My Beloved Husband

My Beloved Husband
Bab Mengejek Si Jomblo



Salsa kembali ke apartemen setelah pertemuannya dengan keluarga Jordan menemui kesepakatan. Acara pernikahan mereka tidak akan di gelar mewah, hanya di hadiri keluarga dan kenalan penting Daddy Raka saja. Semua sudah sesuai dengan keinginan Salsa. Dia tidak ingin menggelar acara pernikahan yang mewah. Meskipun awalnya mommy Ayu sedih dan kurang setuju namun akhirnya beliau menuruti keinginan Salsa.


Di apartemen, Tania sudah menunggu dengan antusias. Dia tidak sabar mendengar rencana pernikahan Salsa.


“Jadi, acaranya sederhana?” Tanya Salsa setelah mendengarkan serangkaian cerita dari Salsa.


“Iya, aku nggak mau terlalu mewah.” Jawab Salsa. Dia dan Tania berada di kamar Salsa. Salsa baru saja selesai membersihkan diri dan sedang memakai krim wajah nya. Untuk Tania, dia bergelimpungan di atas tempat tidur Salsa.


“Sayang banget, padahal aku udah nggak sabar lihat kamu sama Jordan jadi Raja dan Ratu sehari terus yang mewah gitu kayak cerita princess-princess.” Komentar Tania.


“Kamu kebanyakan halu.” Komentar Salsa sambil menepuk-nepuk lembut pipinya agar skincare yang baru saja ia pakai meresap.


“Ya, gak papa dong. Lagi pula siapa sih yang nggak pengen pesta pernikahan nya mewah gitu loh.” Ujar Tania.


Salsa menoleh melihat Tania meninju boneka kesayangannya dengan gemas, ada saja tingkat sahabatnya itu saat gemas melihat sesuatu. Dia pun beranjak naik ke atas tempat tidur bergabung dengan Tania. “Ya udah aku doakan besok kamu nikah kayak princess.”


“Aku sih mau banget, cuman nggak mungkin.” Tania cemberut.


“Nggak ada yang enggak mungkin ya Tania,” Ujar Salsa.


“Itu hanya berlaku buat kamu calon mantu konglomerat haha.” Kekeh Tania. “Aku boro-boro mau halu nikah kayak princess, gaji aku aja habis buat bayar angsuran.” Keluhnya kemudian.


“Gak papa yang penting cukup.” Memberi semangat, “Yuk tidur!”


“Kamu duluan aja deh, aku pengen makan Mie cup.” Tania bangun dan turun dari tempat tidur.


“Jam segini?” Tanya Salsa heran. Jam menunjukkan pukul 23.00 dan Tania ingin makan Mie rebus.


“Memang kenapa? Lagian laper kok.” Balas Tania memakai sandal rumahan dengan bentuk Doraemon. Melangkah keluar dari kamar Salsa.


“Nggak takut gendut?”


“Tidak ada kamus gemuk di hidup Tania, aman.” Tania benar-benar pergi ke dapur untuk memakan Mie cup. Meninggalkan Salsa yang kemudian pergi ke alam mimpi. Tania sendiri memang termasuk perempuan yang banyak makan, dia juga tidak gemuk meskipun banyak makan. Banyak orang bilang faktor genetik yang membuat Tania tetap memiliki berat bada ideal meskipun banyak makan, melihat orang tua Tania juga tidak ada yang berbadan gendut.


Pagi menjelang, Salsa dan Tania bergegas menuju tempat mereka bekerja. Mereka berangkat lebih awal karena tidak ingin merasakan lalu lintas yang padat.


Berita pernikahan Salsa dan Jordan sudah tersebar luas. Para dokter dan karyawan di rumah sakit tempat Salsa bekerja pun sudah mendengar hal itu. Mereka berbondong-bondong datang keruangan Salsa secara bergantian khusus untuk menyampaikan ucapan selamat. Dari karyawan dengan jabatan tinggi, para dokter spesialis, dokter umur, jajaran perawat hingga tukang kebun pun ikut menyampaikan ucapan selamat.


“Fyuh.. akhirnya sepi juga.” Ucap Salsa mengelap peluh di keningnya dengan tisu. Hanya menerima ucapan selamat saja membuat Salsa merasa lelah, bagaimana jika dia mengadakan resepsi besar, pasti rasa lelahnya melebihi hari ini. Keputusan Salsa menggelar penikahan sederhana memang tepat.


“Capek buk?” Sindir Tania yang baru saja masuk ke dalam ruangan mereka. Tania baru selesai mengunjungi pasiennya, saat tadi di depan pintu bertemu salah satu dokter yang bertugas di ruang IGD. Tania bisa menebak dokter itu habis menemui Salsa untuk mengucapkan selamat atas rencana pernikahan Salsa dan Jordan.


“Capek banget, udah kayak habis operasi sepuluh orang.” Jawab Salsa. “Padahal cuman salaman doang, tapi, kok capek ya!”


Tania meletakan barang yang tadi dia bawa ke atas meja kerjanya dan duduk di kursinya, memutar arah kursinya menghadap Salsa. “Banyak banget yang kesini?” Tanya Tania sebab dia tidak melihat secara langsung berapa orang yang berkunjung untuk mengucapkan selamat pada Salsa.


