My Beloved Husband

My Beloved Husband
She really left



Happy Reading


.


.


.


Vano hanya diam saat pipinya ditampar oleh sang ibu. Bukan tak ada sebab Vano ditampar begitu oleh Reva. Reva menamparnya karena menemukan semua foto-foto Aileen yang masih berantakan di kamar.


Tadi setelah Reva menelpon Vina, ia berniat mengecek kamar anaknya. Namun apa yang didapatinya? Foto-foto menantunya yang berceceran. Bukan hanya foto biasa. Tapi foto Aileen yang bahkan hampir telanjang. Reva tak habis pikir anak yang selama ini ia bangga-banggakan ternyata berbuat sehina itu.


Tidak hina bagaimana jika memotret anak gadis secara diam-diam? Lalu menyimpannya. Dan itu sidah bertahun-tahun. Dan Reva sebagai orang tua merasa gagal. Ia tak bisa mengenal anaknya sejak kejadian itu.


Hal itu membuat Reva menangis. Dia kecewa, kecewa pada Vano, juga kecewa pada dirinya sendiri. Reva bisa memaklumi jika Aileen ketakutan. Jika ia jadi Aileen pun akan begitu. Ia bisa saja menganggap Vano itu penjahat. Terlebih Aileen memiliki riwayat trauma.


"Kenapa kamu melakukannya, Nak? Kamu tidak berpikir jika Aileen akan ketakutan? Siapapun yang berada di posisi Aileen akan ketakutan akan perbuatan tidak senonohmu ini. Mama.... mama mera--"


"Itu karena Vano mencintai Aileen Ma!" Potong Vano menatap tajam mamanya.


Reva yang tadinya menunduk kini mendongakkan kepalanya membalas tatapan anaknya yang berpostur tinggi itu. "Mencintai? Itu bukan mencintai! Tidak ada yang mencintai seperti itu! Itu hanyalah obsesi!"


"Nggak! Mama salah! Vano cinta sama Aileen dan jika memang obsesi, maka obsesi itu adalah cara Vano mencintai Aileen!" Vano menggeleng tegas tak menyetujui ucapan mamanya.


Reva yang mendengar ucapan kekeras kepalaan anaknya akhirnya maju dan mengguncang bahu anaknya itu.


"Sadar Van! Cara kamu salah! Bukan--"


Lagi-lagi Vano memotong perkataan mamanya. Dengan pelan Vano menyingkirkan cengkraman mamanya pada bahunya. "Ma! Kami saling mencintai! Cara Vano tidak salah. Jika kami tidak saling mencintai, tidak mungkin akan ada anak di antara kami! Jika obsesi yang Mama maksud itu akan meninggalkan Aileen setelah berhasil menikahinya, itu salah besar! Vano tidak akan meninggalkan Aileen sampai kapan pun! Mama tenang saja! Vano tidak akan seperti Papa!"


Setelah mengucapkan kalimat yang panjang itu, Vano segera meninggalkan mamanya yang masih menangis. Entah, mungkin karena tindakan Vano atau mengingat suaminya.


xxx---


"Aileen pergi?" Kaget Gino saat mendengar ucapan Vano yang lesu.


"Kok bisa?" Timpal Ben yang tak kalah kagetnya.


"Bukan gue yang nyulik Aileen ya El!" Lanjut Bem yang langsung dapat geplakan dari Gino.


"Van, diem aja? Kok gak kaget? Udah tau ya? Atau lo tau sesuatu?" Tanya Ben sambil mengusap kepalanya yang digeplak Gino tadi.


Ivan yang ditanya seperti itu menegakkan duduknya. Ia bingung, apa yang ditanyakan Ben tadi jawabannya sama. Ia memang sudah tau Aileen pergi dan ia juga tau sesuatu. Tapi apa ia akan mengungkapkannya? Ia memang tidak berjanji pada Aileen tap--


"Woiy malah ngelamun! Kesambet tau rasa!" Ucap Gino menggeplak kepala Ivan hingga Ivan tersadar dari lamunannya.


"Sakit No!" Kesal Ivan.


"Awwww sakit g*blok!" Rutuk Gino saat mendapat geplakan di kepalanya yang diberikan oleh Ben dan Ivan.


Lihat saja kini Ben dan Ivan bertos ria di depan wajah Gino. Kurang ngeselin apa coba! Sedangkan Ivan yang tertawa tak menyadari tatapan tajam yang diberikan Vano sedari tadi.


