My Big Boss Is My Husband

My Big Boss Is My Husband
Eps. 95 Kabur.



Sebelum mereka kabur dengan sepenuhnya, sosok yang berada di depan Toji membisikan sesuatu kepadanya. "Jangan bilang ke mereka pak aku mohon terutama kakak" bisik sosok wanita itu lalu kabur dengan sempurna. Toji pun mengangguk lalu menghentikan Barra yang berniat untuk mengejar sosok wanita itu. Barra tentu saja tak terima mereka tuk kabur begitu saja setelah salah satu dari mereka melukainya dan melukai Enju, bosnya.


"Jangan kau pikir tuk--" ucap Barra.


"Sudah biarkan, semua yang masih kuat ayo bangun lalu berjaga lagi!" perintah Toji. Para bawahan Enju itu pun langsung berdiri kecuali yang benar benar tak kuat untuk berdiri, apalagi melawan lagi. Setelah itu Toji kembali ke rumah Enju. Toji tak memperdulikan Barra yang menanyakan mengapa melepaskan ketiga sosok hitam itu. Setelah Toji masuk ke dalam rumah, ia melihat Nana yang berdiri di samping jendela sambil melipat kedua tangannya. Toji hanya melirik kearah Nana sebentar lalu membuang mukanya ke arah lain. Setelah itu Toji berbicara kepada dokternya.


"Dok tolong urus yang di depan" ucap Toji.


"Baik pak" jawab dokter itu lalu berdiri dan menuju ke depan untuk mengobati bawahan Enju yang sudah lemah. Setelah itu Toji ke kamar mandi tuk merenungkan semuanya. Toji sampai hampir menghancurkan wastafel milik Enju itu. Sedangkan disisi lain, Nana menanyakan soal sikap Toji yang seperti menyembunyikan sesuatu dari mereka berdua.


"Apa yang sebenarnya terjadi sayang? mengapa bapak seperti itu?" tanya Nana.


"Entah.., pertanyaan ku juga tak di jawab oleh nya. Bapak juga melepaskan mereka bertiga begitu saja" jawab Barra. Mereka berdua pun bingung dan pikirannya hanya memikirkan soal siapa sebenarnya perempuan itu. Sedangkan disisi lain Keisya dan Enju sedang asik mengobrol sambil bermain game supaya mereka tak bosan di kamar. Tiba tiba ada suara ketukan pintu dari luar, Enju pun panik sambil menutup game nya dan segera kembali ke posisi tidur. Sedangkan Keisya yang membuka pintunya.


"Siapa?" tanya Keisya sambil membuka pintu.


"Saya, bagaimana kondisi kalian?" jawab dan tanya Toji sambil ia masuk ke kamar Enju.


"Aku sudah mendingan" jawab Enju.


"Saya juga yah" jawab Keisya. Tiba tiba ada ketukan pintu lagi, Keisya pun membuka pintu itu. Ternyata yang datang kali ini adalah Nana dan Barra. Keisya pun bingung mengapa mereka semua berkumpul kembali di kamar.


Keisya juga bingung kenapa muka Toji dan Barra terlihat memar sedikit. Tiba tiba Enju menyuruh Keisya tuk melanjutkan bermain game tadi di laptop. Keisya pun menurutinya dan asik bermain game itu. Sedangkan mereka berempat mode serius.


"Jadi apa yang telah terjadi?" tanya Enju.


"Mereka kabur begitu saja" jawab Barra.


"Apa? kenapa kau--" balas Enju.


"Ayah yang membiarkan mereka kabur begitu saja. Wanita itu pemimpinnya" ucap Toji.


"Sebenarnya.." ucap Barra takut berbicara karena salah satu dari dua wanita yang akan mereka ambil berada di ruangan yang sama. Enju pun bangun dari tidurnya lalu duduk dan memerintah Barra untuk mendekat lalu membisikkan kepadanya. Barra pun menurutinya, ia membisikan soal wanita yang akan mereka ambil dari Enju. Supaya Nana tak mendengarnya, Toji mengalihkan perhatian dengan membicarakan topik lain selain keadaan di luar. Setelah Barra mengatakan semuanya, Enju pun ingin segera bangun dari tempat duduknya. Tapi lagi lagi lukanya itu menahannya, lukanya kembali nyeri tapi tak terbuka lagi. Toji langsung memarahinya karena Enju berkali kali mengabaikan saran dokter. Setelah itu Toji, Nana, dan Barra keluar dari ruangan Enju dan menuju ke kamar tamu.


