
Happy reading
.
.
.
Vano melangkah memasuki gedung tua dengan bantuan tongkat. Kakinya yang terkena tembakan memaksanya memakai tongkat itu.
Memang hari ini Vano sudah diizinkan pulang dengan catatan harus bed rest. Bersama ayahnya, Vano menemui Doni. Dengan sengaja Vano pulang bersama ayahnya agar yang lain tidak mengetahui kemana mereka pergi sebelum ke rumah.
"Pa! Kenapa Papa masih mengikatnya?" Tanya Vano pada papanya yang berdiri di sampingnya.
Mendengar suara Vano, Doni yang tadinya menunduk langsung mendongak dan menatap Vano tajam.
"Papa melakukannya agar dia tidak kabur!" Balas Rendra santai.
"Doni," panggil Vano pelan.
"Ngapain lo dateng ke sini? Harusnya lo kekuburan!" Balas Doni dengan kejam.
"Jaga ucapanmu Anak Muda!" Marah Rendra. Tangan pria paruh baya itu sudah mengepal kuat.
"Pa, bisa Papa keluar sebentar? Vano mau bicara berdua dengan Doni," pinta Vano pada Papanya.
Rendra mengangguk. Ia mengkode anak buahnya untuk segera keluar. Namun suara Vano menghentikannya.
"Lepaskan dulu ikatannya, Pa!"
Rendra menoleh dengan raut wajah tidak setuju dengan permintaan anaknya. "Tidak! Bagaimana jika dia kabur? Tidak Vano!"
"Pa!"
Mau tak mau Rendra meminta anak buahnya melepaskan ikatan Doni. Setelahnya ia keluar. Kini hanya tersisa Vano dan Doni yang duduk dengan congkak. Kaki Doni menekuk dan ditumpukan pada kakinya yang lain. Tapi Vano tidak mempedulikan itu.
"Jadi malaikat ya lo sekarang!" Ejek Doni tersenyum culas.
"Saya mau minta maaf atas apa yang sudah kulakukan padamu, dulu!" Ungkap Vano yang sudah berada di depan Doni.
Vano hampir saja terjatuh jika saja tak bisa menyeimbangkan tubuhnya saat Doni tiba-tiba menendang tongkatnya. Tingkat itu terlempar jauh dari jangkauan Vano. Meskipun geram tapi Vano tetap mengingat tujuannya. Vano, pria itu tersenyum kecil.
"Lo pikir dengan hanya meminta maaf semuanya akan selesai begitu saja? Mudah sekali!"
"Lalu apa yang bisa saya lakukan?"
Doni mengusap wajahnya kasar. Nampak jelas pria itu masih dalam keadaan yang tidak baik.
"Saya hanya ingin memperbaiki kesalahan saya. Saya sadar, apa yang telah saya lakukan di masa lalu tentu tidak dapat diperbenarkan. Maka itu saya ada di sini," jelas Vano tanpa diminta.
Vano memandangi lekat Doni yang tak mau balas menatapnya. Vano kembali menlajutkan ucapannya.
"Saya juga tau bahwa kau bekerja sama dengan Fero. Fero yang menembakku, bukan?" Ucapan Vano berhasil membuat Doni menatap Vano dengan keterkejutan yang cepat ia sembunyikan.
"Sekali lagi maaf. Saya hanya tidak ingin semuanya terus berlanjut.... seperti Fero. Saya ingin berdamai. Saya telah menjadi seorang ayah. Anak pertama saya seorang putra. Saya tidak ingin menjadi contoh yang tidak baik untuknya dan juga untuk kedua calon anak di dalam rahim istri saya. Maaf."
Penjelasan Vano yang begitu mengenai ulu hati Doni. Pria itu mengepalkan tangannya menahan gejolak dalam dirinya. Antara ingin memaafkan Vano atau tidak.
Sakit hati Doni saat dipukul dan diancam Vano semasa sekolah ternguang di otaknya bagaikan sebuah film. Ia sebagai kaum lemah apakah harus diperlakukan seperti itu? Ia hanya mengalami hal yang lumrah yang dilakukan seorang pria apakah salah? Apa mencintai seseirang itu salah? Hingga Vano selalu menindasnya hanya karena mendekati wanita yang ia cintai.
