My Big Boss Is My Husband

My Big Boss Is My Husband
Eps. 92 Keisya Jatuh.



Enju ingin segera memeluk Keisya tuk mengobati kesakitan yang di alaminya itu, namun Keisya tak segera mendekatinya.


"Sini sayang.." ucap Enju. Keisya semakin dekat dengan Enju, tiba tiba ia merasa pusing dan badannya terasa berat. Tak lama setelah itu Keisya terjatuh dan pingsan, mereka bertiga pun panik lalu Nana segera memanggilkan dokter yang masih berada di ruang tamu itu. Sedangkan Barra mengangkat Keisya tuk tidur di samping Enju. Dokter itu segera berlari menuju kamar Enju lalu memeriksa kondisi tubuh Keisya. Enju terus memanggil nama Keisya namun tak ada jawaban. Tiba tiba Enju meneteskan air mata sambil menggoyangkan tubuh Keisya dan memanggil namanya.


"Dok bagaimana kondisinya?" tanya Enju.


"Beliau hanya mengalami shock tak ada luka serius. Anda juga tak boleh terlalu banyak bergerak ya" jawab dokter.


"Baik.." balas Enju.


"Baiklah saya permisi dulu, jika sudah sadar tolong kasih minum" ucap dokter itu.


"Baik terimakasih" jawab Nana.


Dokter itu pun keluar dari kamar Enju lalu ia kembali ke ruang tamu. Sedangkan Enju masih terus memanggil nama Keisya. Nana merasa bahwa ia harus menghentikan itu karena Enju tak boleh terlalu banyak bergerak, namun Enju batu.


"Sudah bos jangan terlalu banyak bergerak nanti lukanya berbuka lagi" ucap Nana.


"Tapi Keisya.." jawab Enju.


"Keadaan yang lebih penting adalah keadaan anda bos, ayo lah" ucap Barra.


"Baiklah, tolong ambilkan 2 gelas air putih di dapur" jawab Enju.


"Baik" balas Barra lalu ia ke dapur untuk mengambil air putih tuk Enju dan Keisya.


******


Sedangkan di sisi lain, Keisya pun akhirnya terbangun. Perasaan Enju tentu saja membaik karena saat Keisya masih belum sadarkan diri, ia berfikir kemana mana tentang Keisya.


"Sayang akhirnya kamu sadar juga" ucap Enju.


"Ada apa?" tanya Keisya.


"Kamu tadi habis pingsan setelah masuk ke kamar, ada apa denganmu? ada masalah? dan hadap lah kesini" jawab dan tanya Enju.


"Maaf aku sudah merepotkan mu lagi, aku baik baik saja" jawab Keisya.


"Syukurlah, sekarang minumlah dulu lalu tenangkan dirimu" ucap Barra tiba tiba datang sambil membawakan 2 gelas air.


Keisya dan Enju segera meminumnya sampai habis. Enju masih penasaran kenapa Keisya tak menatap wajah nya itu.


"Sayang kenapa kamu tak menatap calon suamimu ini?" tanya Enju.


"Tak apa, maaf" jawab Keisya. Tiba tiba Nana mendekati Enju lalu membisikkan sesuatu. "Bos mungkin Keisya tak ingin melihat badan bos yang hanya di lilit oleh perban saja" bisik Nana. Enju pun langsung sadar dan malah menggoda Keisya.


"Oh kamu tak mau melihat dada calon suamimu ini?" tanya Enju. Keisya hanya diam saja saat itu, ternyata pernyataan Nana salah.


Perasaan Keisya saat itu tak dapat di tebak oleh siapa pun, tak ada yang tau perasaan Keisya saat itu. Enju pun memerintah sepasang kekasih yang belum halal itu tuk meninggalkan merek berdua.


"Kalian boleh tinggalkan kami berdua? ada yang ingin ku sampaikan padanya" tanya Enju.


"Baik kami akan pergi, ayo sayang" ucap Barra lalu pergi bersama Nana. Kini hanya ada Keisya dan Enju yang berada di kamar Enju. Enju hanya ingin mengetahui semua perasaan Keisya yang selama hidupnya ini di sembunyikan dari semua orang.


Sebelum mereka akan menikah, Enju ingin mengetahui semuanya. Keisya pun meminta waktu untuk memikirkannya lagi, Enju tentu saja memberinya karena Enju pernah berada di posisi itu. Setelah beberapa menit hening untuk Keisya memikirkannya, akhirnya Keisya berbicara yang sebenarnya.


