My Beloved Husband

My Beloved Husband
Bab Jordan vs Naya



Beberapa hari ini Naya mencoba menemui Jordan, namun gagal. Semua pesan yang dia kirim pada Jordan juga tidak mendapatkan balasan. Kesal? Tentu saja Naya merasa sangat kesal, namun apa yang dia bisa lakukan? Dia kehilangan pekerjaan tepat setelah berita pernikahan Jordan dan Salsa muncul ke publik. Dia tau betul Jordan ikut campur tangan dengan apa yang terjadi padanya akhir-akhir ini termasuk dia yang tiba-tiba di putus kontrak oleh beberapa iklan dan sinetron yang akan dia bintangi. Naya hampir menjadi pengangguran jika tidak segera mendapatkan pekerjaan lagi. Apalagi dia baru saja kehilangan uang banyak untuk membayar mantan pacarnya dan juga di tipu wartawan yang sudah ia bayar.


Seakan semesta sedang membantunya, saat sedang makan malam di restoran, Naya melihat Jordan dan Salsa masuk ke dalam restoran yang sama. Ia sudah tidak punya rasa malu lagi dengan Salsa, apa itu gengsi? Yang terpenting saat ini adalah pekerjaannya kembali. Dia punya banyak uang. Cinta? Persetan dengan cinta. Toh, dia tidak akan kenyang hanya dengan cinta. Uang segalanya bagi Naya saat ini.


Naya terus memantau Jordan dan Salsa hingga keduanya selesai makan malam. Saat itu Naya memberanikan diri menghampiri Jordan dan Salsa.


“Jordan!” Panggil Naya saat Jordan sedang asyik mengobrol dengan Salsa. Jordan menoleh begitu pun Salsa. Salsa bersikap siaga saat melihat Naya sudah berada di sebelah mereka.


“Apa kau mengikuti ku?” Tuduh Jordan dengan tidak bersahabat. Salsa mengelus lengan Jordan lembut, “Jo, yang ramah sedikit.” Ucap nya mengingatkan.


Mana bisa Jordan bersikap ramah dengan Naya si pengganggu!


“Jangan salah paham, gue enggak ngikutin kalian. Sama sekali enggak!” Naya menjelaskan dengan kedua tanganya membentuk “x” di depan dada.


“Kau pikir aku akan percaya?” Sinis Jordan.


“Gue udah jujur, boleh gue gabung sama kalian?” Tawar Naya dan Salsa menganggukkan kepalanya.


“Kenapa diizinkan, Sa?” Protes Jordan.


“Nggak papa, mungkin ada yang mau Naya sampaikan ke kita. Duduk Nay.” Ucap Salsa ramah.


Oh My God! Perempuan calon istrinya itu terbuat dari apa hatinya? Bisa-bisanya dia bersikap ramah pada perempuan yang pernah menghancurkan hubungan percintaan nya!


“Thanks, Sa.” Naya menarik bangku di depan Salsa dan mendudukkan diri disana.


“Lima menit, katakan apapun itu. Setelah lima menit akan tidak akan mendengarnya.” Tegas Jordan.


Naya menganggukkan kepalanya. “Gue nggak akan ngomong banyak. Gue cuma minta lo kembali in pekerjaan gue dan gue gak akan mengusik kehidupan lo sama Salsa lagi.” Ucap Naya serius.


Salsa mengurut keningnya, “Maksudnya apa?Pekerjaan apa?” Tanya Salsa tidak mengerti.


“Lo bisa tanya sama calon suami, lo. Dia membuat gue kehilangan semua pekerjaan gue.” Adu Naya bersedih.


“Hah?” Salsa menganga tidak percaya, Jordan bisa bersikap seperti itu. “Benar itu, Jo?” Lirik nya pada Jordan.


“Aku hanya memberinya pelajaran saja, sayang.” Jawab Jordan santai.


“Astaga, Jordan. Memang apa salahnya?” Salsa belum tau Naya dalang di balik scandal yang menyeret dirinya beberapa waktu yang lalu. Sebab Jordan tidak ingin jujur begitu banyak. Bagaimanapun Naya termasuk membantu dia memenangkan hati Salsa akibat scandal itu.


“A-aku—,”


“Dia menggangguku!” Potong Jordan cepat sebelum Naya mengaku.


“Kau ikut campur dalam pekerjaanya hanya karena dia menganggu, Jordan itu sangat tidak sebanding.” Tutur Salsa lembut.


“Iya sayang, aku minta maaf.” Balas Jordan.


“Jadi, bagaimana?” Naya menyela percakapan sepasang kekasih di hadapannya itu. Rasanya dia tidak tahan melihat Jordan dan Salsa saling bersikap manis, dia ingin segera mendapatkan jawaban dari Jordan dan pergi dari tempat itu.


