
Serius deh aku selesai ngetik ini pukul 02.35 pagi. Huaa jam segini belum tidur. Mentang-mentang tinggal di kota yang diberi julukan kota kalong jadinya ngalong mulu tiap malem:v Abis nih mata sulit bat meremnya. Duh bacot. Yaudah yuk baca masa lalu Elvano Arion Adinata
Happy Reading
.
.
.
Elvano Arion Adinata, putra tunggal Rendra Adinata dan Reva Oktaviani Adinata. Karena merupakan anak tunggal, Elvano begitu dimanja oleh keluarganya. Terutama dengan Rendra.
Namun semua itu berubah saat Elvano menginjak bangku SMP. Rendra, papanya itu mulai berubah. Papa-nya yang selalu mengantarnya sekolah kini tak lagi. Papa yang selalu mengajarinya, menanyakan hari-hari Vano di sekolah, mengusap rambut Vano dengan sayang dan masih banyak hal lagi, itu semua hanya tinggal di ingatan Vano.
Seperti saat Vano pulang dari sekolah. Hari itu adalah pengambilan rapor semester 1. Vano setia menunggu papanya untuk memperlihatkan piala dan piagam juara umum 1 yang di dapatkannya. Seperti sebelum-sebelumnya papanya akan sangat senang. Vano berusaha menghilangkan pemikiran buruknya tentang perubahan papanya. Bisa saja karena papanya kelelahan bekerja, bukan?
Pintu terbuka. Masuklah Rendra yang masih lengkap dengan pakaian kantornya. Segera saja Vano menghampiri papanya dengan semyum yang merekah.
"Pah! Lihat! Vano juara umum 1 lagi!" Jerit Vano kegirangan.
Tapi lihat? Tak sesuai ekspektasi Vano. Papa-nya tak seperti dulu yang akan memeluknya atau mengusap kepalanya dengan girang saat Vano menunjukkan piala-piala yang di dapatkannya di sekolah lalu menanyakan hadiah apa yang Vano inginkan. Kali ini papanya hanya ber-oh. Sontak senyum Vano luntur seketika. Tapi ia kembali memasang senyum untuk menyemangati dirinya.
"Pa! Papa akan memberikan hadiah apa untukku?" Tanya Vano sambil mengikuti langkah Rendra yang sedang membuka kancing di lengan kemejanya.
Langkah Rendra terhenti. Pria itu menatap anaknya datar. "Kamu sudah besar. Tak perlu hadiah!"
"Tapi Pa--"
"Tidak ada tapi-tapian!"
"Bagaimana kalau kita pergi liburan lagi Pa? Kita sudah jarang family time!" Bujuk Vano yang ikut melangkahkan kakinya mengikuti sang ayah menaiki tangga.
"Tidak Elvano! Papa sibuk!" Tolak Rendra.
"Apa Papa tidak bi--"
"Sekali tidak ya tidak!" Bentak Rendra sambil menepis tangan Vano hingga piala yang dipegangnya terhempas ke dinding dengan keras sebelum jatuh menggelinding di tangga.
Reva yang sedang memasak di dapur segera mematikan kompornya lalu keluar saat mendengar bunyi keras. Di dapatinya piala yang di dapatkan Vano karena juara umum 1 di sekolah. Reva langsung terngiang wajah anaknya di sekolah tadi yang sangat bahagia. Bahkan Vano sangat antusias dan tak sabar memperlihatkan pada Rendra.
Rendra dan Vano.... Reva segera mengangkat kepalanya hingga pandangannya jatuh pada tangga. Di sana terdapat Rendra yang menaiki setiap undakan tangga. Meninggalkan Vano yang mematung menatap tajam pialanya. Reva segera memungut piala yang sudah terbagi dua bagian itu.
"Kamu masuk kamar ya. Nanti Mama bantu perbaiki piala kamu ini," ucap Reva memberikan piala itu kepada Vano. Reva mengelus kepala Vano sebelum mengejar suaminya yang kelewatan itu.
Dapat Vano dengar suara kedua orang tuanya yang begitu ribut. Tak tahan akhirnya Vano segera keluar dari rumahnya. Dengan mengendarai sepeda pemberian papanya setahun yang lalu, Vano segera ke rumah Ivan.
