My Beloved Husband

My Beloved Husband
Hope



Happy Reading


.


.


.


"Aileen!"


Mendengar namanya dipanggil membuat Aileen berbalik ke arah sumber suara. Bukan Vano. Itu suara perempuan.


Entah Aileen harus berekspresi apa. Dian yang berada di depannya kini tersenyum menatapnya. Setelah sekian lama, Aileen baru bertemu Dian sekarang. Terakhir kali bertemu saat di rumah sakit dulu.


"Aileen!" Panggil Dian sekali lagi saat melihat Aileen hanya bengong.


"Ah iya. Ada apa Dian?" Tanya Aileen.


"Tidak. Aku hanya menyapamu saja. Sudah lama kita tidak bertemu," jawab Dian masih dengan senyumnya.


Namun senyum itu perlahan luntur saat pandangannya turun ke perut Aileen yang sudah membuncit. Dian terlihat kaget.


"Aileen.... kamu.... hamil?" Tanya Dian linglung. Masih tak percaya atas apa yang dilihatnya.


"Iya. Kamu apa kabar?" Tanya Aileen basa-basi.


"Hm baik. Kalau boleh tau, kamu sudah menikah?" Tanya Dian pelan.


Pertanyaan Dian seakan mengingatkan rujuan Aileen saat ini. Pandangannya tiba-tiba sayu menatap Dian.


"Kamu kemana aja selama ini? Kata... kata Vano kamu pindah." Dengan kasar Aileen menelan salivanya.


"Aku memang pindah. Sekarang aku tinggal di Bandung. Aku bekerja di perkebunan teh. Ke Jakarta hanya sesekali untuk membelikan obat untuk ibuku. Jadi, kamu menikah dengan Vano?"


Aileen mengangguk dengan pelan. Hal itu membuat Dian tersenyum. "Selamat ya. Aku senang mendengarnya. Kau tau? Vano begitu mencintaimu. Dia akan melakukan apapun untuk kamu. Dan maaf atas perlakuanku dulu. Kalau begitu aku pamit ya. Mobil pengantar barang yang aku tumpangi sudah kembali," pamit Dian.


Dian sudah ingin beranjak namun Aileen mencekal tangannya. Dian pun berbalik. "Ada apa, Aileen?"


"Boleh aku ikut denganmu?" Pinta Aileen dengan tatapan memelasnya.


"Tapi Van--"


"Kumohon!" Lirih Aileen yang membuat Dian mau tak mau akhirnya mengangguk mengiyakan.


xxx---


Sudah terhitung 3 bulan lebih semenjak kepergian Aileen. Tak ada yang mengetahui keberadaannya, mungkin. Ya, Vano beranggapan tak ada yang mengetahuinya.


Selama ini Vano terus mencari keberadaan sang istri dan calon anak. Tapi tak kunjung ketemu. Vano sudah mengerahkan semua anak buahnya untuk mencarinya namun hasilnya tetap sama. Dan bisa dipastikan jika saat ini Aileen sudah hamil besar. Tidak lama lagi Aileen akan melahirkan anak mereka. Namun sialnya Vano malah belum menemukannya sampai saat ini.


Orang tua Aileen juga tak kalah resahnya. Itu dulu. Karena yang Vano tak ketahui bahwa orang tua Aileen sudah mengetahui keberadaan sang putri. Aileen sendiri yang menelpon mereka. Mereka sengaja menyembunyikan hal itu dari Vano. Biarlah Vano berjuang sendiri untuk menemukan keluarga kecilnya itu.


Saat ini Vano memandang layar ponselnya yang menampilkan kebersamaannya bersama Aileen istrinya.



Saat mereka liburan setelah semester. Mereka tampak bahagia di foto itu.



Kenangan-kenangannya bersama Aileen membuat Vano semakin merindu.



Pandangannya memang ke foto itu tapi pikirannya sudah berkelana kemana-mana saat ini.


"El!" Panggil Ben.


Vano tetap bergeming pada posisinya.


"El!" Kali ini Gino yang memanggilnya.


Tetap sama. Akhirnya karena tak sabar, Gino menggeplak kepala Vano hingga Vano tersadar dari lamunannya.


Vano tak marah. Ia hanya menatap Ben dan Gino datar sebelum meminum air mineral di depannya. Malahan Gino yang semakin kesal melihatnya.


"Udah berapa bulan lho ini El! lo gak ada perubahan! Lo jangan lesuh gitu dong. Lo cari bini lo tapi lo tetep harus lakuin kewajiban lo yang lain! Kuliah, kerja, dan sekarang kita lagi bahas rencana pembangunan Vila di Bandung. Jadi sekarang fokus!" Tutur Gino.


"Idiihhh. Gue yakin lo kalau lo punya bini bakalan sama kek El. Sekarang lo ngomong gitu karena belum punya bini!" Cibir Ben.


"Cuih nggak akan. Kalaupun gue punya bini gue gak bakal segitunya kali!" Sungut Gino.


Vano meletakkan botol air mineralnya dengan kasar di meja hingga menimbulkan suara keras. Hal itu membuat fokus Ben dan Gino teralih ke Vano yang kini bersidekap dada.


"So, bagaimana rencana pembangunan vilanya?" Tanya Vano.


"Kita cek lokasi dulu!" Jawab Gino.


"Sekaligus refreshing. Ya gak?" Timpal Ben.


"Yo'i! Bro!" Kini Ben dan Gino sudah bertos ria.