“Semua orang yang kerja disini, di tambah pasien VVIP yang udah keluar. Lihat!Mereka yang enggak datang aja kirim bunga,” menunjuk sudut ruangan. Beberapa buket bunga dengan tulisan ucapan selamat terletak di tempat itu. “Mereka gini karena Jordan ‘kan? Sebagian dari mereka bahkan dulu pernah ngerendahin kita pas awal kita kerja disini.” Ujar Salsa yang dengan yakin tidak semua yang datang memberinya selamat adalah orang yang tulus. Sebagian dari mereka pasti hanya ingin terlihat baik di mata Salsa karena calon Salsa adalah Jordan, salah satu pengusaha kaya yang mapan dan berpengaruh di negeri ini.


“Iya sih.. Aku aja heran pas lihat dokter Nana, padahal beliau ‘kan jelas banget nggak sukanya sama kamu, sama aku juga.” Balas Tania. Dia sepemikiran dengan Salsa. Pengaruh Jordan memang cukup kuat membuat Salsa semakin di segani banyak orang.


“Kamu juga tau dokter Nana kesini?” Salsa bertanya dengan nada lirih. Tania mengangguk, “Suster Sari yang bilang,” balas Tania tak kalah lirih.


“Coba aja tadi pas kamu disini, kamu bakalan tau dengan jelas dia nggak tulus. Kelihatan dari wajahnya.” ucap Salsa.


“Dia pasti makin iri sama kamu. Coba aja dia bukan anak petinggi rumah sakit pasti nggak akan se angkuh itu.” Kelakar Tania yang diangguki Salsa.


Tok.. Tok..


“Apa aku mengganggu?”


“Woy, bos besar datang. Silahkan masuk bos, wkwk.” Tania nampak heboh sembari berteriak mempersilahkan Jordan masuk. Diikuti langkah Jordan memasuki ruang kerja Salsa. Jordan berjalan ke arah meja kerja Salsa, lelaki itu pasti akan duduk di hadapan Salsa.


“Hadeh mulai tu anak.” Salsa geleng-geleng kepala melihat tingkah Tania.


“Kalian sudah selesai kerja?” Tanya Jordan sembari mendudukan bokongnya di kursi yang biasanya di gunakan pasien untuk berkonsultasi dengan Salsa.


“Aku sih udah. Kalau yang di depan kamu itu nggak kerja seharian ini. Dia sibuk nerima tamu,” sindir Tania.


“Oh, ya?” Kening Jordan mengerut, “Tamu siapa?” Menoleh ke arah Salsa.


“Jangan dengerin Tania, aku kerja kok tadi. Cuman habis jam istirahat udah free. Karyawan rumah sakit tadi ke sini buat ngucapin selamat soal rencana pernikahan kita.” Balas Salsa.


“Oh,” Jordan manggut-manggut, “Ada yang kirim bunga juga?” Pandangan Jordan tertuju pada buket-buket bunga di pojok ruangan.


“Bukan, kalau itu yang ngirim pemuja rahasia nya Salsa. Dia populer soalnya.” Sahut Tania asal. Salsa langsung melotot ke arah Tania, bisa-bisanya sahabatnya itu mengarang cerita.


“Really?” Memastikan pada sang penerima bunga.


Salsa geleng-geleng kepala. “Tania aja masih kamu dengerin. Kamu lupa dia tukang kibul?” Jawab Salsa.


Jordan tersenyum hampir tertawa mendengar jawaban Salsa. “Kayaknya kamu butuh pacar deh, Tan.” Usul Jordan.


“Nah, bener itu. Biar nggak kebanyakan ngibul.” Salsa mendukung penuh usul Jordan.


“Aku sih mau ya. Tapi emang cari pacar gampang kek beli gorengan di pinggir jalan. Enggak say, harus jeli.” Balas Tania.


“Kamu mau cari yang kayak apa? Siapa tau teman-teman saya ada yang jomblo.” Kata Jordan menawarkan.


“Nah, ide bagus itu.” Timpal Salsa.


“Mau yang anak tunggal kaya raya baik akhlaknya juga tampan mempesona bak oppa-oppa Korea. Ada?” Tutur Tania.


“Itu sih paket komplit namanya, Tan.” Jordan geleng-geleng kepala.


“Emang susah ngomong sama si Tan, kita pulang aja, Jo!” Salsa sudah selesai beberes meja kerjanya dan mengajak Jordan untuk pulang, “Kamu kesini buat jemput aku ‘kan?” Jordan menganggukkan kepalanya.


“Eh, tapi aku serius. Kalau ada boleh lah wkwk.” Ujar Tania.


“Nggak usah di dengerin, Jo.” Potong Salsa sebelum Jordan menjawab. Dan, Tania pun tertawa lepas.


Salsa sudah siap sambil mencangklong tas nya. Melihat Tania masih santai di tempatnya. “Kamu nggak pulang bareng kita?”


“Kita mampir makan sekalian, ayo bareng!” Ajak Jordan.


“Ogah banget jadi obat nyamuk.” Tolak Salsa.


“Bagus deh kalau sadar.” Goda Salsa.


“Nggak boleh gitu sayang, kasian jomblo dia.” Ejek Jordan.


“Sialan emang kalian berdua. Cepet pergi sana, bikin emosi aja.” Gerutu Tania.


“Haha, ayo sayang! Kita tinggalin aja si jomblo.”


“Haha, nih kunci mobil. Hati-hati pas pulang.” Salsa meninggalkan kunci mobilnya untuk Tania.


“Huss, Huss.” Mengusir Salsa dan Jordan dengan melambai-lambai kan tangannya.”