
"Pagi, kita sarapan dahulu, setelah itu kita berangkat. Lagian keisya juga masih tidur ini masih terlalu pagi" jawab Enju.
"Baik bos" balas Nana lalu pergi. Sebelum berangkat, mereka bertiga harus sarapan terlebih dahulu untuk mengisi tenaga. Setelah itu, Enju masuk lagi kedalam kamar keisya lalu membangunkan keisya yang masih tertidur. Enju membangunkan keisya dengan sangat lembut.
"Sayang ayo bangun, ayo kita sarapan dan setelah sarapan kita berangkat" ucap Enju sambil menggoyangkan tubuh keisya yang masih dalam posisi tertidur.
Karena terlalu lembut, keisya malah semakin nyenyak tidurnya. Terpaksa Enju harus iseng keisya untuk membangunkannya.
"Sayang kalau gak bangun ku tinggal disini sendirian loh" ucap Enju. Seketika keisya pun bangun panik.
"Nah akhirnya bangun, cepat cuci muka lalu turun ke meja makan tuk sarapan" ucap Enju. Keisya pun hanya mengangguk-angguk saja lalu turun dari ranjang. Saat keisya turun dari ranjang, keisya terlihat pusing dan ia hampir terjatuh. Lagi lagi Enju yang menolongnya, sama seperti waktu mereka pertama kali bertemu di restoran.
Keisya pun di gendong Enju untuk menuju ke kamar mandi. Mereka ke kamar mandi hanya untuk mencuci muka keisya, mereka akan mandi setelah mereka sampai di rumah Enju.
"Cuci muka yang bersih ya, setelah itu kita turun tuk sarapan" ucap Enju.
"Iyaa, maaf merepotkan mu, jadi teringat waktu pertama kita bertemu" jawab keisya.
"Tak apa sudah kamu berkata seperti itu seperti aku orang asing saja. Jadi tolong andalkan aku terus ya" balas Enju. Setelah selesai mencuci muka keisya, Enju membawa keisya untuk menuju ke meja makan tuk sarapan bersama.
Sesampainya di meja makan, keisya melihat banyak sekali makanan di meja. Tak hanya Enju dan keisya saja yang makan, ada juga Nana dan bawahan Enju lain. Mereka pun serentak mengucapkan beberapa kata yang membuat keisya malu.
"Selamat datang kembali Nona dan maafkan kami karena tak bisa menjaga nona" ucap mereka berbarengan.
"Iyaa terima kasih sudah menyelamatkanku terutama Nana" balas keisya.
"Dengar kan?" ucap Enju.
"Baik, sama sama" ucap mereka semua.
"Nah bagus sudah silahkan sarapan lalu kita berangkat untuk pulang" balas Enju. Setelah itu mereka semua makan dengan santainya.
Selesai sarapan, Enju memerintah untuk mereka supaya berangkat terlebih dahulu lalu disusul dengan Enju. Setelah Enju, di belakang kapalnya ada bawahan Enju lagi yang menyusul. Setelah mereka mengiyakan, mereka pun segera melaksanakannya. Selang beberapa menit setelah mereka yang pertama berangkat dengan perahu motor, akhirnya kini giliran Enju. Enju berangkat dengan menggunakan kapal pribadi nya yang ia gunakan untuk menjemput keisya kemarin.
Saat sedang di kapal Enju, Enju memerintah Nana untuk menjaga keisya saat kapal sedang berlayar maupun saat sudah sampai di pelabuhan. Sedangkan keisya sedang berada di atas kapal, ia berada di sana karena ingin menikmati udara yang asing baginya.
"Jaga keisya dimana pun dia berada dan jika hilang lagi awas kau" ucap Enju mengancam.
"Iya bos maaf" jawab Nana lalu pergi ke atas kapal dimana keisya berada.
"Kamu lagi ngapain disini? ayo masuk ke dalam nanti masuk angin" ucap Nana. Nana berkata seperti itu karena ia takut jika keisya sakit lagi maka dirinya harus bertanggung jawab sepenuhnya.