"Kau ni batu banget si jadi anak, sudah tidur lah. Kasian Keisya jika lukamu semakin parah nak. Ingat masa depanmu" ucap Toji.


"Ba-baiklah, tapi mereka.." jawab Enju.


"Sudah diam nurut aja, sudah ayah mau istirahat juga. Kalian berdua juga istirahatlah. Disini kan banyak kamar" ucap Toji lalu ia keluar dari kamar menuju ke kamar lain.


"Baik, selamat beristirahat" jawab Barra.


"Kami pamit dulu ya, kalian istirahat juga, Jangan ada pikiran untuk keluar" ucap Nana lalu ia dan Barra keluar dari kamar dan menuju juga ke kamar tamu lainnya. Mereka semua pun istirahat, kecuali para penjaga di depan rumah Enju dan penembak jitu di atas gedung yang mengelilingi rumah Enju. Esok hari pun tiba, semua orang pun terbangun kecuali penjaga rumah. Di kamar Enju, Enju terlihat sedang kesusahan untuk bangun karena dadanya masih terasa sakit.


"Sial.. kenapa masih sakit si..." rintih Enju. Tiba tiba Keisya terbangun kaget.


"Tidak apa-apa" jawab Enju kembali kesakitan.


"Sebentar yaa.." ucap Keisya lalu keluar kamar dan memanggil dokter.


Tak di sangka saat keluar kamar, ia malah bertemu dengan Nana bukan dokter. Nana kaget dan panik ketika melihat Keisya panik.


"Keii kenapa?" tanya Nana.


"Dokter mana?" tanya Keisya.


"Di kamar nomer 3" jawab Nana lalu Keisya langsung berlari ke kamar nomor 3. Sesampainya di kamar nomor 3, Keisya mengetuk kasar pintu dengan kasar. *toktok


"Silahkan masuk.." ucap dokter. Keisya pun masuk dengan muka panik.


"Dok.. Enju lukanya sakit lagi" ucap Keisya.


"Baik, saya akan segera ke sana. Sebaiknya anda tak usah panik" jawab dokter. Beberapa detik kemudian, dokter itu pun mengikuti Keisya tuk ke kamar Enju.


Sesampainya di kamar Enju, dokter itu kaget karena Enju tidur terlentang tapi nafasnya tak stabil. Di kamar Enju juga ada Nana yang datang dahulu sebelum Keisya datang. Dokter itu pun segera memeriksa keadaan Enju. Nana yang tau cerita tentang trauma Keisya, ia segera mengajak Keisya tuk keluar kamar.


"Ayo keluar Mei, kita sarapan dulu" ucap nana.


"Tapi Enju.." jawab Keisya.


"Sudah tak apa" balas Nana. Saat di luar kamar, tiba tiba Toji datang dengan muka bingung. Sebelum Nana memberitahukan keadaan Enju, Nana mengajak mereka untuk ke dapur untuk sarapan. Sesampainya di dapur, ternyata ada Barra yang sedang memasak. Mereka tentu saja kaget karena Barra menggunakan pakaian serba hitam. Toji dan Nana pun langsung bergerak melindungi Keisya. Barra yang menyadari kedatangan mereka, ia segera berbalik ke belakang.


"Kalian kenapa?" tanya Barra.


"Habisnya kamu pakai pakaian serba hitam sih.., gimana kami ga kaget" jawab Nana.


"Maaf.. pakaian ku yang di rumah ini hanya tersisa ini" balas Barra nyengir.


"Barra.. kan bisa pinjam pakaian Enju dulu yang lain" ucap Toji heran dengan kelakuan Barra yang membuatnya terkejut juga. Untung saja itu Barra yang berpakaian serba hitam, jika itu sosok perempuan itu pasti Toji tak segan-segan membunuhnya. Walaupun di sana ada Keisya tetap saja ia akan membunuhnya karena seenaknya masuk tanpa permisi ke rumah Enju.


"Saya tak berani pak, sudah kalian segera sarapan sini" jawab Barra sambil menyiapkan beberapa minuman.


"Sakitnya kambuh, jadi Keisya pagi pagi langsung ke kamar dokter dengan muka panik dan keringat dingin haha" jawab Nana.


"Naa..." ucap Keisya malu.


"Kenapa? bener kan seperti itu haha, mukanya lucu banget" tanya Nana. Mereka pun tertawa terbahak-bahak kecuali Keisya yang malu.


Bagi yang mau ajaa.. https://trakteer.id/lyaak/tip?.open\=true