Sejak saat itu Vano mulai pendiam jika di rumah. Ketika di sekolah ia tetao Elvano yang biasa. Tidak pendiam tapi tidak terlalu banyak bicara juga, pertengahan lah. Ia pun sudah mulai terbiasa tanpa kasih sayang dari papanya.
Papa-nya cuek? Ada kakek dari pihak mamanya yang selalu ada untuknya. Namun itu tak bertahan lama. Saat Vano dan kakeknya mengunjungi kantor papanya. Mereka mendapati Rendra berselingkuh dengan sekertarisnya.
Saat itu Vano semakin mengerti kenapa papanya berubah. Rupanya ada wanita lain selain mamanya. Fokus Vano teralih saat kakeknya mencengkeram lengannya dengan erat sebelum jatuh di lantai.
Kakek Vano yang memang memiliki riwayat penyakit jantung, meninggal dunia saat dilarikan ke rumah sakit. Pengkhianatan Rendra terhadap Reva sangat mengejutkan pria tua itu. Janji Rendra saat datang sendirian melamar Reva, ia akan membahagiakan Reva dan akan selalu setia pada Reva. Tapi apa? Pria yatim piatu itu melupakan janjinya.
"Papa jahat! Pembunuh!" Teriak Vano dengan air mata yang mengalir. Di lemparkannya foto papanya yang berbalut bingkai ke lantai hingga pecah. Papa-nya begitu kejam. Kakeknya meninggal karena papanya tapi papanya tidak merasa bersalah sama sekali. Bahkan pulang ke rumah saja tidak.
xxx---
Kini hanya Reva yang menemani Vano di rumah. Vano benar-benar kesepian. Ada teman-temannya. Tapi Vano tidak ingin juga bersama keluarga. Tapi di sisi lain pula ia membenci papanya.
Karena kesepian dan kebencian dalam diri Vano membuat Vano bermasalah dalam psikisnya. Ia tertekan. Dan entah dorongan dari mana ia mulai membunuh hewan-hewan piaraan papanya tanpa rasa bersalah. Dan itu tentu tanpa sepengetahuan siapapun.
Ya, jiwa psikopat tumbuh dalam diri Vano. Sosoknya yang dianggap anak mama oleh teman-temannya memiliki monster dalam dirinya. Ia hanya membunuh hewan dengan pisau. Memang benar ia hanyalah anak lemah yang tak bisa melawan teman-temannya seperti hewan peliharaan papanya.
Di sekolah pun Vano tidak setenteram dulu. Ia bermasalah dengan kakak kelasnya bernama Fero. Vano tak sengaja melihat Fero yang sedang membully anak perempuan yang tak sengaja menumpahkan sedikit jusnya mengenai lengan seragam Fero.
Vano pun menegur Fero yang terlalu berlebihan menurut Vano. Hanya sedikit tumpagan jus tak harus sampai membully bukan? Namun Fero yang tempramen langsung mengibarkan bendera perang. Hidup Vano tak tenang entah itu di sekolah maupun di rumah.
Entah Vano harus bersyukur atau tidak. Beryukur karena pengkeroyokan itu ia bisa bertemu gadis bernama Aileen. Gadis itu menolongnya.
"Gue punya videonya ya Kak! Tinggal gue kirim ke guru bk dan kalian akan di skors bahkan di DO!" Teriak Aileen yang ke sekian kalinya. Kali ini berhasil mendapat perhatian dari cowok-cowok yang berseragam sama seperti miliknya pertanda bahwa mereka satu sekolah. Kecuali Vano yang tergeletak mengenaskan di aspal.
"S*ialan! Berikan hp itu!" Bentak salah satu dari mmereka.
Aileen menggeleng keras. "Tidak! Sekarang kalian pergi atau gue bakalan teriak sampai semua warga dateng. Tau gak? Di sana tadi banyak bapak-bapak ama emak-emak beli sayur. Mereka bakalan denger teriakan gue dan kalian semua akan ditang---"
"Dasar bocah s*ialan! Awas aja lo! Woiy cabut!" Potong cowok yang tadi lagi mengajak kawannya untuk pergi.
Aileen terkikik melihat kakak kelasnya yang lari seperti dikejar anjing. Selanjutnya Aileen menghampiri Vano yang berusaha bangun. Dibantunya cowok itu untuk berdiri.
"Duh luka lo parah banget. Gue gak ada bawa kotak p3k. Gak bawa sapu tangan. Oh iya gue kan ada tissu basah. Bentar!" Ucap Aileen setelah mendudukkan Vano di pinggur trotoar. Gadis itu menggeledah tasnya dan mengeluarkan tissu. Di lapnya wajah Vano yang terdapat darah yang menghiasi.