Tentu saja keisya tak mau untuk masuk ke dalam karena ia terlalu bosan. Kalau dia masuk pun pasti Nana menyuruhnya untuk masuk ke dalam kamar lagi.
"Ga mau. Aku bosan di dalam mending disini soalnya aku tak pernah merasakan udara seperti ini" jawab keisya menolak. "Nanti kalau kamu sakit aku yang kena keii" batin Nana seketika dengan wajah kesal.
"Yasudah deh kalau kedinginan langsung masuk ya, kan ku siapkan makanan dan minuman hangat jadi masuklah" ucap Nana.
Udara laut yang bebas itu mengingatkan dirinya bahwa ia tak pernah bebas selama ini. Nana terus menuruti perintah atasannya, jika ia tak menurutinya ia akan "usai". Jika Nana keluar dari semuanya juga ia tak akan mendapatkan pekerjaan lagi karena pasti Enju telah mengatur semuanya.
"Huh" hembusan nafas lelah Nana.
"Ada apa na? kamu terlihat seperti lelah sekali" tanya keisya.
"Aa.. tidak aku hanya sedikit menikmati pemandangan ini, sudah lama aku tak menikmatinya. Oh iya lihat itu, pulau terkecil di dunia ini indah bukan?" jawab dan tanya Nana sambil menunjuk ke arah sebuah pulau terkecil di dunia.
Pulau itu sangat kecil sampai sampai dari ujung ke ujungnya terlihat dari atas kapal Enju. Pulau itu tak berpenghuni karena saking kecilnya dan bahayanya.
"Indah tapi menyeramkan sekali" jawab keisya takut. Tiba tiba ada suara tembakan yang berasal dari pulau itu. *dor*
"Menunduk!" ucap Nana sambil menundukkan kepalanya dan kepala keisya.
"Ada apa na?" Tanya keisya bingung.
"Diam dan ayo merangkak turun untuk menuju ke bos Enju" jawab Nana. Seketika keisya pun mengangguk lalu merangkak turun lalu menuju ke tempat dimana Enju berada saat itu.
Sesampainya di tempat itu, keisya langsung berdiri lalu memeluk Enju.
"Ada apa sayang?" tanya Enju sambil menaikkan alisnya yang bertanda bertanya.
"Cepat menjauh dari pulau itu sejauh jauhnya, aku akan menyingkirkan mereka" ucap Nana.
"Baik" ucap nahkoda pribadi Enju.
"Sial cepat, dan bawa benda asap tebal itu. Nahkoda setelah Nana mengeluarkan asap tebal itu, segera pergi secepatnya." ucap Enju.
"Baik" jawab nahkoda pribadi Enju. Beberapa bawahan Enju dan Nana pun naik lagi sambil membawa sniper dan benda yang mengeluarkan asap tebal. *Dor* suara tembakan dari Nana mengenai salah satu dari mereka, lalu di susul dengan tembakan beberapa bawahan Enju yang lain.
Tembakan dari pulau itu masih ada, jadi Nana memutuskan untuk mengeluarkan asap tebal untuk kabur. Setelah mendapatkan sinyal, nahkoda itu pun langsung menyuruh para penumpang untuk tak berdiri karena kapalnya akan melaju dengan cepat.
"Baiklah duduk kalian semua dan berpegangan lah kalau tidak..." ucap nahkoda itu sambil mengemudikan kapal dengan kecepatan tinggi. Tak lama kemudian, keisya tiba tiba bertanya pada Enju.
"Sayang apa yang sebenarnya terjadi?, dimana Nana?" tanya keisya yang menghawatirkan keadaan Nana yang masih berada di atas kapal.
Enju langsung merasa bersalah sekali karena masalah selalu menghampiri tunangannya, keisya. Enju pun mau tak mau harus menahan tangisannya supaya tak terlihat seperti lelaki lemah.
"Tak apa, sudah aman sekarang. Maaf ya sayang kamu terus menerus terlibat dalam masalah ku" jawab Enju sambil memeluk keisya seerat-eratnya dan matanya berkaca-kaca. Mereka pun berhasil kabur tanpa ada pengejaran.
Bagi yg punya uang lebih silahkan..
https://trakteer.id/lyaak/tip?.open\=true