"Berapa hari?" Tanya Vano.


Ben dan Gino saling bertatapan sebelum menjawab pertanyaan Vano. "Seminggu!"


"No! Sehari saja!" Balas Vano yang begitu menyebalkan bagi Ben dan Gino.


"Kalau sehari, tadi ngapain pake nanya berapa hari?!" Kesal Gino.


"Hanya bertanya saja!" Balas Vano.


"Nggak! Pokoknya harus seminggu! Apaan cuma sehari! Baru nyampe langsung pulang!" Tolak Ben.


"Sehari!"


"Seminggu!"


"Sehari!"


"Seminggu!"


"Fix 3 hari!" Tegas Gino yang jadi penengah bagi keduanya.


"Besok berangkat!"


xxx---


Setelah rapat dengan beberapa pengusaha lainnya, Vano tak beranjak dari duduknya di ruang rapat itu. Ayahnya yang memimpin rapat tadi pun tak beranjak dari duduknya. Seakan tau jika ada yang anaknya ingin bicarakan.


Suasana canggung tercipta sedari tadi. Akhirnya Rendra berinisiatif untuk membuka pembicaraan. Karena jika tidak ada yang memulai, maka suasana canggung antar ayah dan anak itu akan tetap berlangsung.


"Ada apa Van? Tumben sekali kamu masih di ruang rapat?" Tanya Rendra basa-basi. Meskipun hubungannya dengan Vano kurang akrab sejak kejadian itu, ia selalu ingin berinteraksi dengan Vano. Namun sikap Vano lah yang membuat Rendra jengkel.


Vano selalu membatasi diri. Dia tidak mau terbuka. Bertingkah semaunya. Selalu menganggap dirinya benar. Angkuh. Entah itu memang karena mewarisi dirinya atau tidak. Tapi Rendra merasa tidak se-over Vano.


"Kali ini. Bantu aku Pa. Bantu aku cari Aileen," ucap Vano menatap papanya dengan pandangan datar.


"Hahah apa Papa tidak salah dengar? Kamu meminra bantuan Papa? Kenapa kamu tidak gunakan saja kekuasaanmu untuk mencari menantu Papa itu, hm?" Balas Rendra yang sama sekali tak mempan bagi Vano.


"Papa sendiri tau jika aku jauh di bawah Papa. Dan Papa jangan mengelak. Vano sangat yakin kalau Papa tau keberadaan Aileen," ujar Vano datar.


"Ahh sudahlah! Jika kalian memang berjodoh kalian akan pasti bertemu."


"Tau apa Papa soal jodoh?"


"Hei Nak! Yang sopan pada Papa-mu ini! Kamu harus ingat jika Papa berperan besar dalam perjodohan kalian!"


Vano memutar bola matanya malas. "Memang. Tapi itu tidak membuatku merasa berhutang budi. Itu sudah sewajarnya yang orang tua lakukan demi kebahagiaan anaknya!"


"Kau ini kenapa jadi cerewet sekali? Apa karena bawaan bayi kalian? Ouh Papa tidak sabar menggendong cucu."


"Karena itu.... katakan dimana Aileen?"


"Cari sendiri sana. Cinta itu harus diperjuangkan. Kamu harus perlu lebih banyak usaha untuk keluarga kecilmu itu!" Ujar Rendra dengan bijak. Tapi itu sama sekali tak terdengar bijak di pendengaran Vano.


"Cinta? Keluarga? Tau apalagi Papa tentang itu?" Cetus Vano.


Hal itu membuat Rendra menghela napas berat. "Kamu masih belum memaafkan Papa?"


Vano hanya mengelengos menatap ke arah lain.


"Diam artinya ya. Apa kamu sama sekali tak ada niat untuk memaafkan Papa? Itu sudah lama berlalu."


"Apa karena sudah lama berlalu artinya kesalahan harus dilupakan begitu saja? Begitu? Yang benar saja!"


"Jadi kamu bisa memakluminya 'kan? Aileen belum kembali karena belum memaafkanmu? Karena kesalahn tidak mudah dimaafkan! Kesalahan kamu yang begitu terobsesi sama Aileen. Astaga bahkan Papa masih belum menyangka kamu mengoleksi foto-foto istrimu sejak smp! Kamu memang beda dari anak seusiamu!"


Vano hanya diam mencernanya. Benar juga. Seperti Vano yang sulit memaafkan papanya. Pasti begitu juga dengan Aileen yang sulit memaafkan dirinya.


"Sudahlah! Bukankah besok kamu dam temanmu akan mengecek lokasi di Bandung? Lebih baik kamu berkemas!" Ucap Rendra yang membuat Vano memiliki secercah harapan.


Vano mengerti isyarat dari perkataan papanya itu. Dan apakah di Bandung, Vano akan bertemu Aileen? Tapi apa iya? Bandung itu luas. Tapi Vano akan berusaha. Semaksimal mungkin demi keluarga kecilnya. Ia akan tetap mempertahankan keluarganya. Itu pasti.


"Thanks Pa!" Ucap Vano memeluk papanya untuk pertama kalinya setelah sekian tahun. Hal itu membuat Rendra tersenyum haru. Pelukan yang ia rindu telah kembali ia rasakan. Sebuah pelukan dari anak semata wayangnya.


-TBC-


p.s. fotomya ga gua ganti. Udah terlanjur disesuaikan sama cerita soalnya.