
Happy reading
.
.
.
Tubuh Vano terkulai lemas di lantai yang kotor dan bersimbah darah miliknya sendiri. Kemeja putih yang dipakainya sudah berubah warna menjadi merah. Mata Vano tertutup. Bahkan untuk membuka sedetik saja rasanya tak kuat. Napasnya pun memberat.
Doni baru selesai memukul saat merasa Vano sudah sekarat. Dan juga tak munhkin ada yang menolong Vano di tempat yang sepi begini. Buat apa warga sekitaran sini datang ke gedung tua yang tak berpenghuni? Bahkan gedung itu berdiri sendiri tanpa ada bangunan lain di samoingnya hingga terkesan angker.
Dering ponsel memasuki indra pendengaran Vano. Dengan sisa tenaga yang ada, Vano merogoh ponselnya di saku celananya. Kondisi Vabo yang lemah membuat ia begitu lama walau hanya sekadar mengambil ponsel.
Dering itu berhenti berbunyi. Namun beberapa saat kembali berdering. Tertera nama Aileen, istrinya.
Aileen pasti khawatir saat ini. Malam ini adalah malam perayaan ulang tahun anak mereka, Aliand. Tapi Vano belum pulang juga dan malah terkulai lemas di sini. Dengan susah payah Vano menggeser ikon dalam ponselnya. Namun ia sudah tidak bisa menahan lagi kesadarannya. Perutnya begitu nyeri walau tidak bergerak. Dan pada akhirnya semua gelap.
xxx---
"Kamu tenang dong Lin! Mama pusing liat kamu bolak-balik begitu!" Tegur Vina pada anak semata wayangnya itu.
Aileen berheti sebentar menatap mamanya sebelum melanjutkan lagi kegiatannya itu. "Gimana aku bisa tenang Ma? Mas Vano belum pulang sampai sekarang. Padahal dia bilang akan pulang sore tapi ini sudah mau jam 7 tapi belum pulang juga. Aku khawatir. Gimana kalau mas Vano kenapa-napa?"
Aileen semakin khawatir. Hanya Vano saja yang belum hadir saat ini. Semua yang diundang sudah hadir.
"Kamu sudab coba telpon suami kamu?" Tanya Vina yang dijawab gelengan dari Aileen.
"Gimana sih kamu! Punya hp kok gak digunain disaat genting seperti ini!" Omel Vina.
"Gak diangkat Ma! Perasaan Aileen gak enak Ma!" Keluh Aileen yang semakin khawatir.
"Coba sekali lagi."
"Tetep ga diangkat Ma. Gimana nih Ma. Aku takut mas Vano kenapa-napa." Wajah Aileen sudah mendung. Tak hentinya Aileen menghubungi nomor suaminya yang lagi-lagi tak dijawab.
Aileen pun menyandarkan tubuhnya pada nakas. Dan tanpa sengaja foto yang berbingkai hitam terjatuh karena tersenggol oelh tubuh Aileen.
Aileen memungut foto dan bingkai yang terjatuh itu. Foto yang menggambarkan saat Aileen dan Vano liburan.
"Kamu jangan nangis dong. Vano pasti baik-baik saja. Sekarang sudah mau jam 7. Sebentar lagi Al tiup lilin 'kan. Ayo kita ke sana. Biar bi Inah yang bersihkan itu," ujar Vina sambil merangkul anaknya keluar kamar menuju Al yang sedang digendong oleh Reva.
xxx---
Pesta telah selesai. Semua tamu telah pulang. Kini hanya kedua orang tua Aileen dan Vano yang masih tetap berada di situ.
"Ma. Mama udah coba hubungin mas Vano?" Tanya Aileen pada Reva.
"Ehm." Rendra berdeham hingga pandangan terpusat padanya yang baru saja datang.
"Mas. Kamu darimana saja Mas?" Tanya Reva yang tak diacuhkan olehs Rendra. Pria paruh baya itu malah mendekati menantunya.
"Aileen. Sebenarnya Papa tau Vano ada dimana," ucap Rendra.
"Dimana Pa? Mas Vano baik-baik aja kan Pa?" Tanya Aileen dengan cemas.
