
"Sakitnya kambuh, jadi Keisya pagi pagi langsung ke kamar dokter dengan muka panik dan keringat dingin haha" jawab Nana.
"Naa..." ucap Keisya malu.
"Kenapa? bener kan seperti itu haha, mukanya lucu banget" tanya Nana. Mereka pun tertawa terbahak-bahak kecuali Keisya yang malu. Toji pun segera menghentikan ketawanya lalu menyuruh mereka untuk makan.
"Hahaha sudah sudah, ayo sarapan lalu setelah itu cek keadaan Enju. Keisya, nanti kamu bawakan sarapan juga ya buat suamimu" ucap Toji.
"Iyaa yah, pasti" jawab Keisya.
"Loh? sudah memanggil ayah saja nih? sejak kapan pak?" tanya Nana.
"Sejak Enju memperkenalkannya kepada saya dan ibu" jawab Toji.
"Wah baru di kenalin langsung di kasih restu dong, bos memang dah" ucap Nana.
"Tentu saja, kamu seperti tak mengenalku saja. Sudah sarapan dulu nanti di lanjutkan lagi sambil menunggu Enju" jawab Toji.
"Baik" balas Nana dan Barra. Mereka semua pun makan dengan lahap, apalagi Keisya.
Setelah selesai makan, mereka menuju ke kamar Enju sambil membawakan sarapan juga. Sarapan yang sangat sehat supaya bisa memulihkan kondisi tubuh Enju yang kehilangan banyak darah itu. Sesampainya di kamar Enju, ternyata dokter sudah selesai mengobati Enju sampai nafas Enju kembali stabil lagi seperti biasa.
"Dok, bagaimana kondisinya?" tanya Toji.
"Lukanya kembali terbuka lagi pak, saya sarankan di rawat di rumah sakit. Jika di rumah sakit kemungkinan sembuh akan lebih cepat" jawab dokter.
Toji pun langsung duduk di sofa sambil memikirkan rencana kedepannya supaya Enju cepat kembali pulih dan aman.
"Lukanya kembali terbuka lagi pak, saya sarankan di rawat di rumah sakit. Jika di rumah sakit kemungkinan sembuh akan lebih cepat" jawab dokter.
Toji pun langsung duduk di sofa sambil memikirkan rencana kedepannya supaya Enju cepat kembali pulih dan aman. Sedangkan Keisya dengan paniknya menghampiri Enju. Keisya hampir meneteskan air matanya, tapi Enju tiba tiba sadar dari pingsan nya.
"Sayang.. jangan nangis.." Ucap Enju.
"Habisnya kamu jadi seperti ini, apa yang sebenarnya terjadi sih?!!" jawab dan tanya Keisya berteriak kesal sambil menangis.
"Maaf sayang. Tak ada apa apa kok, ini juga hanya luka kecil kok" jawab Enju.
"Luka kecil?, lantas mengapa dokter berkata seperti itu tadi?. Kamu juga sering merasa kesakitan mulu" tanya Keisya.
Nana pun menghampiri Keisya dan mengajak Keisya tuk keluar, untuk memberi kesempatan Toji, Barra dan Enju berbicara enam mata. Mereka bertiga ingin berdiskusi apa yang sebaiknya mereka lakukan. Mereka harus melakukan dengan tepat supaya tak salah langkah, apalagi ketinggalan langkah.
"Jadi..?" tanya Barra.
"Kita akan membawa Enju ke rumah sakit VIP dengan pengamanan yang ketat, kali ini jangan sampai ada penghianat lagi. Saya akan berusaha" jawab Toji.
"Tapi pak, bagaimana cara mengecek mereka semua benar benar penghianat atau bukan? jika di cek satu persatu pasti lama nanti akan memerlukan waktu banyak. Sedangkan Bos.." tanya Barra khawatir dan panik.
"Tenanglah, beri saya waktu" jawab Toji.
Mereka bertiga pun diam untuk memikirkan rencana selanjutnya. Toji memiliki ide untuk membawa dokter terbaik yang pernah ia kenali dan ia percaya untuk datang ke rumah Enju dengan membawa beberapa peralatan. Peralatan rumah sakit yang canggih itu akan mereka gunakan untuk mengobati Enju.
"Apa?!" tanya Barra tak percaya.
