My Beloved Husband

My Beloved Husband
Bab menginap



“Apa, Sa?” Tanya Tania tidak mendengar gumaman Salsa.


“Bukan apa-apa.” Salsa mengalihkan pandangannya kembali pada baju yang tadi ia pegang.


“Dokter Nana sama siapa sih, kek deket banget kayak ibu sama anak.” Gumam Tania kembali memilih baju di antara baju yang di pajang.


**


“Sa, Salsa, woy!" Panggil Tania.


"Heh?Iya, eh, apa?" Salsa terkesiap dan menoleh. "Apa?" Ulang nya.


"Kamu kenapa sih, ngelamunin apa dari tadi?" Tanya Tania yang sedang menikmati es cream cup di food court sambil melihat orang-orang berlalu lalang.


"Maaf, aku sedang kepikiran sesuatu." Jawab Tania lalu menyedot habis vanila milktea nya.


Alis sebelah Tania terangkat. "Kepikiran apa? Kerjaan?"


"Jordan. Aku bingung mau masak apa." Jawab nya dengan pandangan mata kosong.


"Astaga, beliin nasi padang aja udah." Usul Tania malas ribet.


"Iya sih. Tapi, beberapa hari ini menu dia berbau nasi padang semua kasihan." Balas nya, "pulang aja yuk! Kalau pulang sekarang, aku masih bisa masak buat Jordan."


"Ayok, tapi anterin aku pulang ya!" Karena Salsa sudah berkeluarga dan tidak sebebas dulu, Tania pun memahaminya. Dia mengiyakan saja ajakan Salsa untuk pulang.


"Ogah ah, naik taksi aja sana." Ujar Salsa usil.


"Nggak mau. Mahalll." Tolak Tania sambil beranjak.


"Makanya cari pacar." Usul Salsa pun beranjak dari duduk nya sembari membawa cup plastik bekas es vanila milktea nya yang akan ia buang di tempat sampah.


"Dari pada cari pacar mending gue cari mobil ajah." Tania masih enggan untuk memikirkan sebuah hubungan dengan lawan jenis. Salsa pun hanya bisa geleng-geleng kepala.


***


Sampai di rumah, Salsa langsung membersihkan diri dan setelah nya pergi ke dapur untuk menyiapkan malam malam.


Tepat saat Salsa tengah menggoreng tempe, Jordan pulang dari bekerja.


"Aku cariin kemana ternyata di dapur." Ucap Jordan.


Salsa menoleh mendengar suara suaminya. "Mandi dulu sana." Ujar Salsa. "Nggak boleh cium dulu!" Tukas nya saat melihat langkah Jordan semakin mendekat.


"Dikit aja." Protes nya cemberut menghentikan langkahnya karena Salsa memasang telapak tangan yang di arahkan kepadanya. Tanda agar lelaki itu berhenti melangkah.


"Mandi dulu sayang, kamu 'kan dari luar seharian lho. Nggak takut bawa virus?" Balas Salsa memberi pengertian.


"Iya juga ya." Katanya membenarkan, "Ya udah. Aku ke atas mandi." Membalik tubuhnya.


"Jangan lama!" Pesan Salsa. Jordan hanya membalas dengan mengangkat tangan kanan dan menakutkan ibu jari dengan jari telunjuknya membentuk lingkaran.


Usai membersihkan diri Jordan kembali ke dapur. Dengan hanya menggunakan kaos oblong dan boxer rumahan.


Cup.. Cup.. Cup..


Kecupan bertubi-tubi Jordan layangkan di bibir Salsa. "Kangen banget." Ujarnya sambil melepaskan kedua tangannya yang semula menangkup wajah Salsa.


"Cuman enggak ketemu seharian aja lho." Setelah terlepas dari Jordan, Salsa membawa sayur sop ayam ke meja makan. Di ikuti Jordan yang membawa cobek berisi sambal tomat.


"Sayang, kamu nggak perlu bersusah payah kaya gini lain kali." Menarik kursi dan mendudukinya. Salsa yang sedang mengambilkan nasi untuk Jordan itu tersenyum hangat. "Nggak papa, aku seneng kok." Ucapnya tulus.


"Tapi, aku nggak mau kamu capek. Kamu udah kerja seharian juga. Kita bisa makan di luar saja. Aku tidak keberatan." Ucapnya seraya menyangka dagunya dan memandang Salsa penuh cinta.


"Aku nggak capek, kok." Balas Salsa memberikan piring Jordan yang sudah berisi nasi plus lauk pauk lengkap.


Salsa mengangguk, "oke." Jawab nya sambil mengisi piring nya sendiri.


Keduanya menikmati makan malam dengan lahap. Sambil sesekali mengobrol.