Tapi melihat ekspresi wajah mertuanya. Sepertinya suaminya tidak sedang dalam keadaan baik-baik saja.
"Vano di rumah sakit. Orang suruhan Papa mengabari Papa sejak tadi. Tepatnya sebelum Al tiup lilin. Papa sengaja tidak memberitahumu tadi supaya tidak kacau. Barusan Papa dari rumah sakit," ucap Rendra.
"Pa, Papa gak bilang sama Aileen tadi? Mas Vano sedang terbaring lemah sedangkan kita asyik berpesta di sini? Kenapa Papa gak bilang aja tadi. Hiksss!" Tangis Aileen pun pecah. Perasaannya yang tidak enak sejak tadi rupanya karena suaminya tidak dalam keadaan baik-baik saja.
"Sekarang ayo kita ke rumah sakit Pa." Dengan tergesa Aileen menarik lengan ayah merruanya keluar rumah untuk segera ke rumah sakit. Reva dan Bagas pun menyusul di belakang. Sedangkan Vina tetap di rumah untuk menjaga Aliand.
xxx---
Sesampainya di rumah sakit, mereka dituntun oleh Rendra menuju tempat Vano di rawat. Di depan ruangan itu terdapat orang kepercayaan Rendra di sana. Namun orang itu langsung pamit setelah Rendra datang.
"Ruang ICU? Separah itu keadaan mas Vano? Apa yang terjadi sama mas Vano Pa? Jelasin sama Aileen!" Pinta Aileen dengan air mata yang terus mengalir.
Keadaan yang sama pun pada Reva. Wanita yang telah melahirkan Vano itu tak hentinya menangis. Ia lalu mendekati menantunya lalu memeluknya.
"Pa. Kenala diam aja? Ma, minta Papa jelasin Ma!" Ucap Aileen dengan suara seraknya.
"Ada yang sengaja mencelakai Vano. Betis Vano tertembak. Bahu dan perutnya ditusuk. Luka lebam karena dipukuli! Vano kehilangan banyak darah. Kata dokter jika saja Vano telat sedikit saja membawa ke rumah sakit maka Vano bisa tidak selamat. Papa... Papa kembali merasa gagal jadi seorang ayah!" Rendra memijit pangakal hidungnya. Pria itu menunduk untuk menyembunyikan air mata yang keluar pula dari matanya.
Masih Rendra ingat bagaimana kondisi tubuh anaknya yang berbalur darah. Wajah anaknya yang tampan penuh dengan lebam. Dan tadi, untung saja setelah anak buahnya mengabarinya ia langsung ke rumah sakit dan bersamaan sampai dengan mereka. Karena itu pula Rendra bisa mendonorkan darahnya pada anaknya itu.
Semenjak di rumah anaknya tadi memang Rendra sudah merasakan firasat yang tak baik. Hingga ia menyuruh anak buahnya untuk melacak keberadaan Vano. Dan ditemukanlah Vano di sebuah gedung tua dengan keadaan mengenaskan. Pelakunya saat ini sedang dicari oleh Rendra. Anak buah Rendra berpapasan di depan gedung tua itu jadi mereka bisa mencari marena sudah tau wajahnya. Kelincahan orang itu membuat anak buah Rendra kehilangan jejak.
Sebuah tepukan di bahu Rendra dapatkan dari Bagas. "Kita berdoa saja supaya Vano bisa sembuh secepatnya."
Pintu tiba-tiba terbuka dan menampilkan dokter yang menangani Vano.
"Bagaimana keadaan suami saya Dok?" Tanya Aileen langsung.
"Pasien dalam keadaan kritis. Tusukan di perutnya hampir mengenai organ vitalnya. Pasien yang sempat kehilangan banyak darah juga merupakan salah satu penyebab kondisi pasien seperti ini. Pasien juga mengalami luka dalam karena sepertinya pasien dipukuli dengan keras. Selebihnya sudah saya jelaskan pada pak Rendra tadi," jelas dokter itu.
"Aileen!" Pekik Reva saat tubuh Aileen yang beridir di sampingnya tiba-toba lemas. Wanita itu pingsan mendengar kondisi suaminya.
"Bawa ke IGD sekarang juga!"
-TBC-