My Big Boss Is My Husband

My Big Boss Is My Husband
Eps. 93 Kembali terbuka.



.... Di saat itu juga beliau tewas karena tiba tiba ada sosok hitam yang datang ke rumah beliau lalu beliau mengalami luka yang sama seperti mu. Beliau tak sempat menyelamatkan dirinya sendiri, ia malah menyelamatkanku. Namun setelah itu ingatan tentang semuanya hilang karena aku sempat mengalami benturan karena kecelakaan" Ucap Keisya.


"Lalu siapa yang menceritakan ke kamu kalau kamu mengalami kecelakaan?" tanya Enju.


"Ibu panti yang baik" jawab Keisya.


Keisya pun kembali diam dan suasana kembali hening seperti semula. Enju merasa bersalah karena telah memanggil Keisya tuk menemuinya. Benar kata Nana kalau Keisya di sana lebih aman.


"Sayang bisakah kamu lebih terbuka kepada ku lebih dari ini?" tanya Enju.


"Bisa.. kan aku juga mau jadi istrimu, tapi aku tak yakin bisa" jawab Keisya.


"Nanti minta ajarin ibu pasti bisa" balas Enju.


"Baiklah, dan sekarang giliran kamu untuk menceritakan kepadaku. Kenapa kamu bisa mendapatkan luka itu?" tanya Keisya.


"Ukh.. sial.. Kalian berdua masuklah dan panggilkan dia" ucap Enju.


Nana pun masuk sedangkan Barra memanggil dokter itu. Keisya pun panik karena setelah ia berkata seperti itu. Dokter pun datang dan segera memeriksa keadaan Enju. Ternyata lukanya kembali terbuka, ia pun di marahi oleh Nana.


"Dih.. kan sudah di bilangin kalau jangan kebanyakan bergerak masih saja bergerak, mentang-mentang Keisya ada di sini. Batu si kan terbuka lagi" ucap Nana.


"Sudah sudah sayang" balas Barra.


"Bisa kalian keluar sebentar? saya ingin memperbaiki perbannya" tanya dokter itu.


"Baik dok.. maaf yaa" ucap Barra sambil mendorong Nana tuk keluar.


Mereka berdua pun keluar kecuali pasien satu lagi, Keisya. Dokter itu pun memperbaiki perban itu serta mengobatinya. Sedangkan disisi lain Toji datang kembali dari luar.


"Bapak? darimana saja?" tanya Nana.


"Maaf ada sedikit kerjaan" jawab Toji.


"Ohh baiklah" balas Nana.


"Kenapa kalian bertiga di luar?" tanya Toji.


"Saya dan Barra sedang menunggu dokter itu mengobati bos, lukanya kembali terbuka. Dia ku perintahkan untuk menjaga Keisya di sini, karena sosok itu.." jawab Nana.


"Huss sudah.." balas Toji.


Tak lama setelah itu dokter pun memanggil Barra, Nana, dan Toji tuk masuk kembali. Tak hanya Nana yang marah ke Enju karena lukanya terbuka kembali, sebagai seorang ayah, Toji juga memarahi nya. Karena Keisya tak tau, jadi ia diberitahu bahwa ia harus melarang Enju tuk bergerak.


"Tuhkan sakit kan, mangkanya kalau jadi anak tu nurut sama yang lebih tua" ucap Toji sambil menjewer telinga Enju.


"Iyaa yahh maaf" jawab Enju.


"Nona, nona sebaiknya larang beliau tuk bergerak ya" ucap dokter itu.


"Sama sama, saya permisi dulu" balas dokter itu lalu pergi ke ruang tamu lagi.


Sedangkan di kamar Enju suasana nya masih senang semua setelah kejadian itu.


"Kalau bos masih tak mau mendengarkan omongan mu, jewer saja dia" ucap Nana.


"Boleh sayang?" tanya Keisya.


"Haha keii jangan tanya ke korbannya juga.. sudah jewer saja" ucap Nana.


"Boleh saja asal jangan keras" jawab Enju.


"Baiklah" balas Keisya.


"Sudah biarkan mereka istirahat, ayo ikut saya Nana dan Barra" ucap Toji.


"Baik.. dah ya keii" jawab Nana.


"Iyaa dah terimakasih" balas Keisya.


Mereka bertiga pun pergi dengan mengikuti Toji. Karena Keisya tak tau, jadi ia diberitahu bahwa ia harus melarang Enju tuk bergerak.


"Tuhkan sakit kan, mangkanya kalau jadi anak tu nurut sama yang lebih tua" ucap Toji sambil menjewer telinga Enju.