"Jordan, kita tidur di apartemen aja yuk!" Ajak Salsa tiba-tiba.


Jordan yang sudah selesai dengan makan malam nya mengelap mulutnya dengan tisu dan meminum segelas air sebelum menanggapi ajakan sang istri.


"Boleh. Apartemen aku atau kamu?" Tanya Jordan.


"Apartemen aku, gimana?" Usul Salsa.


Jordan mengangguk, "Boleh. Mau berangkat sekarang aja?"


"Aku beresin ini terus berangkat." Jawab Salsa.


"Aku aja yang beresin. Kamu siap-siap aja biar nggak kemaleman." Usul Jordan yang langsung di setujui Salsa. "Setuju. Tapi cuci piring nya harus mengkilap lho ya!" Pesan Salsa.


"Beres. Masalah beres mebereskan, cuci mencuci serahkan sama suami mu yang ganteng ini." Ujar Jordan percaya diri.


"Okay." Salsa bergegas menuju ke kamar untuk mengepak keperluan yang akan dia bawa ke apartemen.


Sepertinya Salsa hanya perlu membawa notebook nya dan make up. Serta laptop dan tas kerja Jordan. Untuk pakaian dia tidak perlu mengepak nya karena baju mereka masih ada beberapa di apartemen, termasuk pakaian untuk bekerja.


"Sayang, aku sudah selesai dengan tugasku!" Jordan kembali ke kamar setelah menyelesaikan tugasnya.


"Oke." Jawab Salsa tanpa menoleh karena dia sedang fokus mengecek ponselnya.


"Lihat apa sih?" Jordan yang penasaran mendekat dan mengintip ponsel Salsa. "Foto siapa?" Tanya Jordan melihat foto-foto yang dikirim Tania pada Salsa.


"Ini mama dokter senior di rumah sakit." Ucap Salsa lalu menyimpan ponselnya ke dalam tas.


"Ow." Jordan hanya ber "o" ria sebab dia tidak ingin bertanya lebih. Paling-paling Tania dan Salsa saling berkirim pesan untuk menggosip. Biasa kaum perempuan tidak jauh dari gosip.


"Ayo!" Salsa selesai dengan barang bawaannya. "Kamu nggak ganti celana?" Tanya Salsa heran.


"Apa aku harus ganti?" Jordan terlalu malas untuk berganti pakaian.


"Ya masak pakai boxer, nanti kalau isi bensin di pom nggak malu? Atau kalau aku tiba-tiba pengen jajan di pinggir jalan, gimana?" Tanya Salsa dengan kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi saat mereka dalam perjalanan menuju apartemen.


"Iya-iya." Mau tidak mau lelaki itu menuju walk in closet nya dan mengganti boxer nya dengan celana kain pendek selutut.


Sampai di apartemen Jordan langsung merebahkan dirinya di tempat tidur.


"Ayo tidur!" Ujar Jordan sambil menepuk-nepuk ruang kosong di sebelahnya.


Salsa yang sudah berganti daster rumahan itu langsung naik ke atas tempat tidur dan berbaring di sebelah Jordan dengan berbantal lengan Jordan.


"Cup.." Jordan memiringkan tubuhnya lalu mengecup kening Salsa. Sejenak mereka saling pandang dalam diam. Lalu pandangan mata Jordan berfokus pada bibir ranum Salsa. Salsa pun memahaminya dia langsung memejamkan mata kala Jordan memajukan kepalanya dan mulai mengecup bibir ranumnya. Kecupan itu perlahan memanas berubah menjadi lum*tan dan ciuman panas.


Kurang nyaman dengan posisinya setelah menghentikan ciumannya, Jordan mengubah posisi di atas Salsa. Membelai anak sulur rambut Salsa dan menaruh nya di belakang telinga. Kedua tangannya mengunci tubuh Salsa di kanan dan kiri.


"Bulan ini kamu udah mens belum?" Tanya Jordan. Salsa menjawab dengan gelengan kepala. "Kalau jadi gimana?"


"Ya terima aja. Kamu nggak mau?"


"Mana mungkin. Aku mau banget." Tepis Jordan cepat.


"ckck," Salsa terkekeh pelan. Di tangkupnya wajah Jordan dengan dua tangannya. "Aku siap, kok. Mau punya anak cepat atau lambat aku nggak masalah. Jangan khawatir kan hal yang tidak perlu. Lakukan apa yang ingin kamu lakukan." Ucap Salsa lembut. Jordan meraih tangan Salsa dan mengecup nya. "I Love you, istriku!"


"I Love you too, suamiku!"


Malam yang panas dan panjang pun terjadi.