My Beloved Husband

My Beloved Husband
Bab Makan



Sebelum menikah, Salsa sempat mendapat wejangan dari mommy Ayu untuk tampil cantik di depan suami. Apalagi saat mereka sedang berduaan. Dan, saat ini Salsa sedang mempraktikkan nasihat dari mommy Ayu. Salsa berdandan dengan cantik selagi menunggu Jordan mandi. Dia juga memakai lingerie hadiah dari Jessica. Sengaja? Memang, Salsa memang sengaja ingin menggoda Jordan sekaligus menunaikan kewajibannya sebagai istri.


“Jordan mandi lama banget sih.” Gumam Salsa berjalan mondar-mandir di ruang kamarnya.


Yang di tunggu pun keluar dari kamar mandi hanya mengenakan jubah mandinya sambil mengusap rambutnya yang basah dengan handuk kecil.


“Waow!” Jordan takjub hingga mangap melihat kemolekan tubuh Salsa yang terlihat jelas di balik lingerie seksi nya.


Salsa menoleh mendengar suara Jordan. Dia malu tapi berusaha untuk tidak malu.


“Sayang, kamu belajar dari mana cara menggoda gini?” Jordan membuang handuk kecilnya ke sembarang arah dan langsung berjalan menghampiri Salsa.


“Aku belum godain kamu, ya! Baru mau mulai.” Jawab Salsa tak bergeming di tempatnya.


Jordan tiba di depan Salsa dan langsung mengamati Salsa dari atas sampai bawah.


“Mata kamu astaga, jelalatan banget. Dosa Jordan dosa.” Tegur Salsa hendak melangkah menjauh.


Jordan menarik tangan Salsa sebelum dia sempat melangkah. “Nggak dosa kok, sama istri sendiri.” Tangan kanannya beralih melingkar di pinggang Salsa dan menariknya mendekat ke tubuhnya. Hingga jarak mereka sangat dekat. Jordan menghirup aroma parfum yang wangi dan sensual dari tubuh istrinya.


“Cium boleh?” Izin nya sambil menunduk memandang sang istri.


Salsa mengangguk malu. Debaran jantungnya membuat Salsa menjadi salah tingkah.


Cup! Satu kecupan mendarat di bibir Salsa. Hanya kecupan singkat. Lalu Jordan kembali mengamati Salsa dan menyelipkan satu persatu sulur anak rambut panjang Salsa ke belakang telinga perempuan itu. Di belainya lembut pipi istrinya hingga sekitaran leher Salsa yang seketika membuat Salsa merinding.


“Jordan, aku—,” ucapnya gugup.


“Apa, hem?” Jawab Jordan masih dengan mengelus sekitaran leher Salsa dengan jari jemarinya. Sentuhan lembut jari Jordan sungguh ajaib. Salsa sampai kesulitan berbicara saking gugup nya.


Cup.. mengecup lagi bibir Salsa. Kali ini tidak hanya kecupan tapi ciuman yang dalam. Cukup lama mereka saling berpagutan sampai Salsa yang hampir kehabisan napas pun memukul dada Jordan dan lelaki itu melepaskan ciumannya. “Maap.” Kata Jordan.


Salsa mengangguk.


“Mau lanjut atau berhenti disini?” Tanya Jordan meminta pendapat Salsa. Dia menghargai sepenuhnya keinginan Salsa. Sebab Jordan tidak mau mereka melakukannya dengan terpaksa.


“Lanjut.” Jawab Salsa malu-malu. Jordan tersenyum dan mencium Salsa lagi. Tak hanya sampai di sana, Jordan menggerakan tangan mengelus paha mulus Salsa dan perlahan naik ke atas menyusup ke dalam lingerie Salsa. Masih dengan berciuman, Jordan mengelus lembut punggung mulus istrinya dan melepaskan pengait bra yang Salsa pakai.


Salsa mulai terhanyut akan ciuman suaminya, dia mengikuti alur Jordan dan berusaha membalas ciuman Jordan. Salsa melingkarkan tangannya di belakang kepala Jordan saat lelaki itu memperdalam ciumanya.


Hingga mereka kembali hampir kehabisan napas dan saling melepaskan ciumanya. Jordan memandang intens Salsa dan langsung menggendong Salsa, merebahkan tubuh Salsa di atas tempat tidur. Dan, malam panjang pun di mulai.


***


Pagi harinya, Jordan bangun lebih dulu. Di lihatnya Salsa masih tertidur pulas dengan tubuh polos tanpa sehelai benang pun dan hanya berlindung di bawah selimut yang sama dengan Jordan.


