
Happy reading
.
.
.
Rupanya Gino dan... siapa gadis di belakangnya yang diseret?
"Rena? Gino! Kenapa temen aku diseret begitu! Keterlaluan ya kamu!" Kesal Aileen. Wanita itu menyimpan mangkuk bubur yang sudah habis lalu menghampiri Gino dan Rena.
"Gue gak papa Lin!" Ujar Rena tersenyum manis.
"Terus kenapa kamu jalannya kek gitu? Kaki kamu kenapa?" Tanya Aileen.
"Tadi cuman gak sengaja nginjak beling. Udah gak paap kok sekarang," jelas Rena.
"Yaudah ayo duduk!" Aileen menerima bingkisan yang diberikan Rena lalu menuntun temannya itu duduk di sofa.
"Sayang, minum!" Panggil Vano yang merasa terabaikan.
"Idih bisa manja juga ternyata!" Cibir Gino.
"Iri bilang bos!" Ejek Ben yang duduk bersandar dengan gaya congkaknya.
"Iri? Ngapain gue iri? Kalau gue mau manja-manjaan mah juga bisa!" Balas Gino.
"Manja sama siapa coba? Sama Mami lo! Malu No! Lo udah gede!" Balas Ben.
"Lo pikir gue elo apa? Ya nggak lah!" Sungut Gino.
"Ribut mulu! Al keganggu nih!" Tegur Ivan yang kembali memangku Al.
"Eh ada Al. Yuk sini sama Uncle kamu yang tampan! Jangan sama Uncle Ivan! Dia bau belom mandi!" Gino mengambil Al secara sepihak dari Ivan.
"Tiii!" Jerit Al dengan tangan yang melambai ke arah Rena.
Rena, gadis itu tersenyum dan memegang tangan Al. Mau tak mau Gino memberikan Al pada Rena.
"Gue cuman perantara njirrr!" Gerutu Gino lalu duduk di antara Ivan dan Ben.
"Kok kamu bisa bareng Rena?" Tanya Aileen pada Gino.
Pergerakan Rena dan Gino terhenti. Rena berpaling menatap Aileen. "Gak sengaja ketemu di lobby tadi."
"Oh jadi ini yang namanya Rena? Cakep ya. Kenalin. Gue Ben!"
"Rena, Kak."
"Gak usah panggil Kak. Ben aja. Sayang juga boleh."
"Ben! Lo jangan malu-maluin deh!" Sungut Ivan.
"Tau tuh! Dasar genit!" Imbuh Gino.
"Selama ada kesempatan. Kenapa nggak? Lagian Rena masih jomblo 'kan?" Balas Ben tak mau kalah.
"Nggak! Dia gak jomblo! Udah taken dia!" CetusĀ Gino.
"Bil--" ucapan Ben terpotong dengan tangisan Al yang begitu keras. Rena pun berusaha menenangkan meskipun tak mempan sama sekali.
"Kalian sih ribut kayak anak kecil! Al nangis 'kan jadinya? Ish!" Kesal Aileen sambil melangkah menuju Rena.
Meskipun sudah berada di gendongan ibunya. Al tetap menangis bahkan menendang-nendangkan kakinya. Hal itu menbuat Aileen meringis. Pasalnya perutnya terkena tendangan dari Al.
"Sayang, kamu turunin Al. Bahaya!" Sahut Vano yang melihat anak dan istrinya seperti itu.
"Biar gue lagi aja yang gendong Lin," tawar Rena.
"Biar Rena saja. Bahaya bagi kandungan kamu kalau Al terus nendang perut kamu," timpal Vano.
"Kandungan? Lo hamil lagi Ai?" Kaget Ivan yang cepat tanggap.
"Iya. Udah jalan 4 minggu," ucap Aileen sembari memberikan Al pada Rena untuk digendong.
"Busettt!"
"Anjirrr!"
"Jadi pengen anak juga. Rena! Nikah yuk!" Ucapan Ben yang asal itu langsung dapat geplakan dari Gino.
"Lo ngomong kek gitu lagi gue geplak lo pakai pisau nih!" Kata Gino sambil melirik pisau di atas meja.
"Lo suka ya sama Rena? Bukannya dulu lo bilang gak suka sama Rena karena gak sopan, cerewet ini lah itulah! Munafik lo No!" Cibir Ben yang kalau ngomong tak suka disaring dulu.
Ia berkata-kata seperti itu seakan tak ada Rena di depan mereka. Ben tak menyadari raut muka Rena yang mulai berubah jadi sedih.
"Emang nggak! Kasian aja gue!" Balas Gino yang sebelas duabelas dengan Ben.
"Tapi gue gak bawa mobil Lin," balas Rena.
"Mobil gue ada kok. Lo yang nyetir aja! Yuk!" Kata Aileen.
Akhirnya Aileen dan Rena pun pulang. Kini tersisa para cowok.