Doni yang memiliki keluarga tak sempurna membuatnya memikirkan anak-anak Vano. Ia tak ingin anak-anak Vano nantinya bernasib sama sepertinya. Ayah Doni sangat kasar dan tak pernah memberikan kasih sayang yang sesungguhnya pada Doni. Ayahnya hanya bisa memberikan contoh yang tak baik hingga mendekam di penjara setelah bercerai dengan ibunya.
Sisi baik dan sisi jahat Doni saling berlomba untuk membujuk Doni. Apa yang akan Doni lakukan? Doni yang notabennya anak baik-baik berubah karena kerasnya hidup. Tapi percayalah jati diri sebenarnya akan selalu berada di atas.
Doni melangkah mengambil tongkat yang ditendangnya tadi lalu memberikannya pada Vano. Pandangan tak percaya Vano lemparkan pada perilaku Doni. Apa ia dimaafkan?
"Gue maafkan. Cukup jangan muncul di depan gue lagi!" Ucap Vano sebelum pergi.
Meskipun ucapan Doni terkesan ketus, Vano tetap merasa bersyukur. Ia dimaafkan. Vano sudah berjanji dalam dirinya untuk berubah jadi pria yang lebih baik lagi. Termasuk dengan meninggalkan kebiasaan buruknya, yaitu obsesinya yang berdampak buruk pada orang lain.
Jika dipikirkan, apa yang harus ditakutkan lagi oleh Vano? Aileen sudah menjadi istrinya, Aileen sudah melahirkan seorang anak untuknya, bahkan Aileen kembali mengandung bayi kembar sekaligus, dan yabg terpenting aaah Aileen sudah begitu mencintainya. Tak ada yang perlu dikhawatirkan lagi bukan?
Kini permasalahan terpenting adalah Fero. Perseteruan yang sudah bertahun-tahun yang tak pernah usai. Malah bertambah karena apa yang telah dilakukan Vano terhadap Felly. Entah ada hubungan apa Fero dengan Felly.
Dengan senyum yang merekah Vano menyusul ayahnya yang berada di luar. Ia akan pulang dengan perasaan tenang sekarang. Tekadnya untuk berubah sangat kuat. Itulah seorang Elvano Arion Adinata. Tekad yang begitu teguh membuatnya yang membuat apa yang ia inginkan selalu terwujud.
xxx---
Vano memainkan IPad tanpa mempedulikan papanya yang sedang menatapnya. Rendra yang merasa dicueki akhirnya angkat bicara.
"Kamu sudah menyelesaikannya?" Tanya Rendra.
"Ya. Doni dan Vano sudah berbaikan."
Rendra menghela napas berat. Ia menatap anaknya dengan penuh penyesalan. "Papa salut padamu yang bisa menyelesaikan masalah dengan bijak. Maafkan Papa yang tidak bisa menjadi contoh yang baik untukmu. Dulu Papa tidak mengacuhkan kamu dan Mama-mu. Itu adalah kesalahan terbesar Papa. Papa selingkuh dan mementingkannya. Maafkan Papa-mu ini Nak."
Vano menghentikan kegiatannya. Ia menatap ayahnya. Lalu tersenyum. "Vano sudah memaafkan Papa bukan? Masa lalu kita jadikan pelajaran agar tidak terulang lagi di masa depan Pa. Itu yang Vano tanam dalam pikiran Vano. Kuharap Papa juga seperti itu."
"Paap bangga sama kamu." Rendra memeluk anaknya dengan penuh kasih sayang. Dalam hatinya ia berjanji tak akan mengulangi kesalahannya lagi.
Bunyi notifikasi mengalihkan pandangan Vano pada IPad ditangannya. Sebuah balasan dari Doni.
"Tenang saja. Biar gue yang membujuk Fero. Cukup tepati janjimu saja untuk jangan menampakkan wajahmu di depan kami. Karena sungguh. Itu masih membuat kami terutama gue ingat semuanya lagi. Semua perlu waktu. Sekian." Tulis Doni dalam email.