Masih seperti mimpi bagi Jordan. Perempuan yang berada di sebelahnya saat ini adalah perempuan yang semalam berbagi kehangatan dengan dirinya dan dia adalah Salsa, perempuan yang sangat ia cintai. Perempuan yang mampu membuat dia tidak bisa melirik perempuan manapun selain dirinya. Perempuan kuat yang tega memutuskan dirinya demi dia bersama wanita lain. Sekarang, Perempun itu resmi menjadi istrinya seutuhnya.


Merasa gemas melihat Salsa yang masih tidur. Jordan pun berniat menggangu Salsa. Di toel-toel gemas pipi Salsa hingga Salsa terganggu dan mulai membuka mata.


“Bangun Sayang.” Gemas Jordan menghujani Salsa dengan kecupan bibir di seluruh wajah Salsa.


“Aku ngantuk.” Gumam Salsa menarik selimutnya hingga menutupi seluruh tubuhnya. Dia masih ingin tidur sebentar lagi.


“Astaga. Aku lapar, Sa.” Ujar Jordan.


Salsa menyembulkan kepalanya dari balik selimut. “Lapar?” Tanya nya.


Jordan menganggukkan kepala. “Emang kamu nggak lapar? Kemarin kita cuman makan sekali, mcd aja.”


Jordan menolak. “Nggak mau mandi sendiri, bareng aja biar cepet.”


“Emang kalau bareng cepet?” Tanya Salsa.


“Iya lah. Apa-apa kalau di kerjakan berdua itu cepet.” Bual Jordan dengan akal bulusnya.


“Ya udah. Ayo.” Dengan polosnya Salsa menuruti ajakan Jordan mandi bareng.


Dia langsung turun dari tempat tidur dan membungkus tubuhnya dengan selimut lalu berjalan ke kamar mandi di ikuti Jordan.


***


Buk .. buk.. buk.. Salsa kesal dan menimpuk Jordan dengan bantal berulang-ulang.


“Kok di pukul sih, sayang?” Protes Jordan berusaha menghindar.


“Biarin. Dasar licik. Cepet apaan, yang ada mandi bareng malah jadi lama gara-gara kamu.” Ujar Salsa merasa tertipu oleh suaminya. Mandi bareng yang Salsa kira akan lebih singkat menjadi begitu lama sebab Jordan malah mengajak Salsa mengulang malam pertama mereka di kamar mandi.


“Iya, maap. Ampun.” Pinta Jordan sambil mengatupkan dua tangannya, “Tapi, kamu ‘kan juga mau, Sa.”


Tidak terima Jordan malah memojokkan dirinya, Salsa kembali menimpuk kepala Jordan dengan bantal.


“Awas kamu yaa,”


“Maap sayang, ampun.” Jordan akhirnya berlari keluar dari kamar sebelum mendapat serangan lebih.


Salsa yang melihat suaminya kabur pun geleng-geleng kepala. Dia sebenarnya tidak marah, hanya sedang ingin mengganggu Jordan saja. Salah siapa Jordan juga suka mengganggunya.


Salsa merapikan tempat tidurnya yang berantakan akibat ulahnya dan Jordan. Sesekali dia tersenyum malu saat mengingat kejadian semalam. Dia bukan gadis lagi sekarang.


“Sayang, makanannya datang!” Teriak Jordan dari luar kamar.


Mereka memutuskan memesan makanan siap saji setelah mandi tadi.


Pun, Salsa keluar dari kamar setelah beres-beresnya selesai.


“Dapat bonus es teh.” Kata Jordan menunjukkan dua gelas plastik es teh.


“Bukan bonus. Emang udah paketan, paket nasi ayam geprek plus es teh.” Jawab Salsa sambil mencuci tangannya di wastafel.


“Masa sih?”


“Makanya jangan cuman makan makanan mahal terus. Biar tau tipe-tipe paket hemat ayam goreng.” Ujar Salsa bergabung dengan suaminya di kursi pantri.


Jordan sudah lebih dulu memulai makannya. “Enak ternyata.”


“Namanya ayam itu kalau di masak enak.” Balas Salsa. “Habis berapa, tadi?” Tanya Salsa.


“70 ribu. Murah banget.”


“Bukan murah. Tapi emang harganya segitu.” Salsa memang sudah hafal harga-harga makanan dari rumah makan sekitaran apartemen nya. Dia juga hafal mana rumah makan yang enak dan yabg tidak enak. Hampir semua rumah makan di sekitar apartemen nya, Salsa sudah pernah mencoba makannya.


☘️☘️☘️


Maaf ya singkat aja. Aku masih bingung kalau nulis yang panas panas itu mulai dari mana wkwk


Btw makasih yang udah baca sampai episode ini.