My Big Boss Is My Husband

My Big Boss Is My Husband
Eps. 90 Perasaan Nana.



Namun Keisya bersikeras tuk ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi kepada Nana.


"Ga mau, jawab lah yang jujur" ucap Keisya.


"Huh.." Hela nafas lelah sambil kembali menghisap benda itu. Suasana pun hening beberapa detik. Nana pun memanfaatkan suasana itu, ia harus berfikir sejenak. Nana berfikir apa ia harus memberitahu Keisya soal perasaannya. Nana takut jika ia memberitahukannya Enju marah.


"Huh yasudah sini duduk dulu" ucap Nana yang mempersilahkan Keisya tuk duduk terlebih dahulu.


Keisya saat itu sedang berada di tengah tengah pintu masuk. Keisya pun segera duduk tuk mendengarkan cerita Nana.


"Gini.. jangan bilang bos ya jika aku menceritakan ini" ucap Nana.


"Iyaa, jadi kenapa?" jawab dan tanya Keisya.


"Aku sebenernya sedih karena kalian kan segera menikah. Jika kalian menikah nanti aku pasti tak bisa menemanimu lagi, dan lagi aku kan menikah juga dengan Barra awal tahun depan. Huh.." jawab Nana menghela nafas lalu menghisap benda itu lagi.


Keisya pun kaget, tak menyangka bahwa Nana kan berkata seperti itu dan mempunyai perasaan seperti itu. Keisya pun langsung memeluk Nana, sampai seketika benda yang di hisap Nana itu pun jatuh. Nana pun langsung memeluk kembali Keisya. Tiba tiba Keisya meneteskan air mata di pundak Nana saat itu.


"Keii kenapa nangis?" tanya Nana.


"Maaf.., aku hanya merasa bahwa aku pertama kali mendengar itu. Aku merasa bahwa sudah lama tak mendengar orang orang memperdulikan aku" jawab Keisya.


"Sudah jangan menangis nanti bos tau dia kan marah loh" ucap Nana.


Keisya pun seketika menghapus air matanya.


Ternyata benar saja, Enju langsung datang di saat itu. Keisya dan Nana pun kaget lalu menyembunyikan wajahnya itu. Sedangkan Nana menyembunyikan benda itu.


"Sedang apa kalian? lama sekali" ucap Enju.


"Tidak ada.. kenapa kamu kesini. Padahal aku pengen bahas soal wanita" jawab Keisya.


"Sudah besok saja lagi, sekarang sudah waktunya tidur. Ayo sayang" ucap Enju.


"Baiklah ayo.. besok lagi ya na" ucap Keisya sambil berjalan keluar dari pos lalu memeluk Enju. Nana saat itu langsung iri karena ia sudah lama tak melakukan itu. Nana pun langsung menelepon Barra saat itu dan memintanya tuk menemaninya tidur. Nana takut tak bisa tidur karena pikiran sedang kacau saat itu.


"Sayang sini ke pos kanan, temani aku tidur, aku kebanyakan pikiran" ucap Nana singkat.


"Heii tak usah ngomong pakai HT juga sayang, ada orang lain yang mendengarnya ini... Ganti" jawab Barra.


"Oh iya maaf pak" ucap Nana malu.


"Tak apa silahkan tidur terlebih dahulu, biar kami yang mengurus sisanya." jawab orang lain yang juga menjaga keamanan rumah. Satpam lain pun tersenyum sendiri karena kangen orang rumah.


"Ba-baiklah terimakasih. Ganti" balas Nana. Tak lama dari itu Barra pun sampai di tempat Nana berada. Barra terlihat kelelahan dan seperti habis lari maraton. Nana pun bingung mengapa Barra seperti itu, sedangkan jarak antara pos Nana dan Barra sangat jauh.


"Oh maaf, setelah mendengar kalau kamu kebanyakan pikiran aku langsung berlari ke sini" jawab Barra sambil mendekati Nana.


"Ohh maaf ya.." ucap Nana. Nana pun seketika merasa bersalah karena Barra berkata seperti itu apa lagi sampai kelelahan.


Barra juga khawatir dengan Nana jadi tak memperdulikan dirinya yang kelelahan itu, yang penting sampai di tempat Nana.