"Sebenarnya aku pernah melihat luka itu saat seseorang itu menyelamatkanku, saat itu aku gemetar ketakutan. Jadi aku dulu pernah tinggal sebentar di rumah orang asing yang baik sekali padaku. Di sana aku di perlakukan seperti anak beliau sendiri, namun semua berubah setelah beliau menceritakan tentang kehidupannya yang membuatku takut. Di saat itu juga beliau tewas karena tiba tiba ada sosok hitam yang datang ke rumah beliau lalu beliau mengalami luka yang sama seperti mu. Beliau tak sempat menyelamatkan dirinya sendiri, ia malah menyelamatkanku. Namun setelah itu ingatan tentang semuanya hilang karena aku sempat mengalami benturan karena kecelakaan" Ucap Keisya.


"Lalu siapa yang menceritakan ke kamu kalau kamu mengalami kecelakaan?" tanya Enju.


"Ibu panti yang baik" jawab Keisya.


Di saat itu juga beliau tewas karena tiba tiba ada sosok hitam yang datang ke rumah beliau lalu beliau mengalami luka yang sama seperti mu. Beliau tak sempat menyelamatkan dirinya sendiri, ia malah menyelamatkanku. Namun setelah itu ingatan tentang semuanya hilang karena aku sempat mengalami benturan karena kecelakaan" Ucap Keisya.


"Lalu siapa yang menceritakan ke kamu kalau kamu mengalami kecelakaan?" tanya Enju.


"Ibu panti yang baik" jawab Keisya.


Keisya pun kembali diam dan suasana kembali hening seperti semula. Enju merasa bersalah karena telah memanggil Keisya tuk menemuinya. Benar kata Nana kalau Keisya di sana lebih aman.


"Sayang bisakah kamu lebih terbuka kepada ku lebih dari ini?" tanya Enju.


"Bisa.. kan aku juga mau jadi istrimu, tapi aku tak yakin bisa" jawab Keisya.


"Nanti minta ajarin ibu pasti bisa" balas Enju.


"Baiklah, dan sekarang giliran kamu untuk menceritakan kepadaku. Kenapa kamu bisa mendapatkan luka itu?" tanya Keisya.


"Ukh.. sial.. Kalian berdua masuklah dan panggilkan dia" ucap Enju. Nana pun masuk sedangkan Barra memanggil dokter itu.


Keisya pun panik karena setelah ia berkata seperti itu. Dokter pun datang dan segera memeriksa keadaan Enju. Ternyata lukanya kembali terbuka, ia pun di marahi oleh Nana.


"Dih.. kan sudah di bilangin kalau jangan kebanyakan bergerak masih saja bergerak, mentang-mentang Keisya ada di sini. Batu si kan terbuka lagi" ucap Nana.


"Sudah sudah sayang" balas Barra.


"Bisa kalian keluar sebentar? saya ingin memperbaiki perbannya" tanya dokter itu.


"Baik dok.. maaf yaa" ucap Barra sambil mendorong Nana tuk keluar. Mereka berdua pun keluar kecuali pasien satu lagi, Keisya.


Dokter itu pun memperbaiki perban itu serta mengobatinya. Sedangkan disisi lain Toji datang kembali dari luar.


"Bapak? darimana saja?" tanya Nana.


"Maaf ada sedikit kerjaan" jawab Toji.


"Ohh baiklah" balas Nana.


"Kenapa kalian bertiga di luar?" tanya Toji.


"Saya dan Barra sedang menunggu dokter itu mengobati bos, lukanya kembali terbuka. Dia ku perintahkan untuk menjaga Keisya di sini, karena sosok itu.." jawab Nana.


"Huss sudah.." balas Toji. Tak lama setelah itu dokter pun memanggil Barra, Nana, dan Toji tuk masuk kembali.


Tak hanya Nana yang marah ke Enju karena lukanya terbuka kembali, sebagai seorang ayah, Toji juga memarahi nya. Karena Keisya tak tau, jadi ia diberitahu bahwa ia harus melarang Enju tuk bergerak.


"Tuhkan sakit kan, mangkanya kalau jadi anak tu nurut sama yang lebih tua" ucap Toji sambil menjewer telinga Enju.


"Iyaa yahh maaf" jawab Enju.


"Nona, nona sebaiknya larang beliau tuk bergerak ya" ucap dokter itu.


"Baik, terimakasih sudah mengobatinya" jawab Keisya merasa bersalah.


"Sama sama, saya permisi dulu" balas dokter itu lalu pergi ke ruang tamu lagi.


Bagi yang mau ajaa..


https://trakteer.id/lyaak/tip?.open\=true