Ya semuanya perlu waktu. Pelan-pelan. Fero pasti akan sama seperti Doni. Ya meskipun semuanya bermula dari Fero saat mereka masih SMP. Tapi jika tidak ada yang ingin mengakhiri, maka ini akan tetap berlanjut.
xxx---
"Kamu dari mana aja? Kok lama baru nyampe!" Sembur Aileen dengan pertanyaannya. Wanita berbadan dua di usia muda itu menuntun suaminya berjalan menuju sofa.
"Ada urusan sebentar tadi. Maaf ya." Vano mengelus pipi istrinya yang kembali sangat chubby.
Vano mengedarkan pandangannya. "Al dimana?"
"Lagi main sama Oma-Oma-nya," jawab Aileen.
"Gini ya kalau gak ada sepupu. Jadi mainnya sama yang tua-tua," lanjut Aileen yang diakhiri kikikan.
"Makanya kita buat anak yang banyak supaya cucu-cucu kita nanti punya sepupu yang banyak," ujar Vano membuat Aileen memicing tajam.
"Jujur deh! Kamu sengaja 'kan? Buat aku hamil lagi. Aku udah gak pake penunda kehamilan karena kamu bilang mau pakai pengaman. Tapi apa? Bullshit!" Cibir Aileen dengam bibir yang mengerucut.
Bukannya kesal karena cibiran Aileen, Vano justru tertawa renyah. Ekspresi Aileen begitu menggemaskan menurutnya.
"Kamu seperti ikan koi!"
Sontak Aileen memberenggut kesal. Ia tak mengacuhkan Vano yang menoel-noel pipinya. Justru Aileen semakin menggembungkan pipinya karena kesal.
"Ded!" Panggil Aliand yang sudah berada di tengah-tengah orang tuanya.
"Heran deh. Kenapa sih Al manggilnya kamu mulu! Aku yang lahirin padahal!" Ucap Aileen sambil berisdekap dada.
"Karena aku Daddy-nya."
"Tapi aku Mommy-nya."
"Kita adalah orang tuanya!" Vano mengakhiri ucapannya dengan menghadiahkan kecupan di kening istrinya. Tangannya pun mengelus perut istrinya yang sudah sedikit menonjol.
Kebahagian telah Vano genggam. Memiliki istri dan juga seorang anak. Hidup yang berkecukupan. Berada di keluarga yang sejahtera. Tuhan sudah begitu baik padanya.
Begitu juga dengan Aileen. Wanita itu tak kalah untuk mengucapkan rasa syukur kepada Tuhan yang memberikan kebahagiaan yang berlimpah. Harapannya hanya satu. Apapun yang akan terjadi di masa depan nanti, semua bisa dilalui. Ia ingin keluarganya tetap utuh.
Di usianya yang baru menginjak 17 tahun, ia kabur dari rumah karena tak mau dijodohkan. Selama masa ia kabur, ia bertemu dengan pria bernama Vano. Meskipun pertemuan-pertemuan itu sudah diatur oleh Vano tanpa ia ketahui. Tapi tak masalah.
Akhirnya ketahuan dan menikah. Banyak masalah dalam pernikahannya saat ia masih usia remaja yang labil. Tapi berkat Vano yang selalu jadi suami yang baik, menuntunnya ke jalan yang benar. Tak peduli bagaiman masa lalu seorang karena kita hanya akan menuju masa depan. Tak kembali lagi di masa lalu.
Hidup itu perlu perubahan. Dan Vano berubah jadi lebih baik. Ia ingin meninggalkan kebiasaan buruknya. Itulah nilai plus Vano di mata Aileen.
Semua pasti berharap kisah hidup akan berakhir happy ending. Begitupun dengan Aileen. Meskipun ia sadar bahwa perjalanan hidup masih panjang.
"I love you my wife!" Bisikan Vano ditelinganya membuat Aileen tersenyum lebar.
"I love you too my beloved husband!"
-THE END-