
Toji juga memerintah pihaknya untuk mundur dan memerintah mereka untuk tak melawan sosok wanita itu.
"Kenapa pak?" tanya Nana.
"Barra, bawa Nana ke dalam dan jangan biarkan dia keluar" perintah Toji.
"Apa?" tanya Nana.
"Maaf sayang" jawab Barra sambil mengendong Nana lalu membawanya ke dalam rumah lalu ia mengunci pintu.
"Ada apa sebenarnya? mengapa semua tiba tiba seperti ini" tanya Nana.
"Maaf sayang tapi aku tak bisa melawan perintah bapak" ucap Barra.
"Ya" jawab singkat Nana lalu ia duduk di sofa sambil menggerutu.
Sedangkan disisi lain, Enju mendengar suara berisik dari luar rumahnya. Enju pun segera bangun lalu berjalan menuju ruang tamu untuk mengintip dari jendela. Namun Enju tak kuat untuk berdiri apa lagi berjalan. Suara Enju yang kesakitan itu membangunkan Keisya. Keisya langsung bangun dan membantu Enju untuk kembali ke kasur, tapi Enju menolaknya. Enju hanya ingin ke ruang tamu bukan kembali ke kasur. Keisya pun mengantarkan Enju ke ruang tamu. Keisya tak mengizinkan penjaga itu tuk membantunya.
Tak di sangka oleh Enju, mereka malah bertemu dengan Barra, Nana, dan tentu saja dokter. Setelah Barra melihat Enju, ia segera menghampirinya lalu membantu Keisya tuk menuntun Enju tuk duduk di sofa.
"Kenapa kalian keluar?" tanya Nana.
"Maaf tapi dia mau keluar" jawab Keisya.
"Keii sudah ku bilang kan kalau jangan biarkan bos bergerak" ucap Nana.
"Maaf tapi.." jawab Keisya.
"Sudah, kalian ini berisik sekali" ucap Enju.
"Maaf, sini keii ikut aku" ucap Nana mengajak Keisya tuk kembali ke ruangan itu, untuk memberi kesempatan Barra menjelaskan keadaan kepada Enju.
Barra menjelaskan semenjak mereka keluar dari ruangan lalu bertemu dengan Toji dan keluar lagi bersama Toji sampai saat ini.
"Lalu sekarang ayah masih menahan mereka?" tanya Enju.
"Masih, bos anda sebaiknya tak mempunyai pikiran tuk keluar" jawab Barra.
"Iya iya ga mungkin aku keluar, sebaiknya kau bantu beliau. Biar aku dan kode 19 yang menjaga mereka berdua" ucap Enju.
"Baiklah, semoga disini aman" jawab Barra lalu ia keluar untuk membantu Toji.
"Pasti.. dah semoga berhasil" balas Enju lalu ia merintih kesakitan pada dadanya. Dokter yang hanya duduk diam di sofa langsung bangun dan membantu Enju tuk duduk.
Dokter itu juga langsung memarahi Enju karena terlalu banyak bergerak. Dokter itu khawatir jika Enju tak cepat sembuh karenanya, ia akan di bunuh oleh Toji. Tiba tiba 2 orang perempuan datang menghampiri Enju, 1 orang panik dan 1 orang biasa saja.
"Tidak apa apa, untung saja lukanya tak terbuka kembali" jawab dokter.
"Terimakasih dok. Ini hanya sedikit nyeri saja, nanti juga sembuh sendiri" balas Enju.
"Kalau anda tak banyak bergerak dan banyak istirahat pasti cepat sembuh, begitu pula sebaliknya" ucap dokter itu semakin khawatir dengan posisinya saat ini.
Enju pun merasa bersalah karena tak menuruti ucapan dokter itu dan tak menuruti ucapan 2 orang perempuan di depannya.