"Iya seperti itu, tak ada cara lain. Jika kita membawa Enju ke rumah sakit, dokter atau suster palsu akan gampang menyerang Enju dan salah satu dari dua wanita itu" jawab Toji.
"Baiklah, saya akan bantu memindahkan peralatan mereka" balas Barra.
Toji pun keluar kamar lalu menghubungi mereka. Dengan hati yang hancur ia harus menemukan cara untuk melindungi anak anaknya. Anak anak Toji tak hanya Enju saja, melainkan semua bawahan Enju dan bawahannya dan tentu saja Keisya juga termasuk. Toji merasa bahwa dirinya telah gagal melindungi orang terdekatnya. Tiba tiba Keisya datang menghampiri Toji.
Toji pun dengan kaget nya mengusap air mata yang ada di pipinya.
"Tidak ada apa apa kok, sudah ayah mau keluar dulu ya. Kamu masuk saja ke kamar, suamimu pasti cepat sembuh. Jadi bersabarlah ya" jawab Toji.
"Baik yah.. ayah jaga diri ya" ucap Keisya.
"Pasti. Na tolong suruh Barra untuk ke luar sekarang ya" jawab Toji.
"Baik.." balas Nana.
Toji pun pergi ke luar rumah untuk menenangkan dirinya dan sambil menunggu dokter. Dokter lain yang sedang menuju ke rumah Enju sambil membawa beberapa peralatan medis. Setelah beberapa saat, Barra pun datang. Barra merasa bahwa Toji perasaannya sedang berantakan, jadi ia menawarkan suatu benda untuk dihisap Toji.
"Nih, tenangkan diri anda" ucap Barra sambil menyerahkan benda itu.
"Ya, terima kasih" jawab Toji lalu mengambil benda itu dari tangan Barra. Toji pun ikut menghisap benda itu dengan tenang. Setelah beberapa menit kemudian, mobil hitam pun tiba tiba datang. Mobil itu membuat heboh bawahan Enju dan Toji.
"Oh, sepertinya sudah sampai" ucap Toji.
"Bapak sudah memberikan kabar mereka kalau dokter akan datang?" tanya Barra.
"Sial, aku lupa. Cepat ke sana dan tenang kan mereka. Sniper di atas tak akan tinggal diam" Jawab Toji.
"Baik" balas Barra
Barra pun lari menuju gerbang. Barra tak hanya lari, ia juga memberikan kode untuk sniper supaya mereka tak menembak dokter dokter itu. Setelah itu, Barra menghampiri mereka untuk mempersilahkan masuk. Para bawahan Enju dan Toji tak percaya, karena mereka hanya menuruti perintah Enju dan Toji saja. Toji hanya melihat dari kejauhan, ia segera menghampiri mereka sebelum keadaan semakin kacau.
"Saya yang memerintah Barra untuk mempersilahkan mereka masuk. Saya juga yang memanggil mereka" ucap Toji.
"Ba-baik. Maafkan kami pak!" jawab semua bawahan Enju dan Toji.
Gerbang pun di buka, dokter beserta mobilnya masuk ke halaman rumah Enju. Seperti kata Barra, ia membantu mereka untuk memindahkan barang-barang medis yang mereka bawa. Disisi lain, di kamar Enju.
"Sayang, aku pasti sembuh ya, jadi jangan khawatir ya? Biar kita nikahnya bisa bahagia" ucap Enju menenangkan Keisya.
"Iya, pasti sembuh" balas Keisya. Tiba tiba Nana mengajak Keisya tuk keluar.
"Sepertinya sudah waktunya, ayo keii ikut aku. Mereka akan segera datang" Ucap Nana.
"Apa? mau kemana?" Tanya Keisya.
"Sudah ikut saja, Kamu mau bos cepet sembuh kan?" tanya Nana.
"Mau.." jawab Keisya.
"Maka dari itu ikut aku" balas Nana.
"Sayang aku.." ucap Keisya ragu.
"Sudah ikut saja, jangan sedih ya?" Jawab dan tanya Enju sambil mengecup kening Keisya.
"Iyaa, sampai jumpa nanti" ucap Keisya lalu pergi mengikuti Nana keluar kamar.
Enju hanya tersenyum melihat Keisya yang pergi meninggalkannya.
Bagi yang mau ajaa.. https://trakteer.id/lyaak/tip?.open\=true