My Beloved Husband

My Beloved Husband
Welcome to the world



Happy Reading


.


.


.


Setelah shalat subuh Vano langsung ke rumah Dian untuk menemui sang istri. Bahkan saking terburu-burunya ia tak memakai hoodie ataupun jaket. Ia hanya memakai kaos putih tipis lengan panjang dan langsung mengendarai mobilnya.


Sesampainya di depan rumah Dian, ia akan mengetuk pintu itu. Namun baru ia mengangkat tangannya, pintu sudah terbuka. Rupanya Dian. Perempuan itu nampak terkejut hingga terjungkal sedikit ke belakang.


"Hah! Kau mengagetkanku. Silakan masuk," ucap Dian membuka lebar pintu rumahnya.


Vano pun masuk dan langsung mengedarkan pandangannya mencari sang istri. Dian yang mengerti langsung berucap, "Aileen masih tidur di kamar" sambil menunjuk kamarnya.


"Kalau begitu aku pergi dulu. Dan oh ya itu susu Aileen. Ingatkan dia meminumnya ya," pamit Dian kembali menuju pintu.


Vano pun melihat segelas susu di meja yang berada di dekatnya kini. Tentu saja Dian yang membuatnya. Tidak ada orang di rumah ini yang sudah bangun kecuali Dian. Sungguh Vano bersyukur Dian begitu baik dengan Aileen sekarang.


"Terima kasih," ucap Vano membuat langkah Dian terhenti.


Dian berbalik menatap Vano ditemani senyumnya. "Sama-sama."


Setelah memastikan Dian telah pergi, Vano segera membuka pintu kamar yang memang tidak terkunci. Di dapatinya tubuh istrinya yang berbaring telentang. Tentu saja Aileen berbaring seperti itu karena perutnya begitu besar hingga mungkin Aileen kesusahan tidur. Terlebih harus berbagi tempat tidur dengan Dian.


Vano begitu tau bagaimana Aileen tidur. Aileen kalau tidur itu tidak bisa diam. Pengecualin jika dipeluk Vano. Aileen akan bergeming dengan posisi tidurnya yang telungkup di atas dada suaminya. Dan Vano pun akan senang memeluk tubuh istri pipi chubbynya itu.


Vano melangkah mendekati ranjang yang tidak terlalu besar itu. Ia berjongkok di samping istrinya lalu mengusap kepalanya penuh kasih sayang. Lalu tangan Vano beralih mengelus pipi istrinya yang semakin chubby. Mungkin karena sedang hamil jadi berat badannya naik.


Aileen mengerjapkan matanya. Ia terbangun karena terusik dengan pipinya yang seperti ada yang menoel-noelnya. Saat penglihatannya sudah tidak buram, ia mendapati suaminya yang sedang tersenyum.


"Rupanya Vano," batin Aileen.


Aileen pun berusaha bangun yang langsung di bantu Vano.


"Aku mau mandi," ucap Aileen.


"Tapi ini masih terlalu pagi. Udara dingin. Di sini juga tidak ada air hangat."


"Kan masak di panci. Minggir gih aku mau masak air dulu!" Ujar Aileen. Memang Vano berada di depannya sehingga menghalangi tubuh Aileen untuk berdiri.


"Biar aku saja. Kamu di sini aja tunggu aku." Vano pun segera beranjak dari posisinya untuk pergi ke dapur. Sesampainya di dapur ia bingung.


Pandangannya mengedar ke seluruh ruangan. Ditemukannya panci yang lumayan besar. Langsung saja Vano mengambil panci itu dan mengisinya dengan air lalu meletakkannya di atas kompor. Vano pun menyalakan kompor. Namun kenapa tidak bisa menyala? Padahal Vano sudah merasa benar.


Meskipun ini pertama kalinya memakai kompor gas karena di rumahnya itu memakai kompor listrik, tapi tak mungkin Vano salah. Tinggal tekan lalu memutar ke kiri bukan? Iya benar. Tapi kenapa sudah berkali-kali Vano melakukannya tapi kenapa tetap tidak menyala? Aneh.


"Udah panas airnya?" Tanya Aileen yang berada tak jauh di belakang Vano yang berdiri di depan kompor.


"Belum," jawab Vano tanpa berbalik. Ia masih sibuk dengan kegiatannya untuk menyalakan kompor.


"Kompornya jangan dimainin Mas!" Sahut Aileen yang sudah mendekati suaminya.


Mendengar ucapan Aileen tadi membuat Vano mematung. Apa tadi? Mas? Aileen memanggilnya 'mas'? Wow sikap Aileen berubah banyak selama di sini. Aileen lebih sopan dan lembut bagi Vano. Tidak sebar-bar dulu. Hm mungkin karena sebentar lagi jadi seorang ibu.


"Gimana mau panas kalau kompornya aja belum nyala Mas? Hm dasar. Sini biar aku aja," ujar Aileen menggeser tubuh suaminya.


"Dari tadi tidak bisa. Padahal cara aku sudah benar 'kan?" Bela Vano menumpukan tangannya pada meja tembok.


"Iya emang udah bener kok. Tapi kompor ini sudah rusak. Harus dipakaiin korek biar bisa nyala," lanjut Aileen yang sudah menyalakan kompor.


Sedangkan Vano hanya berohria saja. Aileen membuka penutup panci dan langsung tercengang melihat air yang memenuhi panci. Ia pun menatap suaminya yang menaikkan sebelah alisnya.


"What?" Tanya Vano.


"Airnya kebanyakan. Kalau airnya segini bisa hampir sejam baru panas. Dan aku pun nggak bakal habisin ini," ucap Aileen jengah.


"Itu pun masih sedikit Sayang. Aku tadi niatnya masak air tiga panci buat kamu."


