
Enju memerintah pria itu datang ke ruangannya dengan tujuan memecat pria tersebut supaya tak ada korban lagi.
"Baik" jawab pria itu takut di pecat.
Enju pun menyusul Keisya ke ruangan yang sudah di siapkan. Sesampainya di ruangan tersebut, Enju melihat Keisya yang sedang meringkuk ketakutan di sofa dekat pintu. Enju pun ingin segera menenangkan Keisya dengan cara memeluknya. Tapi Keisya malah semakin ketakutan karena Enju tiba tiba masuk lalu memeluk dirinya. Enju pun membisikkan sesuatu supaya membuat Keisya lebih tenang.
Enju membisikan "Sayang ini aku" dengan sangat lembut. Untung saja ketika selesai membisikan kata-kata itu Keisya langsung memutar badannya untuk menghadap ke Enju lalu memeluk Enju dengan sangat erat.
"Maaf ya sudah membuatmu takut, tapi sekarang sudah tak apa" ucap Enju.
Keisya diam membisu karena sangat takut, ia hanya menganggukkan kan kepala sebagai tanda bahwa dia sudah mengerti.
"Ayo sayang mau di bantu bagian mananya? aku sudah siap membantu" tanya Enju.
Keisya tetap diam ia malah semakin erat memeluk Enju.
Enju pun memeluk kembali Keisya dengan erat lalu membisikkan sesuatu lagi.
"Yasudah kalau kamu mau begini, sampai kamu lelah pun tak apa" bisik Enju.
Keisya kembali menganggukkan kepalanya sebagai tanda ia mengerti lagi. Keisya dan Enju berpelukkan sampai Keisya tertidur. Saat Keisya tertidur Enju pun menyelesaikan tugas yang menurut Keisya susah dan hendak di tanyakan ke Enju. Enju mengerjakan dnegan sangat cepat karena ia bisa mengerjakan semua tugas yang di berikan ke para karyawannya. Beberapa jam pun berlalu, Enju ingat bahwa ia memiliki janji dengan pria itu.
Enju ingin bertemu dengan pria itu dnegan tujuan memecatnya. Enju pun langsung ke ruangannya tanpa memberitahu Keisya karna tak enak membangunkan Keisya yang pulas. Sesampainya di ruangannya Enju melihat pria itu sudah datang dengan percaya diri.
"Ada apa pak?" tanya pria itu.
"Kau di pecat" jawab Enju.
"Ke-kenapa pak? saya tak melakukan apa apa" ucap pria itu tak merasa bersalah.
"Kau perlu ku antar ke polisi juga? dengan bukti bukti yang saya sudah kumpulkan" ancam Enju hendak menyerahkan pria itu ke pihak polisi yang Enju percayai.
Pria tersebut juga sangat berjasa di kantor Enju tapi sayang sekali Enju harus memecatnya supaya tak mencemari nama baik kantor dan nama baiknya.
"Jangan pak saya mohon jangan, cukup pecat saya saja" mohon pria itu merasa bersalah.
"Baiklah kau boleh pergi pria nakal" usir Enju.
"Maaf pak dan terimakasih" jawab pria itu.
Pria tersebut pun keluar dari ruangan Enju.
Sementara di sisi lain terlihat Keisya sedang kebingungan karena ia di tinggal sendirian di ruangan itu. Keisya seketika menangis karena ia masih takut soal tadi. Suara tangisnya pun sampai terdengar ke luar.
Di luar juga kebetulan Enju sedang berjalan menuju kembali ke ruangan itu. Enju juga mendengar suara itu, seketika ia langsung berlari menuju ke tempat dimana Keisya dan suara tangis itu berada.
"Heii kamu kenapa?" tanya Enju ngos-ngosan.
"Takut.." jawab keisya gemetar ketakutan.
"Tapi pekerjaan ku dan kamu.." jawab Keisya.
"Sudah selesai kok jadi kita bisa pulang bersama" ucap Enju mengajak.
"Yasudah ayo" jawab Keisya.
Keisya pun memutuskan untuk mengikuti kata Enju tuk pulang ke apartemen saja.
Mereka pun berjalan melewati para karyawan yang masih bekerja. Karena rumor yang di buat belum selesai dan semakin meluas, jadi saat Enju dan Keisya melewati mereka malah makin menjadi. Semua karyawan seketika berbisik satu sama lain. Akhirnya Enju menyadari nya bahwa karyawannya berbisik soal mereka setelah ada keributan tadi. Enju seketika membatin "Haduh Barra sekarang giliran mu, atau aku yang turun tangan?". Sesampainya di mobil Enju pun menyuruh Keisya untuk menunggu sebentar di mobil.
Enju tak ingin Keisya mendengar pembicaraan Enju dengan barra yang sedang membahas soal rumor yang menyangkut nama baik Keisya dan dirinya.
"Barra, tolong urus sisanya" perintah Enju.
"Baik" jawab Barra dan Barra seketika membatin "Haduh ada ada saja bos nih, untung ga mengungkap semuanya". Barra pun segera menyelesaikan semua nya sebelum jam kantor berakhir. Selesai menghubungi Barra, Enju pun kembali masuk ke dalam mobil untuk mengantar Keisya pulang. Tapi sebelum itu Enju ingin membawa Keisya ke tempat yang ingin Keisya kunjungi.
Karena Keisya masih takut jadi dia tak mau kemana mana, ia hanya ingin kembali ke apartemen nya saja.
"Keii kamu ada tempat yang ingin di kunjungi?" tanya Enju penasaran.
"Tidak ada, aku pengen kembali saja" jawab Keisya masih takut.
"Yakin?" tanya Enju.
"Ya, tolong antar aku kembali" jawab Keisya.
"Baiklah maaf" ucap Enju kecewa.
Karena mereka belum makan malam jadi Enju mampir ke sebuah restoran pizza untuk memesan beberapa makanan dari situ.
Perasaan keisya makin ga karuan saat Enju sedang mengantri. Keisya pun berkeringat dingin dan dirinya makin panik ketika di tinggal Enju untuk pergi ke dalam untuk memesan pizza. Keisya pun menangis, untung saja Enju sambil melihat black box. Setelah tau bahwa Keisya sedang menangis ketakutan, Enju seketika langsung menuju ke mobil untuk menemui Keisya. Tak perduli lagi dengan pizza nya, ia berlari menerobos segerombolan orang yang datang masuk ke restoran tersebut. Sesampainya di mobil Enju terlihat ngos-ngosan dan membuat Keisya kebingungan.
Keisya pun curiga ke Enju setelah di tanya oleh Enju kenapa ia bisa tau bahwa Keisya habis menangis tadi.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Enju.
"Gapapa ko, dan kamu kenapa terlihat lelah begitu?" jawab dan tanya Keisya.
"Hehe maaf, soalnya aku lari kemari" jawab Enju ngos-ngosan karena lari menuju mobil.
"Kamu lari?" tanya Keisya curiga.
"Iyaa soalnya firasat ku ga enak" jawab Enju bohong soal tau kalau Keisya habis nangis.
"Hmm gitu ya, oh iya mana pizza nya?" tanya Keisya penasaran karena tangan Enju kosong.
"Oh iya lupa, bentar ya sayang" jawab Enju lalu mengecup kening Keisya. Enju pun kembali masuk ke restoran tersebut, sedangkan Keisya menahan malu di mobil.