"Maaf boleh antarkan aku kembali ke kamar? sekarang aku sudah tau semuanya" ucap Enju
"Baiklah, ayo sayang" jawab Keisya. Keisya pun membantu Enju tuk berdiri lalu mereka berjalan menuju kamar. Langkah Enju terhenti tepat di samping telinga Nana. Enju membisikkan sesuatu kepada Nana. "Kau laporkan terus soal kejadian di depan" bisik Enju, lalu Nana mengangguk. Setelah itu Keisya dan Enju pun ke kamar, sedangkan Nana kembali duduk diam di sofa samping dokter. Nana tak hanya duduk diam, ia sekali kali melihat kearah luar lewat jendela ruang tamu. Nana juga mengamati pergerakan ketiga sosok hitam itu. "Siapa sebenarnya mereka? dan apa tujuannya? mengapa semua ini tiba tiba" batin Nana sambil mengepalkan tangannya. Nana hampir saja memukul jendela itu, tapi ia langsung sadar jika ia memukulnya pasti salah satu dari mereka datang menghampirinya. Sedangkan di sisi lain beberapa menit yang lalu, Barra datang ke arah Toji. Toji terlihat seperti sudah mengetahui siapa sebenarnya perempuan itu di mata Barra. Barra melihat Toji juga seperti melatih seseorang yang tak asing lagi di matanya. Saat Toji mundur, Barra Tak menyia-nyiakan kesempatan itu, ia menanyakan ke Toji siapa sebenarnya dia.
"Pak, siapa sebenarnya dia?" tanya Barra
"Kamu nanti pasti tau, dan jika sudah tau sebaiknya kau jangan beritahu Enju dan Nana" jawab Toji lalu ia kembali di serang oleh sosok hitam wanita itu. Barra pun mengamati sosok hitam wanita itu beberapa saat. Setelah itu ia memutuskan untuk membantu bawahan Enju yang hampir kalah karena kalah kekuatan. Barra kali ini menang kekuatan, Barra juga memerintah mereka yang lelah dan terluka untuk mundur.
"Mundur lah yang lelah dan terluka, biar saya yang melawan dia" ucap Barra.
"Baik" jawab semua bawahan Enju lalu mundur beberapa orang yang sudah tak kuat untuk di obati dan beristirahat. Sebelum Barra melawannya, ia mengajak berbicara sosok itu dan mengancamnya. Barra mengancam tapi setelah itu Barra malah di potong pembicaraan nya dengan di serang tiba tiba oleh sosok itu.
"Lihat tuh atasan mu, dia hampir kalah loh. Bagaimana jika kalian menyerah saja? percuma kalian melawan.. upss" ucap Barra lalu ia di serang sosok itu.
"Jangan harap kita menyerah, kita harus mendapatkan wanita itu" jawab sosok itu.
"Wanita itu? siapa maksudmu?" tanya Barra. Sosok itu pun mundur lalu berjalan maju perlahan-lahan sambil berbicara.
"Wanita yang memiliki darah campuran itu, jika di jual pasti mahal" jawab sosok itu lalu ia di lempari benda tajam oleh sosok wanita. Sosok wanita itu juga meneriakkan supaya sosok hitam di depan Barra itu tak membocorkan semuanya. Jika di biarkan begitu saja, ia bisa ketauan oleh Barra.
"Diam lah, jika tidak kau berurusan dengan ku bawahan lemah" ucap sosok wanita itu.
"Ba-baik" jawab sosok di depan Barra.
"Haha tipe suami takut istri nih.. dan kau di bilang lemah katanya" ucap Barra mengejek.
"Diam kau" jawab sosok itu lalu kembali menyerang Barra, namun serangan itu tak mengenai Barra sama sekali. Barra malah menghindari serangan seperti ia mengejek sosok hitam itu.
Barra terus melawan sosok hitam itu, begitu pun Toji sampai sosok hitam itu kelelahan. Sosok wanita yang di depan Toji pun memerintah sosok lain tuk mundur. Barra dan para bawahan Enju tak kan membiarkan mereka bertiga tuk kabur begitu saja.
"Mundur!" ucap sosok di depan Toji. Mereka bertiga pun mundur. Sebelum mereka kabur dengan sepenuhnya, sosok yang berada di depan Toji membisikan sesuatu kepadanya. "Jangan bilang ke mereka pak aku mohon terutama kakak" bisik sosok wanita itu lalu kabur dengan sempurna. Toji pun mengangguk lalu menghentikan Barra yang berniat untuk mengejar sosok wanita itu.
Bagi yang mau ajaa..
https://trakteer.id/lyaak/tip?.open\=true