
Rian mencoba menenangkan Reaa,,
" sudah,tidak usah ganti nomor, semoga dia tidak menghubungi mu lagi" ucap Rian datar
"Semoga" sahut Reaa penuh harap
Sejenak Reaa terdiam,merasaa lega dengan ucapan Rian,,
Semenjak lulus,merantau dan sudah bekerja Reaa memang tidak pernah ganti nomor,,dia masih memakai nomor sewaktu masih sekolah.
Rian dan Reaa sampai di beberapa penjual buah dan membeli buah seperlunya dan mereka kembali ke kontrakan karena teman teman nya sudah menunggu.
Seketika suasana hening,,selama perjalanan pulang Rian terdiam,,dan Reaa termenung masih berfikir bagaimana kalau suatu saat Harry menghubunginya lagi.
Bukan tanpa alasan, Harry sering kali menghubungi Reaa dengan nomor baru yang entah tak terhitung lagi oleh Reaa,setiap kali di blokir ganti dan ganti lagi dengan nomor lain.
Setelah sampai tujuan teman teman yg lain sudah menunggu,Reaa meletakkan kantong buah yang di belinya dan teman teman yg lain segera mengupas dan bekerja sama membuat bumbu rujak.
Rian dan Reaa pun langsung bergabung membantu
Dddddddrrrrrrrtttttt
" ting ting "
Keheningan terpecahkan oleh notif yang masuk di telepon genggam Reaa,
Sebuah pesan masuk dari nomor asing tertampang di layar benda kecil itu.
Rian dan Reaa hanya saling pandang setelah mereka sama-sama melirik benda itu.
Reaa mengambil telepon genggamnya dan membuka layar dan memeriksa pesan masuk.
" Reaa aku minta maaf "
Hanya empat kata itu,dan Reaa tidak tau siapa pengirimnya,tetapi Reaa menduga itu pesan dari Harry
Reaa kembali terdiam dan meletak kan kembali telepon genggamnya.
" Siapa?? " Pertanyaan Rian membuat Reaa sedikit gugup,
" Dari nomor baru lagi?? "
" Iya "
" Semoga saja bukan orang itu lagi " ucap Rian sambil meneguk minuman yang sudah di siapkan oleh mereka selama Rian dan Reaa berbelanja buah.
Reaa beranjak dari tempat duduknya hendak ke kamar mandi untuk cuci muka biar lebih segar karena cuaca yang cukup panas.
Langkah Reaa terhenti oleh notif pesan yang masuk di telepon genggamnya.Reaa berbalik dan membuka dan membaca kotak masuk
" Reaa,maafin aku,aku di rawat sesak nafasku kambuh "
" Huft " Reaa memutar bola matanya dan menghembuskan nafasnya kasar
" Dia lagi dia lagi " batin Reaa kesal
" Tidak ada yang perlu di maafkan, sudahlah pergi saja dari hidup ku,itu sudah cukup,tak perlu berulang kali meminta maaf tapi mengulangi kesalahan lagi untuk kesekian kalinya "
Ingin sekali Reaa membalas pesan itu,tapi dia juga tidak ingin membuka peluang untuk komunikasi dengan Harry
Di sisi lain,Rian memperhatikan gerak gerik Reaa, ingin sekali Rian menanyakan kepada Reaa,tetapi tidak enak,disitu banyak teman teman yang lain.
Rian hanya diam tetapi mata nya mengisyaratkan pertanyaan.
Reaa segera melanjutkan niatnya untuk cuci muka biar lebih fresh,tapi pikiranya entah kemana.
Reaa masih merasa lemah setiap kali mendengar Harry dirawat, Reaa kembali teringat saat masih sekolah dan saat Harry main kerumah Reaa kebingungan menghadapi Harry yang sesak nafasnya kambuh.
Kelemahan Reaa inilah yang sering kali dimanfaatkan oleh Harry yang terkadang hanya pura pura.
Harry merasa senang setiap kali Reaa mengkhawatirkanya.
Tapi itu dulu,Reaa yang pernah tersakiti tidak selemah Reaa yang dulu.
Reaa berusaha menahan diri, Dia tidak ingin semudah itu untuk di permainkan.