"Terima kasih!" Ucap Vano yang tak henti menatap Aileen.
Kegiatan Aileen terhenti. Ia menatap balik Vano sembari tersenyum. "Sama-sama! Kebetulan lewat aja kok tadi dan liat kakak kelas yang berandal banget itu lagi keroyokin sesorang. Eh tau gak. Gue gak sempet videoin lho. Hp gue lowbat. Untung mereka gak nyadar ya. Hihihi!"
"Oh iya. Kenalin nama gue Aileen. Nama lo siapa?" Lanjut Aileen.
"Nama saya El--"
"El!" Ucapan Vano terpotong oleh Gino yang turun dari mitirnya beserta Ivan dan Ben.
"Lo diapain Bro! Anjirrr muka lo ancur!" Ujar Gino panik membolak-balikkan wajah Vano.
"Gak ganteng lagi lo!" Timpal Ben.
"Diem deh. Sekarang mending kita bawa El ke rumah sakit!" Kesal Ivan.
"Tidak!" Tolak Vano.
"Yaudah ke rumah gue. Lo mesti diobatin!"
Mereka terus berceloteh tanpa menyadari Aileen yang terbengong menatap mereka.
"Sekali lagi terima kasih!" Ucap Vano sebelum meninggalkan Aileen.
"Sama-sama. Sampai ketemu lagi El!" Balas Aileen melambaikan tangannya.
"Eh ada cewek. Pulangnya di pending dulu!" Tahan Ben yang langsung dapat geplakan dari Gino.
"Makasih ya udah nolongin El!" Ucap Ivan yang dibalas anggukan oleh Aileen.
Meskipun sudah berada di boncengan Gino, Vano terus menatap ke belakang. Menatap Aileen yang melambaikan tangan ke arahnya. Dalam hati, Vano bertekad akan mendapatkan, menjaga, memiliki gadis itu. Gadis yang membuatnya merasakan kasih sayang yang tulus.
Vano membuktikan ucapannya dengan melatih dirinya dalam bela diri untuk menjaga gadis itu. Meneruskan aset pemberian kakeknya meskipun masih dibantu oleh orang kepercayaan almarhum. Membangun usaha kafe hingga ia sukses di usia muda.
Bertahahun-tahun akhirnya papanya sadar dan merasa bersalah. Tapi sakit hari Vano masih membekas. Namun Vano memanfaatkan situasi untuk mendapatkan Aileen. Dengan apa? Yaps! Memaksa Rendra menjodohkannya dengan Aileen. Rendra tentu saja menolak rencana Vamo yang ingin menikah muda. Sungguh gila menurut Rendra. Perjalanan Vano masih panjang untuk mencapai titik pernikahan.
Namun apa boleh buat? Untuk mendapatkan secuil maaf Rendra rela melakukannya. Membujuk Reva istrinya dan berbagai hal lainnya agar keluarga Aileen setuju.
Vano pun tak tinggal diam. Ia pun meminta orang kepercayaan kakeknya untuk membuat usaha Bagas -papa Aileen- agar terancam bangkrut dan hanya keluarga Vano yang bisa membantu. Sungguh licik bukan?
Entah mengapa Tuhan begitu memperlancar semuanya. Vano bisa menikah dengan Aileen. Tak dapat dipungkiri betapa bahagianya Vano saat itu.
"She is mine!"
***
Duh gak nyambung ya? Hehe aku cumn mau menjelaskan masa lalu Vano. Dan juga kenapa sih orang tua mereka mau mau aja jodohin anak mereka di usia muda? Jadi ketebak kan. Kenapa mama Reva minta Aileen nunda hamil dulu. Ya karena memang bukan keinginan Reva dan Rendra untuk menjodohkan anak mereka.
Dan satu lagi. Vano itu memiliki jiwa psikopat. Pantes kan dia dari awal kelihatan sempurna. Ya karen itulah psikopat, genius dan susah diketahui di sekitar kita karena pintar beradaptasi.
Btw aku ada niat untuk buat season 2 tapi belum pasti sih. Soalnya sekarang ada yang masih on going. My Forced husband juga belum publish. Segitu aja yang mau aku sampaikan. Jangan lupa baca karyaku yang lain. Love you :*