Mata Aileen langsung melotot mendengar ucapan suaminya yang begitu santai. Sebuah cubitan dihadiahkan Aileen ke perut Vano.


"Lagian kamu ada-ada aja. Tiga panci? Ini aja kebanyakan! Kamu kurangin airnya. Nih!" Aileen menggeser tubuhnya untuk memberi Vano ruang.


"Nanti kalau udah panas, kamu tuang fi baskom ya. Abis itu kamu angkat ke kamar mandi ya, Sayang!" Ucap Aileen lalu mengecup bibir suaminya sebelum meninggalkannya.


xxx---


"Nggak mau. Rasanya pengen manja-manjaan sama kamu di sini!" Ucap Aileen saat Vano menawarkan untuk jalan pagi seperti kemarin.


"Tapi itu baik untuk kamu dan bayi kita," balas Vano lembut.


"Kali ini aja ya. Aku males gerak, Mas!" Rengek Aileen sambil mengguncangkan lengan Vano yang dipeluknya.


Vano menghela napas berat sebelum mengangguk mengiyakan. Aileen yang bahagia langsung mengecup pipi suaminya.


"Thank you!"


"Ehm! Romantisnya kalian ini!" Sahut Rasti yang sudah berada di dekat mereka.


Aileen yang terkejut langsung menegakkan tubuhnya. Sungguh ia begitu malu kecyduk sedang bermesraan oleh bu Rasti. Lihat saja pipinya sudah ada semburat merah.


Sedangkan Vano langsung bangkit dan menyalami tangan bu Rasti.


"Awshhhh!" Ringis Aileen sambil memegang perutnya. Melihat itu, Vano langsung menghampiri istrinya lalu mengelus perut istrinya.


"Apa bayi kita menendang lagi?" Tanya Vano.


"Mules! Perut aku mules. Sakit juga. Hiksss!"


Jawaban Aileen yang diakhiri tangisan membuat kekhawatiran Vano kian bertambah.


"Sepertinya Aileen akan melahirkan."


"Tapi apa kandungannya baik-baik saja? Tkdak prematur 'kan?" Tanya Vano. Meskipun ia anak IPS tapi ia tau jika anak yang lahir prematur peluangnya besar untuk sakit.


"Tidak Van. Menurut bidan memang minggu ini lah Aileen akan melahirkan. Lihat saja jari kaki istrimu sudah membengkak sejak beberapa hari ini. Itu salah satu tandanya bahwa tidak lama lagi akan melahirkan. Sekarang cepat kamu bawa Aileen untuk bersalin!" Jelas bu Rasti.


Vano pun segera mengangkat tubuh istrinya. Aileen masih tidak berhenti meringis kesakitan. Mengeluh akan perutnya yang mulas dan sakit.


"Tunggu seb-- bentar... huh! Dia cepat sekali perginya," ucap Rasti melihat halaman rumahnya yang sudah kosong. Tak ada mobil Vano.


Padahal tadi Rasti ingin memberitahukan bahwa persiapan persalinan Aileen ada di kamar. Persiapan yang dimaksud adalah sarung dan perlengkapan bayi. Tapi tak apa, Rasti akan menyusul ke puskesmas nanti.


Sedangkan di waktu yang sama. Vano tengah mengendarai mobilnya sambil sesekali melihat ponselnya yang menampilkan maps. Di sampingnya pula ada istrinya yang meringis kesakitan. Dalam hati Vano ia tak hentinya memanjatkan dia untuk keselamatan mereka. Namun Vano juga merutuk rumah sakit yang berkilo-kilo meter dari tempatnya saat ini.


Untung saja ini bukan Jakarta sehingga Vano bisa cepat sampai di rumah sakit. Sejak Aileen dibaringkan di brangkar, Vano tak hentinya menggenggam tangan istrinya untuk menguatkan. Hingga mereka masuk dalam ruang persalinan Vano tetap melakukan hal itu.


"Tarik napas Bu. Lalu mengejan!" Ucap sang dokter memberikan instruksi.


Aileen pun langsung melakukan apa yang diperintahkan. "Aaaarrrggghhhhh!"


"Ya terus bu! Kepalanya sudah muncul! Mengejan lagi Bu!" Ucap dokter itu lagi.


Cengkraman Aileen di lengan Vano kian menguat. Tak cukuo cengkraman saja! Aileeb melingkarkan tangannya pada leher suaminya sambil mengejan. Suaranya pun meredam karena kepalanya tenggelam di bahu Vano.


"Terus bu!"


"Emmhhhh! Huh huh huhhhh!"


Sebuah suara tangis bayi yang lantang langsung memenuhi ruangan itu. Hal itu memvuat semua di dalan ruangan itu mengehmbuskan napas legah dan bersyukur.


"Alhamdulillah! Bayinya laki-laki!" Ucap dokter itu setelah selesai memutuskan tali pusar bayi itu. Suster yang berada di samping dokter itu langsung mengambil alih untuk membersihkan darahnya. Domter itu masih sibuk memeriksa Aileen.


Setelah bayi Aileen dan Vano telah dibersihkan, suster itu langsung memberikannya pada Vano. Membaringkannya di atas dada Vano. Lalu sebuah lantunan adzan meluncur dari bibir Vano.


Aileen yang terbaring lemah di brangkar terharu melihatnya. Kini Vano sudah selesai mengadzankan putranya. Pria itu mendekati istrinya. Dengan bantuan dokter, Vano memberikan putra mereka ke dalam gendongan sang istri.


Setitik air mata keluar dari pelupuk mata Aileen. Air mata bahagia tentunya. Ia mengecup pipi gembul putranya. "Welcome to the world baby boy!"


-TBC-