Ivan menelan salivanya kasar. Seperti ada duri yang ikut ia telan melihat tatapan tajam Vano yang begitu mengintimidasi.


"Jelasin apa?" Tanya Ivan.


"Naif!" Cetus Vano sebelum meninggalkan kafe tempat mereka berkumpul saat ini. Tadi niatnya ia ingin meminta bantuan sahabatnya. Terkhusus Ivan yang sudah tau segalanya tentangnya.


Vano tau kalau Ivan mengetahui sesuatu. Vano ingin memaksa Ivan mengutarakannya tapi ia masih bisa menahan gejolak itu. Gejolak untuk berbuat kasar. Jadi lebih baik Vano meninggalkan tempat itu 'kan?


xxx---


Vano memarkirkan motornya di depan rumah mertuanya. Meskipun mamanya mengatakan bahwa Aileen tidak ada di sini, tapi Vano tetap ingin memastikannya. Mamanya pernah berbohong kepadanya. Dan kemungkinan besar mamanya itu akan melakukan hal yang sama lagi kali ini.


Vano sudah menekan bel rumah. Tak lama kemudian, terbukalah pintu itu. Tampaklah wajah kusut mertuanya. Wajah yang terdapat bekas air mata. Dan akhirnya Vano menyadri sesuatu. Aileen tak ada di sini. Aileen-nya benar-benar pergi.


"Maafkan Vano Ma!" Ucap Vano yang langsung berlutut di depan kaki Vina.


"Memang sudah kewajiban untuk meminta maaf setelah berbuat kesalahan. Tapi memaafkan bukan lah kewajiban. Mama.... Mama kecewa sama kamu!" Balas Vina mengusap air matanya.


"Vano tau... Vano sulit dimaafkan! Tapi Vano mohon jangan pisahkan kami!" Mohon Vano menunduk.


"Bukan kami yang memisahkan kalian! Tapi kamu sendiri yang membuat kalian berpisah!" Bentak Vina yang sudah tak tahan. Ia bahkan menyandar di pintu untuk menahan bobkt tubuhnya.


"Kamu tau... Mama memercayakan Aileen padamu, Aileen anak semata wayang Mama dan Papa. Tapi apa? Malah kamu yang membuatnya pergi! Anak Mama pergi disaat berbadan dua! Mama bisa melupakan kesalahan kamu yang mendapatkan Aileen dengan cara yang tidak benar! Tapi itu jika Aileen bisa bahagia!" Lanjut Vina.


Dengan cepat Vano memeluk kaki mama mertuanya itu. "Vano janji Ma. Vano akan menjaga mereka. Membahagiakan mereka. Vano mohon beri Vano kesempatan!"


"Bangunlah! Mama beri kamu kesempatan asalkan kamu bisa membuat Aileen kembali. Papa biar jadi urusan Mama. Pergilah!"


xxx---


Di jalanan yang ramai, Aileen berjalan sambil mengusap perutnya. Ia hanya membawa tas selempang yang berisi atm, beberapa uang cash dan ponsel yang sudah ia buang kartunya.


Ia tak tau harus kemana. Ucapan Ivan masih terngiang di benaknya. Ia masih tak mampu menerima fakta bahwa watak Vano sebenarnya seperti itu. Ia tidak akan meminta cerai. Tidak! Aileen masih memimirkan anak dlaam kandungannya ini. Walaupun Vano bagaikan monster atau apalah, ia akan menghadapinya. Tapi itu setelah ia menenangkan pikirannya dulu.


Baginya, asalkan Vano tidak pernah membunuh itu tak masalah. Perkelahian biasa terjadi bukan? Dan soal foto itu biarlah ia lupakan saja.


Aileen menganggap begitu karena Vano hanya mengoleksi foto dirinya saja. Bukan semua foto-foto cewek seperti yang dipikirannya. Vano bukanlah penjahat kelamin.


Ia melihat di samping kirinya yang terdapat sebuah mesin atm. Setelah berpikir beberapa saat, akhirnya Aileen membuka pintu bening itu lalu menggesekkan kartu atm di mesin atm. Ia mengeluarkan uang sebanyak-banyaknya lalu menyimpannya di tas.


Setelah itu Aileen keluar dan melanjutkan untuk berjalan-jalan sambil memikirkan kemana dia akan pergi. Namun sebuah suara menghentikannya.


"Aileen!"


-TBC-