"Sudah tak apa ayo tidur" jawab Barra.


"Iyaa" balas Nana. Mereka pun tidur setelah mereka mengobrol sebentar untuk menenangkan diri Nana. Enju dan Keisya juga tidur, suasana rumah Enju kini sepi dan hening hanya ada suara angin. Di saat seperti itu lah musuh menyerang, tiba tiba ada sosok hitam yang berada di tengah tengah taman rumah Enju. Sosok itu telah melewati sensor dan CCTV termasuk satpam yang berjaga.


Sosok itu berjalan mendekati pintu masuk utama Enju. Para sniper langsung tau setelah sosok itu terkena lampu, mereka pun menembak sosok itu namun tembakan itu tak mengenainya. Barra pun seketika bangun karena mendengar suara dari HT dan suara senjata mereka.


"Sial bisa bisanya dia lewat begitu saja, siapa dia sebenarnya?" ucap Barra bisik bisik. Barra pun langsung membangunkan Nana, lalu menghubungi Enju lewat HT.


"Sayang bangun, ada orang" ucap Barra.


"Apa?!" ucap Nana terkejut.


"Shhtt.." balas Barra sambil menutup mulut Nana dengan tangannya.


Barra takut sosok itu mendengarnya dan malah berlari ke arahnya. Benar saja sosok itu mendengarnya dan menyuruh mereka tuk keluar. Saat sosok mengeluarkan suaranya itu, Barra dan Nana terkejut karena suaranya.


"Keluar lah" ucap sosok itu. Barra dan Nana pun keluar, untung saja Barra sudah menghubungi Enju.


"Serius nih ketauan? haha" ucap Barra.


"Sepertinya iya nih.." jawab Nana. Tiba tiba sosok itu menyerang Nana yang belum selesai ngomong, untung saja tak mengenainya. Nana pun marah karena merasa omongannya di potong. Disisi lain Barra merasa sosok itu telah membuat Nana marah, "ini kan gawat, sebaiknya aku mundur sedikit" batin Barra sambil mundur 1 langkah. Nana pun menyerang sosok itu sedangkan Barra hanya melihatnya dari jauh.


"Berani kau ya!" ucap Nana sambil menyerang sosok itu, namun semua serangannya Nana bisa di tangkis olehnya, Nana merasa bahwa sosok itu hafal dengan pergerakannya. Nana juga merasa familiar dengan suaranya itu. Nana pun memberi kode ke Barra kalau Barra harus menggantikannya sedangkan Nana berhenti dulu tuk menghafalkan pergerakannya. Barra pun langsung menyerang sosok itu secara habis habisan, tetap saja tak kena malah Barra yang kena serangan sosok itu. Nana pun kaget dan khawatir dengan Barra, ia tak berani maju karena takut malah menjadi beban bagi Barra. Sementara mereka menyerang sosok itu, Enju dan Keisya menuju ke ruangan khusus yang keamanannya ketat dengan orang orang terlatih. Orang orang itu di latih secara langsung oleh Enju, jadi kekuatannya setara dengan Enju. Karena Keisya belum bangun dan belum sadar sepenuhnya, Enju pun terpaksa tuk menggendongnya. Setelah Enju mengamankan Keisya, Enju pun menuju ke taman. Taman yang menjadi tempat bertarungnya Barra dan Nana. Enju datang dengan tiba tiba menyerang sosok itu dan memerintah Barra tuk mundur, karena ia melihat mereka seperti sedang kewalahan menghadapi sosok itu. Barra pun langsung mundur atas perintah Enju.


"Sayang kamu gapapa?" tanya Nana.


"Tak apa, luka sekecil ini tak ada apa apanya di banding luka waktu itu" jawab Barra.


"Baiklah, coba perhatikan pergerakannya, seperti familiar. Tak hanya itu suaranya juga seperti pernah mendengarnya" ucap Nana.


"Benar juga, tapi siapa ya?" jawab dan tanya Barra penasaran dan bingung.


"Entah" balas Barra, mereka pun kembali mengamati sosok itu.


Bagi yang mau ajaa..


https://trakteer.id/lyaak/tip?.open\=true