"Kalian gitu banget sama Rena!" Ucap Ivan yang sedari tadi hanya menonton.
"Gitu gimana?" Balas Ben menatap Ivan heran.
"Tau ah!" Kesal Ivan.
"Aneh lu Van!"
Gino dari tadi terus duduk akhirnya menghampiri Vano. "Cepat sembuh ya Bro!"
"Thanks!"
"Ehm.. sebenernya siapa yang lakuin ini ke lo? Betis lo ini bekas tembakan kan? Bahu lo juga! Apa perlu kita bales orang itu sekarang?" Tanya Gino yang terdengar oleh Ivan dan Ben. Kedua cowok itu mendekat ke Vano dan Gino.
"Iya El. Kita penasaran. Aileen gak pernah cerita. Istri lu itu cuman bilang kalau lu sakit. Kita semua aja kaget pas tadi pagi dikabarin sama Aileen kalau lo udah bisa dijenguk. Aileen ngerahasiain lo dirawat dimana. Sakit apa. Semuanya. Heran gue. Sempet kesel juga sih!" Cerocos Ben bahkan Gino terciprat ludah cowok itu. Euh menyebalkan.
"Lo bisa nggak kalau ngomong tuh gak usah ngasih hujan juga!" Kesal Ivan yang juga terkena ludah Ben.
"Hujan apaan? Lo pikir gue Tuhan?" Balas Ben.
"Gue heran kok orang b*ego macam lo bisa jadi ketua di geng lo!" Ketus Gino sambil mengusap lengannya.
"Maksud kalian apa sih? Jangan ambigu anjirrr!" Kesal Ben.
"Ludah lo nyiprat g*bl*k!" Sentak Gino.
"Oh!" Balas Ben santai. Huh untung teman.
"Ehm!" Deham Vano yang merasa terbaikan. Telinganya terasa panas sejak tadi. Tapi mau bagaimana lagi. Gino dan Ben memang seperti itu. Tak bisa diam.
"Jadi El, gimana? Ceritain! Jangan diem aja! Ayo dong El! Masa rahasia-rahasian sama kita sih. Wah pa-- anjirr sakit Nyet!" Kesal Ben yang dapat tabokan dari Ivan.
"Gimana El bisa ngomon kalau lo nyerocos mulu!" Balas Ivan.
"Doni! Doni yang buat gue kek gini!" Ucap Vano.
"Doni? Doni yang mana dah?" Tanya Gino.
"Doni yang pernah sekelas sama kita pas SMP bukan sih? Yang kutu buku! Pas SMA dia kelas IPA 1," ujar Ivan mengeluarkan apa yang ada dalam pikirannya.
Vano mengangguk.
"Oh gue inget! Yang selalu duduk di bagian depan di kelas. Tapi kok bisa?" Tanya Ben.
"Dia bales dendam," jawab Vano yang lama terdiam.
"Balas dendam? Balas dendam apa?" Tanya Gino heran.
Vano kembali terdiam. Hal itu membuat Ivan memicingkan matanya menatap Vano mulai curiga. "Gak berhubungan dengan Aileen 'kan?"
"Sayangnya emang berhubungan dengan Aileen. Saat kita SMA, dia suka sama Aileen. Aku peringatin. Tidak dia acuhkan. Akhirnya aku pukulin dia sampai babak belur," jelas Vano.
"Bukan babak belur lagi El. Tapi dia sampai pincang lho!" Koreksi Ivan.
"Sebenarnya ada apa sih? Jadi lo emang suka sama Aileen sejak dulu? Bukan semata karena dijodohin?" Tanya Gino.
"Iya."
"Terus siapa lagi?" Lanjut Gino.
"Siapa? Siapa apaan?" Balas Vano heran.
"Yang pernah bekap lo pakai bantal. Keluarga lo udah nemu orangnya gak?" Jelas Vano.
"Lo pernah hampir dibunuh lagi El? Kok kita gak tau. Lo tau darimana No?" Celutuk Ben.
"Rena yang ngasih tau!" Jawab Gino.
"Fero."
Perkataan Vano membuat semuanya bungkam. Mereka langsung tau Fero yang dimaksud Vano. Mereka tentu saja tau Fero yang notabennya kakak kelas mereka sekaligus musuh bebuyutan mereka di SMP terlebih pada Vano. Tapi setelah Fero tamat, sudah tak ada yang terjadi lagi.
"Apa lagi kali ini? Tanya Ivan.
"Felly. Sebenarnya tepat saat itu aku sudah sadar. Tapi penglihatanku masih kabur. Tepat saat penglihatanku sudah jelas, Fero langsung membuka selang oksigen dan membekapku dengan bantal. Aku sempat mendengar. Dia bilang kalau ini semua pembalasan karena membuat Felly celaka," cerita Vano.
"Sebenarnya ada hubungan apa Fero dan Felly?"
-TBC-
Jangan lupa baca cerita aku yg judulnya This Is My Baby...