayang, aku jadi membuatmu khawatir seperti ini" ucap Enju.
"Tak apa, yang terpenting kamu sembuh!" jawab Keisya bahagia campur sedih.
Keisya bahagia karena Enju sudah sadar sedangkan ia sedih karena calon suaminya itu tertusuk seperti kata Toji.
"Bagaimana kondisimu sayang?" tanya Enju.
"Justru yang bertanya seperti itu adalah aku" jawab Keisya terisak-isak menangis.
"Heii jangan menangis, aku sudah tak apa apa kok. Aku juga akan segera sembuh, jadi jangan menangis ya?" ucap Enju.
Keisya pun segera melepaskan pelukannya lalu mengusap air matanya itu. Tiba tiba tangan Enju ikut mengusap air mata Keisya. Saat Enju menguap air mata Keisya, Enju terlihat tersenyum bahagia. Enju bangga pada dirinya sendiri karena sekali menemukan dan mencintai wanita, ia bisa menemukan pilihan yang paling tepat di matanya dan di mata orang lain. Keisya pun ikut tersenyum lalu ia kembali memeluk Enju. Tiba tiba
"Ehem.." batuk Nana.
Keisya pun segera melepaskan pelukannya itu karena tiba tiba merasa malu.
"Keii.. keii.. tadi saja kamu sampai panik di ruangan itu dan di ruangan dokter. Gimana sekarang? langsung tersenyum senyum berduaan lagi" ucap Nana.
"Kamu sebegitunya panik sayang?" ucap Enju tertawa kecil.
"Nana!!!" teriak Keisya kesal.
"Haha iya iya maaf. Sudah biarkan bos istirahat dulu, ayo keluar" ucap Nana.
"Tak mau!" tolak Keisya.
"Sudah biarkan dia disini" ucap Enju.
"Baiklah, dan jika kamu ingin bertanya seperti apa kataku tadi, sebaiknya bertanya setelah bos istirahat dulu" jawab Nana.
"Baiklah, terimakasih" balas Keisya.
Nana pun keluar dari ruangan lalu menuju ke ruang tamu. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul enam malam. Nana pun memutuskan untuk tidur di sofa, tapi tiba tiba tunangannya datang menghampiri nya.
"Sayang, ayo tidur di kamar saja jangan tidur disini nanti badannya sakit" ajak Barra.
"Baiklah, kalau begitu gendong.." jawab Nana.
Tanpa aba aba Barra pun menggendong Nana lalu mereka menuju ke kamar.
Sedangkan disisi lain, di ruangan Enju.
"Sayang tidur sana di kamar ku, sudah jam segini" ucap Enju.
"Ga mau, aku mau tidur sama kamu" jawab Keisya menolak.
Tiba tiba dokter datang.
"Selamat malam" ucap dokter.
"Selamat malam, ada apa?" tanya Enju.
"Karena sudah selesai operasinya jadi pak Enju kita mau pindahkan ke kamar bapak. Dengan begini istri bapak bisa tidur bersama bapak, kan?" jawab dokter.
"Yasudah, sayang kamu duluan saja ke kamar nya, nanti aku nyusul" ucap Enju.
"Baiklah, cepat yaa" jawab Keisya.
"Iyaa pasti" balas Enju.
Dokter pun mempersiapkan Enju untuk keluar dari ruangan itu, sedangkan Keisya ke kamar Enju terlebih dahulu. Beberapa menit kemudian, akhirnya Enju datang ke kamarnya. Enju melihat Keisya yang ternyata sudah tidur duluan, tiba tiba merasa bersalah karena telah membuatnya khawatir. Dokter dan perawat membantu Enju untuk pindah dari kursi roda ke ranjang miliknya. Setelah Enju pindah, dokter pun keluar dari kamar Enju. Enju segera memeluk Keisya dengan eratnya sampai ia ikut tertidur juga. Untung saja malam kali ini terasa sepi dan hening tak ada pertarungan lagi di luar rumah, jadi Enju bisa tidur bersama Keisya lagi.
Bagi yang mau ajaa.. https://trakteer.id/lyaak/tip?.open\=true