“Kris yang mengaturnya. Aku tidak tau, kau bisa menemui Kris, katakan padanya aku sudah mencabut hukumanmu. Dia pasti mengerti!” Kata Jordan memberikan arahan.


Naya mengangguk mengerti. Sudah cukup baginya untuk berada disana. “Baik lah, Terimakasih! Aku akan pergi sekarang.” Bangkit dari kursinya.


“Pergi saja, lagian tidak ada yang menyuruh mu untuk datang.” Celoteh Jordan.


“Jordan.” Tegur Salsa.


“Maafin Jordan ya, Nay. Dia emang sering keterlaluan.” Ujar Salsa kemudian.


Naya akhirnya mengerti kenapa Jordan sangat mencintai Salsa. Dia perempuan yang tulus dan lembut.


“Aku pamit.” Pamit Naya dan Salsa menganggukkan kepalanya.


***


Salsa tiba di aprtemen pukul 22.00 WIB, keadaan apartemen gelap. Apakah Tania tidak menyalakan lampu? Mengapa begitu gelap?


“Tan!” Panggil Salsa. Berjalan dengan tangan merayap di dinding mencari saklar lampu. “Tania!” Lampu menyala terang setelah Salsa menekan saklar nya.


Tidak ada Tania di ruang tamu. Apa Tania sudah tidur? Salsa berjalan menuju kamarnya dan mendorong pintu kamarnya, dia melihat Tania duduk selonjoran di atas tempat tidur sambil sibuk memangku laptop mengetik sesuatu di laptopnya sementara telinganya memakai headshet.


“Taniaaaa.” Karena Tania tidak menyadari kedatangannya, dia pun mengambil bantal kecil dan melemparnya pada Tania.


Tania kaget dan melotot, “Astaga mbak Salsa. Kenapa main lempar-lempar segala?” Protesnya kemudian. Sambil melepas headshet nya.


“Kamu itu budeg soalnya. Aku udah teriak-teriak manggil tapi kamu nggak nyaut.” Gerutu Tania.


“Ya, aku nggak denger lah.” Menutup laptonya dan meletakkan di nakas.


“Ni, oleh-oleh buat kamu.” Memberikan paperbag yang sedari tadi Salsa bawa.


“Apa ini?” Tanya Salsa.


“Sushi dari restoran mewah. Karena aku baik makanya kamu aku bungkusin.” Ucap Salsa bangga.


“Heleh, yang bayar juga Jordan. Tapi, Btw makasih loh. Aku emang laper.” Tania mengelus perutnya dan Menerima oleh-oleh dari Salsa. Lalu turun dari tempat tidur.


“Lah, langsung nyelonong aja.” Geleng-geleng kepala melihat Tania gesit pergi ke ruang makan untuk menyantap sushi.


Salsa membersihkan diri dengan cepat dan menyusul Tania yang sedang makan. Sampai di ruang makan, Salsa melihat Tania berdiri di depan kompor listrik. Apa yang sedang di lakukan Tania?


“Kamu ngapain?” Melihat apa yang di lakukan Tania, “Mie rebus?” Melihat bungkus Mie rebus di sebelah kompor.


Tania mengangguk. “Kayaknya enak, mau dibuatin sekalian enggak?” Menawarkan pada Salsa.


Walaupun sudah makan malam dengan Jordan, tidak menutup kemungkinan masih ada sedikit celah kosong di perut Salsa. Sepertinya cukup untuk menampung Mie rebus dengan telor ceplok.


“Boleh deh. Kasih cabai ya!”


“Okay!” Tania berkutat memasak Mie rebus pedas dengan taburan cabai di atasnya. Membuat kuah Mie berwarna kemerahan. Sungguh menggoda lidah.


Setelah matang, Tania membagi Mie rebus yang ia masak menjadi dua bagian, satu untuk dirinya dan satu untuk Salsa.


“Silahkan, tuan putri.” Menghidangkan satu mangkuk penuh Mie rebut dengan telur setengah matang di atasnya.


“Mantap. Makasih,” Salsa langsung mencicipinya, “Pedes banget.” Komentar Salsa setelah mencoba satu suap.


“Lebih pedes lihat pacar jalan sama mantan.” Sahut Tania santai sambil menikmati Mie rebusnya. “Eh, emang sushi boleh di makan sama Mie rebus?” Tanya Tania, ini kali pertama dia makan sushi dan Mie rebus secara bersamaan, “bodo amat lah. Paling cuman keracunan.” Katanya cuek.


“Btw, aku habis ketemu Naya sama Jordan!”


“Uhukkkk.” Tania langsung tersedak mendengar ucapan Salsa, “sumpeh lo?”