"Iyaa yahh maaf" jawab Enju.


"Nona, nona sebaiknya larang beliau tuk bergerak ya" ucap dokter itu.


"Sama sama, saya permisi dulu" balas dokter itu lalu pergi ke ruang tamu lagi.


Sedangkan di kamar Enju suasana nya masih senang semua setelah kejadian itu.


"Kalau bos masih tak mau mendengarkan omongan mu, jewer saja dia" ucap Nana.


"Boleh sayang?" tanya Keisya.


"Haha keii jangan tanya ke korbannya juga.. sudah jewer saja" ucap Nana.


"Boleh saja asal jangan keras" jawab Enju.


"Baiklah" balas Keisya.


"Sudah biarkan mereka istirahat, ayo ikut saya Nana dan Barra" ucap Toji.


"Baik.. dah ya keii" jawab Nana.


"Iyaa dah terimakasih" balas Keisya. Mereka bertiga pun pergi dengan mengikuti Toji.


Saat ini hanya Keisya dan Enju yang berada di kamar dengan suasana yang kembali hening.


"Sayang boleh ceritakan kenapa kamu bisa mendapatkan luka itu?" tanya Keisya.


"Maaf, tapi jangan dulu" jawab Enju.


"Baiklah, sudah istirahat sana" ucap Keisya.


"Iyaa kamu juga" jawab Enju. Mereka berdua pun tidur dengan suasana hening. Sedangkan disisi lain Toji, Barra, Dan Nana sedang diskusi sedikit untuk mengalahkan sosok itu kembali. Mereka masih belum mengetahui siapa sosok itu sebenarnya, Nana juga memberikan sedikit informasi kepada Toji mengenai sosok hitam itu.


Nana melihat sosok hitam itu seperti wanita dan Nana juga melihat ia meneteskan air mata saat melawan Nana. Toji mengambil alih posisi Enju sebagai pemerintah bawahannya. Toji merasa bersalah karena ia datang telat ke rumah Enju jadi ia harus mengambil alih posisi Enju. Akhirnya setelah beberapa menit berlalu, mereka mendapatkan jawabannya. Jawaban bagaimana mereka bisa mengalahkan sosok hitam itu. Tapi dengan sedikit informasi mengenai sosok itu, mereka tak bisa mengetahui siapa dia. Tak lama dari itu, akhirnya sosok itu kembali datang di taman rumah Enju.


Sosok itu tak hanya 1 kali ini tapi ada 3. Sosok yang sama dengan yang sudah di lawan oleh Nana dan Barra dan 2 sosok lainnya.


"Akhirnya kau datang kembali, wow mereka rekanmu kah? wanita" ucap Nana.


"Benar katamu na, dia wanita" ucap Enju.


"Haha tentu saja, mataku kan jeli" balas Nana. Tiba tiba salah satu sosok hitam itu menyerang Toji dan 2 sosok lainnya menyerang bawahan Enju. Nana kembali di buat marah oleh mereka, ia masih belum selesai berbicara malah mereka potong. Toji melawan sosok hitam wanita itu sedangkan Nana dan Barra membantu bawahan Enju yang diserang rekan wanita itu.


"Siapa kau sebenarnya?.." tanya Toji dengan suara pelan sambil melawan sosok itu.


"Maafkan aku" jawab sosok itu.


"Fina?, apa kau Fina?" tanya Toji.


"Maaf pak.." jawab sosok itu dengan masih menyerang Toji habis habisan. Sesuai kata Nana, sosok itu kembali meneteskan air matanya sambil melawan Toji.


"Ada apa sebenarnya? jawab aku FINA!" tanya Toji dengan berteriak. Karena Toji berteriak dan pasti Nana mendengarnya, sosok itu pun mundur bersama rekannya. Toji juga memerintah pihaknya untuk mundur dan memerintah mereka untuk tak melawan sosok wanita itu.


"Kenapa pak?" tanya Nana.


"Barra, bawa Nana ke dalam dan jangan biarkan dia keluar" perintah Toji.


"Apa?" tanya Nana.


"Maaf sayang" jawab Barra sambil mengendong Nana lalu membawanya ke dalam rumah lalu ia mengunci pintu.


"Ada apa sebenarnya? mengapa semua tiba tiba seperti ini" tanya Nana.


"Maaf sayang tapi aku tak bisa melawan perintah bapak" ucap Barra.


"Ya" jawab singkat Nana lalu ia duduk di sofa sambil menggerutu.


Bagi yang mau ajaa..


https://trakteer.id/lyaak/tip?.open\=true